Judul Buku : IMAGINED COMMUNITIES
Pengarang : Benedict Anderson
Penerbit dan Kota terbit : Insist
Press dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Tahun terbit : Oktober, 2002
Tebal Buku : 336 halaman.
Bicara mengenai buku ini, kata “bangsa” menjadi suatu
proyeksi ke depan sekaligus ke belakang.
Karena itu tak
pernah bisa dalam
proses “formasi” sebagai suatu “historical
being”. Bangsa mengisi ke hadirannya sendiri dalam suatu
proyek yang dikerjakan sendiri, paham nasionalisme
ini menjadi suatu yg genting karena disebut
“historical” disini bukan
masa lalu, akan
tetapi mencakup masa depan
dengan menggenggam kuat kekinian sambil memproyeksikan dirinya ke masa
lalu. Juga nasionalisme adalah impian menuju
suatu kolektivitas politik terperosok ke dalam
kesalahpahaman yg sama lebih dalam. Mengisah
seperti Karl Marx yg
membicarakan kapital dan kapitalisme dimana dalam bukunya
Das Kapital, warga Jerman
harus bersyukur karena industrinya
dan para buruh pertaniannya
tidak seburuk Inggris. Dan
secara garis besar
sebagai hasil kajian
terhadap sebentang jangka
waktu tertentu yg
tiada mungkin kembali
lagi, dengan bayangannya
sendiri dan suasana
batinnya sendiri.
Di dalam
buku menjelaskan bahwa paham
nasionalisme, bangsa dan kebangsaan
yg lahir akibat berakhirnya masa orba (khusunya NKRI) membuat para politisi,
wartawan dan cendikiawan terguncang, dalam arti mengguncang kepercayaan penuh dan
yakin pada nasionalisme sebagai sebentuk “mantera” yg bukan
saja harus, tetapi
pasti mempersatukan bangsa ini, terlepas dari apa
pun yg terjadi
di “bawah”. Paham nasionalisme Indonesia sebagai “agama baru” kaum cendikiawan
Indonesia pada awal
abad pertengahan – abad 20, seperti
layaknya komunisme yg menjadi
“agama baru” di Eropa pada abad 19.
Di dalam
bangsa dibayangkan sebagai sebuah komunitas,
sebab tak peduli
akan ketidak-adilan, yg ada bangsa itu
sendiri selalu dipahami sebagai kesetiakawanan yg masuk mendalam dan melebar
mendatar. Sebagai tahap awal
Nasionalisme menjadi berkat bagi masyarakat lokal, namun
bagi kekuasaan universal suatu laknat
dan harus menanggung siksaan sebagaimana alam semesta
tersiksa karena dosa
asal pertama yg dikerjakan Adam/Hawa di taman
Firdaus karena keinginan
merebut pengetahuan tentang hidup dan mati.
Cukup
memungkinkan mencerna kemunculan
komunitas –komunitas
nasional terbayang tanpa
salah satu factor
di atas, atau
bahkan tanpa ketiga-tiganya. Yang dalam
makna positif membuat
komunitas-komunitas baru itu
dapat dibayangkan adalah
interaksi setengah kebetulan
tetapi bersifat eksplosif
antara sistem produksi
hubungan-hubungan produktif
(kapitalisme), teknologi komunikasi
(percetakan) serta fasilitas
pusparagam kebahasan manusia. Kemunculan komunitas-komunitas bayangan
diberbagai penjuru dunia
melalui bahasa yg
berkembang pesat, melalui bahasa
ibu. Lalu suburnya gaya
berpikir tertentu. Jenis ini bahasa tulisan
nasional punya makna
penting ideologis dan politis.
“Bangsa”
pun menjadi sesuatu
yang mampu secara
sadar diidamkan semenjak
awal dan bukan
merupakan bingkai visi
yang perlahan-lahan menajam. Sebagaimana kan
kita lihat nanti, “bangsa” terbukti merupakan
temuan yg mustahil
dimintakan hak patennya. “Bangsa” tersedia
untuk dibajak oleh
siapa saja, termasuk
oleh tangan-tangan yg sangat
berlawanan. Kemudian muncul
Nasionalisme-nasionalisme resmi, yg
secara historis “mustahil” hingga
sesudah munculnya nasionalisme-nasionalisme kebahasan,
sebab pada dasarnya
merupakan reaksi oleh
kelompok yg berkuasa. Nasionalisme resmi
ini menjubahi kesenjangan
antara bangsa dengan
ranah dinastik. Model
nasionalisme resmi telah
berhasil mengambil alih
kendali atas negara,
dan tatkala untuk
pertama kalinya mereka
ebrdiri pada posisi yg
memungkinkan penggunaan kekuasaan
negara demi memburu
cita-cita mereka sendiri.
Jadi
kesimpulan maupun penilaian
saya sendiri terhadap
buku Imagine Communities,
Semakin kekerasan
dipakai untuk mempertahankan bangsa,
memupuk rasa kebangsaan
maka semakin kuat
bangsa itu berdiri
diantara bangsa terbayang
lain. Komunitas-komunitas terbayang
bangsa-bangsa sebagai suatu
yg dengan sendirinya
tumbuh lalu berkembang
dari dan menggantikan
tempat komunitas-komunitas religius
serta ranah dinastik
terdahulu.
