Cari Blog Ini

Rabu, 25 Oktober 2017

Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara. Kenapa Tidak Empat Dasar Berbangsa dan Bernegara??



     Suatu anugerah Tuhan paling indah untuk bumi pertiwi, yang memiliki bangsa besar, serta kemajemukan. Sebuah negara bangsa yang mengikat lebih dari 1.128 suku bangsa (data BPS), ragam bahasa, agama & budaya di 18.108 pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Untuk itu diperlukan suatu stimulus, suatu kemauan kuat & konsepsi yg dapat menopang seluruh anugerah Tuhan yg telah diberikan serta perjuangan para pahlawan melalui Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 sekaligus menjadi buah sejarah & puncak perjalanan panjang perjuangan bangsa Indonesia agar tidak menjadi perjuangan yang sia-sia. Stimulus, kemauan yg kuat serta konsepsi itu disebut Empat Pilar Kehidupan Berbangsa & Bernegara, yang terdiri Pancasila; UUD 1945; Negara Kesatuan Republik Indonesia & Bhinneka Tunggal Ika.

     Lalu mengapa disebut dgn Pilar? Harusnya ini menjadi 4 Dasar Kebangsaan? Begitulah sekiranya tanggapan beberapa elemen masyarakat terhadap Empat Pilar Kebangsaan yang dinilai masih "keliru" dalam hal konsepnya karena untuk menopang negara yang besar ini. Menurut KBBI pengertian Pilar adalah tiang penguat, tiang pokok, induk utk menopang dasar. Jika masyarakat lebih intens membaca kembali "Materi Empat Pilar MPR-RI" (bagian. pendahuluan) sudah cukup dijelaskan mengapa disebut Empat Pilar, bukan Empat Dasar.

       Sesungguhnya Indonesia telah memiliki dasar serta ideologi yang menjadi modal dalam menjalankan kehidupan berbangsa & bernegara. Lantas kenapa justru dasar ini (Pancasila) "diturunkan" menjadi Pilar?

     Dimasukkannya Pancasila sebagai bagian dari Empat pilar utk menjelaskan adanya landasan. Pancasila ini menjadi pedoman dan penuntun bagi pilar-pilar lainnya. Penyebutan Empat Pilar Kehidupan Berbangsa & Bernegara tidaklah dimaksudkan bahwa ke-4 pilar tersebut kedudukannya sederajat. Setiap pilar memiliki tingkat fungsi, konteks yang berbeda dan pada prinsipnya Pancasila-lah yang menjadi pilar tertinggi sekaligus menjadi landasan untuk menuntun pilar-pilar lainnya. Contoh, Pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika tersebut sudah terkandung dlm UUD 1945, tetapi di pandang perlu utk diurai atau di ekplisitkan sebagai pilar-pilar tersendiri guna upaya preventif terhadap potensi gangguan dan ancaman thdp NKRI.

Lebih jauh, konsepsi pokok yang melandasi Empat Pilar adalah semangat gotong royong yang diserukan Bung Karno pada pidato 1 Juni 1945:
"Gotong royong adalah pembanting tulang bersama, perjuangan bantu binantu bersama...Holopis kuntul baris, buat kepentingan bersama! Itulah gotong royong"



     Dan sekali lagi, mengapa tidak disebut Empat Dasar Kehidupan Berbangsa & Bernegara??
Yap, pada prinsipnya kita sudah memiliki dasar yaitu Pancasila, dasar inilah yang menjadi penuntun, pedoman kepada pilar-pilar lainnya. Yg harus menjadi jiwa untuk menginspirasi seluruh pengaturan kehidupan bermasyarakat, berbangsa & bernegara. Namun juga Empat Pilar ini merupakan persyaratan minimal, di samping pilar lainnya agar dapat berdiri kokoh. Setiap penyelenggara negara dan bangsa Indonesia harus memiliki optimisme serta keyakinan bahwa inilah prinsip-prinsip khas Indonesia untuk menjadi pedoman dalam tercapainya kehidupan bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Sumber Rujukan:
http://sofian-memandang.blogspot.co.id/2015/01/dino-si-anak-kecil-dengan-pilar.html

Jumat, 06 Oktober 2017

Harapan Timnas Indonesia di Piala Dunia 2034




   Piala Dunia merupakan ajang sepakbola yang sangat menyita perhatian, dimana pertandingan yang membawa nama negara tidak hanya sebuah kebanggaan (pride) namun juga menjadi eksistensi yang paling berharga (prestise) untuk tampil di ajang empat tahunan tersebut; terutama negara-negara dunia ketiga yang masih terasa sulit untuk babak final Piala Dunia, bahkan untuk kualifikasi saja harus berjuang susah payah.[1]

   Selaras dengan Timnas kita yang masih berkutit di level regional, bahkan untuk juara terasa sangat sulit. Tapi sebagai pendukung terus memberikan rasa optimism terhadap Tim Garuda untuk dapat terbang setinggi-tinginya. Kita patut sedikit bersyukur, karena pemerintah serius dalam membenahi pesebakbolaan nasional, merupakan masa lalu untuk dijadikan pelajaran di masa depan. Tata kelola sepakbola nasional, kompetisi berjenjang, mengikutkan timnas di segala level kompetisi, serta pengembangan pemain muda menjadi agenda pokok PSSI.

   Melalui pengembangan pemain-pemain muda, bila kita sedikit mundur kebelakang, Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri dapat meraih prestasi di Piala AFF U-19 tahun 2013 yang secara tidak terduga. Melalui tangan dingin Insyaf (berikut nama akrabnya), ia mengelilingi pelosok negeri untuk menemukan pemain-pemain berbakat seperti Evan Dimas dkk. Lalu, sentuhan tangan dingin Insjaf tidak sampai situ saja, sempat dipecat tahun 2014 sebelum akhirnya kembali menukangi Timnas U-19. Di kesempatan kedua melatih Timnas U-19 ia berhasil melahirkan nama sepeti Egy Maulana cs. Dan hasilnya tampil memukau di kompetisi AFF U-18 di Myanmar, mengingat waktu persiapan yang sangat sedikit.

            Penampilan memukau Timnas U-19 diiringi para juniornya di ajang Kualifikasi Asia U-16 dan berhasil melaju ke Bbak Final Piala Asia U-16 tahun 2018 di Malaysia. Bahkan di babak kualifikasi grup, Timnas U-16 mencukur habis Mariana Utara dengan skor 18-0. Suatu moment yang manis ditengah perjuangan kita dalam membenahi sepakbola nasional.

   Fenomena perkembangan Gardua Muda menjadi daya optimism tinggi timnas untuk dapat terbang setinggi-tingginya. Dengan keseriusan pemerintah serta dukungan penuh dari masyarakat Indonesia bukan tidak mungkin dapat berprestasi lebih. Terus memberi perhatian kepada perkembangan pemain muda untuk membentuk tim solid di masa depan. Seperti halnya dengan negara Jerman yang serius dalam mengembangkan pemain muda, yang membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun sebelum akhirnya ‘kembali’ menjadi Juara Dunia tahun 2014 di Brasil. Ini dapat menjadi pelecut semangat timnas demi tujuan jangka panjang pada Piala Dunia 2034 mendatang.
Ya,,, Piala Dunia 2034 Indonesia dan Thailand akan mengajukan diri menjadi tuan rumah. Pemerintah dalam hal ini Presiden telah merestui dan mendukung Indonesia untuk menjadi tuan rumah bersama dengan Thailand.[2]

   Sekali lagi, dengan keseriusan jangka panjang, perkembangan bibit-bibit muda kita dapat menghasilkan tim solid dan berprestasi di masa mendatang. Terutama pada pagelaran Piala Dunia 2034. Kita berharap Garuda Muda dapat terus berkembang, berlatih dengan giat, belajar dan terus belajar dari tahun ke tahun. Perbaiki segala aspek yang menjadi kelemahan Timnas ditambah dengan sinergitas dukungan pemerintah dan seluruh masyarakat Indonesia demi meraih prestasi setinggi-tingginya.

Optimis terus, semangat Garuda-ku. Dari sekarang kita berbenah, bersakit-sakit dahulu, karena proses tidak akan menghianati hasil.

Bravo Timas Indonesia !!!


[1] Sumber Foto : Republikan (30/9/2017)
[2] Kompas.com (25/9/2017)