Tantangan Daya Saing
Menurut Forum Ekonomi Dunia posisi Indonesia
mengalami kemerosotan empat tingkat dalam Indeks Daya Saing Global 2016-2017.
Terlebih yang paling disoroti peringkat nya adalah antara lain di sektor
pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, pembangunan manusia dan teknologi
Informasi Telekomunikasi. Tentunya jika ingin memiliki daya saing di dunia,
sektor-sektor tersebut perlu diperhatikan dan ditingkatkan
Globalisasi
Globalisasi
di bidang perekonomian telah mendorong
munculnya perdagangan lintas batas negara
yang tidak terkekang, ditandai dengan perdagangan bebas dimana
pergerakan barang, jasa dan manusia dari dan ke suatu negara tidak mengalami banyak
hambatan. Skenario ini menghadirkan peluang sekaligus ancaman bagi Indonesia.
Sisi positifnya, hal ini memudahkan masuknya barang dan jasa produksi Indonesia
ke pasar luar negeri, serta mengurangi hambatan non-tarif terhadap produk Indonesia.
Demikian
pula, pekerja Indonesia mungkin
akan lebih mudah bekerja di luar negeri dengan pembatasan imigrasi yang lebih sedikit. Namun
sisi sebaliknya adalah potensi ancaman bagi Indonesia karena barang, jasa, dan
tenaga kerja asing bisa masuk ke Indonesia tanpa hambatan berarti. Hal ini
dapat menyebabkan ketatnya
persaingan pasar domestik dalam
hal kualitas barang,
jasa dan tenaga
kerja, baik dalam
negeri maupun internasional.
Oleh karena itu,
perlu disusun strategi
untuk menghadapi tantangan
globalisasi, dan memastikan
Indonesia memperkuat posisinya
dalam memanfaatkan peluang
dalam persaingan ekonomi global.
Masuknya
budaya asing ke Indonesia melalui berbagai media massa, termasuk platform
elektronik, cetak, dan internet,
memberikan dampak signifikan terhadap evolusi budaya Indonesia. Pertukaran pengaruh timbal balik merupakan aspek yang melekat dalam
interaksi komunitas. Indonesia, sebagai sebuah
bangsa, telah mengalami proses dinamis dalam mempengaruhi dan dipengaruhi melalui interaksinya dengan beragam komunitas. Kemajuan masyarakat
dapat dicapai melalui interaksi dengan entitas eksternal, seperti yang
ditunjukkan oleh proses globalisasi yang sedang berlangsung.
1. Sektor Pendidikan &
Pembangunan Manusia
Pada
sektor pendidikan, posisi Indonesia merosot jauh 20 peringkat. Pendidikan
merupakan salah satu jalan untuk dapat merubah nasib, untuk mempermudah
mendapat pekerjaan karena kurangnya lapangan pekerjaan, serta dapat
meningkatkan derajat manusia itu sendiri. Maka dari itu, masyarakat pun begitu
giat, rajin untuk menuntut ilmu, bahkan ada hal negatif dari potret pendidikan
itu sendiri. Akibat ketergantungan pendidikan untuk meningkatkan hal-hal
tersebut diatas, beberapa ada yang mengambil jalan pintas, antara lain membeli
ijazah. Sebenarnya ini merupakan masalah yang beruntun, dilihat dari pengamatan
masayarakat awam, masyarakat awam menganggap pendidikan berfungsi salah satu
untuk mempermudah mencari pekerjaan, akibat kurangnya lapangan pekerjaan,
sehingga pendidikan menjadikan target utama. Beberapa masalah diatas juga
diperparah dengan fasilitas penunjang belajar, bagaimana tidak, beberapa
sekolah terutama di daerah pedalaman kurang diperhatikan, seperti keadaan
sekolah yang parah, fasilitas ruangan, kursi, meja, kapur bahkan jalan menuju
kesekolah (jalan raya, jembatan). Padahal negara sudah mensubsidi 20% untuk
pendidikan, namun feedback tidak terasa. Maka dari itu orang mencari jalan
pintas, pungli, sogok-menyogok, membeli ijazah.
Rusaknya kualitas pendidikan di
Indonesia, menambah derita yang dialami oleh ibu pertiwi. Pentingnya pendidikan
di Indonesia justru menjadi boomerang untuk masyarakatnya itu sendiri. Lalu apa
solusi untuk meringankan beban di bumi pertiwi? Sebenarnya ini merupakan
masalah beruntun, tapi jika dilihat dari masalah yang paling besar di sektor
pendidikan. Maka ditingkatkannya bantuan fasilitas ke sekolah-sekolah, terutama
sekolah pedalaman. Dengan adanya fasilitas belajar ini, anak-anak akan rajin
datang kesekolah dari pada mencari ikan di laut. Lalu penyebaran guru yang
merata, banyak sekolah yang kekurangan guru, terlebih guru sendiri pun memilih
dan cenderung tidak mau jika mengajar ke pedalaman. Lalu perhatikan guru-guru
di pedalaman, jika ditilik malaikat pendidikan di pedalaman ini cenderung
mengalami kekurangan di segi penghasilan. Pebaikan pendidikan di Indonesia
melalui internal akan menghasilkan pendidikan yang berkompeten dan juga
meningkatkan daya saing, pembangunan manusia itu
sendiri.
Sektor ini dapat kami katakan merupakan sektor
primer. Karena melalui pendidikan pembangunan sumber daya manusia akan lebih
mempengaruhi daya saing manusianya. Melalui pendidikan pembangunan manusia
ditempuh. Melalui pendidikan yang bagus, tangan-tangan sang inovator,
manusia-manusia berkompeten lahir melalui sektor ini. Jika semua telah sadar,
sektor kesehatan, tenaga kerja, dan teknologi informasi pasti tidak lagi
dipermasalahkan, karena salah satu permasalahan terbesar di bumi pertiwi ialah
pembangunan manusianya yang kurang. Dan yang terakhir, jika pembangunan manusia
telah berhasil ditempuh melalui sektor pendidikan ini, maka niscaya masyarakat
Indonesia siap dalam menghadapi tantangan daya saing global.
2. Sektor Kesehatan
Masalah
lain yang melanda ibu pertiwi ialah kesehatan, mulai dari perkotaan pun
kesehatan dinilai buruk, karena kita melihat sendiri sampah berserakan di
pinggir jalan, menumpuk, menimbulkan bau tidak sedap. Kehidupan di pinggiran
kota, pinggiran sungai, masyarakat yang membuang sampah sungai hingga ke pedalaman
yang kurangnya pasokan obat-obatan, perlatan MCK menjadi kompleks permasalahan
di sektor kesehatan. Dalam hal ini, perlu adanya kesadaran masyarakat terhadap
pentingya kesehatan, melalui penyuluhan serta pemberian obat, peralatan MCK di
daerah yang sulit tersentuh.
3. Sektor Tenaga Kerja
Dalam hal ini, sektor tenaga kerja artinya daya
saing nya, daya kompetisi pekerja di Indonesia. Pekerja Indonesia yang notabene
sulit untuk berkompetisi, apalagi sudah dibuka nya MEA akan semakin sulit lah.
Sulit di negeri sendiri apalagi di luar. Perlu nya skill yang mumpuni akan
mampu mengangkat pekerja Indonesia akan lebih berdaya saing. Selain itu juga
dibutuhkan adanya tangan-tangan kreatif untuk membuat suatu inovasi guna
memiliki daya saing serta juga dapat membuka lapangan pekerjaan baru. Jika
tidak ada point-point diatas, maka pekerja Indonesia sulit untuk bersaing,
terlebih dapat dipecundangi dalam artian dibodoh-bodohi, melalui cara kekerasan
yang dilakukan oleh majikannya, dan lain sebagainya. Lebih diutamakan adanya
sumber tangan-tangan kreatif dari masyarakat Indonesia membuat inovasi, agar
pekerja nya juga tidak sesak di negeri sendiri atau bahkan dunia tenga kerja
lingkup dunia.
4. Teknologi Informasi dan
Komunikasi
Sektor ini merupakan sektor pelengkap, sektor ini
merupakan sektor dimana pembangunan masyarakanya berada di level siap landas,
karena dalam hal ini, sektor TIK merupakan sektor modern. Jika pembangunan
manusia telah sempurna, melalui masayrakat nya lah, teknologi bermunculan,
melalui ide-ide kreatif. Namun, jika kita menganilisis TIK di Indonesia memang
masih jauh dari tahap lepas landas, saat ini kita tengah mencari jati diri
pembangunan manusianya, lalu kita masih menjadi masayrakat konsumerisme
teknologi-teknologi barat dan asia. Dan itu pun belum dirasakan seluruh lapisan
masayrakat. Masih ada masyarakat yang
belum merasakan esensi positif globalisasi, hanya satu dari lima penduduk yang
menggunakan internet dan inilah hasil dari posisi ke-91 dunia. Lalu bagaimana
mengatasi nya? Lagi-lagi permasalahan masih sama, dengan belum merata nya
koneksi internet di seluruh penjuru Indonesia menjadikan masyarakat masih buta
internet. Diharapakan lebih digalakkan nya motivasi ber-internet yang positif
demi pembangunan manusia yang lebih modern.
Solusi lain ialah, dengan adanya
tangan-tangan kreatif masyarakat untuk menciptakan teknologi buatan dalam
negeri. Beberapa inovasi teknologi karya anak bangsa telah muncul, tapi sayang
kurang adanya dukungan dari pemerintah. Tapi kami harap, atas hal ini tidak
menyurutkan niat innovator-inovator anak negeri dalam menciptakan teknologi
sendiri, sehingga kita tidak lagi menjadi masyarakat consumer saja, melainkan
produsen. Indah bila kita memainkan teknologi karya sendiri.
Referensi : https://jurnal.polgan.ac.id/index.php/jmp/article/view/13384/2299