Pembahasan
tentang RAS/Gen cenderung menuai pro dan kontra, namun bila membahas tentang
objek ini justru sangat menarik. Ya, objek yang dibahas adalah Blonde atau
rambut pirang. Dominan gen blonde berasal dari benua biru, dengan mata biru,
hidung mancung menjadikan generasi manusia ini menjadi simbol manusia sempurna.
Blonde
(Indonesia;Pirang) merupakan warna rambut emas kekuning-kuningan, kondisi
rambut tidak bewarna hitam ini akibat kekurangan pigmen Eumelanin dan tingkat
Phenomelanin yang tinggi. Dominan rambut pirang diwariskan secara
familial/generasi; namun tidak selamanya begitu karena rambut pirang juga dapat
tercipta secara alami. Rambut Pirang memiliki ciri bergelombang di ujung rambut
jika rambut terurai, dapat juga dibentuk menjadi bergelombang di pangkal
kepala. Blonde juga memiliki banyak jenis, mulai dari Platinum Blonde, Curly
Blonde, Mushroom Blonde dan Straight Blonde.[1]
Blonde
pada abad 20 melalui industri film Hollywood, muncul ke permukaan dan menjadi
daya tarik dunia. Blonde pada masa itu dominan memiliki ciri-ciri bergelombang
di pangkal kepala, Dalam industri film Hollywood, penampilan menjadi daya tarik
utama seseorang dapat menggiring para penikmatnya, tentu dibarengi dengan
akting yang mumpuni. Blonde salah satunya; Blonde menjadi ikon teratas dalam
pementasan masa keemasaan industri Hollywood (1930-1960an). Pada tahun 1933
sebuah film Platinum Blonde (1931) yang dibintangi oleh Jean Harlow menjadi
awal fenomena blonde di industri film. Jean Harlow juga yang pertama kali mempopulerkan
tren alami blonde (The Origin of Blonde)
Munculnya Istilah
Blonde Bombshell
Blonde
Bombshell awalnya merupakan penggalan dari istilah lain, yakni Bombshell; yang
dipakai orang-orang Amerika untuk menyebut wanita flamboyan (tanpa memandang
warna rambut) yang atraktif dan menarik dimulai pada tahun 1860.[2]
Namun istilah itu bergeser dan melekat pada wanita berambut pirang sejak
rilisnya film Platinum Blonde tersebut.
![]() |
| Jean Harlow |
Gaya
hidup Harlow dipandang tidak bermoral oleh masyarakat konservatif pada saat
itu. Dia menggunakan gaya glamournya sebagai cara berontak terhadap norma-norma
sosial yang dikenakan pada wanita. Salah satu hal yang paling dikritiknya dalah
kenyataan bahwa dia tidak menggunakan pakaian dalam; hal itu menjadikan dirinya
sebagai simbol seks pertama.[3] Dengan
ikon Jean Harlow yang begitu sensual, lebih jauh lagi istilah ini menjadi cikal
bakal ‘bomb sex’ atau ikon seks wanita popular untuk merujuk pada wanita
berambut pirang seksi yang menarik perhatian. Terkesan negatif; dikatakan
demikan karena mereka menjadi daya tarik dan konsumsi mata banyak orang,
khususnya pria.
Eksisnya
rambut pirang semakin dipertegas tatkala bintang-bintang Hollywood lain muncul
ke permukaan, seperti Marilyn Monroe, Jane Russell, Mae West, Jayne Mansfield,
Lana Turner, Ginger Roger, Dorothy Stratten dan masih banyak lagi; yang juga
memiliki karakter sensualitas yang tinggi. Sensualitas yang tinggi inilah
menjadi pujaan pria serta dicontoh oleh wanita lain untuk menirunya dalam dunia
modern. Mungkin diantara diatas, Marilyn Monroe yang paling dikenal.
Sensualitas
wanita-wanita berambut pirang seperti Marilyn Monroe sukses melekat pada
dirinya sampai saat ini, warisan ikonik blonde Jean Harlow ada di gengamannya
dan bahkan melampaui Harlow, dialah yang membawa kejayaan rambut pirang di
dunia. Harlow merupakan inpirasi baginya. Marilyn adalah duplikat dari Jean
Harlow, selain rambutnya juga memiliki gaya kehidupan yang sama serta memiliki
umur yang pendek, namun kehidupan Marilyn ‘sedikit’ lebih beruntung daripada
Harlow.
Sejalan
dengan itu, aura blonde terus mengalir, dengan semakin banyaknya aktris atau publik
figur berambut pirang lain, Anna Nicole Smith, Farah Fawcett, Pamela Anderson,
dan aktris-aktris sekarang seperti: Cameroon Diaz, Naomi Watts, Gwen Stefani,
Madonna dan yang lainnya.
Blonde Bombshell
dalam Gentlemen Prefer Blonde
Istilah
Blonde Bombshell telah mencuri perhatian, rentetan dari hal itu muncul juga tercipta
istilah Gentlemen Prefer Blondes (Pria lebih tertarik dengan rambut pirang),
yang memiliki makna bahwa wanita berambut pirang berhasil menarik perhatian
kaum pria, meyakinkan bahwa mereka pantas untuk dimiliki dan menjadi rebutan. Gentlemen
Prefer Blonde sendiri merupakan judul film yang diperankan Marilyn Monroe dan
Jane Russell. Istilah itu muncul setelah film dirilis, dimana secara sadar dan tidak
sadar, produk Blonde menjadi penggiring opini bahwa mereka menjadi wanita
unggulan, bahwa mereka pantas dimiliki; untuk itu pria-pria diluar sana pasti
bakal lebih tertarik dengan mereka dari pada wanita lain (objek;wanita dengan jenis
rambut lain).
![]() |
| Marilyn Monroe |
Sensualitas
Blonde memang sangat kuat, pria mana yang tidak tertarik dengan wanita Blonde.
Karena pria membayangkan hal itu dengan ikon Blonde itu sendiri, yakni Marilyn
Monre. Bahkan presiden pertama Republik Indonesia menaruh perhatian terhadap
aktris-aktris Hollywood khususnya Blonde. Diketahui bahwa Ir. Soekarno pernah
bertemu dengan dua ikon blonde saat itu, yakin Marilyn Monroe dan Jayne
Mansfield pada tahun 1956.[4]
Soekarno juga terlihat usil dan centil saat bertemu dengan mereka.
Blonde-blonde
yang Berakhir Tragis
Dominan,
efek dari sensualitas yang dibawakan wanita berambut pirang pada abad 20
mengarah ke negatif. Karena mereka mengekplorasi tubuh mereka menjadi konsumsi
publik. Mereka dicap sebagai wanita murahan dan mereka menjadi depresi. Seperti
pelopor rambut pirang itu sendiri, Jean Harlow. Lalu Marilyn; dia adalah wanita
rapuh, dia mengeluarkan semua kemampuan agar karirnya di dunia film lebih baik,
tidak hanya mengumbar tubuh. Tapi stigma negatif terus menyerang dirinya lalu
pelariannya ke obat penenang, miris memang.
Entah
kenapa deretan aktris-aktris Blonde Bombshell ini justru mengalami kehidupan
yang tragis. Dominan dari mereka mengalami kematian yang tidak wajar. Mulai
dari Harlow, Monroe sendiri, Jayne Mansfield yang meninggal akibat kecelakaan; mantan
bintang majalah Playboy, Dorothy Stratten yang dibunuh mantan kekasihnya; juga
kematian tragis Anna Nicole Smith.
Ya, itulah kehidupan Hollywood.
Informasi sedikit, saya masih akan membahas masa
keemasan Hollywood.





