Cari Blog Ini

Senin, 23 Maret 2020

GERAKAN AKSI MAHASISWA





            Gerakan Aksi Mahasiswa yang merupakan gerakan solidaritas antar mahasiswa untuk memenuhi, menuntut dan bahkan menampilkan segala aspirasi dalam negara yang demokrasi. Gerakan Aksi Mahasiswa timbul atas dorongan untuk sama-sama saling berkumpul demi tujuan. Gerakan Aksi Mahasiswa merupakan aksi kolektif yang berorientasi pada tujuan untuk perubahan, bisa perubahan sosial, budaya dan politik. Cara memenuhi, menuntut dan menampilkan apa yang akan disuarakan juga beragam, bisa bersifat verbal atau non-verbal. Verbal biasa berupa aksi, demo di jalanan, audiensi. Sedangkan non-verbal berupa aksi penampilan, seperti teatrikal, bakti sosial, aksi mogok bicara, mogok makan, dan lain-lain. Pola serta tata-cara keberlangsungan aksi mahasiswa juga ada, mulai dari perencaan, diskusi dengan matang, koordinator aksi, koordinator lapangan, perencanaan, tim kesehatan, tim logistik dan lain sebagai yang berkaitan dengan praktek dari gerakan aksi mahasiswa tersebut.

     Berbicara Gerakan Aksi Mahasiswa, tentunya tidak lepas dari konsep Gerakan Sosial (Social Movement), Gerakan Sosial merupakan rangkaian tindakan yang menunujukkan dan menyampaikan sesuatu yang dilakukan oleh sekolompok masyarakat, organisasi yang spesifik mengkritisi, dan merasa tidak puas pada isu-isu sosial politik dengan melaksanakan, mengkampanyekan serta menolak demi sebuah perubahan yang dinamakan perubahan sosial (Lorentz Von Stein: Socialist and Communist Movements since the Third French Revolution;1848). Gersos ini lahir dari situasi yang dihadapi masyarakat karena merasa dirugikan bahkan ditindas oleh pemerintah. Gerakan ini merupakan jawaban spontan dari masyarakat atau kelompok lain atas ketidakadilan yang diterima masyarakat, untuk itu merka berkumpul berdasarkan satu rasa dan menuntut, mendemo serta ingin merubah tatan sosialnya. Biasanya gersos dimotori atau diakuisisi dalam bentuk LSM, ormass serta organisasi mahasiswa. Para sosiolog membedakan gersos ke dalam beberapa jenis, antara lain; gerakan reformasi, gerakan radikal, gerakan knovatif, gerakan konservatif, gerakan internasional, gerakan local, gerakan damai dan gerakan kekerasan.

      Balik ke judul gerakan aksi mahasiswa, terkhusus di dalam negeri. Gerakan Aksi Mahasiswa atau semacamnya bermula dari Boedi Oetomo, adalah suatu wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya. Lalu diikuti dengan Indische Verreninging, Kelompok Studi Indonesia, Partai Pelajar-Pelajar Indonesia, Perserikatan Nasional Indonesia hingga Organisasi yang sangat dikenal oleh sejarah yakni Organisasi Cipayung. Lalu, Kehadiran Boedi Oetomo, Indische Vereeninging, dan yang lainnya pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya, dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan pendidikan yang mereka berikan, untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan kolonialisme serta permasalahan dalam negeri pada saat itu.

     Dari bermacam organisasi mahasiswa, telah banyak yang dilakukan oleh par aintelektual terdahulu. Mereka rela mempertaruhkan nyawa demi sebuah keadilan dan perubahan sosial. Dimulai dari Malari, Semanggi hingga aksi besar-besaran penggulingan Soeharto yang terasa indah hingga mengunduran dirinya pada 21 Mei 1998. Mahasiswa di Indonesia merupakan asset terbaik pada saat itu, dimana selain merapkan Tridharma perguruan tinggi, mereka juga mengawal bumi pertiwi untuk kehidupan yang jauh dari penindasan pemerintah.


Menilik Gerakan Aksi Mahasiswa Kekinian

     Patut dikagetkan bahwa pasca keberhasilan Mahasiswa dalam menggulingkan rezim Soeharto praktis kejadian itu bagaikan kejadian final, bagaikan kejadian terakhir kali yang pernah ditorehkan mahasiswa dalam negeri. Mahasiswa saat ini bak dimanjakan habis-habisan oleh keringat para senior nya terdahulu hingga melupakan tanggungjawab sosialnya sebagai intelektual mudah yang kritis.
 Kita secara nasional dilahirkan oleh revolusi nasional dan berhasil menghalau Imperialisme… disusul perjuangan menuntaskan revolusi: sekarang itu sudah padam samasekali” berkut petikan Pramodya Anata Toer.
     Realitas yang terbangun saat ini ialah kebanyakan mahasiswa memilih diam atau apatis melihat situasi sosial, meraka lebih milih pergi ke mal-mal dari pada protes tentang uang SPP yang semakin lama semakin naik dan kebijakan-kebijakan kampus lainnya. Mahasiswa sudah terhegemoni oleh sistem yang menina-bobo-kan mahasiswa yang sebenarnya merupakan sistem yang menindas dan menghisap. Bagaimana cara menghadapi hal itu, tidak usah muluk-muluk dimulai dari tahap awal yaitu keluar dari zona nyaman, tidak lagi diam dan apatis. mengkritisi segala aspek sosial dengan cerdas, salah satunya dengan cara aksi damai, audiensi, pokoknya menunjukkan kalau pemerintah sedang diawasi, pemerintah tidak dengan seenaknya berbuat sembarangan. Dengan begitu refleksi awal dari defenisi mahasiswa sebagai Agent of Change secra perlahan akan kembali ke permukaan.

     Gerakan mahasiswa saat ini diam dan apatis, ada gerakan tetapi cuman segelintir mahasiswa dan cenderung fluktuatif akibatnya pressure nya tidak kuat. Teriakan tetap ada namun, hanya bisa bergemah di masing-masing sektor. Mahasiswa tidak boleh diam dan apatis, tetapi mahasiswa harus mampu melihat atau membaca kembali sejarah gerakan mahasiswa agar lebih tahu. Memang kita pernah membuat sejarah besar, tetapi kita tidak mampu menjaga dan mengembangkan apa yang sudah ditorehkan oleh terdahulu kita. Dan juga Mahasiswa semakin membangun jarak dengan elemen lainnya misalnya Buruh, Tani, kaum Miskin Kota, Nelayan, dan lain lain. Itu di tandai dengan sedikitnya mahasiswa yang mau bersolidaritas dalam kasus misalnya perampasan tanah, upah murah, rekalamasi, dan lain-lain. Yang mengakibatkan lumpuhnya salah satu elemen pengawal bangsa ini.
           
      Hakikat dari gerakan aksi mahasiswa ini ialah perubahan sosial, kritis terhadap isu nasional. Timbul dari rasa yang sama dan berkeinginan untuk merubahnya. Jika tidak ada rasa solidaritas lagi antar mahasiswa, bagaimana kita melakukan suatu perubahan sosial. Akan hal ini, lambat laun fungsi serta peran kita yang semakin menipis dibarengi oleh penggembosan kebijakan pemerintah oleh Kementrian Pendidikan Kebudayaan tentang NKK/BKK yang mulai timbul ke permukaan tanpa kata sadari. Salah satunya dengan masuk serta tercampurinya militer ke area kampus (Menwa, dll).  Ya, tanpa kita sadari waktu kita dikampus sangat berkurang. Dimana pemangkasan waktu berkumpul sudah ada, dan parahnya dibarengi dengan ketidakpedulian mahasiswa sekarang ini. Maka lengkaplah sudah kemunduran intelektual muda kita.

     Untuk itu, pantaskah kita mengucapkan terima kasih kepada senior kita walau hanya sekedar ucapan? pantaskah kita meneruskan darah dan keringat mereka bila melihat kondisi kita saat ini? Seharusnya itu menjadi refleksi kita bersama. Ingat kita lah kunci serta penerus bangsa ini, kitalah pengawal penentuan bangsa ini. Jika kita terus seperti, maka siap-siap kita menghadapi kucuran keringat dan darah yang lebih deras dari para senior kita terdahulu.

        Saya sudah menekankan, melalui hal kecil, keluar dari zona nyaman. Sekedar menunujukkan jati diri mahasiswa kita kembali, itu sudah merupakan suatu kemajuan awal dari tidur panjangnya mahasiswa saat ini. Sekedar berkumpul dengan para buruh tani, kaum bawah, mengabdi, melakukan sosialisasi arahan, lalu melakukan aksi damai yang bersifat seremonial ajalah dulu (Aksi Pahlawan misalnya), hingga aksi yang tinggi, yaitu mengkritisi pemerintah, audiensi, aksi massa treatrikal dan jika diperlukan aksi kekerasan yang berlandaskan intelektual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar