Judul Buku
: The Buddhist World of Southeast Asia
Pengarang :
Donald K. Swearer
Penerbit :
SUNY Press, Albany 2010
Dalam
paragraf pembuka di pengantar bukunya ini, Swearer mengemukakan pernyataan
taktis, “It has to be seen to be believed”.
Konsisten dengan idiom tersebut, buku ini dia susun dari pengamatan langsung di
lapangan. Awalnya ia menetap di Bangkok, Thailand selama 2 tahun lamanya, di
tahun 1950an ketika ia ditugaskan sebagai guru di sekolah Kristen & dosen
di sebuah Universitas milik Vihara di Bangkok. Sejak saat itu ia konsisten
terus mengobservasi & mengeksplorasi Buddhisme Theravada.
Dalam buku ini Swearer menganggap kekuatan agama layaknya
kaum neo-strukturalis lainnya. Dalam pandangan kelompok ini, agama melingkupi
& memenuhi strukur kehidupan riil masyarakat sehari-hari di segala bidang.
Pandangan kaum neo-marxian & prediksi kalangan sekular-liberal akan
lunturnya peran agama ternyata hanya isapan jempol, terutama jika belakangan
melihat bangkitnya Islam, Kekristenan, Hinduisme dan dalam bukunya ini,
Buddhisme Theravada di Asia Tenggara dan Sri Lanka. Ternyata Buddhisme
Theravada kini juga sedang menguat di Cambodia, ditandai dengan banyak vihara
baru berdiri & gerakan kaum perumah tangga tumbuh subur di Thailand.
Bahkan, beberapa bhikkhu (monks)
terlibat aktif dalam konflik politik seperti di Sri Lanka dan Myanmar dewasa
ini (xi). Karena itu, tak salah ia mantapkan, Buddhism as a Lived Tradition.
Bila kita mengarah sebentar ke pemikir struktural-fungsional
semacam Talcott Parsons sejak mula percaya bahwa agama mempunyai peran vital di
balik terbentuknya struktur serta kultur yg berlaku di masyarakat. Dalam
konteks Amerika, ia menyebut adanya expressive
revolution yg mengacu pada tradisi Kekristenan, terutama Protestan yang
menjadi landasan bagi berkembangnya kultur Amerika dan kultur Barat pada
umumnya. Menyimak hal ini rasanya tepat untuk membandingkannya dengan
eksistensi Buddhisme (Theravada) di kawasan Asia Tenggara. Karena itu Swearer
mengungkap betapa kuatnya pengaruh Theravada dalam tradisi sehari-hari,
termasuk dalam rantai rites of passage,
pada dinamika pemerintahan & juga bagi perkembangan modernisasi di
kawasan-kawasan yg didominasi oleh umat penganut Buddhisme Theravada tersebut.
Swearer memang dalam bukunya ini memilah pengaruh Theravada Buddhisme dalam
tiga narasi tersebut; tradisi popular, negara, & modernisasi.
Tradisi
Popular
Dalam buku ini, para pemikir Barat seperti Max Weber melihat
dalam Buddhisme India awal terdapat perbedaan tajam antara apa yg disebutnya “Otherworldly Mystical” atau mistik
non-duniawi. Di satu sisi, muncul semacam pengingkaran pada urusan duniaw &
perilaku duniawi, di sisi lainnya perilaku dan tujuan praktis tindakan
sehari-hari dengan diwarnai pelembagaan Buddhisme yg subur di era Raja Asoka
& para raja setelahnya di abad ketiga masehi. Tidak berbeda dengan guratan
sejarah tersebut, Buddhisme Theravada di Asia Tenggara belakangan ini juga
mengalami hal serupa. Jelas terpampang tujuan mulia dari praktik sehari-hari
untuk mencapai kesempurnaan moral, perkembangan kualitas diri demi tercapainya
keluhuran serta beragam cara untuk menggapainya, namun di sisi lain Buddhisme
juga memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan duniawi sehari-har. Kedua
bidang (yg berlawanan) itu sama-sama tersahkan dalam catatan kanon Kitab Suci
Buddhisme Theravada.
Swearer mengurai dalam bukunya, ia melihat adanya tradisi
popular dalam masyarakat Buddhis di Asia Tenggara. Popular dalam pengertiannya
bukan sesuatu yang tidak serius, kurang bermakna atau jauh dari ideal, melainkan
ia maknai sebagai sesuatu yg umum diterima, dijalankan, & dipahami secara tradisional
oleh orang-orang yg menyangganya yaitu masyarakat Sri Lanka, Myanmar, Thai,
Cambodia dan Laos. Tradisi paling menonjol terkait dengan pengaruh Buddhisme
Theravada di antaranya adalah ritus perjalanan hidup (rites of passage), perayaan-perayaan upacara tahunan,
peristiwa-peristiwa ritual dan juga bergema dalam perilaku. Rangkaian peristiwa
tersebut dapat sekali jalan dipahami manakala mengunjungi vihara untuk
mengamati aktivitas-aktivitas tersebut, lalu mendengar ajaran Buddhisme dari
para bhikkhu atau pandita perumah tangga serta melihat cerita yg terpotret
dalam seni keagamaan dan dipamerkan dalam ritual.
Swearer menggarisbawahi bahwa perilaku Buddhis berpusat pada
tindakan yg bijak & mendatangkan karma baik (punna-karma) serta tindakan yg merugikan dan mendatangkan karma
buruk (papa-karma). Kisah perjalanan
Sang Buddha menjadi kisah kehidupan sebelum menjadi Sang Buddha yg terbukukan
dalam kisah-kisah jataka yg penuh
dengan nilai-nilai etika dan kesempurnaan spiritual. Swearer juga menyebut adanya
pemujaan terhadap benda-benda peninggalan bhikkhu yg dianggap suci, seperti
relic, jimat dan gambar/lukisan, seperti yang umum dipraktikkan di Thailand.
Buddhisme
Theravada dan Negara
Sang Buddha sangat dekat dengan kalangan raja semasa hidupnya
di India bagian utara. Hal tersebut dilihat sebagai sesuatu yg menguntungkan
untuk pengembangan vihara Buddhis (Buddhist
Monastic). Karena itu beralasan untuk mengatakan sejak awal sangha Buddhis
ternyata disokong oleh elit sosial, ekonomi dan politik untuk alasan sosial,
politik dan juga keagamaan tertentu tentunya. Perlu dicatat pula, bahwa
Pangeran Siddharta berasal dari kelas penguasa, khattiya, dan legenda menyebutkan ayah dari Siddharta, para raja
dari klan Sakya dan para raja lainnya semasa hidupnya merupakan para pendukung
agama baru ini.
Secara umum, menurut Swearer, institusi keagamaan &
institusi kerajaan saling mendukung satu sama lain dalam masyarakat Buddhis.
Perlindungan kerajaan terhadap pranata Buddhis berbalas dengan pelembagaan kepatuhan
yg diterima kerajaan. Di samping itu, keagamaan dan mitologi yang menguatkan
raja sebagai penyemai Agama Buddha dianggap sangat penting bagi terciptanya
keharmonisan dan kedamaian bagi seluruh negeri.
Asoka Maurya dalam tradisi Buddhis dianggap sebagai chakkavatin atau raja dunia Buddhis dari
dinasti Maurya (317-189 SM). Selain menerapkan nilai-nilai keluhuran, keadilan,
dan mendukung perkembangan Buddhisme, juga dianggap mempersonifikasi sepuluh
ajaran raja atau dasarajadhamma,
yaitu antara lain pemurah, berbudi luhur, pengorbanan diri, kebajikan,
pengendalian diri, penyabar, penyayang, & menaati norma-norma kebajikan.
Asoka dianggap penyatu India dan memimpin wilayah yg begitu luas antara tahun
270-232 SM. Model kepemimpinan Raja Asoka ini kemudian ditiru para raja dari
Pagan (Myanmar) seperti Raja Kyanzittha di abad 11 M & juga Raja Tilokaraja
dari Chiang Mai (Thailand) di abad 15 M.
Selanjutnya Buddhisme juga berpengaruh besar dalam membangun
sentimen nasionalisme modern di Sri Lanka, Myanmar, Thailand dan Vietnam. Buddhisme
juga menjadi faktor penting bagi proses pembangunan kembali Laos dan Cambodia
setelah berakhirnya Perang Vietnam. Tidak mengejutkan jika di Negara seperti
Sri Lanka dan Myanmar, Buddhisme baik langsung maupun tidak langsung terlibat
dalam penentangan kolonialisme, penguatan sentimen politik nasional, serta
integrasi nasional di bawah kepemimpinan tokoh dalam negeri. Untuk
membuktikannya, Swearer mengambil contoh perjalanan hidup U Nu yg memimpin
Myanmar di tahun 1940-1960an yg mengawinkan Buddhisme dan sosialisme. Bagi U
Nu, komunitas nasional hanya bisa dibangun jika setiap individu mampu
mengalahkan keinginan pribadinya. Benda-benda materi tidak berarti harus
disimpan atau digunakan untuk kenikmatan pribadi, tetapi hanya untuk
menyediakan kebutuhan hidup dalam perjalanan menuju nibbana. Di tahun 1950 U Nu mendirikan sebuah majelis Agama Buddha yg
bertujuan untuk menyebarluaskan Buddhisme dan juga mengawasi para bhikkhu. Di
tangan Jendral Ne Win yg mengkudetanya tahun 1962, situasi sedikit berubah.
Meski Ne Win seorang Buddhis taat, tetapi ia dengan pemerintahan juntanya
terlihat berjarak dan terlibat ketegangan dengan kelompok Sangha.
S.W.R.D. Bandaranaike yg terpilih menjadi PM Sri Lanka tahun
1956 juga nyaris sama dengan U Nu. Ia mengeksploitasi symbol-simbol &
kekuatan institusi Buddhisme untuk memperkuat posisinya. Walaupun ditengarai
kehidupan pribadinya tidak seideal sebagai pemimpin Buddhis seperti U Nu, ia
meneguhkan keyakinan politik demokrasinya serta filsafat ekonomi sosialisnya
sepadan dengan Buddhisme. Lalu di Thailand terlihat menunjukkan gejala sedikit
berbeda sebagai negara yg tidak pernah dijajah Barat. Di bawah kepemimpinan
Raja Chulalongkorn, Sangha Buddhis diatur & dipimpin oleh Sangha-Raja. Kemudian dikenalkanlah
pendidikan vihara yg berada di bawah control pemerintahan nasional. Penerusnya,
Raja Vajiravudh (1910-1925), agama dan pemerintahan menjadi bersatu padu yg
kemudian konsep ‘nation’, ‘religion’ & ‘king’ menjadi dasar ideologi bagi
berdirinya Thailand modern.
Mengawal
Modernisasi
Di BAB 3, Swearer mengupas persoalan hubungan Buddhisme dan
modernisasi. Tradisi keagamaan manapun selalu terlibat & merespon perubahan
politik, sosial dan ekonomi. Mereka bahkan sanggup melawan ideologi asing.
Dalam era normal, tradisi keagamaan tidak tampak melakukan perubahan. Namun di
era yg goncang, tradisi keagamaan senantiasa sejalan dengan perubahan untuk
membawa pada kebaikan serta kemajuan. Swearer mengambil contoh Cambodia ketika
di bawah Pol Pot dari Partai Komunis Kamboja. Pol Pot dan partainya
menginginkan menghapus semua peninggalan kolonial & juga tradisi warisan
masa lalu. Selama memegang pemerintahan selama 4 tahun dari tahun 1975-1979,
jutaan orang meninggal & lebih setengah juta meninggalkan negeri. Negara
menyaksikan penghancuran vihara-vihara dan kuil-kuil. Para bhikkhu dibunuh atau
dipaksa menanggalkan jubahnya menjadi orang biasa. Buddhisme Theravada terancam
hilang, hanya tertinggal di kalangan pengungsi di perbatasan dengan Thailand,
atau di antara pengungsi di Amerika Utara & Eropa Barat. Namun, ketika
Republik Rakyat Kampuchea didirikan tahun 1979, Buddhisme langsung kembali
berkembang dengan baik. Sangha Buddhis Cambodia akhirnya berkoalisi dengan pemerintah
tahun 1992 dan di tahun 1993 Norodom Sihanouk diangkat kembali menjadi Raja
Cambodia, sebuah posisi yg terasosiasi dengan Buddhisme.
Perubahan-perubahan itu tidak lepas dari peran para bhikkhu.
Di bidang politik contohnya, para bhikkhu dari etnis Sinhala mendukung
perjuangan pemerintah Sri Lanka untuk melawan Liberatin Tigers of Tamil Elam (LTEE) yg ingin memerdekakan diri.
Di Thailand, para pengikut Santi Asok, sebuah gerakan reformis Buddhis turut
serta dalam demonstrasi melawan pemerintahan Thaksin Shinawatra di tahun 2006
dan menuntut pengunduran dirinya. Akan tetapi Thaksin bukan tanpa dukungan dari
lembaga Buddhis. Wat Thammakai, sebuah gerakan Buddhis yg terdaftar di
pemerintah tahun 1978, dituduh bekerja sama dengan Partai Thai Rak Thai pimpinan
Thaksin. Organisasi ini dituduh mempopulerkan budaya keculasan, korupsi,
membuka jurang kesenjangan yg menjadi masalah ekonomi & pimpinan gerakan
ini menyebarluaskan penafsiran menyimpang mengenai diri dan nibbana.
Swearer mencatat peran Phrakhru Phitak Nantakhun di Thailand,
sebagai sosok bhikkhu yg aktif terlibat dalam pekerjaan konservasi hutan. Di
tahun 1990 ia menyeponsori penahbisan pohon untuk mencegah eksploitasi
berlebihan dari penduduk lokal. Sosok yg perlu dicatat juga adalah Bhikkhu Buddhadasa
(1906-1993) yg mempraktikkan tradisi hidup di hutan dengan mendirikan sebuah
pertapaan di Chaiya di Thailand Selatan. Ia mengadopsi sebuah gaya hidup
sederhana dengan meniru tradisi Buddhis India.
Secara umum, para bhikkhu Theravada di Asia Tenggara
sangatlah aktif dalam menyikapi isu-isu social ekonomi kontemporer, termasuk di
dalamnya adalah kesenjanggan tajam antara kaya-miskin, eksploitasi perempuan di
dunia kerja dan prostitusi, wabah HIV/AIDS & kerusakan lingkungan. Di
masyarakat dominan Buddhis seperti Thailand dan negara-negara tersebut di atas,
peran-peran Buddhisme dalam persoalan sehari-hari amat mudah dirasakan.
Penutup
Tidak dapat disangkal, bahwa dalam buku ini mengupas secara mendalam
terhadap tiga hal utama, yaitu Buddhisme dan tradisi popular, Buddhisme dan
negara serta Buddhisme serta modernisasi yang ketiganya tampak menonjol di
kawasan Asia Tenggara. Buddhis berpusat pada tindakan yg bijak &
mendatangkan karma baik (punna-karma)
serta tindakan yg merugikan dan mendatangkan karma buruk (papa-karma). Kisah perjalanan Sang Buddha menjadi kisah kehidupan
sebelum menjadi Sang Buddha yg terbukukan dalam kisah-kisah jataka yg penuh dengan nilai-nilai etika
dan kesempurnaan spiritual. Swearer juga menyebut adanya pemujaan terhadap benda-benda
peninggalan bhikkhu yg dianggap suci, seperti relief, jimat dan gambar/lukisan.
Secara umum, menurut Swearer, institusi keagamaan &
institusi kerajaan saling mendukung satu sama lain dalam masyarakat Buddhis.
Perlindungan kerajaan terhadap pranata Buddhis berbalas dengan pelembagaan
kepatuhan yg diterima kerajaan. Di samping itu, keagamaan dan mitologi yang
menguatkan raja sebagai penyemai Agama Buddha dianggap sangat penting bagi
terciptanya keharmonisan dan kedamaian bagi seluruh negeri. Selanjutnya
Buddhisme juga berpengaruh besar dalam membangun sentimen nasionalisme modern
di Sri Lanka, Myanmar, Thailand dan Vietnam. Buddhisme juga menjadi faktor
penting bagi proses pembangunan kembali Laos dan Cambodia setelah berakhirnya
Perang Vietnam. Tidak mengejutkan jika di Negara seperti Sri Lanka dan Myanmar,
Buddhisme baik langsung maupun tidak langsung terlibat dalam penentangan
kolonialisme, penguatan sentimen politik nasional, serta integrasi nasional di
bawah kepemimpinan tokoh dalam negeri
Dalam era normal, tradisi keagamaan tidak tampak melakukan
perubahan. Namun di era yg goncang, tradisi keagamaan senantiasa sejalan dengan
perubahan untuk membawa pada kebaikan serta kemajuan. Perubahan-perubahan itu
tidak lepas dari peran para bhikkhu. Di bidang politik contohnya, para bhikkhu
dari etnis Sinhala mendukung perjuangan pemerintah Sri Lanka untuk melawan Liberatin Tigers of Tamil Elam (LTEE) yg
ingin memerdekakan diri. Di Thailand, para pengikut Santi Asok, sebuah gerakan
reformis Buddhis turut serta dalam demonstrasi melawan pemerintahan Thaksin
Shinawatra di tahun 2006 dan menuntut pengunduran dirinya.