Manusia diciptakan berpasang-pasangan untuk membentuk
keluarga yang penuh rasa cinta, kasih sayang & ketenangan. Konsep ini
dijelaskan dalam Al-Qur'an yang menyatakan bahwa Allah menciptakan manusia
berpasang-pasangan dari jenis yang sama (laki-laki dan perempuan).
Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ruum ayat 21 :
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”.
Manusia dipasangkan dalam ikatan pernikahan yang mengajarkan kita bahwa pernikahan merupakan anugerah Allah yang penuh dengan hikmah & tanda-tanda kebesaran-Nya. Kasih dan sayang yang ditanamkan dalam hati pasangan suami istri adalah cerminan rahmat Allah, dan hubungan yang harmonis dari ketentraman yang diinginkan Allah bagi manusia. Melalui itu, kita diingatkan akan pentingnya membangun hubungan yang didasari cinta, kasih sayang serta pemikiran mendalam tentang kebesaran Allah.
Ikatan Manusia dalam pernikahan merupakan manifestasi untuk
kehidupan selanjutnya. Allah SWT menjamin mereka yang bertaqwa mengemban amanah
suami-istri dalam membina keluarganya untuk kembali berkumpul di Surga.
Hal ini telah dijanjikan dalam Surah Ar-Ra'd ayat 23 :
"Surga 'Adn (tempat tinggal yang kekal), mereka masuk bersama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapak mereka, dan pasangan-pasangan mereka, dan anak cucu mereka. Dan malaikat-malaikat masuk ke setiap pintu (Surga dari setiap sisi)”.
Mereka Yang Ditinggal Mati Pasangannya : Sampai Maut
Memisahkan
Dalam konteks janji pernikahan, ada kalimat "sampai maut memisahkan" adalah pengakuan akan sifat fana hubungan pasangan manusia dan kekuatan kematian yang tidak terhindarkan. Maut merupakan pemutus pernikahan di dunia. Namun, pasangan yang saleh dan beriman bisa kembali bersama di surga, bersama anak cucu mereka. Hal tentunya menjadi kesedihan sekaligus juga menjadi kebahagiaan bagi pasangan-pasangan yang selalu bertaqwa kepada Allah SWT dalam membina keluarga mereka dengan baik. Kesedihan akan perpisahan dengan pasangan hidup yang selama ini menemani hidup kita hingga mempunyai keturunan. Serta perjanjian kebahagiaan bagi pasangan yang akan berkumpul lagi di surga nanti.
Kematian pasangan hidup adalah yang terberat, bisa secara tiba-tiba atau perlahan-lahan, beberapa faktor yang memengaruhi proses berduka adalah kualitas hubungan kita dengan pasangan, kesiapan kita untuk hidup sendiri serta dukungan keluarga dan kerabat serta hubungan kita dengan Allah SWT. Memiliki keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warrohmah merupakan cita-cita bagi tiap keluarga. Konsep keluarga ini tidak hanya terbatas pada keadaan di mana suami-istri masih hidup bersama, tetapi juga saat terpisah karena kematian, karena masih memiliki kasih sayang dalam hati.
Kamu dan Segalanya Kenangan, Dalam Sirine Ambulans
Sesuai
dengan judul, tentunya pasti bertanya apakah makna dari judul yang diambil
ini??!! Ya, ini merupakan pengalaman pribadi sang penulis, pasangan yang
dipisahkan maut yang dituangkan tulisan.
Mungkin, satu dua hari pasca dipisahkan oleh takdir, belum terasa. Tetapi lama-kelamaan, minggu ganti minggu, bulan ganti bulan sangat terasa, yang biasanya selalu menemani dari bangun tidur hingga kembali tidur, kini sudah tidak ada lagi. Kesedihannya berkurang, tapi rasa rindu yang luar biasa menerjang.
Saat kita dipertemukan, kita sama-sama berkomitmen untuk menjalin hubungan suami-istri. Dan Allah mengabulkan ibadah kita itu. Kita yakin untuk bahagia bersama, sampai menua bersama, hingga takdir memisahkan kita. Ya sampai takdir memisahkan, namun tidak sempat menua, dan itu harus bisa menerimanya. Hancur hati saat dirimu pergi dan meninggalkan ku sendiri.
Ya Allah, rasa rindu yang tak terbendung, rasa kangen yang tak akan terbalas untuk selamanya. Karena merindukan seseorang yang telah meninggal itu sakit yang luar biasa. Rasa rindu yang takkan pernah terbayar. Hari demi hari, tanggal demi tanggal yang diingat bersama, kini tinggal kenangan. Hari Ulang Tahun Diriku dan Dirimu, Tanggal Pernikahan. Hingga pada saat tanggal yang paling dibenci, adalah hari dimana kita pisah untuk selamanya.
Ku kira awal tahun 2025 menjadi awal kita bahagia kembali, setelah di tahun 2024 kamu berjuang dalam kesembuhan mu. Ternyata awal tahun menjadi perpisahan kita untuk selamanya, yang menjadi kesembuhan mu yang abadi.
Saat membawa kembali ke rumah orang tua mu, hati ku hancur, diriku tercabik-cabik. Dalam bunyian “Sirine Ambulans” yang terus terdengar di telinga sepanjang perjalanan, menjadi ketakutan baru dalam diriku. Yah, sepanjang bunyian itu, segala kenangan kita sontak muncul semua di dalam kepala ku. Maka dari itu, kiranya pengalaman abadi yang tak pernah terlupakan ini ku curahkan dalam tulisan ini.
Tapi dengan bersandar pada Firman Allah, bahwa tiada cobaan kepada umat manusia yang tidak mampu ia hadapi. Kalimat itu menjadi penguat bagi ku. Tiada cobaan kepada manusia, tanpa ada alasan & tujuan yang diberikan kepada umat-Nya. Allah memiliki rencana yang lebih baik bagi kita, bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun.
Aku percaya Allah memiliki rencana yang lebih baik. Di balik pertemuan kami yang singkat dalam pernikahan, lalu terpisah karena takdir-Nya, yang membekas untuk selamanya.
Ayyu... Ayyu pernah bilang, Ayyu gak bisa lama-lama jauh dari Mas. Ayyu pernah bilang, Ayyu senang kalau Mas marah-marah manja. Sekarang itu semua gak ada lagi. Siapa yang mendengar Mas kalau lagi marah-marah. Siapa yang nemenin Ayyu kalau ke kamar mandi lagi....
Ya Allah, inikah kenyataan yang harus ku terima.
Hatiku hancur, sayap ku patah. Dan sampai saat ini masih ku coba, tuk terjaga dalam mimpiku, yang membuatku tersadar. Bahwa kau bukan lagi milikku. Hati ini tak akan pernah dapat melupakan dirimu. Dan tiap tetes air mata yang jatuh dapat kuatkan rinduku. Pada indah bayangmu, canda tawamu. Pada indahnya duka dalam kenangan kita. ðŸ˜
Untuk Almarhumah Istriku, urusan mu di dunia telah usai. Terimakasih kesetiaan, cinta kasih & perhatian mu selama ini. Maaf kan Mas yang masih jauh dari imam yang sempurna. Aku bersaksi engkau istri yang sholehah. Ini takdir yang harus kita hadapi, kita terpisah karena kehendak Allah. Siap gak siap, terima gak terima. Dan berharap bertemu kembali di akhirat. Setiap tetes airmata menguatkan ku untuk ikhlas atas kepergian mu. Allah lebih sayang sama mu, Allah telah tempatkan dirimu di surga-Nya.
Kau memilih ku untuk menjadi suami mu, kau percaya pada ku bahwa aku lah imam terbaik mu. Sampai hembusan nafas terakhir kau telah memberikan cinta kasih tulus kepada ku sebagai istri. Mas ikhlas dirimu pergi, sayang. Mas selalu berdoa semoga engkau di tempat yang terbaik. Mas selalu berdoa agar Allah memberi kabar rindu dari ku untuk mu. Mas beruntung telah diberi kesempatan untuk memiliki mu, walau hanya sebentar.
Mas juga
akan berjanji & meminta harapan penerimaan kepada seseorang nantinya, untuk
tetap mendoakan mu dalam sholat. Karena hanya dalam doa saja kita tetap bisa
terhubung.
Kini, kita terpisah oleh dunia. Aku harus terus tetap
berjalan.
Ayyu, dirimu akan tetap di hati dan tidak akan bisa terhapus.
Penghormatan ku terhadap mu selamanya.
Mama yang merawat mu selama ini juga akan selalu mendoakan mu
dalam setiap doa nya.
Kami semua sayang dengan mu.
Kini, tak terasa setahun berlalu. Setahun ku jalani hidup tanpamu, tanpa senyum mu, tanpa tawa mu, tanpa hadir mu di samping ku. Alhamdulillah, Allah memberi ku kekuatan untuk menjalani setahun ini. Dan tahun-tahun yang akan datang, yang pastinya tanpa dirimu.
Ayyu, walau kita tidak dapat menua bersama, tapi Cinta mu
abadi untuk ku.
Allahummagfirlaha Warhamha Waafiha Wafuanhaa 😇
Referensi
:
- - Koleksi Foto Pribadi
- - https://uin-alauddin.ac.id/tulisan/detail/pesan-hikmah-qsar-ruum--21-0524


















