Cari Blog Ini

Jumat, 10 Oktober 2025

PERUBAHAN IDEOLOGI KEISLAMAN TURKI
(Analisis Geo-Kultur Islam dan Politik Pada Kerajaan Turki Usmani)

    Menjelaskan serta menceritakan kajian politik dalam kultur Islam pada pemerintahan kerajan Turki Usmani. Melihat bagaimana kerajaan Turki (khususnya pemerintahan Mustafa Kemal) lahir dari pemberontakan pemuda yang ingin melepaskan cengkraman dari jajahan Barat. Kisah mengenai perkembangan gerakan perlawanan nasional Turki sejak tahun 1918 sampai kemenangan tahun 1922 adalah kisah tentang tampilnya Mustafa Kemal Pasha (Atturk) sebagai pemimpin yang berpengaruh bagi pergerakan itu. Pada tahun 1919-1923 terjadi revolusi Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal. Kecemerlangan karier politik Mustafa Kemal dalam peperangan, yang dikenal sebagai perang kemerdekaan Turki, mengantarkannya menjadi pemimpin dan juru bicara gerakan nasionalisme Turki. Gerakan nasional inilah yang selanjutnya menjadi sebuah sistem pemikiran baru yang dipakai sebagian besar atau kecil di masyarakat Turki. (Sekulerisme, Kemalisme).

Pendahuluan
     Ideologi secara umum merupakan pengetahuan mengenai cara menyembunyikan kepentingan, mendapatkan serta mempertahankan kekuasaan dengan memanfaatkan konsepsi-konsepsi keagamaan dan tipu daya. Ideologi merupakan konsep sosial politik. Konteks ideologi sangat menarik untuk ditelaah lebih jauh. Karena, ideologi dapat diimplementasikan dalam konteks negara. Maka tinjauan dari pembahasan ini adalah ideologi sebuah negara. Sistem politik negara Turki adalah salah satu contoh proses perubahan sebuah ideologi. Awalnya, peradaban Islam dengan pengaruh Arab dan Persia menjadi warisan yang mendalam bagi masyarakat Turki sebagai peninggalan Dinasti Usmani. Islam di masa kekhalifahan diterapkan sebagai agama yang mengatur hubungan antara manusia sebagai makhluk dengan Allah sebagai Khalik, Sang Pencipta; dan juga suatu sistem sosial yang melandasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Peradaban Islam yang dianut Turki sebelum tersentuh dunia Barat menjadikan Sultan sebagai Khalifah. Artinya sebagai pemimpin negara, sekaligus juga memegang jabatan sebagai pemimpin agama. Kekhalifahan Turki Usmani didukung oleh kekuatan ulama (Syeikhul Islam) sebagai pemegang hukum syariah dan kekuatan tentara, yang dikenal dengan sebutan tentara Janisssari. Selanjutnya arah modernisasi yang berkiblat ke Barat telah menyerap unsur-unsur budaya Barat yang dianggap modern. Campuran peradaban Turki, Islam dan Barat, inilah yang telah mewarnai identitas masyarakat Turki. Yang membawa perubahan adalah ketika terjadi revolusi Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal pada tahun 1919-1923. Kecemerlangan karier politik Mustafa Kemal dalam peperangan, yang dikenal sebagai perang kemerdekaan Turki, mengantarkannya menjadi pemimpin dan juru bicara gerakan nasionalisme Turki.

     Mustafa Kemal mendirikan Negara Republik Turki di atas puing-puing reruntuhan kekhalifahan Turki Usmani dengan prinsip sekularisme, modernisme dan nasionalisme. Meskipun demikian, Mustafa Kemal bukanlah yang pertama kali memperkenalkan ide-ide tersebut di Turki. Gagasan sekularisme Mustafa Kemal banyak mendapat inspirasi dari pemikiran Ziya Gokalp, seorang sosiolog Turki yang diakui sebagai Bapak Nasionalisme Turki. Pemikiran Ziya Gokalp adalah sintesa antara tiga unsur yang membentuk karakter bangsa Turki, yaitu ke-Turki-an, Islam dan Modernisasi. Perkembangan masyarakat di Turki menemukan karakter sendiri yang unik sebagai suatu bentuk pertentangan yang rumit antara pemikiran Kemalisme yang fundamental dan radikal, pemikiran liberalis yang meskipun menentang Kemalisme tetapi tidak ingin ideologi ini diganti, dan pemikiran Islam baik yang konservatif maupun moderat.

Ideologi Kemalisme Turki
     Setelah masa perkembangan kerajaan Utsmani dari tahun 1830-an saat pertama kali berhubungan dengan Eropa, dari masa Sultan Salim III, Mustafa IV, Mahmud II, Abdul Madjid hingga Abdul Hamid tahun 1908. Pada masa inilah muncul fase baru dalam perkembangan Turki. Periode dari pertengahan 1870an sampai revolusi Konstitusional 1908, di mana terjadi ekspansi perekonomian yang lebih lamban, paling tidak sampai akhir abad itu, namun juga merupakan periode di mana pengaruh asing terlibat secara langsung dan serius untuk pertama kalinya dalam kerajaan itu. Saat itu berlangsung reformasi di bidang administrasi dan teknik, juga merupakan periode penumpasan ideologi-ideologi kaum nasionalis dan liberal serta merupakan periode reorientasi pada warisan Islami kerajaan itu. Istana diganti lagi menjadi pusat kekuasaan oleh birokrasi. Menjelang akhir abad ini, inkorporasi perekonomian internasional dan oposisi politik internal mulai bergejolak lagi. Abdul Hamid menggunakan daya pikat solidaritas Muslim, gelar dan simbol-simbol khalifah. Islam yang didukung oleh sultan adalah Islam yang dianut oleh para ulama dan para syeikh sufi yang lebih konservatif yang selalu berada di sekitar Sultan. Kaum modernis Islam tampaknya tidak memiliki banyak dukungan. Monumen terbesar bagi kebijakan Islami Abdul Hamid adalah jalan kereta api Hizaj dari Damaskus ke Madinah, yang sebagian besar dibangun dari dana sumbangan sukarela tahun 1901-1908 untuk mempermudah perjalanan jamaah haji ke Mekah. Ideologi negara bukanlah satu-satunya bidang di mana era Abdul Hamid berbeda dari era Tanzimat.

     Pada era sebelumnya, di bawah para sultan yang lemah, dan para pasha yang kuat, pusat kekuasaan berada di Porte dan istana tak pernah dijelaskan secara memadai, dengan Sultan yang tegas di puncak, pusat kekuasaan secara empatik dikembalikan ke istana, seperti sebelumnya di masa Mahmud II. Dalam suatu sistem yang seotokratis ini, kepribadian sultan sungguh sangat penting. Untuk menilai karakter dan pencapaian era Hamid, terlebih dulu perlu untuk menyadari bahwa era itu dalam kurun waktu yang lama merupakan satu periode pemulihan dari krisis yang nyaris mengakhiri Kerajaan Usmani. Peristiwa-peristiwa tahun 1877-1878 merupakan malapetaka bagi kerajaan itu. Imigrasi umat Muslim ke kerajaan itu telah merupakan ciri khas kehidupan Usmani sejak akhir abad ke-18. Dengan adanya ekspansi kolonial Kerajaan Rusia di pantai Laut Hitam dan Kaukasia, banyak orang Muslim, terkadang meliputi seluruh suku lebih suka bermigrasi ke daerah-daerah Usmani ketimbang hidup di bawah penguasa Kristen.

Pergerakan Awal Turki Muda
     Kelompok terorganisir pertama tampaknya didirikan di Kolase Kedokteran Militer pada tahun 1889, ketika empat mahasiswa mendirikan Ittihad-i Osmani Cemiyeti (Himpunan Persatuan Usmani), yang bertujuan memberlakukan lagi konstitusi dan parlemen. Tokoh terkemuka dari perkumpulan ini adalah Ahmet Riza. Dia bersama pelarian Usmani lainnya, yang ditangkap oleh polisi berhasil melarikan diri, membentuk komite kecil yang bernama Ittihat ve Terakki Cemiyeti (Komite Persatuan dan Kemajuan/KPK) dan menerbitkan surat kabar Mesveret (Konsultasi, Musyawarah), dalam bahasa Usmani dan Prancis. Di Prancis kelompok ini menamakan dirinya Turki Muda. Dalam sebuah kampanye yang terkoordinasi, para perwira yang merupakan anggota Komite tersebut naik ke perbukitan dengan pasukan mereka dan menuntut diadakannya restorasi konstitusi. Sultan berupaya menumpas pemberontakan itu dengan terlebih dahulu mengirimkan para perwira kepercayaannya dan kemudian pasukan Anatolia ke Macedonia, namun sebagian dari para perwira itu dibunuh dan pasukan yang dikirim, setelah dipengaruhi oleh para agitator KPK dalam kapal-kapal perang mereka, menolak untuk memberantas pemberontakan itu. Sultan lalu menyerah dan pada 23 Juli 1908 merestorasi konstitusi Usmani setelah 30 tahun.

Tampilnya Mustafa Kemal dan Misi Kemalis
     Kisah mengenai perkembangan gerakan perlawanan nasional Turki sejak tahun 1918 sampai kemenangan tahun 1922 adalah kisah tentang tampilnya Mustafa Kemal Pasha (Atturk) sebagai pemimpin yang berpengaruh bagi pergerakan itu. Pada tahun 1919-1923 terjadi revolusi Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal. Kecemerlangan karier politik Mustafa Kemal dalam peperangan, yang dikenal sebagai perang kemerdekaan Turki, mengantarkannya menjadi pemimpin dan juru bicara gerakan nasionalisme Turki. Gerakan nasionalisme ini, yang pada waktu itu merupakan leburan dari berbagai kelompok gerakan kemerdekaan di Turki, semula bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Turki dari rebutan negara-negara sekutu. Namun pada perkembangan selanjutnya gerakan ini diarahkan untuk menentang Sultan. Mustafa Kemal mendirikan Negara Republik Turki di atas puing-puing reruntuhan kekhalifahan Turki Usmani dengan prinsip sekularisme, modernisme dan nasionalisme. Begitu dominasi panggung politik sudah kuat, Mustafa Kemal dan pemerintahannya melancarkan sebuah program pembaruan yang ekstensif. Seiring dengan penghapusan kesultanan dan kekhalifahan serta proklamasi republik, langkah Kemalis yang penting adalah sekularisasi undang-undang keluarga, melalui penghapusan pernikahan dan poligami, menyangkut kehidupan penduduk sehari-hari. Seperangkat ide atau cita-cita yang menyertai Kemalisme berkembang secara bertahap, ia tidak pernah menjadi sebuah ideologi yang koheren, mencakup segala hal, tetapi paling tidak dapat digambarkan sebagai perangkat sikap dan opini, yang tidak pernah didefinisikan secara jelas.

     Prinsip-prinsip dasar Kemalisme dicantumkan dalam program partai tahun 1931.
Prinsip-prinsip itu adalah Republikanisme; sebagai perlawanan jika kembalinya sistem monarki. Sekularisme; pemisahan antara agama dan negara, sebagai penyingkiran agama dari kehidupan publik dan tegaknya pengawasan negara atas institusi-institusi keagamaan. Nasionalisme; mitos-mitos historis yang menyertainya dimanfaatkan sebagai alat utama dalam pembinaan identitas nasional baru, dan hal demikian ini dimaksudkan untuk mengambil alih kedudukan agama dalam banyak hal. Populisme; gagasan yang tentang solidaritas nasional dan mengutamakan kepentingan seluruh bangsa di atas kepentingan kelompok. Negaraisme; pengakuan atas kemajuan negara di bidang ekonomi. Revolusionisme; sebagai penerapan dari semua prinsip tersebut. Enam prinsip itu dituangkan dalam konstitusi Turki 1937.

     Semua prinsip itu merupakan ideologi negara Kemalisme dan merupakan basis bagi indoktrinasi di sekolah-sekolah, media massa dan pasukan militer. Terkadang Kemalisme dideskripsikan sebagai “agama Turki”. Namun, sebagai sebuah ideologi, ia tidak memiliki daya pikat emosional. Kehampaan ideologis ini dalam batas tertentu diisi dengan kultus terhadap Mustafa Kemal Pasha yang tumbuh di masa hidupnya dan bahkan lebih kuat lagi setelah ia wafat. Dia dihadirkan sebagai Bapak Bangsa Turki, juru selamat. Indoktrinasi di sekolah-sekolah dan universitas-universitas (di mana “Sejarah Revolusi Turki” menjadi mata pelajaran wajib tahun 1934) berfokus pada dirinya dengan tingkat perhatian luar biasa. Fakta bahwa dia tidak dikaitkan dengan ideologi yang bisa dideskreditkan, seperti Fasisme, Sosialisme Nasional dan Marxisme-Leninisme.

Kebijakan Pembaharuan Mustafa Kemal: Sekularisme dan Nasionalisme
     Ada tiga bidang yang bisa dicermati dalam dorongan sekularis yang merupakan unsur paling menonjol dari reformasi Kemalis. Pertama, adalah sekularisasi negara, pendidikan dan hukum, yaitu berupa serangan terhadap pusat-pusat kekuatan tradisional ulama yang sudah melembaga. Kedua, adalah serangan terhadap simbol-simbol peradaban Eropa. Ketiga, adalah sekularisasi kehidupan sosial dan serangan terhadap Islam yang dianut rakyatnya. Gelombang pertama reformasi Kemalis berakhir dengan proses sekularisasi negara, pendidikan dan perundang-undangan yang telah diawali di masa pemerintahan Sultan Mahmud seabad sebelumnya. Penghapusan kesultanan dan kekhalifahan, proklamasi republik dan pemberlakuan konstitusi baru di tahun 1922-1924 adalah tahap-tahap terakhir sekularisasi negara, yang ditutup dengan dihapusnya ketentuan yang menyatakan Islam sebagai agama resmi Turki dalam konstitusi tahun 1928. Bahkan sebelum lahirnya republik, peranan Syari’at, hukum suci, hampir secara eksklusif terbatas pada lingkup hukum keluarga. Kini sektor ini pun telah dihapuskan dari yurisdiksi ulama dengan diberlakukannya UU Perdata Swiss dan UU Pidana Italia pada tahun 1926. UU Pidana melarang adanya pembentukan perkumpulan-perkumpulan berbasiskan agama. Sistem pendidikan, yang di masa berkuasanya KPK berada di bawah kontrol Kementrian Pendidikan, setelah disekularisasi secara penuh dengan pemberlakuan UU Penyatuan Pendidikan di bulan Maret 1924. Pada saat yang sama, madrasah atau sekolah-sekolah agama dihapuskan lalu digantikan dengan sekolah-sekolah umum.

     Tahun 1924 juga menunjukkan adanya penghapusan fungsi Seyhulislam dan Kementrian Urusan Agama dan Wakaf. Sebagai gantinya, didirikanlah dua direktorat, yaitu Dinayet Isreli Mudurlugu (Direktorat Keagamaan) dan Evkaf Umum Mudurlugu (Direktorat Jenderal Yayasan-Yayasan Keagamaan). Didirikannya direktorat-direktorat ini jelas menunjukkan bahwa persepsi sekularisme Kemalis tidak berarti sebagai pemisahan antara agama dan negara namun sebagai kontrol negara atas agama. Bidang kedua adalah bidang simbol-simbol religius. Ini merupakan aspek terpenting dari langkah-langkah sekularisasi itu, seperti pergantian fez dengan topi di tahun 1925 dan batasan-batasan dalam mengenakan pakaian keagamaan di masjid-masjid yang dikeluarkan pada bulan September tahun itu. Ini juga mengilhami timbulnya larangan mengenakan cadar, larangan yang dikeluarkan Mustafa Kemal, menjadikan hari Minggu sebagai hari libur resmi sebagai ganti hari Jumat. Sejumlah reformasi lainnya yang secara spesifik tidak ditujukan kepada agama. Pemberlakuan jam dan kalender Barat di tahun 1926, bilangan atau angka-angka Barat di tahun 1928 dan pemberlakuan ukuran takaran dan neraca Barat tahun 1931 tidak hanya memberi Turki suatu citra Eropa, tetapi juga membuat komunikasi dengan dunia Eropa menjadi lebih mudah. Ini juga merupakan suatu langkah lain untuk memutuskan keterkaitan dengan dunia Islam.

      Dalam kongresnya yang pertama, di Ankara tahun 1932, “Tesis Sejarah Turki” dikemukakan untuk pertama kali. Teori ini, yang secara empatik didukung oleh Mustafa Kemal, mengatakan bahwa warga Turki pada asalnya tinggal di Asia Tengah, namun karena dilanda musim kering dan kelaparan, mereka bermigrasi ke daerah-daerah lainnya seperti Cina, Eropa, dan Asia Timur. Dengan demikian, mereka menciptakan peradaban besar di dunia. Di Timur Dekat, bangsa Sumeria dan Hittia sebetulnya adalah ptoto-Turki. Bukan kebetulan bahwa dua bank besar milik pemerintah didirikan tahun 1930-an dengan nama Simmerbank (Bank Sumeria) dan Etibank (Bank Hittia). Atilla dan Jenghis Khan dianggap menjalankan misi-misi peradaban. Teori itu bertujuan untuk memberi rakyat Turki rasa bangga terhadap masa silam dan identitas nasional mereka, supaya mereka terlepas dari masa silam yang belum lama berlalu, yakni era Usmani. Sejak tahun 1932, tesis historis tersebut merupakan bagian penting dalam pengajaran sejarah di sekolah-sekolah dan universitas-universitas. Klaim-klaimnya yang lebih ekstrem memang telah lenyap sejak akhir 1940-an, namun bekas-bekas pengaruhnya bahkan masih melekat dalam buku-buku teks di sekolah-sekolah. Langkah terakhir yang paling signifikan dalam sekularisasi kehidupan sosial adalah penindasan aliran-aliran Darwis (tarekat) yang diumumkan pada bulan September dan diberlakukan pada bulan November 1925. Persaudaraan-persaudaraan mistis ini memainkan fungsi-fungsi religius dan sosial yang vital di sepanjang sejarah Usmani. Dengan memperluas gerakan sekularisasi mereka melampaui Islam formal yang terlembaga, kaum Kemalis kini menyentuh unsur-unsur vital agama rakyat seperti pakaian, azimat-azimat, para peramal, para Syeikh suci, para tokoh agama, tempat-tempat suci, ziarah dan upacara keagamaaan. Kemarahan yang diakibatkan oleh tindakan-tindakan ini, serta perlawanan terhadapnya jauh lebih besar dibandingkan misalnya dalam kasus penghapusan kekhalifahan, posisi Seyhulislam, atau Medrese, yang hanya penting bagi agama “tingkat tinggi” yang resmi. Sementara pemerintah berhasil menindas ekspresi agama rakyat, namun tentu saja agama itu sendiri tidak lenyap. Secara umum, tarekat-tarekat bergerak di bawah tanah. Namun dengan adanya tekanan terus-menerus dari rezim yang otoriter dan yang khususnya pada tahun 1940-an semakin tidak disukai rakyat, serta dengan adanya penindasan terhadap Islam rakyat, Kemalis mempolitisasi Islam dan mengubahnya menjadi alat untuk melancarkan oposisi. Tahun 1930-an, terdapat upaya-upaya yang dimotori pemerintah untuk menasionalisasikan dan memodernisasikan Islam, namun minat terhadap “reformasi Turki” ini hanya terbatas pada sebagian kecil kaum elite, dan manifestasinya yang paling nyata adalah penggantian azan Arab dengan azan Turki, yang dikumandangkan dengan melodi yang diubah oleh sekolah musik pemerintah.

     Secara umum, reformasi-reformasi Kemalis secara harfiah telah mengubah wajah Turki. Fakta bahwa sebuah negara non-Barat dan Muslim itu memilih meninggalkan masa lalunya dan berupaya mengikuti Barat, menimbulkan kesan mendalam di Barat, di mana fakta bahwa lahirnya sebuah Turki yang betul-betul baru, modern dan berbeda diakui secara umum. Reformasi-reformasi di Turki sebenarnya hampir tidak mempengaruhi kehidupan warga pedesaan yang merupakan populasi terbesar Turki. Seorang petani atau penggembala dari Anatolia tidak pernah memakai fez, jadi dia tidak merasa dirugikan oleh penghapusan fez itu. Istrinya juga sama sekali tidak mengenakan cadar, jadi pelarangan penggunaannya tidaklah berarti apa-apa baginya atau istrinya. Dia diharuskan menggunakan nama keluarga di tahun 1934, namun seluruh penduduk desa itu akan tetap menggunakan nama depan saja dan nama keluarganya untuk urusan resmi. Undang-undang keluarga yang baru melarang poligami, namun para petani yang mampu melakukannya, mungkin masih amat sering mengajak istrinya keduanya tinggal bersama, tanpa menikahinya, dan kalau perlu menyerahkan anak-anak dari istrinya keduanya ini kepada istrinya yang sah. Ada upaya untuk memperluas reformasi itu sampai ke desa-desa, upaya pertama untuk mengatasi masalah buta huruf itu adalah menarik kaum pemuda pedesaan, yang telah belajar membaca dan menulis di angkatan bersenjata, untuk mengikuti kursus enam bulan dan kemudian mengirim mereka pulang ke desa-desa sebagai tenaga “pendidik”. Selain menyuplai desa-desa dengan orang-orang yang bukan saja dapat mengajari anak-anak mereka untuk membaca dan menulis, tetapi juga memperkenalkan kepada warga desa sains dan teknologi modern abad ke-20 pada tingkat praktis. Institut-institut desa amat berhasil, namun dengan munculnya pluralisme politik setelah Perang Dunia II mereka menjadi tanggung jawab pemerintah, yaitu lembaga-lembaga itu dituduh menyebarkan propaganda komunis. Pada tahun 1948, pemerintah mengubah institut-institut tersebut menjadi sekolah-sekolah pendidikan guru. Di kota-kota, dampak reformasi jauh lebih besar. Di sini kaum Kemalis berhasil memperluas kelompok yang mendukung ide-ide positivis, sekularis dan modernis.

Kemunculan
     Islam dalam sejarah dunia menyimpan sejumlah keunikan dan keajaiban. Dan kontribusi Islam pada dunia pun sudah sejak lama mendapat pengakuan orang. Sejak berabad-abad, penyebaran Islam di berbagai belahan bumi telah memberikan pengaruh bagi kehidupan manusia dalam sistem politik, sosial, ekonomi, maupun budaya. Ideologi secara umum merupakan pengetahuan mengenai cara menyembunyikan kepentingan, mendapatkan serta mempertahankan kekuasaan dengan memanfaatkan konsepsi-konsepsi keagamaan dan tipu daya. Ideologi merupakan konsep sosial politik. Negara merupakan integrasi dari kekuasaan politik, ia adalah organisasi pokok dari kekuasaan politik. Negara adalah alat dari masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala kekuasaan dalam masyarakat. Tingkah laku politik dianggap sebagai sebagian dari keseluruhan tingkah laku sosial. Munculnya pluralisme politik setelah Perang Dunia II mereka menjadi tanggung jawab pemerintah, yaitu lembaga-lembaga itu dituduh menyebarkan propaganda komunis.

     Pada tahun 1948, pemerintah mengubah universitas menjadi sekolah pendidikan guru. Di kota-kota, dampak reformasi-reformasi itu memang jauh lebih besar. Secara tipikal, tulang punggung “revolusi” Kemalis di kota-kota itu terdiri dari kaum birokrat, para perwira, pengajar, dokter, pengacara dan pengusaha di perusahaan-perusahaan komersial yang lebih besar. Para pengrajin dan pedagang kecil merupakan tulang punggung bagi kultur tradisional yang tertindas. Campuran peradaban Turki, Islam dan Barat, inilah yang telah mewarnai identitas masyarakat Turki. Yang membawa perubahan adalah ketika terjadi revolusi Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal pada tahun 1919-1923. Perkembangan masyarakat di Turki menemukan karakter sendiri yang unik sebagai suatu bentuk pertentangan yang rumit antara pemikiran Kemalisme yang fundamental dan radikal, pemikiran liberalis yang meskipun menentang Kemalisme tetapi tidak ingin ideologi ini diganti dan pemikiran Islam, baik yang konservatif maupun moderat. Seperangkat ide atau cita-cita yang menyertai Kemalisme. Ia tidak pernah menjadi sebuah ideologi yang koheren, mencakup segala hal, tetapi paling tidak dapat digambarkan sebagai perangkat sikap dan opini, yang tidak pernah didefinisikan secara jelas. Kemalisme tetap saja merupakan satu konsep fleksibel dan orang-orang dengan pandangan dunia yang beragam dapat menyebut diri mereka Kemalis.

Referensi : https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/cobaBK/article/view/812