Cari Blog Ini

Selasa, 10 Mei 2016

Review Buku: The Buddhist World of Southeast Asia



Judul Buku :  The Buddhist World of Southeast Asia
                         (Buddhisme Theravada di Asia Tenggara; Tradisi, Negara dan Modernisasi)
Pengarang   :  Donald K. Swearer
Penerbit       :  SUNY Press, Albany 2010


   Dalam paragraf pembuka di pengantar bukunya ini, Swearer mengemukakan pernyataan taktis, “It has to be seen to be believed”. Konsisten dengan idiom tersebut, buku ini dia susun dari pengamatan langsung di lapangan. Awalnya ia menetap di Bangkok, Thailand selama 2 tahun lamanya, di tahun 1950an ketika ia ditugaskan sebagai guru di sekolah Kristen & dosen di sebuah Universitas milik Vihara di Bangkok. Sejak saat itu ia konsisten terus mengobservasi & mengeksplorasi Buddhisme Theravada.
    Dalam buku ini Swearer menganggap kekuatan agama layaknya kaum neo-strukturalis lainnya. Dalam pandangan kelompok ini, agama melingkupi & memenuhi strukur kehidupan riil masyarakat sehari-hari di segala bidang. Pandangan kaum neo-marxian & prediksi kalangan sekular-liberal akan lunturnya peran agama ternyata hanya isapan jempol, terutama jika belakangan melihat bangkitnya Islam, Kekristenan, Hinduisme dan dalam bukunya ini, Buddhisme Theravada di Asia Tenggara dan Sri Lanka. Ternyata Buddhisme Theravada kini juga sedang menguat di Cambodia, ditandai dengan banyak vihara baru berdiri & gerakan kaum perumah tangga tumbuh subur di Thailand. Bahkan, beberapa bhikkhu (monks) terlibat aktif dalam konflik politik seperti di Sri Lanka dan Myanmar dewasa ini (xi). Karena itu, tak salah ia mantapkan, Buddhism as a Lived Tradition.

    Bila kita mengarah sebentar ke pemikir struktural-fungsional semacam Talcott Parsons sejak mula percaya bahwa agama mempunyai peran vital di balik terbentuknya struktur serta kultur yg berlaku di masyarakat. Dalam konteks Amerika, ia menyebut adanya expressive revolution yg mengacu pada tradisi Kekristenan, terutama Protestan yang menjadi landasan bagi berkembangnya kultur Amerika dan kultur Barat pada umumnya. Menyimak hal ini rasanya tepat untuk membandingkannya dengan eksistensi Buddhisme (Theravada) di kawasan Asia Tenggara. Karena itu Swearer mengungkap betapa kuatnya pengaruh Theravada dalam tradisi sehari-hari, termasuk dalam rantai rites of passage, pada dinamika pemerintahan & juga bagi perkembangan modernisasi di kawasan-kawasan yg didominasi oleh umat penganut Buddhisme Theravada tersebut. Swearer memang dalam bukunya ini memilah pengaruh Theravada Buddhisme dalam tiga narasi tersebut; tradisi popular, negara, & modernisasi.

Tradisi Popular
    Dalam buku ini, para pemikir Barat seperti Max Weber melihat dalam Buddhisme India awal terdapat perbedaan tajam antara apa yg disebutnya “Otherworldly Mystical” atau mistik non-duniawi. Di satu sisi, muncul semacam pengingkaran pada urusan duniaw & perilaku duniawi, di sisi lainnya perilaku dan tujuan praktis tindakan sehari-hari dengan diwarnai pelembagaan Buddhisme yg subur di era Raja Asoka & para raja setelahnya di abad ketiga masehi. Tidak berbeda dengan guratan sejarah tersebut, Buddhisme Theravada di Asia Tenggara belakangan ini juga mengalami hal serupa. Jelas terpampang tujuan mulia dari praktik sehari-hari untuk mencapai kesempurnaan moral, perkembangan kualitas diri demi tercapainya keluhuran serta beragam cara untuk menggapainya, namun di sisi lain Buddhisme juga memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan duniawi sehari-har. Kedua bidang (yg berlawanan) itu sama-sama tersahkan dalam catatan kanon Kitab Suci Buddhisme Theravada.

    Swearer mengurai dalam bukunya, ia melihat adanya tradisi popular dalam masyarakat Buddhis di Asia Tenggara. Popular dalam pengertiannya bukan sesuatu yang tidak serius, kurang bermakna atau jauh dari ideal, melainkan ia maknai sebagai sesuatu yg umum diterima, dijalankan, & dipahami secara tradisional oleh orang-orang yg menyangganya yaitu masyarakat Sri Lanka, Myanmar, Thai, Cambodia dan Laos. Tradisi paling menonjol terkait dengan pengaruh Buddhisme Theravada di antaranya adalah ritus perjalanan hidup (rites of passage), perayaan-perayaan upacara tahunan, peristiwa-peristiwa ritual dan juga bergema dalam perilaku. Rangkaian peristiwa tersebut dapat sekali jalan dipahami manakala mengunjungi vihara untuk mengamati aktivitas-aktivitas tersebut, lalu mendengar ajaran Buddhisme dari para bhikkhu atau pandita perumah tangga serta melihat cerita yg terpotret dalam seni keagamaan dan dipamerkan dalam ritual.

    Swearer menggarisbawahi bahwa perilaku Buddhis berpusat pada tindakan yg bijak & mendatangkan karma baik (punna-karma) serta tindakan yg merugikan dan mendatangkan karma buruk (papa-karma). Kisah perjalanan Sang Buddha menjadi kisah kehidupan sebelum menjadi Sang Buddha yg terbukukan dalam kisah-kisah jataka yg penuh dengan nilai-nilai etika dan kesempurnaan spiritual. Swearer juga menyebut adanya pemujaan terhadap benda-benda peninggalan bhikkhu yg dianggap suci, seperti relic, jimat dan gambar/lukisan, seperti yang umum dipraktikkan di Thailand.
  
Buddhisme Theravada dan Negara

    Sang Buddha sangat dekat dengan kalangan raja semasa hidupnya di India bagian utara. Hal tersebut dilihat sebagai sesuatu yg menguntungkan untuk pengembangan vihara Buddhis (Buddhist Monastic). Karena itu beralasan untuk mengatakan sejak awal sangha Buddhis ternyata disokong oleh elit sosial, ekonomi dan politik untuk alasan sosial, politik dan juga keagamaan tertentu tentunya. Perlu dicatat pula, bahwa Pangeran Siddharta berasal dari kelas penguasa, khattiya, dan legenda menyebutkan ayah dari Siddharta, para raja dari klan Sakya dan para raja lainnya semasa hidupnya merupakan para pendukung agama baru ini.

   Secara umum, menurut Swearer, institusi keagamaan & institusi kerajaan saling mendukung satu sama lain dalam masyarakat Buddhis. Perlindungan kerajaan terhadap pranata Buddhis berbalas dengan pelembagaan kepatuhan yg diterima kerajaan. Di samping itu, keagamaan dan mitologi yang menguatkan raja sebagai penyemai Agama Buddha dianggap sangat penting bagi terciptanya keharmonisan dan kedamaian bagi seluruh negeri.

    Asoka Maurya dalam tradisi Buddhis dianggap sebagai chakkavatin atau raja dunia Buddhis dari dinasti Maurya (317-189 SM). Selain menerapkan nilai-nilai keluhuran, keadilan, dan mendukung perkembangan Buddhisme, juga dianggap mempersonifikasi sepuluh ajaran raja atau dasarajadhamma, yaitu antara lain pemurah, berbudi luhur, pengorbanan diri, kebajikan, pengendalian diri, penyabar, penyayang, & menaati norma-norma kebajikan. Asoka dianggap penyatu India dan memimpin wilayah yg begitu luas antara tahun 270-232 SM. Model kepemimpinan Raja Asoka ini kemudian ditiru para raja dari Pagan (Myanmar) seperti Raja Kyanzittha di abad 11 M & juga Raja Tilokaraja dari Chiang Mai (Thailand) di abad 15 M.

    Selanjutnya Buddhisme juga berpengaruh besar dalam membangun sentimen nasionalisme modern di Sri Lanka, Myanmar, Thailand dan Vietnam. Buddhisme juga menjadi faktor penting bagi proses pembangunan kembali Laos dan Cambodia setelah berakhirnya Perang Vietnam. Tidak mengejutkan jika di Negara seperti Sri Lanka dan Myanmar, Buddhisme baik langsung maupun tidak langsung terlibat dalam penentangan kolonialisme, penguatan sentimen politik nasional, serta integrasi nasional di bawah kepemimpinan tokoh dalam negeri. Untuk membuktikannya, Swearer mengambil contoh perjalanan hidup U Nu yg memimpin Myanmar di tahun 1940-1960an yg mengawinkan Buddhisme dan sosialisme. Bagi U Nu, komunitas nasional hanya bisa dibangun jika setiap individu mampu mengalahkan keinginan pribadinya. Benda-benda materi tidak berarti harus disimpan atau digunakan untuk kenikmatan pribadi, tetapi hanya untuk menyediakan kebutuhan hidup dalam perjalanan menuju nibbana. Di tahun 1950 U Nu mendirikan sebuah majelis Agama Buddha yg bertujuan untuk menyebarluaskan Buddhisme dan juga mengawasi para bhikkhu. Di tangan Jendral Ne Win yg mengkudetanya tahun 1962, situasi sedikit berubah. Meski Ne Win seorang Buddhis taat, tetapi ia dengan pemerintahan juntanya terlihat berjarak dan terlibat ketegangan dengan kelompok Sangha.

   S.W.R.D. Bandaranaike yg terpilih menjadi PM Sri Lanka tahun 1956 juga nyaris sama dengan U Nu. Ia mengeksploitasi symbol-simbol & kekuatan institusi Buddhisme untuk memperkuat posisinya. Walaupun ditengarai kehidupan pribadinya tidak seideal sebagai pemimpin Buddhis seperti U Nu, ia meneguhkan keyakinan politik demokrasinya serta filsafat ekonomi sosialisnya sepadan dengan Buddhisme. Lalu di Thailand terlihat menunjukkan gejala sedikit berbeda sebagai negara yg tidak pernah dijajah Barat. Di bawah kepemimpinan Raja Chulalongkorn, Sangha Buddhis diatur & dipimpin oleh Sangha-Raja. Kemudian dikenalkanlah pendidikan vihara yg berada di bawah control pemerintahan nasional. Penerusnya, Raja Vajiravudh (1910-1925), agama dan pemerintahan menjadi bersatu padu yg kemudian konsep ‘nation’, ‘religion’ & ‘king’ menjadi dasar ideologi bagi berdirinya Thailand modern.
 
Mengawal Modernisasi

    Di BAB 3, Swearer mengupas persoalan hubungan Buddhisme dan modernisasi. Tradisi keagamaan manapun selalu terlibat & merespon perubahan politik, sosial dan ekonomi. Mereka bahkan sanggup melawan ideologi asing. Dalam era normal, tradisi keagamaan tidak tampak melakukan perubahan. Namun di era yg goncang, tradisi keagamaan senantiasa sejalan dengan perubahan untuk membawa pada kebaikan serta kemajuan. Swearer mengambil contoh Cambodia ketika di bawah Pol Pot dari Partai Komunis Kamboja. Pol Pot dan partainya menginginkan menghapus semua peninggalan kolonial & juga tradisi warisan masa lalu. Selama memegang pemerintahan selama 4 tahun dari tahun 1975-1979, jutaan orang meninggal & lebih setengah juta meninggalkan negeri. Negara menyaksikan penghancuran vihara-vihara dan kuil-kuil. Para bhikkhu dibunuh atau dipaksa menanggalkan jubahnya menjadi orang biasa. Buddhisme Theravada terancam hilang, hanya tertinggal di kalangan pengungsi di perbatasan dengan Thailand, atau di antara pengungsi di Amerika Utara & Eropa Barat. Namun, ketika Republik Rakyat Kampuchea didirikan tahun 1979, Buddhisme langsung kembali berkembang dengan baik. Sangha Buddhis Cambodia akhirnya berkoalisi dengan pemerintah tahun 1992 dan di tahun 1993 Norodom Sihanouk diangkat kembali menjadi Raja Cambodia, sebuah posisi yg terasosiasi dengan Buddhisme.

    Perubahan-perubahan itu tidak lepas dari peran para bhikkhu. Di bidang politik contohnya, para bhikkhu dari etnis Sinhala mendukung perjuangan pemerintah Sri Lanka untuk melawan Liberatin Tigers of Tamil Elam (LTEE) yg ingin memerdekakan diri. Di Thailand, para pengikut Santi Asok, sebuah gerakan reformis Buddhis turut serta dalam demonstrasi melawan pemerintahan Thaksin Shinawatra di tahun 2006 dan menuntut pengunduran dirinya. Akan tetapi Thaksin bukan tanpa dukungan dari lembaga Buddhis. Wat Thammakai, sebuah gerakan Buddhis yg terdaftar di pemerintah tahun 1978, dituduh bekerja sama dengan Partai Thai Rak Thai pimpinan Thaksin. Organisasi ini dituduh mempopulerkan budaya keculasan, korupsi, membuka jurang kesenjangan yg menjadi masalah ekonomi & pimpinan gerakan ini menyebarluaskan penafsiran menyimpang mengenai diri dan nibbana.

    Swearer mencatat peran Phrakhru Phitak Nantakhun di Thailand, sebagai sosok bhikkhu yg aktif terlibat dalam pekerjaan konservasi hutan. Di tahun 1990 ia menyeponsori penahbisan pohon untuk mencegah eksploitasi berlebihan dari penduduk lokal. Sosok yg perlu dicatat juga adalah Bhikkhu Buddhadasa (1906-1993) yg mempraktikkan tradisi hidup di hutan dengan mendirikan sebuah pertapaan di Chaiya di Thailand Selatan. Ia mengadopsi sebuah gaya hidup sederhana dengan meniru tradisi Buddhis India.

    Secara umum, para bhikkhu Theravada di Asia Tenggara sangatlah aktif dalam menyikapi isu-isu social ekonomi kontemporer, termasuk di dalamnya adalah kesenjanggan tajam antara kaya-miskin, eksploitasi perempuan di dunia kerja dan prostitusi, wabah HIV/AIDS & kerusakan lingkungan. Di masyarakat dominan Buddhis seperti Thailand dan negara-negara tersebut di atas, peran-peran Buddhisme dalam persoalan sehari-hari amat mudah dirasakan.

Penutup

    Tidak dapat disangkal, bahwa dalam buku ini mengupas secara mendalam terhadap tiga hal utama, yaitu Buddhisme dan tradisi popular, Buddhisme dan negara serta Buddhisme serta modernisasi yang ketiganya tampak menonjol di kawasan Asia Tenggara. Buddhis berpusat pada tindakan yg bijak & mendatangkan karma baik (punna-karma) serta tindakan yg merugikan dan mendatangkan karma buruk (papa-karma). Kisah perjalanan Sang Buddha menjadi kisah kehidupan sebelum menjadi Sang Buddha yg terbukukan dalam kisah-kisah jataka yg penuh dengan nilai-nilai etika dan kesempurnaan spiritual. Swearer juga menyebut adanya pemujaan terhadap benda-benda peninggalan bhikkhu yg dianggap suci, seperti relief, jimat dan gambar/lukisan.

    Secara umum, menurut Swearer, institusi keagamaan & institusi kerajaan saling mendukung satu sama lain dalam masyarakat Buddhis. Perlindungan kerajaan terhadap pranata Buddhis berbalas dengan pelembagaan kepatuhan yg diterima kerajaan. Di samping itu, keagamaan dan mitologi yang menguatkan raja sebagai penyemai Agama Buddha dianggap sangat penting bagi terciptanya keharmonisan dan kedamaian bagi seluruh negeri. Selanjutnya Buddhisme juga berpengaruh besar dalam membangun sentimen nasionalisme modern di Sri Lanka, Myanmar, Thailand dan Vietnam. Buddhisme juga menjadi faktor penting bagi proses pembangunan kembali Laos dan Cambodia setelah berakhirnya Perang Vietnam. Tidak mengejutkan jika di Negara seperti Sri Lanka dan Myanmar, Buddhisme baik langsung maupun tidak langsung terlibat dalam penentangan kolonialisme, penguatan sentimen politik nasional, serta integrasi nasional di bawah kepemimpinan tokoh dalam negeri

    Dalam era normal, tradisi keagamaan tidak tampak melakukan perubahan. Namun di era yg goncang, tradisi keagamaan senantiasa sejalan dengan perubahan untuk membawa pada kebaikan serta kemajuan. Perubahan-perubahan itu tidak lepas dari peran para bhikkhu. Di bidang politik contohnya, para bhikkhu dari etnis Sinhala mendukung perjuangan pemerintah Sri Lanka untuk melawan Liberatin Tigers of Tamil Elam (LTEE) yg ingin memerdekakan diri. Di Thailand, para pengikut Santi Asok, sebuah gerakan reformis Buddhis turut serta dalam demonstrasi melawan pemerintahan Thaksin Shinawatra di tahun 2006 dan menuntut pengunduran dirinya.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar