Charles Spencer ‘Charlie’ Chaplin aktor hebat yang terkenal pada era film bisu. Chaplin menjadi ikon dunia dan sebagai salah satu figur berpengaruh di industri
film. Karirnya sudah dimulai sejak tahun 1914. Ia melakukan debut akting pertamanya
di film Making a Living.
Karakter antimainstream nan cerdas Chaplin sudah bisa terlihat dari pemilihan kostum pada saat syuting.
Karakter antimainstream nan cerdas Chaplin sudah bisa terlihat dari pemilihan kostum pada saat syuting.
Dalam autobiografinya, ia pernah berucap,
“Saya ingin setiap hal yang berlawanan: celana longgar, jubah ketat, topi kecil dan sepatu besar...” [1]
Itu
menandakan bahwa ia memiliki karakter nalar berpikir yang berbeda dari yang
lain, itu juga yang membawa namanya menjadi besar sampai saat ini. Karir nya
terus menanjak dan mulai dikenal sebagai karakter orang dungu, miskin, gelandangan
nan kocak di film-film bisu.
Perjalanan
karir Chaplin terjal, keselamatan dirinya bahkan terus terancam
akibat karya-karya yang diciptakannya. Sebagai seorang yang peka terhadap seni
dan kehidupan sosial, Chaplin sudah terbiasa mengekpresikan diri
& membawanya ke karakter sosial yang mencolok. Ekpresi diri yang menerangkan
keyakinan ideologi politik dalam dirinya. Lebih jauh, hal itu menimbulkan
banyak tuduhan bahwa ia merupakan seorang Komunis. (Inilah salah satu ‘luka’ dalam diri Chaplin).
Tuduhan terhadap Chaplin dimulai saat FBI melakukan penyelidikan terhadap Chaplin sejak 1922, tahun dimana gelombang paranoid akan komunisme (anti-komunisme) sedang mewabah. Tuduhan FBI berangkat dari karya-karya Chaplin yang mengandung ‘nilai-nilai komunis’. Tokoh gelandangan, kemiskinan di tengah masyarakat kapitalis modern, penggambaran si miskin yang ingin mempersunting gadis kaya raya. Kegigihan buruh dalam meraih apa yang dinginkan. Perlawanan pekerja terhadap gaji yang diberikan, dan lain-lain. Karakter-karakter seperti itu bagi FBI adalah nilai-nilai jaran komunis, yakni simpati pada kelas pekerja.
Tuduhan terhadap Chaplin dimulai saat FBI melakukan penyelidikan terhadap Chaplin sejak 1922, tahun dimana gelombang paranoid akan komunisme (anti-komunisme) sedang mewabah. Tuduhan FBI berangkat dari karya-karya Chaplin yang mengandung ‘nilai-nilai komunis’. Tokoh gelandangan, kemiskinan di tengah masyarakat kapitalis modern, penggambaran si miskin yang ingin mempersunting gadis kaya raya. Kegigihan buruh dalam meraih apa yang dinginkan. Perlawanan pekerja terhadap gaji yang diberikan, dan lain-lain. Karakter-karakter seperti itu bagi FBI adalah nilai-nilai jaran komunis, yakni simpati pada kelas pekerja.
Tak
hanya sebatas itu saja, Chaplin pernah menyatakan dirinya terkesan dengan
militansi kaum komunis saat melawan fasisme. Baginya Uni Soviet adalah ‘dunia
baru yang berani’ dan memberi harapan serta aspirasi kepada orang biasa (kelas
bawahan). Meski mengagumi komunis dan pro terhadapnya, Chaplin menolak disebut
komunis.[2] Tuduhan
berlanjut hingga kehidupan pribadi, ia juga dituduh melakukan pernikahan &
hubungan seksual dengan wanita dibawah umur, juga memalsukan akte kelahiran
salah satu anaknya.
Chaplin
didakwa dalam banyak tuduhan, namun kesemua tuduhan tidak ada yang terbukti
satu pun. Pembelaan datang dari Unit-Kontra Intelijen Inggris untuk menepis tuduhan
tersebut, dan menjelaskan bahwa, nama Chaplin telah dimanfaatkan untuk kampanye
anti-komunisme oleh Amerika Serikat. Tidak ada seorang pun yang ingin bersaksi
atas tuduhan yang tidak mendasar itu.
Namun
akhirnya, karena dianggap sebagai resiko keamanan negara, Chaplin di larang
masuk ke AS pada 1952, larangan itu bisa dibatalkan jika Chaplin melakukan
permohonan sebagai imigran. Namun Chaplin enggan, dan memilih untuk tinggal di
Swiss sampai akhir hayatnya.[3]
- Menambah Luka yang Lain – The Great Dictator
Luka yang lain itu berasal dari akting
parodi satire-nya di film The Great
Dictator (1940) menjadi fenomenal & yang paling diingat. Namun menjadi
awal dari kemerosotan karir Chaplin, karena Ini juga yang menjadikan tuduhan Chaplin
sebagai komunis semakin terlihat jelas.
Pada
tahun 1940an; atau saat awal-awal pembuatan ide film The Great Dictator,
Chaplin menghadapi serangkaian ‘tabrakan ideologi’ dalam bathinnya. Ia sangat
terganggu dengan timbulnya Nasionalisme Militeristik, atau kita kenal dengan
sebutan Fasis; yang merebak pada 1930-an. Ia menyatakan dengan lantang bahwa
hal-hal yang berbau seperti itu tidak akan dimasukkan dalam karya-karyanya.[4]
Justru malah membuat antithesis dari hegemoni Fasis itu.
The Great Dictator dirilis saat PD II
mulai berkecamuk, ia menyoroti, menyemprot serta menyentil Adolf Hitler yang saat
itu sedang meniti jalan untuk mencapai puncak kejayaannya. Chaplin memparodikan
tokoh Hitler (Adenoid Hynkel; dalam film) sebagai diktator fasis yang kejam. Sekaligus
memerankan seorang tukang cukur keturunan Yahudi; mempresentasikan wajah rakyat
jelata yang lugu. Chaplin memainkan kedua karakter yang sangat bertolak
belakang. Tampilan kumis aneh nya juga menambah pendalaman karakter
Jika
kita sedikit melihat parodinya, Hynkel yang awalnya kejam, ambisus, ingin memberangus
orang-orang Yahudi kemudian menjadi pribadi yang tampak konyol dan bodoh. Dalam
pidatonya, hal itu dimaksudkan bahwa diktator yang ‘besar’ seharusnya memilih
untuk menghentikan perang, memberi kebebasan bagi individu, berperikemanusiaan
dan menyatukan umat manusia dalam persaudaraan.
Film
yang paling ditunggu-tunggu saat itu akhirnya tak popular dan menimbulkan
kontroversi. Padahal Film komedi ini adalah satire bagi Nazi yang ingin
menguasai dunia secara brutal; dan tentu saja Chaplin ingin memberikan pesan
utama dari film itu yakni tentang perdamaian,
Muncul dan
dirilisnya film ini mengakibatkan sesuatu; Pertama, Setahun setelah film ini,
akhirnya Amerika Serikat bergabung ke PD II; seakan-akan film tersebut memberikan
dampak propaganda kepada pemerintah AS untuk segera bergerak melawan Nazi
Jerman dan tentunya atas dasar nama Demokrasi, dan sebagai “pahlawan perang”
sekaligus “polisi dunia”.
Kedua, Chaplin merilis film ini saat
industri film AS masih dalam cengkraman Nazi sejak tahun 1930-an, rezim Nazi
mengontrol produksi film-film Hollywood, khususnya yang berkaitan dengan
pemberitaan atau pementasan drama dengan kondisi negerinya.
Ini menimbulkan
pertanyaan, Bagaimana bisa?
Nazi melakukan dengan serangan
teror. Pada tanggal 5 Desember 1930, pasukan Nazi yang berjumlah 300 orang dipimpin
oleh Goebbels melempar bom & bubuk bersin ke kerumunan teater di Berlin. Itu
dilakukan sebagai wujud protes untuk film All
Quiet on the Western Front. Sejak saat itu, Nazi semakin berkuasa dan dapat
menentukan adegan film mana saja yg layak tayang. Mirisnya, Hollywood menuruti itu
karena pertimbangan bisnis. Studio-studio raksasa seperti Universal
Studio, Warner Bros, 20th Century Fox tidak mau mengambil resiko
kehilangan penonton.[5]
Terjajahnya
Hollywood masih terus berlanjut sampai tahun 1937, berbagai film dibatalkan
penayangan nya meski tidak menyebut Nazi di dalamnya. Kemederkaan industri perfilm-an Hollywood seakan semu, F.D.
Roosevelt sebagai presiden saat itu juga tidak dapat berbuat apa-apa.
Rooselevelt hanya mendukung penuh saat Chaplin membuat film The Great Dictator. Dengan ini, Chaplin seakan menabuh genderang
perang perlawanannya atas Nazi, ia seakan ingin mengusir Nazi melalui filmya.
Dan dengan penuh tekat, hanya film Chaplin-lah yang saat itu dapat diputar. Bayangkan, di tengah film yang dibatasi, justru Chaplin meliris film 'olok-olok-an' para pelaku yang membatasi
Dan dengan penuh tekat, hanya film Chaplin-lah yang saat itu dapat diputar. Bayangkan, di tengah film yang dibatasi, justru Chaplin meliris film 'olok-olok-an' para pelaku yang membatasi
Chaplin, dengan
kondisi yang tengah terluka atas
tuduhan pro-komunis-nya; masih mempunyai tekad untuk melawan gejolak bathin
yang terganggu karena merebaknya ideologi fasis.
Chaplin,yang
merasa aktivitas seni-nya semakin dipersempit & dikekang karena berbagai
tuduhan; masih mampu membuat karya hebat.
Namun, ‘kejadian yang seharusnya terjadi’ tidak dapat ditolak. Disitu
karir-nya terpaksa meredup dan perlahan mati. Ia merasa dihianati oleh AS. Ia dilarang masuk ke AS dan bersikukuh untuk memutus segala perjalanan kehidupan di AS; dan ia tinggal di
Swiss sampai akhir hayat.
[1]
Chaplin, hlm. 145
[2] Ibid.,
[3]
Tirto;Charlie Chaplin (25/12/2019)
[4] Loc.cit., hlm. 386
[5]
CNN Indonesia terbitan 23/12/2014



Tidak ada komentar:
Posting Komentar