Piala Dunia merupakan ajang
sepakbola yang sangat menyita perhatian, dimana pertandingan yang membawa nama
negara tidak hanya sebuah kebanggaan (pride) namun juga menjadi eksistensi yang
paling berharga (prestise) untuk tampil di ajang empat tahunan tersebut;
terutama negara-negara dunia ketiga yang masih terasa sulit untuk babak final
Piala Dunia, bahkan untuk kualifikasi saja harus berjuang susah payah.[1]
Selaras dengan Timnas kita yang
masih berkutit di level regional, bahkan untuk juara terasa sangat sulit. Tapi
sebagai pendukung terus memberikan rasa optimism terhadap Tim Garuda untuk
dapat terbang setinggi-tinginya. Kita patut sedikit bersyukur, karena
pemerintah serius dalam membenahi pesebakbolaan nasional, merupakan masa lalu
untuk dijadikan pelajaran di masa depan. Tata kelola sepakbola nasional,
kompetisi berjenjang, mengikutkan timnas di segala level kompetisi, serta
pengembangan pemain muda menjadi agenda pokok PSSI.
Melalui pengembangan pemain-pemain
muda, bila kita sedikit mundur kebelakang, Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri
dapat meraih prestasi di Piala AFF U-19 tahun 2013 yang secara tidak terduga.
Melalui tangan dingin Insyaf (berikut nama akrabnya), ia mengelilingi pelosok
negeri untuk menemukan pemain-pemain berbakat seperti Evan Dimas dkk. Lalu,
sentuhan tangan dingin Insjaf tidak sampai situ saja, sempat dipecat tahun 2014
sebelum akhirnya kembali menukangi Timnas U-19. Di kesempatan kedua melatih
Timnas U-19 ia berhasil melahirkan nama sepeti Egy Maulana cs. Dan hasilnya
tampil memukau di kompetisi AFF U-18 di Myanmar, mengingat waktu persiapan yang
sangat sedikit.
Penampilan memukau Timnas U-19
diiringi para juniornya di ajang Kualifikasi Asia U-16 dan berhasil melaju ke
Bbak Final Piala Asia U-16 tahun 2018 di Malaysia. Bahkan di babak kualifikasi
grup, Timnas U-16 mencukur habis Mariana Utara dengan skor 18-0. Suatu moment
yang manis ditengah perjuangan kita dalam membenahi sepakbola nasional.
Fenomena perkembangan Gardua Muda
menjadi daya optimism tinggi timnas untuk dapat terbang setinggi-tingginya.
Dengan keseriusan pemerintah serta dukungan penuh dari masyarakat Indonesia
bukan tidak mungkin dapat berprestasi lebih. Terus memberi perhatian kepada
perkembangan pemain muda untuk membentuk tim solid di masa depan. Seperti
halnya dengan negara Jerman yang serius dalam mengembangkan pemain muda, yang
membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun sebelum akhirnya ‘kembali’ menjadi Juara
Dunia tahun 2014 di Brasil. Ini dapat menjadi pelecut semangat timnas demi
tujuan jangka panjang pada Piala Dunia 2034 mendatang.
Ya,,,
Piala Dunia 2034 Indonesia dan Thailand akan mengajukan diri menjadi tuan
rumah. Pemerintah dalam hal ini Presiden telah merestui dan mendukung Indonesia
untuk menjadi tuan rumah bersama dengan Thailand.[2]
Sekali lagi, dengan keseriusan
jangka panjang, perkembangan bibit-bibit muda kita dapat menghasilkan tim solid
dan berprestasi di masa mendatang. Terutama pada pagelaran Piala Dunia 2034.
Kita berharap Garuda Muda dapat terus berkembang, berlatih dengan giat, belajar
dan terus belajar dari tahun ke tahun. Perbaiki segala aspek yang menjadi
kelemahan Timnas ditambah dengan sinergitas dukungan pemerintah dan seluruh
masyarakat Indonesia demi meraih prestasi setinggi-tingginya.
Optimis
terus, semangat Garuda-ku. Dari sekarang kita berbenah, bersakit-sakit dahulu,
karena proses tidak akan menghianati hasil.
Bravo
Timas Indonesia !!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar