Cari Blog Ini

Rabu, 25 Maret 2020

Charlie Chaplin dalam The Great Dictator: Karya Hebat yang Menambah Luka


    Charles Spencer ‘Charlie’ Chaplin aktor hebat yang terkenal pada era film bisu. Chaplin menjadi ikon dunia dan sebagai salah satu figur berpengaruh di industri film. Karirnya sudah dimulai sejak tahun 1914. Ia melakukan debut akting pertamanya di film Making a Living.
Karakter antimainstream nan cerdas Chaplin sudah bisa terlihat dari pemilihan kostum pada saat syuting.

Dalam autobiografinya, ia pernah berucap,
“Saya ingin setiap hal yang berlawanan: celana longgar,   jubah ketat, topi kecil dan sepatu besar...” [1]
     Itu menandakan bahwa ia memiliki karakter nalar berpikir yang berbeda dari yang lain, itu juga yang membawa namanya menjadi besar sampai saat ini. Karir nya terus menanjak dan mulai dikenal sebagai karakter orang dungu, miskin, gelandangan nan kocak di film-film bisu.
     Perjalanan karir Chaplin terjal, keselamatan dirinya bahkan terus terancam akibat karya-karya yang diciptakannya. Sebagai seorang yang peka terhadap seni dan kehidupan sosial, Chaplin sudah terbiasa mengekpresikan diri & membawanya ke karakter sosial yang mencolok. Ekpresi diri yang menerangkan keyakinan ideologi politik dalam dirinya. Lebih jauh, hal itu menimbulkan banyak tuduhan bahwa ia merupakan seorang Komunis. (Inilah salah satu ‘luka’ dalam diri Chaplin). 
    Tuduhan terhadap Chaplin dimulai saat FBI melakukan penyelidikan terhadap Chaplin sejak 1922, tahun dimana gelombang paranoid akan komunisme (anti-komunisme) sedang mewabah. Tuduhan FBI berangkat dari karya-karya Chaplin yang mengandung ‘nilai-nilai komunis’. Tokoh gelandangan, kemiskinan di tengah masyarakat kapitalis modern, penggambaran si miskin yang ingin mempersunting gadis kaya raya. Kegigihan buruh dalam meraih apa yang dinginkan. Perlawanan pekerja terhadap gaji yang diberikan, dan lain-lain. Karakter-karakter seperti itu bagi FBI adalah nilai-nilai jaran komunis, yakni simpati pada kelas pekerja.
    Tak hanya sebatas itu saja, Chaplin pernah menyatakan dirinya terkesan dengan militansi kaum komunis saat melawan fasisme. Baginya Uni Soviet adalah ‘dunia baru yang berani’ dan memberi harapan serta aspirasi kepada orang biasa (kelas bawahan). Meski mengagumi komunis dan pro terhadapnya, Chaplin menolak disebut komunis.[2] Tuduhan berlanjut hingga kehidupan pribadi, ia juga dituduh melakukan pernikahan & hubungan seksual dengan wanita dibawah umur, juga memalsukan akte kelahiran salah satu anaknya. 

    Chaplin didakwa dalam banyak tuduhan, namun kesemua tuduhan tidak ada yang terbukti satu pun. Pembelaan datang dari Unit-Kontra Intelijen Inggris untuk menepis tuduhan tersebut, dan menjelaskan bahwa, nama Chaplin telah dimanfaatkan untuk kampanye anti-komunisme oleh Amerika Serikat. Tidak ada seorang pun yang ingin bersaksi atas tuduhan yang tidak mendasar itu. 
    Namun akhirnya, karena dianggap sebagai resiko keamanan negara, Chaplin di larang masuk ke AS pada 1952, larangan itu bisa dibatalkan jika Chaplin melakukan permohonan sebagai imigran. Namun Chaplin enggan, dan memilih untuk tinggal di Swiss sampai akhir hayatnya.[3]
  • Menambah Luka yang Lain – The Great Dictator
   Luka yang lain itu berasal dari akting parodi satire-nya di film The Great Dictator (1940) menjadi fenomenal & yang paling diingat. Namun menjadi awal dari kemerosotan karir Chaplin, karena Ini juga yang menjadikan tuduhan Chaplin sebagai komunis semakin terlihat jelas.
Adenoid Hynkel yang diperankan Chaplin dalam film The Great Dictator
   Pada tahun 1940an; atau saat awal-awal pembuatan ide film The Great Dictator, Chaplin menghadapi serangkaian ‘tabrakan ideologi’ dalam bathinnya. Ia sangat terganggu dengan timbulnya Nasionalisme Militeristik, atau kita kenal dengan sebutan Fasis; yang merebak pada 1930-an. Ia menyatakan dengan lantang bahwa hal-hal yang berbau seperti itu tidak akan dimasukkan dalam karya-karyanya.[4] Justru malah membuat antithesis dari hegemoni Fasis itu.
2 Karakter berbeda yg dimainkan Chaplin
    The Great Dictator dirilis saat PD II mulai berkecamuk, ia menyoroti, menyemprot serta menyentil Adolf Hitler yang saat itu sedang meniti jalan untuk mencapai puncak kejayaannya. Chaplin memparodikan tokoh Hitler (Adenoid Hynkel; dalam film) sebagai diktator fasis yang kejam. Sekaligus memerankan seorang tukang cukur keturunan Yahudi; mempresentasikan wajah rakyat jelata yang lugu. Chaplin memainkan kedua karakter yang sangat bertolak belakang. Tampilan kumis aneh nya juga menambah pendalaman karakter

  Jika kita sedikit melihat parodinya, Hynkel yang awalnya kejam, ambisus, ingin memberangus orang-orang Yahudi kemudian menjadi pribadi yang tampak konyol dan bodoh. Dalam pidatonya, hal itu dimaksudkan bahwa diktator yang ‘besar’ seharusnya memilih untuk menghentikan perang, memberi kebebasan bagi individu, berperikemanusiaan dan menyatukan umat manusia dalam persaudaraan.
   Film yang paling ditunggu-tunggu saat itu akhirnya tak popular dan menimbulkan kontroversi. Padahal Film komedi ini adalah satire bagi Nazi yang ingin menguasai dunia secara brutal; dan tentu saja Chaplin ingin memberikan pesan utama dari film itu yakni tentang perdamaian,


   Muncul dan dirilisnya film ini mengakibatkan sesuatu; Pertama, Setahun setelah film ini, akhirnya Amerika Serikat bergabung ke PD II; seakan-akan film tersebut memberikan dampak propaganda kepada pemerintah AS untuk segera bergerak melawan Nazi Jerman dan tentunya atas dasar nama Demokrasi, dan sebagai “pahlawan perang” sekaligus “polisi dunia”.
    Kedua, Chaplin merilis film ini saat industri film AS masih dalam cengkraman Nazi sejak tahun 1930-an, rezim Nazi mengontrol produksi film-film Hollywood, khususnya yang berkaitan dengan pemberitaan atau pementasan drama dengan kondisi negerinya.
Ini menimbulkan pertanyaan, Bagaimana bisa?        
   Nazi melakukan dengan serangan teror. Pada tanggal 5 Desember 1930, pasukan Nazi yang berjumlah 300 orang dipimpin oleh Goebbels melempar bom & bubuk bersin ke kerumunan teater di Berlin. Itu dilakukan sebagai wujud protes untuk film All Quiet on the Western Front. Sejak saat itu, Nazi semakin berkuasa dan dapat menentukan adegan film mana saja yg layak tayang. Mirisnya, Hollywood menuruti itu karena pertimbangan bisnis. Studio-studio raksasa seperti Universal Studio, Warner Bros, 20th Century Fox tidak mau mengambil resiko kehilangan penonton.[5]
  Terjajahnya Hollywood masih terus berlanjut sampai tahun 1937, berbagai film dibatalkan penayangan nya meski tidak menyebut Nazi di dalamnya. Kemederkaan industri perfilm-an Hollywood seakan semu, F.D. Roosevelt sebagai presiden saat itu juga tidak dapat berbuat apa-apa. Rooselevelt hanya mendukung penuh saat Chaplin membuat film The Great Dictator. Dengan ini, Chaplin seakan menabuh genderang perang perlawanannya atas Nazi, ia seakan ingin mengusir Nazi melalui filmya. 

  Dan dengan penuh tekat, hanya film Chaplin-lah yang saat itu dapat diputar. Bayangkan, di tengah film yang dibatasi, justru Chaplin meliris film 'olok-olok-an' para pelaku yang membatasi
     Chaplin, dengan kondisi yang tengah terluka atas tuduhan pro-komunis-nya; masih mempunyai tekad untuk melawan gejolak bathin yang terganggu karena merebaknya ideologi fasis.
   Chaplin,yang merasa aktivitas seni-nya semakin dipersempit & dikekang karena berbagai tuduhan; masih mampu membuat karya hebat.
Namun, ‘kejadian yang seharusnya terjadi’ tidak dapat ditolak. Disitu karir-nya terpaksa meredup dan perlahan mati. Ia merasa dihianati oleh AS. Ia dilarang masuk ke AS dan bersikukuh untuk memutus segala perjalanan kehidupan di AS; dan ia tinggal di Swiss sampai akhir hayat.
           




[1] Chaplin, hlm. 145
[2] Ibid.,
[3] Tirto;Charlie Chaplin (25/12/2019)
[4] Loc.cit., hlm. 386
[5] CNN Indonesia terbitan 23/12/2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar