DAFTAR ISI
BAB
I. PENDAHULUAN
1.1. Profil.............................................................................................................................
1.1.1. Provinsi di Mesir
1.2. Sejarah...…………………………………………….......………..........................................
a. Zaman
Batu (10000 SM)..........................................................................................
b. Kerajaan
Lama (2686-2160 SM)...............................................................................
c. Periode Pertengahan Pertama (2160-2040
SM)............................................................
d. Kerajaan
Pertengahan (2040-1633 SM)......................................................................
e. Periode Pertengahan
Kedua (1786-1558 SM)..............................................................
f. Kerajaan
Baru (1558-1085 SM).................................................................................
g. Periode Pertengahan
Ketiga (1085-525 SM)...............................................................
h. Kekuasaan
Persia (525-332 SM)................................................................................
i. Kekuasaan
Yunani (Hellenistik) (332-30 SM)..............................................................
j. Kekuasaan Romawi (30
SM-700 M)...........................................................................
k. Kekuasaan Islam (700
M-1882).................................................................................
l. Kekuasaan Perancis (1979-1801)................................................................................
m. Kekuasaan Inggris (1882-1956) ............................................….…….....…...............
BAB II. PEMBAHASAN
2.1. Kosntitusi
Mesir................................................................................................................
2.2.
Sistem Pemerintah Mesir....................................................................................................
Eksekiutif....................................................................................................................
Legislatif......................................................................................................................
Yudikatif.....................................................................................................................
2.3. Partai
Politik..................................................................................................................
2.4. Pemilihan
Umum.............................................................................................................
2.5. Gejolak Politik di Mesir.................................................................................................
a. Muhammad Housni Said Al-Mubarrak.....................................................................
b. Muhammad Mursi Isa Al-Ayyat..............................................................................
c. Dewan Tertinggi Angkatan
Bersenjata (Field Marshal Mohamed Hussein Tantawi)...
2.5.1. Demonstrasi Mesir 2013 dan
Deklarasi Pemberhentian..............................................
d. Adli
Mahmud Mansyur..........................................................................................
e. Abdul Fattah Said Hussein Khalil As-Sisi................................................................
2.6. Ekonomi......................................................................................................................
2.7. Sosial budaya...............................................................................................................
a. Agama..................................................................................................................
b. Pendidikan...........................................................................................................
c. Pariwisata............................................................................................................
BAB I.
PENDAHULUAN
1.1.
Profil
Mesir
Nama Internasional : Republik Arab Mesir
Nama lain: Jumhūriyyat Miṣr al-ʿArabiyyah
Kepala Negara
|
Presiden
|
|
Kepala Pemerintahan
|
Perdana Menteri
|
|
-
|
||
-
|
||
مجلس
النواب
Majlis an-Nuwwab |
||
-
|
Republik
diumumkan
|
18
Juni 1953
|
-
|
Total
|
1.010.407 km2
|
-
|
0,6
|
|
-
|
Perkiraan 2015
|
89.471.500
|
-
|
89,2/km2
|
|
PDB
(nominal)
|
Tahun
2015
|
|
-
|
Total
|
$324.267
miliar
|
-
|
$3.724
|
|
Dengan
luas wilayah sekitar 1.010.407 km2 Mesir mencakup Semenanjung Sinai
(dianggap sebagai bagian dari Asia Barat Daya)
sedangkan sebagian besar wilayahnya terletak di Afrika Utara.
Mesir berbatasan dengan Libya di
sebelah barat, Sudan di
selatan, jalur Gaza
dan Israel di
utara-timur. Perbatasannya dengan perairan ialah melalui Laut Tengah di
utara dan Laut Merah di
timur. Mayoritas penduduk Mesir menetap di pinggir Sungai Nil
(sekitar 40.000 km²). Sebagian besar daratan merupakan bagian dari gurun Sahara
yang jarang dihuni. Mayoritas penduduk negara Mesir menganut agama Islam sementara sisanya menganut agama Kristen Koptik.
Mesir terkenal dengan peradaban kuno
dan beberapa monumen kuno termegah di dunia misalnya Piramid Giza, Kuil
Karnak, Lembah Raja serta Kuil Ramses. Di Luxor, sebuah kota di wilayah selatan terdapat
artefak kuno yang mencakup sekitar 65% artefak kuno di seluruh dunia. Kini,
Mesir diakui secara luas sebagai pusat budaya dan politikal utama di wilayah
Arab dan Timur Tengah.
1.1. Propinsi di Mesir
Negara Mesir terdiri dari 26 Propinsi (Muhafadzah) ditambah satu propinsi khusus,
terbagi dalam tiga bagian: al-Wajhu
al-Bahri (belahan Utara), al-Wajhu al-Qibly/Sa’idy(belahan
selatan), Syibh Jazirat Saina (propinsi-propinsi di dataran Sinai).
No.
|
Provinsi
|
Ibu kota
|
NO.
|
Provinsi
|
Ibukota
|
1
|
Kairo
|
Kairo
|
15
|
Faiyoum
|
Faiyoum
|
2
|
Giza
|
Giza
|
16
|
Bani Suef
|
Bani Suef
|
3
|
Daqahliyah
|
Manshurah
|
17
|
Aswan
|
Aswan
|
4
|
Syarqiyyah
|
Zaqaziq
|
18
|
Dimyath
|
Dimyath
|
5
|
Buhairah
|
Damanhur
|
19
|
Ismailiah
|
Ismailiah
|
6
|
Iskandariyyah
|
Iskandariyyah
|
20
|
Port Said
|
Port Said
|
7
|
Gharbiyah
|
Thanta
|
21
|
Suez
|
Suez
|
8
|
Qalyubiyyah
|
Banha
|
22
|
Matruh
|
Marsa Matruh
|
9
|
El-Minya
|
El-Minya
|
23
|
Sinai Utara
|
Ariesy
|
10
|
Shohaq
|
Shohaq
|
24
|
Al-Wadi Al-Jadid
|
Al-Wadi Al-Jadid
|
11
|
Qena
|
Qena
|
25
|
Bahr al-Ahmar
|
Hurgada
|
12
|
Manufiyyah
|
Syibin el-Koum
|
26
|
Sinai
Selatan
|
Thur
|
13
|
Asyuth
|
Asyuth
|
27
|
Luxor
|
Luxor
|
14
|
Kafr Syaikh
|
Kafr Syaikh
|
|||
1.2.
Sejarah Negara Mesir
Cerita peradaban masa lalu telah mengangkat Mesir
ke pentas sejarah dunia. Negara yang berada di sudut benua Afrika ini sekilas
tampak biasa saja seperti umumnya negara berkembang, namun menjadi luar biasa
dengan kekayaan budaya dan warisan sejarah yang dimilikinya. Mesir sudah mempunyai sejarah peradaban yang
cukup tua, dan menjadi negara dengan sejarah terpanjang. Eksistensi dan peranannya penting dalam
peradaban dunia. Satu di antara buktinya adalah banyak disebut dalam al-Qur’an.
Demikian pula para Nabi Allah banyak hidup di Mesir menyampaikan risalah Allah
swt seperti Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Yusuf dan nabi Sholeh.
Untuk sementara waktu tampaknya
ada dua kerajaan, yang disebut Mesir Hulu (di selatan) dan Mesir Hilir (di
utara). Sekitar 3000 SM, pada awal Zaman Perunggu, raja Mesir Hulu (raja Nemes)
menaklukan raja Mesir selatan dan membuat Mesir menjadi satu kerajaan, yang
disebut Mesir. Pemimpin kerajaan ini kemudian disebut Firaun.
Sejak masa tersebut hingga sekitar
525 SM, ketika Mesir ditaklukan oleh Persia, sejarah Mesir dibagi menjadi enam
periode. Pada Kerajaan Lama (2686-2160 SM), bangsa Mesir membangun piramida
sebagai makam bagi para firaun. Kemudian pada 2200 SM tamapaknya ada perubahan
iklim, dan Mesir terpecah menjadi banyak kerajaan kecil. Ini disebut Periode
Pertengahan Pertama (2160-2040 SM). Pada 2040 SM, para firaun berhasil
menyatukan kembali Mesir untuk kemudian mendirikan Kerajaan Pertengahan
(2040-1633 SM), namun para firaun Kerajaan Pertengahan tak sekuat para firaun
Kerajaan Lama, dan mereka tidak lagi membangun piramida. Sekitar 1800 SM, para
firaun Kerajaan Pertengahan kemballi kehilangan kekuasaan. Ini disebut Periode
Pertengahan Kedua (1786-1558 SM).
Setelah itu pada 525 SM, Kambyses,
raja Persia, memimpin pasukan menuju Mesir dan menaklukannya. Ia menjadikan
Mesir bagian dari Kekaisaran Persia. Bangsa Mesir tidak suka diperintah oleh
Persia, namun mereka tak cukup kuat untuk melawan. Ketika Aleksander Agung
menaklukan Kekaisaran Persia pada 32 SM, ia juga merebut Mesir pada tahun yang
sama, dan para penerus Aleksander yang beretnis Yunani berkuasa di Mesir
setelah kematiannya pada 332 SM. Masa ini disebut pula periode Hellenistik.
Pada masa ini, ratu Kelopatra, yang merupakan perempuan Yunani dan Firaun
Mesir, berkuasa. Setelah Kelopatra meninggal, Romawi menaklukan Mesir dan
menjadikannya bagian dari Kekaisaran Romawi selama ratusan tahun (30 SM-700
SM). Akhirnya sekitar 660 SM, pasukan Umayyah yang menyerbu Mesir berhasil menaklukan
wilayah ini dan menjadikan Mesir bagian dari Kekhalifahan Islam, menggantikan
kekuasaan Romawi di Mesir.
Pembagian periode dalam sejarah
Mesir:
a. Zaman
Batu
b. Kerajaan Lama (2686-2160 SM)
c. Periode Pertengahan Pertama (2160-2040 SM)
d. Kerajaan Pertengahan (2040-1633 SM)
e. Periode Pertengahan Kedua (1786-1558 SM)
f. Kerajaan Baru (1558-1085 SM)
g. Periode Pertengahan Ketiga (1085-525 SM)
h. Kekuasaan
Persia (525-332
SM)
i. Kekuasaan
Yunani (Hellenistik)
(332-30 SM)
j. Kekuasaan
Romawi (30
SM-700 M)
k. Kekuasaan
Islam (700
M-1882)
l. Kekuasaan Perancis (1979-1801)
m. Kekuasaan Inggris (1882-1956)
a. Mesir Kuno (Zaman Batu)
Sekitar 10000 SM, penduduk Mesir sudah
amat banyak sehingga orang-orang terpaksa menghasilkan makanan mereka sendiri
alih-alih berburu dan mengumpulkan makanan. Pada masa yang sama, orang-orang di
Asia Barat juga mulai bercocok tanam. Kemungkinan orang sudah lama mengetahui
cara bercocok tanam namun lebih suka pergi ke luar dan mencari makanan liar,
karena lebih mudah. Akan tetapi ketika jumlah penduduk sudah terlalu banyak,
makanan liar mulai tidak mencukupi kebutuhan bagi semua orang, dan dengan
demikian orang-orang harus mulai bercocok tanam. Proses ini disebut Revolusi
Agrikultur.
b. Mesir Kuno (Kerajaan Lama)
Setelah Mesir pertama kali disatukan sekitar tahun 3000 SM di bawah Firaun dari Mesir Hulu, para Firaun dengan cepat memperoleh kekuasaan yang besar atas rakyatnya. Ibukota Firaun adalah di Memphis. Prasasti yang disebut Palet Narmer menunjukkan ukiran yang kemungkinan menggambarkan Firaun Mesir Hulu yang sedang berdiri dan mengalahkan Firaun Mesir Hilir. Karena Kerajaan Lama berlangsung pada masa yang amat lampau, tidak banyak yang diketahi mengenai periode ini. Tampaknya para Firaun Kerajaan Lama menjalankan irigasi sisteamtis pertama dari sungai Nil, yang memungkinkan lebih banyak orang untuk tinggal di Mesir tanpa mengalami kelaparan. Piramida dibangun pada periode ini sebagai makam besar bagi para Firaun. Kemungkinan piramida dibangun oleh orang-orang yang biasanya menjadi petani, seperti kebanyakan orang pada masa itu. Mereka mungkin membangun sedikit bagian piramida setiap tahun, selama sungai Nil meluap sehingga kegiatan bercocok tanam tidak dapat dijalankan. Temuan arkeologis terkini menunjukkan bahwa para Firaun awal juga terlibat dalam kurban manusia. Pada masa yang sama, peradaban besar lainnya juga sedang muncul di Sumeria.
Firaun
terakhir di Kerajaan Lama adalah Pepi II, yang baru berusia enam tahun ketika
dinobatkan sebagai Firaun. Ibunya, Ankhesenpepi II, barangkali adalah yang
sebenarnya memegang kekuasaan atas nama putranya. Ia kemungkinan telah terbiasa
pada gagasan mengenai perempuan yang berkuasa. Ibu Ankhesenpepi II, Nebet,
menjadi wazir bagi kakek Pepy II, Pepi I. Ankhesenpepi II mungkin berkuasa
hingga Pepi II tumbuh dewasa, atau setelah ia meninggal. Setelah kematiannya,
Pepi II secara berangsur-angsur kehilangan kekuasaannya, dan orang-irabf kaya
lainnya di Mesir mulai mengendalikan wilayah mereka sendiri layaknya raja. Ini
disebut Periode Pertengahan Pertama.
c. Periode Pertenghan Pertama
Berakhirnya
Kerajaan Lama, sekitar 2100 SM, tampaknya disebabkan oleh pemberontakan orang-orang
dari kalangan yang kaya. Mereka merasa bahwa Firaun memiliki kekuasaan yang
terlalu besar. Secara berangsur-angsur Firaun menjadi semakin bergantung pada
para pejabat pemerintahan, dan orang-orang ini pun merebut kekuasaan. Beberapa
pengelolaan negara mulai terhenti. Piramida tak lagi dibangun. Sumber-sumber
tertulis menggambarkan masa-masa anarki, para bangsawan bekerja di ladang, anak
membunuh orang tua, sesama saudara saling bertikai, dan makam-makam
dihancurkan. Beberapa sejarawan berpendapat bahwa kekacauan ini mungkin
disebabkan oleh perubahan iklim besar yang memicu kondisi kekeringan di Mesir
d. Kerajaan Pertengahan
Kerajaan
Pertengahan berdiri setelah serangkaian peperangan antara penguasa Mesir Hulu
(Selatan) melawan Mesir Hilir (Utara). Penguasa Mesir Hulu menang, dan mereka
menyatukan kembali negara ini sekitar 2000 SM, dengan ibukota pertamanya di
Thebes di selatan, dan ibukota lainnya adalah sebuah kota baru di sebelah
selatan memphis. Para Firaun pada periode ini tidak memiliki kekuasaan sebesar
sebelumnya. Mereka lebih menampilkan diri sebagai penguasa yang memeprhatikan
rakyatnya, alih-alih sebagai raja-dewa di Kerajaan Lama. Adalah para Nomark
(pejabat lokal) yang memiliki kekuasaan cukup besar pada masa ini. Pada periode
ini, para Firaun pertama kali mulai menguasai wilayah di luar Mesir, seperti
Yerusalem, Yerikho dan Suriah. Selain itu banyak terjadi perdagangan antara
Mesir dengan Byblos, dekat beirut modern.
e. Pertengahan kedua
Sekitar
176 SM suatu bangsa yang disebut Hyksos menginvasi Mesir, mengakhiri Kerajaan
Pertengahan dan memulai Periode Pertengahan Kedua. Bangsa Hyksos, yang datang
dari Asia Barat, merebut bagian timur dari Delta Nil (Mesir timur laut, bagian
yang terdekat dengan Asia), dan menetapkan ibukota di Memphis. Tidak diketahui
siapa sebenarnya bangsa Hyksos, namun mereka kemungkinan merupakan etnis Amori,
yang menuturkan bahasa Semit (terkait dengan bahasa Ibrani dan Arab) dan datang
dari daerah di sekitar Suriah dan Israel, suatu daerah yang banyak melakukan perdagangan
dengan bangsa Mesir selama Kerajaan Pertengahan. Bangsa Hyksos berkuasa selama
sekitar seratus tahun, namun kemudian para penguasa selatan dari Thebes
lagi-lagi mulai menaklukan kembali daerah Mesir utara. Dalam perang pembebasan
ini, kedua bersaudara Kahmose dan Ahmose memerangi bansga Hyksos dan bangsa
Nubia, yaitu etnis Afrika yang tinggal di sebelah selatan Mesir. Pada akhirnya
mereka berhasil dan menyatukan kembali seluruh Mesir di bawah Kerajaan Baru
f. Kerajaan baru
Dengan
reunifikasi Mesir oleh Ahmose (Kamose meninggal sebelum Mesir benar-benar
bersatu) dan diusirnya bangsa Hyksos, Mesir memulai periode baru yang makmur di
bawah dinasti ke-18. Pada masa ini banyak terjadi perdagangan dengan Asia
Barat, dan pasukan Mesir bahkan menaklukan sebagian besar Israel dan Suriah,
meskipun mereka terus-menerus berperang dengan Het dan Asyyria demi kendali
atas daerah tersebut. Kuil-kuil besar dibangun di seluruh Mesir. Para ratu
Mesir memiliki kekuasaan yang besar pada masa ini, dan pada 1490 SM salah satu
ratu yang bernama Hatshepsut menjadi Firaun. Pemerintahan Hatshepsut
berlangsung lama dan damai. Ia membuat banyak kesepakatan perdagangan dengan
kerajaan-kerajaan Afrika, yang membuat Mesir semakin kaya. Pada tahun 1363 SM
ada seorang Firaun terkenal bernama Akhenaten, yang mendirikan ibukota baru di
Amarna da tampaknya menyembah satu dewa matahari baru, serta mengembangkan gaya
seni baru. Istrinya bernama Nefertiti. Akhenaten tak memiliki putra, dan
penerusnya adalah menantunya Tutankhamon. Akan tetapi pada 1333 SM para Firaun
kembali ke agama lama.
Pada
1303 SM sebuah dinasti baru dari utara merebut kekuasaan, yaitu dinasti Mesir
ke-19. Raja pertamanya, Firaun Ramesses, memindahkan ibukota kembali ke Memphis
di utara. Pada masa pemerintahan dinasti ini, pendeta menjadi amat berkuasa.
Peperangan dengan bangsa Het di Asia Barat terus berlanjut, namun perdagangan
juga banyak terjadi. Ini adalah masa yang dalam Kitab Injil dan Al Qur'an
disebutkan bahwa bangsa Yahudi (Bani Israil) diperbudak di Mesir. Dinasti
Firaun ke-20, sekitar 1200 SM, meneruskan kebijakan yang sama, dan semua
Firaunnya disebut Ramesses. Banyak terjadi serangan terhadap Mesir, yang
pertama dari Libya di arah barat dan kemudian dari Asia Barat, oleh suatu
kelompok yang oleh bangsa Mesir disebut Bangsa Laut. Kekaisaran Het
dimusnahkan, meskipun sekitar 1100 SM bangsa Mesir memerangi Bangsa Laut dalam
suatu pertempuran laut yang besar. Akan tetapi permasalahan di Asia Baat
tampaknya menyebabkan keruntuhan ekonomi besar-besaran di seluruh Mediterania
Timur dan Asia Barat dan tidak lama setelahnya Kerajaan Baru runtuh.
g. Periode pertengahan
ketiga
Setelah
meninggalnya Ramesses terakhir pada 1085 SM, Mesir terpecah. Tidak diketahui
apa yang sebenarnya terjadi tapi kemungkinan terjadi wabah kekeringan yang
parah. Peradaban Het dan Mykenai runtuh pada masa yang sama, dan banyak orang
dari kedua daerah tersebut menginvasi Mesir, dimana mereka kemudian disebut
Bangsa Laut, yang kemungkinan terdiri atas bangsa Filistin, Lykia, Akhaia,
Troya, dll. Mesir berhasil menghalau serbuan Bangsa Laut, namun tidak lama
setelahnya Mesir juga ikut runtuh. Mesir
kehilangan kendali atas Israel, Lebanon, Suriah, dan lagi-lagi dikuasai oleh
berbagai raja dari utara dan selatan. Selain itu Nubia berhasl merdeka kembali
dari kekuasaan Mesir. Wilayah Mesir utara menjadi lebih kaya daripada selatan,
dan kota-kotanya berkembang pesat. Namun Mesir tetap menjadi lebih lemah
daripada sebelumnya, sehingga Lybia mampu beberapa kali melakukan invasi dan
menguasai Mesir utara untuk sementara waktu. Di selatan, di Thebes, para
pendeta Amon terus memperoleh kekuasaan yang besar.
Sekitar
715 SM, seorang raja Sudan (atau Kush) hitam dari sebelah selatan Mesir, yang
bernama Piye atau Piankhi, menginvasi dan menaklukan sebagian besar wilayah
Mesir. Ia mendirikan Dinasti Firaun ke-25. Dinasti tersebut tidak berlangsung
lama, karena suatu bangsa baru dari Asia Barat, yaitu bangsa Assyria,
menaklukan Mesir dalam serangkaian perang yang berakhir pada 664 SM. Mereka
mengusir bangsa Sudan dari Mesir. Meskipun demikian, Assyria tidak benar-benar
mampu memerintah wilayah yang begitu jauh dari ibukota mereka di Nineveh,
sehingga tidak lama kemudian para raja Lybia menguasa Mesir dan mendirikan
Dinasti ke-26, dengan bantuan para tentara bayaran dari Yunani dan Lykia. Para
raja ini disebut orang Sais, karena menetapkan ibukota di Sais, di utara Mesir.
Pada 609 SM Kekaisaran Assyria runtuh, dan para raja Sais berhasil menaklukan
sejumlah wilayah di Israel dan Suriah. Akan tetapi pada 605 SM, Kekaisaran
Babilonia di bawah seorang raja bernama Nebukhadnezzar mengalahkan Mesir dan
merebut kembali Israel dan Suriah. Pada 525 SM, sebuah kekaisaran baru di Asia
Barat, yaitu Kekaisaran Persia, menyerang dan menaklukan Mesir. Kali ini mereka
sukses dalam memerintah Mesir.
h. Kerajaan Persia
Persia
menguasai Mesir sejak 525 SM, setelah berhasil mengalahkan bangsa Libya. Akan
tetapi, setelah Persia mengalami kekalahan atas pasukan Yunani di Marathon pada
490 SM, bangsa Mesir memebrontak (pada 484 serta pada 460 SM) dengan bantuan
Athena, namun gagal. Pada 404 SM Mesir berhasil merdeka, berkat melemahnya
Persia. Mesir mendirikan Dinasti ke-28, yang dilanjutkan oleh Dinasti ke-29 dan
30. Dinasti ke-28 berlangsung pendek dan hanya terdiri atas satu Firaun. Pada
Dinasti ke-29, Mesir menjalin persekutuan dengan Sparta dan berhenti
bekerjasama dengan Athena, karena Athena amat melemah seusai Perang
Peloponnesos melawan Sparta. Dalam kesepakatan ini, Sparta membantu Mesir
melawan Persia, dan Mesir mengirim banyak gandum sebagai balasannya. Sayangnya,
Persia menangkap kapal-kapal gandum Mesir dalam perjalanan menuju Sparta sehingga
hal ini tak berjalan baik.
Para
Firaun pada Dinasti ke-30 berupaya mempertahankan Mesir sebagai neagra merdeka.
Mereka memerangi invasi-invasi Persia. Suatu ketika, Persia menyerang Mesir
namun harus mundur kembali karena Sungai Nil sedang meluap. Seperti para Firaun
lainnya, mereka menjalin persekutuan dengan Sparta dan Athena serta kota-kota Yunani lainnya untuk
dapat menghalau Persia. Beberapa dari mereka bahkan berusaha mengembalikan
Mesir ke masa kejayaannya seperti pada Kerajaan Baru dengan cara menyerbu
Suriah. Akan tetapi pada akhirnya Mesir tidak sanggup terus-menerus bertahan
menghadapi serbuan Persia, dan Persia berhasil menaklukan Mesir kembali pada
341 SM, setelah Mesir mengalami kermedekaan selama enam puluh tiga tahun. Pada
332 SM, Aleksander Agung menaklukan Mesir sebagai bagian dari usahanya
menaklukan seluruh Kekaisaran Persia.
i. Yunani
Pada 332
SM Aleksander Agung dari Makedonia menaklukan Mesir dengan pasukan Yunani. Pada
awalnya, bangsa Mesir mengira bahwa Aleksander akan membiarkan Mesir merdeka.
Akan tetapi, Aleksander justru menjadikan Mesir sebagian bagian dari
kekaisarannya sendiri. Setelah Aleksander meninggal pada 323 SM, kekaisarannya
dibagi-bagi di antara para jenderalnya, dan salah satu jenderalnya yang bernama
Ptolemaios memperoleh Mesir. Ptolemaios berkuasa di Mesir dan mendirikan
Dinasti Ptolemaios atau Ptolemaik. Para Firaun Ptolemaios berhasil menaklukan
kembali banyak wilayah di Israel dan Suriah. Mereka membawa serta bahasa dan
kebudayaan Yunani ke Mesir, meskipun rakyat jelata di Mesir tetap menuturkan
bahasa Mesir dan menyembah dewa-dewi Mesir. Ptolemaios dan para keturuannya
memerintah Mesir hingga Octavianus Augustus dari Romawi mengalahkan Firaun
Mesir terakhir, yaitu Ratu Kleopatra, pada 30 SM. Sejak itu Mesir menjadi
bagian dari Romawi.
j. Romawi
Ketika
Julius Caesar memperoleh kekuasaan di Romawi, sekitar 50 SM, para Firaun
Ptolemaik, yaitu para raja Mesir dari etnis Yunani, amat sangat lemah dibanding
Romawi. Ketika Julius Caesar mengunjungi Mesir, ratu Mesir Ptolemaik, Kleopatra
VII, meminta Caesar membantunya dalam perang saudara melawan saudara sekaligus
suaminya yang masih remaja, Ptolemaios XIII. Julius Caesar setuju dan membantu
Kleopatra berkuasa, tapi kemudian menempatkan pasukan Romawi di Mesir, serta membawa
Kleopatra ke Roma sebagai kekasih. Ketika Julius Caesar dibunuh di Roma pada 44
SM, Kleopatra pulang ke Mesir bersama pemimpin Romawi lainnya, Marcus Antonius,
yang kemudian menjadi kekasihnya juga. Kleopatra memerintah Mesir selama empat
belas tahun, memperoleh empat anak dan memimpin negaranya dengan sukses sambil
melakukan manuver-manuver politik terhadap Romawi supaya Mesir bisa tetap
merdeka.
Akan
tetapi, dalam perang saudara antara keponakan Julius Caesar, Augustus, melawan
Marcus Antonius, pihak Mesir yang dipimpin Antonius dan Kleopatra mengalami
kekalahan. Mereka bunuh diri (atau dibunuh) pada 30 SM, dan setelah itu Mesir
dikuasai penuh oleh Romawi. Romawi menganggap Mesir amat berharga karena daerah
tersebut amat subur dan menghasilkan begitu banyak bahan pangan. Sejumlah
banyak makanan, terutama gandum (untuk dibuat menjadi roti), dikirim dari Mesir
ke Roma sebagai pajak dalam kapal-kapal besar. Untuk memudahkan pengumpulan dan
pengiriman pajak ini, Romawi mendirikan pemerintahan bergaya Romawi di Mesir,
meskipun bahasa utama pemerintahan di Mesir tetap bahasa Yunni ali-alih bahasa
Latin. Pada masa ini, rakyat jelata di Mesir juga memahami sejumlah perkataan
Yunani.
Sekitar
300-400 M, sebagian besar orang Mesir menerima agama Kristen. Ada petikaian
mengenai jenis Kristen apa, entah Arian atau Katolik, yang dianggap benar di
Mesir. Setelah Roma ditaklukan oleh Ostrogoth pada 476 M, pengiriman gandum
dari Mesir dialihkan ke ibukota baru Romawi di Konstantinopel, dekat Laut
Hitam, di tempat yang kini menjadi Turki.
Romawi menguasai Mesir hingga sekitar 700 M, selama
kira-kira 700 tahun, hingga bangsa Arab menyerbu dan menaklukan Mesir.
k. Muslim
Seiring
bangkitnya agama baru, Islam, di Asia Barat, bangsa Arab mendirikan suatu
negara bernama Kekhalifahan Umayyah yang berpusat di Suriah. Mereka dengan
cepat menaklukan Mesir juga, sehingga, seperti halnya dulu Mesir dukuasai oleh
Assyria, Persia, Yunani, dan Romawi, kini Mesir dikuasai oleh bangsa Arab
Islam. Akibat penaklukan ini, secara berangsur-angsur, sebagian besar bangsa
Mesir berpindah agama dri Kristen menjadi Islam, dan mereka juga mulai
menuturkan bahasa Arab. Ibukota baru juga didirikan di Mesir utara, tepatnya di
Kairo. Pada tahun 1000-1300, Mesir merdeka dari Kekhalifahan Islam yang
berpusat di Asia Barat dan mendirikan dinasti tersendiri yang beraliran Syi'ah
dan disebut Fatimiyah. Pada masa ini banyak terjadi kemajuan di Mesir. Akan
tetapi Mesir kemudian ditaklukan oleh dinasti Ayyubiyah yang Sunni, dan
kemudian oleh Mamluk. Sekitar tahun 1500, Mesir dikuasai oleh Kesultanan
Utsmaniyah, hingga akhirnya Mesir merdeka pada masa modern.
l. Perancis
Setelah
abad ke-15, invasi Utsmaniyah ke Mesir mengalami kemunduran hingga kelemahan
itu diambil alih oleh Perancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte. Invasi
singkat berlangsung selama 3 tahun (1798-1801) (pertempuran Piramida). Pada
saat itu tentara Perancis kembali diusir oleh tentara Utsmaniyah, Mamluk dan
diikuti dengan Inggris. Saling berebut kekuasaan, hingga akhirnya komandan resimen
dari Albania keturunan Turki Muhammad Ali Pasha mengangkat dirinya sendiri sebagai
raja muda di Mesir.
Pada
saat itu berhasil menarik hati militer Inggris yang dipimpin oleh Codrington
untuk mengusir pasukan Mamluk di Alexandria untuk mengkukuhkan taring Ali Pasha
sebagai pemimpin baru. Berkat kelihaian diplomasi Ali, Inggris berhasil dipaksa
keluar pada Agustus 1807. Dimasa nya Ali Pasha dianggap sebagai pendiri mesir
Modern dan dapat meluaskan kekuasaan hingga Sudan, Suriah, Kep. Yunani hingga Eropa
Timur. Malangnya M. Ali Pasha kemudian diasingkan oleh Sultan Osmani atas
tekanan Inggris pada 1840 hingga meninggal 9 tahun kemudian.
m.
Inggris
Sesudah
Ali Pasha, Mesir diperintah oleh Abbas I (1848-1854), Said Pasha (1854-1863),
Khedive Ismail (1863-1879). Pada masa Ismail, Inggris kembali datang dan
merebut wilayah Kairo. Hingga Pada tahun 1918 (usai PD I), muncul pemimpin
bernama Saad Zaghul. Saad berniat mengusir Inggris dan terjadi Revolusi 1919
yang memaksa Inggris merubah kebijakan politik nya, Mesir kembali menjadi
Monarki dan Fuad I (1920) sebagai pemimpinnya. Inggris masih tetap berkuasa
(dalam bentuk Imperial).
Setelah
tahun 1952, terjadi Revolusi kembali setelah penjajahan Inggris yang tdak
berkesudahan, rentetan perang hingga kepemimpinan Raja Faroukh (1936)
(menggantikan Raja Fuad I) yang amburadul membuat revolusi besar-besaran.
Kondisi ini mendorong sebagian perwira yang menamakan diri Dhubbath Al-Anhar
(Dewan Jenderal) dibawah pimpinan Gamal Abdul Naser. Di tahun yang sama, Raja Faroukh
diturunkan secara paksa dan kekuasaan dipegang oleh Junta Militer. Tapi mereka
sendiri melihat bahwa sistem kerajaan tidak cocok algi, maka mereka mengumumkan
menjadi sistem negara Republik pada 18 Juni 1953 dan Jenderal Muhammada Najib
menjadi presiden pertama sampai tahun 1954. Karena
diilhami oleh Revolusi Mesir ini, Sudan yang sebelumnya masuk wilayah otoritas
Mesir memisahkan diri. --Kembali ke penjajahan Inggris, setelah melewati
perjuangan panjang, Mesir akhirnya berhasil mengusir Inggris pada tahun 18 Juni
1956. Tahun 1958 Mesir dan Suriah bergabung membentuk negara Republik Persatuan
Arab. Namun pada tahun 1961 gabungan ini terpecah karena kemudian Suriah
menarik diri dan membentuk pemerintahan sendiri.
BAB II.
PEMBAHASAN
2.1. KONSTITUSI MESIR
Konstitusi mengalami banyak amandamen, mulai berlakunya konstitusi
pertama sebagai negara republik pada 11 September
1971; diamandemen 22 Mei 1980 dan 25 Mei 2005, 2012 dan yang terakhir 2014.
Dengan sistem undang-undang berbasis atau berlandaskan atau diambil dari butir-butir
pada undang-undang Inggris, Hukum Islam, dan undang-undang Napoleon. Beberapa perubahan
yang kontras terjadi ketika peralihan konstitusi 1971 dan diamandemen tahun
1980. Salah satu perubahan berkaitan dengan sistem pemerintahan terutama di
lembaga legistif, lalu peralihan konstitusi 2012 ke amandemen 2014 dimana
presiden dipilih untuk masa jabatan 4 tahun.
2.2. SISTEM
PEMERINTAHAN MESIR
Lembaga
Eksekutif
UUD yang diamendemen melalui referendum pada tanggal 22
Mei 1980 Presiden dapat terpilih kembali untuk berkali-kali. Presiden dapat
mengundurkan diri dengan mengajukan pengunduran dirinya kepada Majelis Rakyat.
Presiden berhak melantik wakil presiden, perdana menteri, dan menteri kabinet,
serta membubarkan dewan rakyat, dapat mengambil langkah darurat pada masa luar
biasa.
Persyaratan tambahan
yang ditetapkan dalam Pasal 76 dari konstitusi 1980 Mesir mengenai calon kantor
presiden;
Calon sudah harus menduduki salah satu posisi
kepemimpinan puncak di partai mereka untuk jangka waktu satu tahun
Kandidat partai politik harus telah ditetapkan untuk jangka
waktu lima tahun, dan berhasil menang 3% dari kursi di Majelis Rakyat (majelis
rendah parlemen), dan 5% di Dewan Syura (majelis tinggi)
Kandidat independen harus menerima dukungan dari 250
anggota yang dipilih dari badan perwakilan Mesir, dimana minimal 65 dukungan
yang akan diperoleh dari Majelis Rakyat, 25 dukungan dari Dewan Syura dan 10
dukungan Dewan lokal dari 14 governorat untuk memastikan keterwakilan geografis.
Perubahan
Konstitusi 2014 terkait dengan lembaga Legislatif
Presiden masa jabatan 4 tahun, pihak militer berhak menunjuk
Menhan yang selama ini ditunjuk oleh Presiden
Lembaga
Legislatif (Majlis an-Nuwwab)
-
Majelis Rakyat (Majlis al-Sha'b/Rendah)
Komposisi 454 kursi; 444 dipilih melalui
pemilu, 10 ditunjuk oleh presiden; masa jabatan selama 5 tahun). Berdasarkan UUD yang diamendemen melalui referendum pada
tanggal 22 Mei 1980 Majelis Rakyat sebagai badan legislatif tertinggi.
- Majelis Syura (Tinggi)
Yang berfungsi hanya sebagai lembaga
konsultasi (dengan komposisi 264 kursi; 176 dipilih melalui pemilu, 88 ditunjuk
oleh presiden; masa jabatan enam tahun; pemilihan sela untuk setengah dari
anggota yang dipilih/bergantian tiap 3 tahun sekali)
Lembaga Yudikatif
Mahkamah Konstitusi
Agung Mesir adalah Mahkamah Agung di Republik Arab Mesir yang berpusat di
Kairo. Yang bertujuan untuk mengontrol hukum agar sesuai dengan konstitusi dan
menghapus hukum yang tidak sesuai dengan konstitusi Mesir. Lembaga ini
merupakan badan kehakiman yang independen dari otoritas legislatif dan
eksekutif di Mesir, dan terdiri dari satu Ketua, dan satu Wakil atau lebih
serta beberapa penasehat, dan 7 hakim konstitusi, dan keputusan akhir tidak
dapat dibanding dengan cara apapun. Diangkat oleh Presiden.
2.3. PARTAI POLITIK
Partai Demokrasi Nasional (1978)
Ketua : Muhammad Hosni Mubarak
Partai Persatuan Pembangunan Nasional
(1977)
Ketua : Mr. Khaled Mohyidin.
Partai Sosialis Liberal (1977)
Ketua : Mr. Mostafa Kamel Murad
Partai Buruh Sosial (1978)
Ketua : Mr. Ibrahim Shoukry
Partai Sosial Arab Mesir (1985)
Ketua : Mr. Gamal Eldin Rabie Youssef
Partai Persatuan Demokrasi (1990)
Ketua : Mister Ibrahim Abdul Moneim
Tork
Partai Rakyat Demokrasi (1992)
Ketua : Anwar Afifi
Partai Nasr (1992)
Ketua : Mr. Diaa El-Din Daoud
2.4. PEMILIHAN DI MESIR
Sejak
konstitusi 1980 berlaku, presiden dapat mengajukan diri kembali berkali-kali
dengan sistem kandidat tunggal. Pada tahun 2005 Presiden H. Mubarak merubah ke
pemilu multikandidat, sebuah referendum nasional
pada bulan Mei 2005 mengesahkan amandemen konstitusional yang mengubah pemilu
presiden menjadi sistem langsung; semula presiden dipilih oleh Dewan Perwakilan
Rakyat yang nominasinya diambil berdasarkan referendum nasional. Pada tahun itu,
Husni tetap memenangkan pemilu dengan hasil: Husni MUBARAK 88,6%. Ayman NOUR
7,6%. Noman GOMAA 2,9%. Hanya pemilihan presiden yang
mengalami perubahan sistem pemilu. Untuk pemilihan Parlemen tetap menggunakan
kosntitusi lama (tidak berganti)
2.5. GEJOLAK POLITIK DI MESIR
a. MOH HOUSNI SAID MUBARAK (4 Mei 1928) (14 Oktober 1981 - 11 Februari
2011)
(PM: Ahmad
Fuad Mohieddin, Kamal
Hassan Ali, Ali
Mahmoud Lutfi, Atef Muhammad Naguib Sedki, Kamal Ganzouri, Atef Ebeid, Ahmed Nazif)
Mubarak ditunjuk sebagai wakil presiden pada tahun 1975 setelah pangkatnya
naik di jajaran Angkatan Udara Mesir. Kemudian, ia menjadi presiden untuk menggantikan Presiden Anwar Sadat yang terbunuh pada 6 Oktober 1981 oleh kelompok radikal. Ia merupakan Presiden Mesir keempat untuk masa jabatan lebih dari
20 tahun sejak menjabat pada tahun 1981. Gejolak
politik di Mesir terjadi ketika Housni Mubarak memimpin negeri selama 30
tahun). Pada akhir Februari
2005, Presiden
Mubarak mengumumkan perubahan aturan pemilihan presiden menuju ke pemilu
multikandidat. Untuk pertama kalinya sejak 1952, rakyat
Mesir mendapat kesempatan untuk memilih pemimpin dari daftar berbagai kandidat.
Pada akhir Januari 2011 rakyat
Mesir menuntut Presiden Hosni Mubarak untuk meletakan jabatannya. Hingga 18
aksi demonstrasi besar-besaran menuntut Presiden Hosni Mubarak mundur, akhirnya pada tanggal 11 Februari 2011 Hosni Mubarak resmi mengundurkan
diri. Pengunduran diri Hosni Mubarak ini disambut baik oleh rakyatnya.
Pada tanggal 2 Juni 2012, ia divonis pengadilan dengan hukuman penjara
seumur hidup.
b.
Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata (Field Marshal Mohamed
Hussein Tantawi)
(11 Februari 2011- 1 Juli 2012)
c. MOHAMMAD MURSI ISA
AL-AYYAT (20 Agustus 1951) (1 JULI 2012 – 3 JULI 2013)
Presiden
ke-5 Mesir yang menjabat sejak 30 Juni 2012.
Mursi menjadi Anggota Parlemen di Majelis Rakyat Mesir selama periode 2000-2005 dan seorang
tokoh terkemuka di Ikhwanul Muslimin. Sejak 30 April 2011, dia menjabat
Ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), sebuah partai politik yang
didirikan oleh Ikhwanul
Muslimin setelah Revolusi
Mesir 2011. Ia maju
sebagai calon presiden dari FJP pada pemilu presiden Mei-Juni 2012. Pada tanggal 24 Juni 2012, Komisi
Pemilihan Umum Mesir mengumumkan bahwa Mursi memenangkan Pemilu Presiden dengan
mengalahkan Ahmed Shafik, Perdana Menteri terakhir di bawah
kekuasaan Hosni Mubarak. Komisi Pemilihan menyatakan Morsi
memperoleh 51,7% suara, sedang Shafiq mendapatkan 48,3%.
Mursi menjadi anggota
parlemen Mesir mewakili Zagazig selama periode 2000-2005. Ia
terpilih sebagai calon independen, karena secara teknis Ikhwanul Muslimin dilarang mencalonkan kandidat presiden
ketika Hosni Mubarak menjabat. Morsi menjadi anggota Kantor
Bimbingan Ikhwanul Muslimin hingga mendirikan Partai Kebebasan dan Keadilan pada tahun 2011, usai
Mubarak jatuh. Setelah Khairat El-Shater didiskualifikasi dari pemilihan
presiden 2012, Mursi,
yang awalnya dicalonkan sebagai calon cadangan, muncul sebagai calon baru Ikhwanul Muslimin. Kampanyenya dibantu oleh seorang
ulama terkenal Mesir, Safwat Hegazi pada unjuk rasa di El-Mahalla
El-Kubra, pusat protes buruh di Mesir.
2.5.1. Demonstrasi Mesir 2013 dan deklarasi pemberhentian
Saat Pendukung Morsi
merayakan kemenangan tersebut di Lapangan Tahrir,
ledakan amarah pihak yang kalah meledak saat Otoritas Pemilihan Umum Mesir
mengumumkan hasilnya. Mursi unggul tipis atas mantan Perdana
Menteri Mesir era Mubarak, Ahmed Shafik, dan dikenal dengan karakter
Islami-nya. Pada tanggal 30 Juni 2013, demonstrasi besar berlangsung di penjuru
Mesir menuntun pengunduran diri Presiden Morsi. Bersamaan dengan demo
anti-Morsi, isu Islamisasi Mesir dan belum bisa mensejahterakan rakyat
digaungkan. Para pendukungnya mengadakan demonstrasi tandingan di lokasi lain
di Kairo.
Pada 1 Juli 2013, Angkatan
Bersenjata Mesir menerbitkan ultimatum 48 jam, memberi
tenggat waktu hingga 3 Juli bagi partai untuk memenuhi tuntutan rakyat Mesir.
Militer Mesir juga mengancam akan turut campur bila perselisihan tersebut tidak
diselesaikan. Empat menteri juga turut mengundurkan diri di hari
yang sama, termasuk Menteri Pariwisata Hisham Zazou, Menteri Komunikasi dan IT
Atef Helmi, Menteri Negara Urusan Hukum dan Parlemen Hatem Bagato dan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Khaled Abdel Aal, menyisakan pemerintahan dari Ikhwanul
Muslimin saja.
Pada 2 Juli 2013,
Presiden Morsi secara terbuka menolak ultimatum 48 jam dan bersumpah untuk
menjalankan rencananya sendiri untuk rekonsiliasi nasional dan menyelesaikan
krisis politik. Pada 3 Juli 2013 pukul, Abdul Fattah el-Sisi,
Kolonel Jenderal Angkatan Bersenjata Mesir, menyatakan bahwa Morsi telah
dilengserkan dan mengangkat kepala Mahkamah Konstitusi sebagai pemegang jabatan
sementara Presiden Mesir. Akhirnya, setelah 1 tahun mendekam di
penjara, pada tanggal 19 November 2014, Mursi bersama 35 pemimpin Ikhwanul
Muslimin lainnya terancam didakwa dengan hukuman mati dengan tuduhan melakukan spionase kepada Qatar. Jaksa Emad el Sharawy menuduh Mursi dan
para pembantunya membocorkan dokumen keamanan negara ke badan-badan intelijen
asing, selain itu dia juga dituduh bekerja sama dengan organisasi yang diklaim
sebagai kelompok teroris, seperti Hamas.
d.
Adli Mahmud Mansur (23 Desember 1945)
Adalah
seorang hakimMesir yang pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Agung Mesir dan
Presiden ad-interim Mesir.
Dia ditunjuk sebagai presiden menyusul kudeta militer di Mesir yang
menggulingkan presiden sebelumnya yang terpilih secara demokratis, Muhammad Mursi. Para
tokoh sekuler, tokoh religius dan tokoh-tokoh pro kudeta lainnya seperti Imam
Besar al-Azhar Dr. Ahmad Ath-Thayyib, Koptik Paus Tawadros II, dan Muhammad Al-Barad'i
mengumumkan bahwa Presiden Muhammad Mursi telah
digulingkan dan Mansur ditunjuk sebagai Presiden sementara sampai pemilihan
umum bisa berlangsung.
Mursi
menolak untuk mengakui pemakzulannya ini dan terus mempertahankan bahwa ia
adalah Presiden yang sah dari Mesir. Mansour
disumpah di depan Mahkamah Konstitusi Agung pada tanggal 4 Juli 2013. Pada 4 Juli 2013, Panglima
Angkatan
Bersenjata Mesir
Jenderal Abdel
Fattah el-Sisi mengumumkan
adanya revolusi untuk mengamankan Mesir, yang bertujuan untuk menggulingkan Mohamed Morsi. Morsi sendiri adalah presiden
pertama Mesir yang dipilih secara demokrasi. Pada 3 Juni 2014, Komisi Pemilihan Mesir mengumumkan,
mantan Jenderal Mesir, Abdel
Fattah el-Sisi
terpilih menjadi Presiden setelah menang dalam Pemilu Mesir
pada Mei 2014.
e.
Abdul Fattah Said Hussein Khalil as-Sisi (19 November 1954)
Adalah Presiden Mesir saat ini.
Ia sebelumnya adalah seorang komandan militer Mesir yang merupakan Panglima Angkatan
Bersenjata Mesir, serta Menteri
Pertahanan, dari 12 Agustus 2012 sampai 26 Maret 2014. Sebagai
kepala angkatan bersenjata, ia memainkan peran utama dalam mendepak Presiden Muhammad Mursi pada kudeta Mesir 2013,
menyusul protes massa terhadap Mursi dan pemerintahannya. As-Sisi kemudian
diangkat sebagai Deputi Pertama Perdana Menteri, merangkap jabatan sebagai
Menteri Pertahanan. As-Sisi mengkonfirmasi pada 26 Maret 2014 bahwa ia akan
mencalonkan diri sebagai presiden dalam pemilihan presiden 2014. Al-Sisi kembali menjadi presiden sebagai
petahana terhitung 8 Juni 2014 dengan PM Ibrahim Mahlab.
2.6. EKONOMI
Ekonomi Mesir sangat tergantung pada pertanian, media, ekspor minyak bumi, ekspor gas alam, dan pariwisata, terdapat pula lebih dari tiga juta orang Mesir bekerja di luar negeri, terutama di Arab Saudi, Teluk Persia dan Eropa. Hasil pertanian Mesir yang terpenting adalah kapas, tebu, padi, sayuran dan buah-buahan. Bahkan kapas merupakan komoditas ekspor yang mendatangkan devisa bagi negeri piramide ini. Pertanian dapat berkembang karena dibangunnya Bendungan Aswan pada tahun 1969. Bendungan yang lebih baru dan lebih besar kemampuannya adalah Bendungan El-Sadd El-Ali, yang terletak 8 km di sebelah selatan Bendungan Aswan.Perut bumi Mesir mengandung pula barang tambang, berupa minyak bumi, fosfat, bijih besi dan mangan. Minyak bumi terdapat di daerah pantai timur Teluk Suez, fosfat di daerah pantai barat Laut Merah, bijih besi ditambang di sebelah timur kota Aswan dan mangan di Semenanjung Sinai. Dibidang industri dihasilkan tekstil, baja, semen, pupuk dan bahan kimia. Pusat-pusat industri Mesir adalah Iskandariah, Kairo, Delta Sungai Nil dan di sekitar Terusan Suez. Bahkan, kni Mesir menjadi negara industri kedua terbesar di Benua Afrika. Sumber penerimaan lainnya bagi negara Piramid ini adalah kepariwisataan dan bea masuk Terusan Suez. Daya tarik Mesir dengan peninggalan-peninggalan Mesir Kuno menyebabkan Mesir banyak dikunjungi wisatawan asing. Sedangkan hasil Terusan Suez adalah berupa bea masuk yang diterima dari setiap kapal yang berlayar melewati terusan ini.
PDB
(nominal)
|
Tahun
2015
|
|
-
|
Total
|
$324.267
miliar
|
-
|
$3.724
|
|
2.7.
SOSIAL BUDAYA
Mesir
terkenal dengan peradaban kuno
yang fantastis dan beberapa monumen kuno termegah di dunia misalnya Piramid Giza,
Kuil Karnak, Lembah Raja serta Kuil Ramses. Di Luxor, sebuah kota di wilayah selatan terdapat
artefak kuno yang mencakup sekitar 65% artefak kuno di seluruh dunia. Kini,
Mesir diakui secara luas sebagai pusat budaya dan politikal utama di wilayah
Arab dan Timur Tengah. Pada
masa Mesir Kuno, masyarakat masih percaya akan dewa, terdapat banyak kuil
penyembahan. Lalu mereka percaya setiap benda memiliki khas gaib. Mesir sangat terkenal sebagai salah
satu pusat kebudayaan dunia pada zaman purba. Peninggalan-peninggalan
kebudayaan Mesir, seperti piramida, sphinx, obelisk, dan hiroglif. Sebagian
besar masyarakat Mesir Kuno bekerja sebagai petani. Kediaman mereka terbuat
dari tanah liat yang didesain untuk menjaga udara tetap dingin di siang hari.
Setiap rumah memiliki dapur dengan atap terbuka. Di dapur itu biasanya terdapat
batu giling untuk menggiling tepung dan oven kecil untuk membuat roti. Bangsa
Mesir Kuno sangat menghargai penampilan dan kebersihan tubuh. Sebagian besar
mandi di Sungai Nil dan menggunakan sabun yang terbuat dari lemak binatang dan
kapur.
Ketika
Islam datang, menawarkan ajaran kasih sayang, pemaaf, yang mulia di sisi Tuhan
adalah yang paling takwa, tidak ada perbedaan kasta dalam bermasyarakat dan
sebagainya. Keadaan demikian menjadikan rakyat Mesir sangat mencintai agama
Islam lahir bathin.Sehingga keberadaan Islam telah membentuk peradaban dalam
sosial budaya dan bahasa mereka. Mesir menjadi bangsa yang kuat dan beradab
dibarengi dengan pendidikan nya hingga sekarang.
a. Agama
Agama memiliki
peranan besar dalam kehidupan di Mesir. Secara tak resmi, adzan yang
dikumandangkan lima kali sehari menjadi penentu berbagai kegiatan. Kairo juga
dikenal dengan berbagai menara
masjid dan gereja. Menurut konstitusi Mesir,
semua perundang-undangan harus sesuai dengan hukum Islam. Negara mengakui mazhab Hanafi lewat Kementerian Agama. Imam dilatih di sekolah keahlian untuk imam dan di Universitas
Al-Azhar, yang
memiliki komite untuk memberikan fatwa untuk
masalah agama. 90% dari penduduk Mesir adalah penganut Islam,
mayoritas Sunni dan sebagian juga menganut ajaran Sufi lokal.
Sekitar 10% penduduk Mesir menganut agama Kristen; 78% dalam denominasi Koptik (Koptik Ortodoks,
Katolik
Koptik, dan Protestan Koptik).
Gereja Kristen Koptik memiliki keunikan dari denominasi Kristen lainnya,
karena, seperti Kristen
Asiria, mereka masih
menggunakan bahasa kuno yang dulu mendominasi daerah mereka sebagai bahasa
liturgi, dalam hal ini bahasa Mesir dalam bentuk Koptik.
b. Pendidikan
Secara
historis, modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari pengenalan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi Napoleon Bonaparte pada saat penaklukan Mesir. Kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi yang dicapai Napoleon
Bonaparte yang
berkebangsaan Perancis ini, memberikan inspirasi yang kuat
bagi para pembaharu Mesir untuk melakukan modernisasi pendidikan di Mesir yang
dianggapnya stagnan. Di antara tokoh-tokoh tersebut Jamaluddin
al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Ali Pasha. Dua yang terakhir, secara historis, kiprahnya paling menonjol jika
dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain.
Sistem Pendidikan di negara Mesir meliputi:
- Sekolah Dasar (Ibtida’i).
- Sekolah Menengah Pertama (I’dadi).
- Sekolah Menengah Atas (Tsanawiyah ‘Ammah).
- Pendidikan Tinggi (Jami‘ah).
c. Pariwisata
-
Piramida dan Sphinx
Di Mesir terdapat kurang lebih 97
Piramida yang tersebar di seantero Mesir. Piramida yang terkenal adalah 3
Piramida,yang terletak di Provinsi Giza, Piramida tersebut adalah: Piramida
Cheops, Piramida Chepren dan Piramina Mycherinos. Piramida Cheops adalah
piramida terbesar yang dibangun oleh Raja Cheops pada tahun 2690 SM. Tingginya
mencapai 146 M, tapi karena dimakan usia tersisa hanya 136 M.
Piramida
Chepren dibangun oleh Putra Raja Cheops pada tahun 2650 SM, tingginya 136 m, panjang
sisinya 214 m. Lalu, Piramida Micherinous dibangun oleh Cucu Raja Cheops yang
bernama Mycherinous pads tahun 2800 SM, tingginya 82 m, panjang alslnya 104 m.
Sphinx adalah patung singa yang berkepala manusia. Dibangun oleh Raja Chepren
pada tahun 2650 SM. Panjangnya 57 m dengan tinggi 20 meterletak sekitar <200
m dari Piramida.
- Museum Nasional Mesir
Museum adalah kebanggan rakyat Mesir karena
di dalamnya menyimpan peninnggalan purbakala yang tidak ternilai harganya.
Bangunan ini terletak di pusat kota Kairo tepatnya di daerah Maidan Tahrir.
Bangunan in dibangun oleh Raja Khediev Abbas Hilmi II pada tahun 1897 M dan
dibuka untuk umum pada tahun 1902 M. Terdiri dari dua lantai, lantai dasar
memamerkan patung-patung dari batu dan kayu, kuburan dan perahu yang dipakai
pada masa mesir kuno. Kemudian di lantai dua terdapat
ruang mumi raja-raja diantaranya mumi Ramses II yang diyakini oleh ahli sejarah
sebagai Fir’aun yang hidup pada zaman Nabi Musa.
- Benteng Shalahuddin
Al-Ayyubi
Benteng
Shalahuddin terletak di Bukit Muqattam. Dibangun oleh Shalahuddin AI-Ayyubi
antara tahun 1176-1183 M. ketinggian tembok benteng mencapai 10 m dengan tebal
3 m. Benteng ini dibangun untuk mempertahankan Kota Kairo dari serangan pasukan
salib.
d. Peran Islam (KONSTITUSI 2012)
Kedua
konstitusi menetapkan Islam sebagai agama resmi di Mesir dan Hukum Islam, atau
syariah, sebagai sumber utama legislasi. Keduanya juga mewajibkan negara untuk
“mempertahankan” nilai keluarga tradisional yang berdasarkan Islam.
Namun
konstitusi 2012 untuk pertama kalinya mendefiniskan syariah. Dokumen tersebut
menetapkan prinsip-prinsip syariah termasuk “bukti, peraturan, yurisprudensi
dan sumber-sumber” yang diterima oleh Islam Sunni, sekte Islam mayoritas di
Mesir.
Dokumen
baru juga memberikan wewenang yang belum pernah ada sebelumnya kepada Al-Azhar,
sekolah agama paling dihormati dalam kelompok Islam Sunni, dengan menyatakan
bahwa semua hal berkaitan syariah harus dikonsultasikan pada para akademi di
sekolah tersebut. Piagam 1971 tidak menyebut-nyebut Al-Azhar.
e. Hak Asasi Manusia
Kedua dokumen menyatakan bahwa
tahanan tidak boleh menjadi target “bahaya fisik maupun moral” dan negara harus
menjaga kehormatan diri mereka. Dalam hal perlindungan hak asasi
yang baru, konstitusi 2012 melarang semua bentuk eksploitasi manusia dan
perdagangan seks.
f. Hak Perempuan
f. Hak Perempuan
Kedua dokumen meminta negara
membantu perempuan dalam biaya mengasuh anak dan menyeimbangkan tanggung jawab
keluarga dan pekerjaan. Namun dokumen-dokumen ini berbeda dalam hal persamaan
antara laki-laki dan perempuan. Pembukaan konstitusi 2012 menyatakan
bahwa Mesir menaati prinsip persamaan “untuk semua warga negara, perempuan dan
laki-laki, tanpa diskriminasi atau nepotisme atau perlakuan yang memihak, baik
dalam hal hak maupun kewajiban.” Bagian utama dokumen baru juga
mengandung dua pasal yang melarang negara melanggar hak dan kesempatan yang
sama bagi warga negara. Namun kedua pasal tersebut tidak secara eksplisit
melarang diskriminasi terhadap perempuan. Konstitusi 1971 menyertakan satu
pasal yang mewajibkan negara untuk memperlakukan perempuan dan laki-laki secara
sama dalam “ranah politik, sosial, budaya dan ekonomi,” selama perlakuan
tersebut tidak melanggar syariah. Satu pasal lain secara eksplisit melarang diskriminasi gender.
g. Kebebasan Ekspresi
Kedua piagam menjamin kebebasan
mengeluarkan pendapat secara verbal, tulisan atau gambar, dan kebebasan pers
untuk memiliki organisasi berita dan menerbitkan berita secara independen. Dokumen 2012 melakukan perubahan
besar dengan menjamin kemerdekaan berkeyakinan untuk “agama monoteis/samawi” –
sebuah referensi untuk Islam, Kristiani dan Yudaisme. Konstitusi
tersebut menyatakan bahwa pengikut agama-agama tersebut memiliki hak untuk
melaksanakan ritual keagamaan dan mendirikan tempat ibadah “sesuai aturan
hukum.” Undang-undang dasar terdahulu tidak menyebutkan hak-hak agama selain
Islam. Dalam
perbedaan lainnya, dokumen yang baru tersebut mencakup larangan terhadap
“penghinaan” terhadap nabi-nabi dalam Islam.
h.Kekuasaan Militer
Di
bawah piagam yang baru, kekuasaan untuk menetapkan anggaran pasukan bersenjata
dijamin oleh Dewan Pertahanan Nasional, setengah dari anggotanya adalah pejabat
militer. Pejabat senior militer juga mendapat kekuasaan lebih tinggi
untuk menyeret warga sipil ke pengadilan militer, namun hanya dalam kasus-kasus
kejahatan yang dianggap “membahayakan pasukan bersenjata.” Selain itu, dokumen 2012 juga
menciptakan Dewan Keamanan Nasional yang beranggotakan pejabat senior militer
dan menteri Kabinet yang sipil dengan jumlah berimbang. Dewan tersebut diberikan tugas untuk mengadopsi
strategi-strategi keamanan, mengidentifikasi ancaman keamanan dan mengambil
tindakan untuk mengatasi ancaman-ancaman tersebut.

