Gerakan
Aksi Mahasiswa yang merupakan gerakan solidaritas antar mahasiswa untuk
memenuhi, menuntut dan bahkan menampilkan segala aspirasi dalam negara yang
demokrasi. Gerakan Aksi Mahasiswa timbul atas dorongan untuk sama-sama saling
berkumpul demi tujuan. Gerakan Aksi Mahasiswa merupakan aksi kolektif yang
berorientasi pada tujuan untuk perubahan, bisa perubahan sosial, budaya dan
politik. Cara memenuhi, menuntut dan menampilkan apa yang akan disuarakan juga
beragam, bisa bersifat verbal atau non-verbal. Verbal biasa berupa aksi, demo
di jalanan, audiensi. Sedangkan non-verbal berupa aksi penampilan, seperti
teatrikal, bakti sosial, aksi mogok bicara, mogok makan, dan lain-lain. Pola
serta tata-cara keberlangsungan aksi mahasiswa juga ada, mulai dari perencaan, diskusi
dengan matang, koordinator aksi, koordinator lapangan, perencanaan, tim
kesehatan, tim logistik dan lain sebagai yang berkaitan dengan praktek dari
gerakan aksi mahasiswa tersebut.
Berbicara
Gerakan Aksi Mahasiswa, tentunya tidak lepas dari konsep Gerakan Sosial
(Social Movement), Gerakan Sosial merupakan rangkaian tindakan yang
menunujukkan dan menyampaikan sesuatu yang dilakukan oleh sekolompok masyarakat,
organisasi yang spesifik mengkritisi, dan merasa tidak puas pada isu-isu sosial
politik dengan melaksanakan, mengkampanyekan serta menolak demi sebuah
perubahan yang dinamakan perubahan sosial (Lorentz Von Stein: Socialist and
Communist Movements since the Third French Revolution;1848). Gersos ini lahir
dari situasi yang dihadapi masyarakat karena merasa dirugikan bahkan ditindas
oleh pemerintah. Gerakan ini merupakan jawaban spontan dari masyarakat atau
kelompok lain atas ketidakadilan yang diterima masyarakat, untuk itu merka
berkumpul berdasarkan satu rasa dan menuntut, mendemo serta ingin merubah tatan
sosialnya. Biasanya gersos dimotori atau diakuisisi dalam bentuk LSM, ormass
serta organisasi mahasiswa. Para sosiolog membedakan gersos ke dalam beberapa
jenis, antara lain; gerakan reformasi, gerakan radikal, gerakan knovatif,
gerakan konservatif, gerakan internasional, gerakan local, gerakan damai dan
gerakan kekerasan.
Balik ke judul gerakan aksi
mahasiswa, terkhusus di dalam negeri. Gerakan Aksi Mahasiswa atau semacamnya
bermula dari Boedi Oetomo,
adalah suatu wadah perjuangan yang pertama kali memiliki struktur
pengorganisasian modern. Didirikan di Jakarta, 20 Mei 1908 oleh pemuda-pelajar-mahasiswa dari lembaga
pendidikan STOVIA, wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan
intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya. Lalu diikuti
dengan Indische Verreninging, Kelompok Studi Indonesia, Partai Pelajar-Pelajar
Indonesia, Perserikatan Nasional Indonesia hingga Organisasi yang sangat
dikenal oleh sejarah yakni Organisasi Cipayung. Lalu, Kehadiran Boedi Oetomo, Indische
Vereeninging, dan yang lainnya pada masa itu merupakan suatu episode sejarah
yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan
mahasiswa sebagai aktor terdepannya, dengan misi utamanya menumbuhkan kesadaran
kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan dikalangan rakyat Indonesia untuk memperoleh
kemerdekaan, dan mendorong semangat rakyat melalui penerangan-penerangan
pendidikan yang mereka berikan, untuk berjuang membebaskan diri dari penindasan
kolonialisme serta permasalahan dalam negeri pada saat itu.
Dari bermacam organisasi
mahasiswa, telah banyak yang dilakukan oleh par aintelektual terdahulu. Mereka
rela mempertaruhkan nyawa demi sebuah keadilan dan perubahan sosial. Dimulai
dari Malari, Semanggi hingga aksi besar-besaran penggulingan Soeharto yang
terasa indah hingga mengunduran dirinya pada 21 Mei 1998. Mahasiswa di
Indonesia merupakan asset terbaik pada saat itu, dimana selain merapkan
Tridharma perguruan tinggi, mereka juga mengawal bumi pertiwi untuk kehidupan
yang jauh dari penindasan pemerintah.
Menilik Gerakan Aksi Mahasiswa Kekinian
Patut dikagetkan bahwa pasca
keberhasilan Mahasiswa dalam menggulingkan rezim Soeharto praktis kejadian itu
bagaikan kejadian final, bagaikan kejadian terakhir kali yang pernah ditorehkan
mahasiswa dalam negeri. Mahasiswa saat ini bak dimanjakan habis-habisan oleh
keringat para senior nya terdahulu hingga melupakan tanggungjawab sosialnya
sebagai intelektual mudah yang kritis.
“Kita secara nasional dilahirkan oleh revolusi nasional dan berhasil menghalau Imperialisme… disusul perjuangan menuntaskan revolusi: sekarang itu sudah padam samasekali” berkut petikan Pramodya Anata Toer.
Realitas
yang terbangun saat ini ialah kebanyakan mahasiswa memilih diam atau apatis melihat
situasi sosial, meraka lebih milih pergi ke mal-mal dari pada protes tentang
uang SPP yang semakin lama semakin naik dan kebijakan-kebijakan kampus lainnya.
Mahasiswa sudah terhegemoni oleh sistem yang menina-bobo-kan mahasiswa yang
sebenarnya merupakan sistem yang menindas dan menghisap. Bagaimana cara
menghadapi hal itu, tidak usah muluk-muluk dimulai dari tahap awal yaitu keluar
dari zona nyaman, tidak lagi diam dan apatis. mengkritisi segala aspek sosial
dengan cerdas, salah satunya dengan cara aksi damai, audiensi, pokoknya
menunjukkan kalau pemerintah sedang diawasi, pemerintah tidak dengan seenaknya
berbuat sembarangan. Dengan begitu refleksi awal dari defenisi mahasiswa
sebagai Agent of Change secra perlahan akan kembali ke permukaan.
Gerakan mahasiswa saat ini diam dan
apatis, ada gerakan tetapi cuman segelintir mahasiswa dan cenderung fluktuatif
akibatnya pressure nya tidak kuat. Teriakan tetap ada namun, hanya bisa
bergemah di masing-masing sektor. Mahasiswa tidak boleh diam dan apatis, tetapi
mahasiswa harus mampu melihat atau membaca kembali sejarah gerakan mahasiswa
agar lebih tahu. Memang kita pernah membuat sejarah besar, tetapi kita tidak
mampu menjaga dan mengembangkan apa yang sudah ditorehkan oleh terdahulu kita.
Dan juga Mahasiswa semakin membangun jarak dengan elemen lainnya misalnya
Buruh, Tani, kaum Miskin Kota, Nelayan, dan lain lain. Itu di tandai dengan
sedikitnya mahasiswa yang mau bersolidaritas dalam kasus misalnya perampasan
tanah, upah murah, rekalamasi, dan lain-lain. Yang mengakibatkan lumpuhnya
salah satu elemen pengawal bangsa ini.
Hakikat dari gerakan aksi mahasiswa
ini ialah perubahan sosial, kritis terhadap isu nasional. Timbul dari rasa yang
sama dan berkeinginan untuk merubahnya. Jika tidak ada rasa solidaritas lagi
antar mahasiswa, bagaimana kita melakukan suatu perubahan sosial. Akan hal ini,
lambat laun fungsi serta peran kita yang semakin menipis dibarengi oleh penggembosan
kebijakan pemerintah oleh Kementrian Pendidikan Kebudayaan tentang NKK/BKK yang
mulai timbul ke permukaan tanpa kata sadari. Salah satunya dengan masuk serta
tercampurinya militer ke area kampus (Menwa, dll). Ya, tanpa kita sadari waktu kita dikampus
sangat berkurang. Dimana pemangkasan waktu berkumpul sudah ada, dan parahnya
dibarengi dengan ketidakpedulian mahasiswa sekarang ini. Maka lengkaplah sudah
kemunduran intelektual muda kita.
Untuk itu, pantaskah kita
mengucapkan terima kasih kepada senior kita walau hanya sekedar ucapan?
pantaskah kita meneruskan darah dan keringat mereka bila melihat kondisi kita
saat ini? Seharusnya itu menjadi refleksi kita bersama. Ingat kita lah kunci
serta penerus bangsa ini, kitalah pengawal penentuan bangsa ini. Jika kita
terus seperti, maka siap-siap kita menghadapi kucuran keringat dan darah yang
lebih deras dari para senior kita terdahulu.
Saya sudah menekankan, melalui hal
kecil, keluar dari zona nyaman. Sekedar menunujukkan jati diri mahasiswa kita
kembali, itu sudah merupakan suatu kemajuan awal dari tidur panjangnya
mahasiswa saat ini. Sekedar berkumpul dengan para buruh tani, kaum bawah,
mengabdi, melakukan sosialisasi arahan, lalu melakukan aksi damai yang bersifat
seremonial ajalah dulu (Aksi Pahlawan misalnya), hingga aksi yang tinggi, yaitu
mengkritisi pemerintah, audiensi, aksi massa treatrikal dan jika diperlukan
aksi kekerasan yang berlandaskan intelektual.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar