Cari Blog Ini

Minggu, 23 Oktober 2016

Menyikapi Tantangan Daya Saing Global



Tantangan Daya Saing

   Menurut Forum Ekonomi Dunia posisi Indonesia mengalami kemerosotan empat tingkat dalam Indeks Daya Saing Global 2016-2017. Terlebih yang paling disoroti peringkat nya adalah antara lain di sektor pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, pembangunan manusia dan teknologi Informasi Telekomunikasi. Tentunya jika ingin memiliki daya saing di dunia, sektor-sektor tersebut perlu diperhatikan dan ditingkatkan

Globalisasi
    Globalisasi di bidang perekonomian  telah mendorong munculnya perdagangan lintas batas negara  yang tidak terkekang, ditandai dengan perdagangan bebas dimana pergerakan barang, jasa dan manusia dari dan ke suatu negara tidak mengalami banyak hambatan. Skenario ini menghadirkan peluang sekaligus ancaman bagi Indonesia. Sisi positifnya, hal ini memudahkan masuknya barang dan jasa produksi Indonesia ke pasar luar negeri, serta mengurangi hambatan non-tarif terhadap produk Indonesia.

    Demikian pula, pekerja  Indonesia mungkin akan  lebih mudah bekerja  di luar negeri dengan  pembatasan imigrasi yang lebih sedikit. Namun sisi sebaliknya adalah potensi ancaman bagi Indonesia karena barang, jasa, dan tenaga kerja asing bisa masuk ke Indonesia tanpa hambatan berarti. Hal ini dapat menyebabkan ketatnya  persaingan  pasar domestik  dalam  hal  kualitas  barang,  jasa  dan  tenaga  kerja,  baik  dalam  negeri maupun internasional.  Oleh  karena  itu,  perlu  disusun  strategi  untuk  menghadapi  tantangan  globalisasi, dan memastikan  Indonesia  memperkuat  posisinya  dalam  memanfaatkan  peluang  dalam  persaingan ekonomi  global.

    Masuknya budaya asing ke Indonesia melalui berbagai media massa, termasuk platform elektronik, cetak,  dan  internet,  memberikan dampak signifikan terhadap evolusi budaya Indonesia.  Pertukaran pengaruh  timbal balik merupakan aspek yang melekat dalam interaksi komunitas. Indonesia, sebagai sebuah   bangsa, telah mengalami proses  dinamis  dalam  mempengaruhi dan dipengaruhi melalui interaksinya  dengan beragam komunitas. Kemajuan masyarakat dapat dicapai melalui interaksi dengan entitas eksternal, seperti yang ditunjukkan oleh proses globalisasi yang sedang berlangsung.


1. Sektor Pendidikan & Pembangunan Manusia
    Pada sektor pendidikan, posisi Indonesia merosot jauh 20 peringkat. Pendidikan merupakan salah satu jalan untuk dapat merubah nasib, untuk mempermudah mendapat pekerjaan karena kurangnya lapangan pekerjaan, serta dapat meningkatkan derajat manusia itu sendiri. Maka dari itu, masyarakat pun begitu giat, rajin untuk menuntut ilmu, bahkan ada hal negatif dari potret pendidikan itu sendiri. Akibat ketergantungan pendidikan untuk meningkatkan hal-hal tersebut diatas, beberapa ada yang mengambil jalan pintas, antara lain membeli ijazah. Sebenarnya ini merupakan masalah yang beruntun, dilihat dari pengamatan masayarakat awam, masyarakat awam menganggap pendidikan berfungsi salah satu untuk mempermudah mencari pekerjaan, akibat kurangnya lapangan pekerjaan, sehingga pendidikan menjadikan target utama. Beberapa masalah diatas juga diperparah dengan fasilitas penunjang belajar, bagaimana tidak, beberapa sekolah terutama di daerah pedalaman kurang diperhatikan, seperti keadaan sekolah yang parah, fasilitas ruangan, kursi, meja, kapur bahkan jalan menuju kesekolah (jalan raya, jembatan). Padahal negara sudah mensubsidi 20% untuk pendidikan, namun feedback tidak terasa. Maka dari itu orang mencari jalan pintas, pungli, sogok-menyogok, membeli ijazah.

   Rusaknya kualitas pendidikan di Indonesia, menambah derita yang dialami oleh ibu pertiwi. Pentingnya pendidikan di Indonesia justru menjadi boomerang untuk masyarakatnya itu sendiri. Lalu apa solusi untuk meringankan beban di bumi pertiwi? Sebenarnya ini merupakan masalah beruntun, tapi jika dilihat dari masalah yang paling besar di sektor pendidikan. Maka ditingkatkannya bantuan fasilitas ke sekolah-sekolah, terutama sekolah pedalaman. Dengan adanya fasilitas belajar ini, anak-anak akan rajin datang kesekolah dari pada mencari ikan di laut. Lalu penyebaran guru yang merata, banyak sekolah yang kekurangan guru, terlebih guru sendiri pun memilih dan cenderung tidak mau jika mengajar ke pedalaman. Lalu perhatikan guru-guru di pedalaman, jika ditilik malaikat pendidikan di pedalaman ini cenderung mengalami kekurangan di segi penghasilan. Pebaikan pendidikan di Indonesia melalui internal akan menghasilkan pendidikan yang berkompeten dan juga meningkatkan daya saing, pembangunan manusia itu
sendiri.

   Sektor ini dapat kami katakan merupakan sektor primer. Karena melalui pendidikan pembangunan sumber daya manusia akan lebih mempengaruhi daya saing manusianya. Melalui pendidikan pembangunan manusia ditempuh. Melalui pendidikan yang bagus, tangan-tangan sang inovator, manusia-manusia berkompeten lahir melalui sektor ini. Jika semua telah sadar, sektor kesehatan, tenaga kerja, dan teknologi informasi pasti tidak lagi dipermasalahkan, karena salah satu permasalahan terbesar di bumi pertiwi ialah pembangunan manusianya yang kurang. Dan yang terakhir, jika pembangunan manusia telah berhasil ditempuh melalui sektor pendidikan ini, maka niscaya masyarakat Indonesia siap dalam menghadapi tantangan daya saing global.

2. Sektor Kesehatan
   Masalah lain yang melanda ibu pertiwi ialah kesehatan, mulai dari perkotaan pun kesehatan dinilai buruk, karena kita melihat sendiri sampah berserakan di pinggir jalan, menumpuk, menimbulkan bau tidak sedap. Kehidupan di pinggiran kota, pinggiran sungai, masyarakat yang membuang sampah sungai hingga ke pedalaman yang kurangnya pasokan obat-obatan, perlatan MCK menjadi kompleks permasalahan di sektor kesehatan. Dalam hal ini, perlu adanya kesadaran masyarakat terhadap pentingya kesehatan, melalui penyuluhan serta pemberian obat, peralatan MCK di daerah yang sulit tersentuh.

3. Sektor Tenaga Kerja
   Dalam hal ini, sektor tenaga kerja artinya daya saing nya, daya kompetisi pekerja di Indonesia. Pekerja Indonesia yang notabene sulit untuk berkompetisi, apalagi sudah dibuka nya MEA akan semakin sulit lah. Sulit di negeri sendiri apalagi di luar. Perlu nya skill yang mumpuni akan mampu mengangkat pekerja Indonesia akan lebih berdaya saing. Selain itu juga dibutuhkan adanya tangan-tangan kreatif untuk membuat suatu inovasi guna memiliki daya saing serta juga dapat membuka lapangan pekerjaan baru. Jika tidak ada point-point diatas, maka pekerja Indonesia sulit untuk bersaing, terlebih dapat dipecundangi dalam artian dibodoh-bodohi, melalui cara kekerasan yang dilakukan oleh majikannya, dan lain sebagainya. Lebih diutamakan adanya sumber tangan-tangan kreatif dari masyarakat Indonesia membuat inovasi, agar pekerja nya juga tidak sesak di negeri sendiri atau bahkan dunia tenga kerja lingkup dunia.

4. Teknologi Informasi dan Komunikasi
   Sektor ini merupakan sektor pelengkap, sektor ini merupakan sektor dimana pembangunan masyarakanya berada di level siap landas, karena dalam hal ini, sektor TIK merupakan sektor modern. Jika pembangunan manusia telah sempurna, melalui masayrakat nya lah, teknologi bermunculan, melalui ide-ide kreatif. Namun, jika kita menganilisis TIK di Indonesia memang masih jauh dari tahap lepas landas, saat ini kita tengah mencari jati diri pembangunan manusianya, lalu kita masih menjadi masayrakat konsumerisme teknologi-teknologi barat dan asia. Dan itu pun belum dirasakan seluruh lapisan masayrakat. Masih ada masyarakat  yang belum merasakan esensi positif globalisasi, hanya satu dari lima penduduk yang menggunakan internet dan inilah hasil dari posisi ke-91 dunia. Lalu bagaimana mengatasi nya? Lagi-lagi permasalahan masih sama, dengan belum merata nya koneksi internet di seluruh penjuru Indonesia menjadikan masyarakat masih buta internet. Diharapakan lebih digalakkan nya motivasi ber-internet yang positif demi pembangunan manusia yang lebih modern.

   Solusi lain ialah, dengan adanya tangan-tangan kreatif masyarakat untuk menciptakan teknologi buatan dalam negeri. Beberapa inovasi teknologi karya anak bangsa telah muncul, tapi sayang kurang adanya dukungan dari pemerintah. Tapi kami harap, atas hal ini tidak menyurutkan niat innovator-inovator anak negeri dalam menciptakan teknologi sendiri, sehingga kita tidak lagi menjadi masyarakat consumer saja, melainkan produsen. Indah bila kita memainkan teknologi karya sendiri.

Referensi : https://jurnal.polgan.ac.id/index.php/jmp/article/view/13384/2299 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar