Investasi Asing yang berada di Indonesia bukanlah barang baru bagi kita. Bagaimana tidak, hamper seluruh elemen mulai dari infrastruktur, bahan pangan, Sumber Daya Alam (SDA) Freeport yang telah bertahun-tahun hinggap di bumi pertiwi, juga bisnis (termasuk property dan dunia olahraga) hingga dunia perfilman tak luput dari dana para sang konglomerat. Mengingat beberapa waktu kemaren, dunia perfilman mendapat suntikan dana atau investasi dari luar Indonesia.
Juga
bila kita balik
ke awal pemerintahan
Jokowi pada 2014 kemarin, begitu
geliatnya beliau bepergian
ke luar negeri
selang beberapa hari
setelah pelantikannya. Tujuannya
ialah menarik investor
asing untuk menamkan
modalnya di Indonesia. Seperti
pada Konferensi di Tiongkok,
Jokowi begitu gemulai
mempresentasikan dan mempromosikan
Indonesia di depan
para anggota Konferensi.
Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung juga
tidak luput dari
campur tangan Investor
luar negeri. Dan
juga pada akhir-akhir
ini pemerintahan membuka
38 usaha bisnis,
dan mendukung mempersilahkan para
investor asing untuk
menamkan modalnya. (INews TV). Indonesia
kita menjadi tempat
investor kedua terbesar
di Asia Tenggara setelah
negara Singapura.
Hal
ini justru menjadikan
Investasi Asing menjadi
pengertian dan pemahaman
ganda, pada sisi
lain hal ini
dapat membantu mempercepat
perekonomian, mempercepat pertumbuhan
pembangunan (karena seperti yang
diketahui dana APBN
terbatas), menarik wisatawan
dan ujung-ujungnya mampu
mengisi kas negara.
Namun disisi lain,
ini justru dapat
menjadi boomerang bagi bumi pertiwi. Pasalnya,
jika para investor
berdatangan tentunya dapat
mengganjal investor dalam
negeri juga pedagang
kecil dan menengah.
Terlebih daya saing atau
sumber daya manusia
yang diperlukan perusahaan
asing sangatlah tinggi.
Hal ini memiliki
kecendrungan timbal balik
pada Sumber Daya Manusia (SDM)
kita, ujung-ujungnya perusahaan
asing tadi memilih
untuk memperkejakan warga
negara lain yang
lebih kompetitif, dan
yang paling tepatnya
lagi saat ini
kita sudah masuk
era MEA, persaingan
ketat ada di
depan mata. Jadi
bila kita tilik
demikian dana asing,
perusahaan asing tadi
hanyalah menjadi benalu
di bumi pertiwi,
seperti Freeport.
Langkah Antisipasi.
Seharusnya pemerintah
berpikir demikian, bila
investor, perusahaan asing
terus berdatangan tentu
ini akan menggusur
yang di dalamnya. Mengingat
juga SDM kita
yang dapat dikategorikan
tidak siap, standar
manusia yang dibutuhkan
perusahaan asing juga
tinggi sehingga justru
memperkerjakan warga negara
lain yang begitu
banyak di Indonesia, akhirnya
warga pribumi tersisih,
tertatih-tatih menjalani hidup
di tanah sendiri
karena tingkat pengangguran
yang tinggi. Sehingga ‘pemanggilan’
para investor tersebut
terkesan tergesa-gesa serta
menjadi sia-sia dan justru
dapat memperkeruh kondisi
ekonomi dalam negeri
yang sudah kritis
ini. Bila dihadapkan
seperti itu, seharusnya
kita berpikir, banyak
konglomerat Investor asal
Indonesia yang menanamkan
modalnya diluar negeri.
Bila itu kita
tarik ke Indonesia untuk
menamamkan modalnya di bumi
sendiri, tanpa ada rasa
pamrih, bukankah menjadi
gebrakan yang signifikan.
Mereka dapat memperkejakan
pekerja dalam negeri,
serta membimbing para
pengusaha kecil menengah
dengan menyalurkan kiat-kiat
dalam berbisnis.
Jika
kita balik ke
zaman antara akhir
orde baru dengan
awal reformasi, justru
investor dalam negeri
(dalam hal ini
pedagang UMKM) sendiri
lah yang menyelamatkan
Indonesia yang pada
saat itu hampir
bangkrut. Jadi pada
zaman ini, tentuta
kita berkaca pada
masa itu, harusnya
investor dalam negri
maupun pelaku UMKM
lebih digalakkan, lebih
di fasilitasi, dibimbing
akan tidak kalah
saing dengan perusahaan-perusahaan asing,
mengingat kita telah
masuk dalam era
MEA, era kebebasan
warga negara untuk
berkerja di Indonesia. Jika
perusahaan Indonesia kurang
daya saing serta
yang lebih vital
SDM kita tidak
siap, maka kita
bakal tergerus, tersisih
di tanah sendiri,
tergerus dengan perusahan
asing yang justru
berpotensi menggrogoti ekonomi
Indonesia, serta manambah
daftar rekening utang
Indonesia. Pertanyaannya siapkah
kita akan hal
itu? Mungkin pertnyaan
itu kurang cepat
diajukan, karena kita
sendiri sudah masuk
dalam era Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA).
-
-
-
Nama :
YURNAWAN FARDINANTA HAREFA
Tempat Tanggal
Lahir : Bandar
Khalipah, 10 Juli
1996
Alamat
:
Jl. M. Saman
Gg. Pertahanan No. 2
Dusun XII Desa
Bdr. Khalipah Kabupaten Deli
Serdang, Kecamatan Percut
Sei Tuan.
Status :
Mahasiswa Fakultas ISIP Jurusan
Ilmu Politik, Tahun 2014 USU.
Nomor
Induk Mahasiswa : 140906003
