![]() |
| Adolf Hitler |
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Betapa dia
bertubi-tubi dituding sebagai orang yang paling bertanggung-jawab atas kematian
puluhan juta jiwa semasa Perang Dunia II, Adolf Hitler akan tetap dicatat
sebagai penentu sejarah dunia. Ia adalah satu dari segelintir tentara rendahan
yang sanggup tampil menjadi hantu dunia, membawa Jerman keluar dari cengkeraman
Sekutu dan bangkit menjadi penguasa Eropa. Sebuah upaya besar yang bahkan
seorang jenderal Sekutu pun kecil kemungkinan tak akan sanggup melakukannya.
Tak heran jika kemudian banyak ahli sejarah, politik lalu tertarik membedah
profil Hitler secara mendalam. Melalui Nazi, partai berpengaruh yang ia pimpin
dengan didukung dengan pasukan superior (menurutnya) nya (Bangsa Arya-Red),
serta The Third Reich,
visi masa depan Jerman yang ia perjuangkan, memang merupakan fenomena
tersendiri. Begitu pula dengan angkatan perang Jerman yang sanggup merangsek
begitu cepat ke negara-negara sekitar Jerman. Namun, Hitler adalah sosok
central yang jauh lebih fenomenal.
Berbagai
penilaian diberikan oleh para pengamat, sejawat, dan orang-orang yang pernah
berada di lingkaran terdalamnya. Ada yang menyebutnya sebagai nasionalis
sejati, orator yang sanggup mempengaruhi orang, penjahat perang yang sadis,
psikopat. Tetapi ada pula yang menyebutnya sebagai pemimpin agung serta
pemimpin yang lembut dan Leman yang kebapakan. Profilnya amat variatif. Dari
sekian telaah yang ditunjukan kepadanya, yang menarik perhatian untuk
diketengahkan adalah visinya yang megalomania. Banyak yang berpendapat, justru
dari karakternya inilah Hitler, yang secara intelejensia sebenarnya pas-pasan,
memiliki ambisi yang kelewat batas. Ia, misalnya ingin menjadikan Jerman
sebagai tuan di bumi ini, atau “Lord of the Earth” dan menasbihkan diri bahwa
bangsa yang bersama dia ketika itu merupakan bangsa yang diciptakan sempurna
dan ditakdirkan untuk berkuasa di dunia ini. Bagaima lihai nya ketika ia
melakukan suatu gebrakan besar dengan menggaet persatuan bangsa Arya menjadi
kekuatan terbesarnya.
Dengan
kelihaiannya mengikat serta mengkomandoi bangsa Arya yang sedang kala situ
sedang berada dibawah tekanan bangsa Yahudi, menjadi suatu kekuatan yang
spektakuler. Lalu siapa itu bangsa Arya? apakah bangsa Arya merupakan bangsa
asli Jerman yang ketika diserukan Hitler menjadi kekuatan besar yang mengusir
dan membantai bangsa Yahudi? Apakah bangsa yang dieluh-eluhkan Hitler sebagai
bangsa superior ini bangkit bersama atas dasar nasionalisme yang tinggi? Atau
justru hanya sebagai alat tunggangan propaganda guna mereduksi tekanan
kekalahan Jerman pada Perang Dunia I?
1.2. Pokok
Masalah
1. Bagaimana latar belakang
konsep lahirnya pemikiran fasisme ala Adolf Hitler?
2. Bagaimana supremasi Jerman
Raya dicanangkan oleh Adolf Hitler dalam bentuk kekuasaan superior ras Arya
dengan agresi militernya?
1.3. Batasan Masalah
Identifikasi propaganda
Hitler terhadap bangsa Arya demi terjuwud tujuannya yang salah satunya guna
membangkitkan kembali semangat prajurit Nasionalisme negara nya (Supremasi
Jerman Raya). Meyakini bagaimana bangsa Arya itu merupakan ras unggul dan asli,
maka dari itu menumpas semua ras-ras yang bertentangan dengan ras Arya.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Titik Balik Jerman pasca
Perang Dunia I
Dengan
bangkitnya Jerman dibawah kekuasaan Hitler yang bernaung di Partai Nazi telah
membuka pintu negara Jerman menjadi negara yang terpandang terutama setelah
kalahnya Jerman pada Perang Dunia I. Kebangkitan Jerman tidak hanya dalam
faktor-faktor kemakmuran negaranya saja, namum dalam hal militer pun Jerman
menjadi negara yang sangat kuat dengan adanya propaganda dari pemimpinnya.
Disini Rakyat Jerman sudah mencapai titik dimana kekuasaan dan pertahanan
menjadi prioritas utama dibanding mementingkan kebebasan berpolitik yang pada
akhirnya akan menjadi pertikaian dan pertumpahan darah, Hitler mengerti akan
hal-hal tersebut dan menggunakannya demi tercapai tujuannya. Dibantu dengan
kapasitas yang fenomenal dalam hal organisasi untuk propaganda dengan semangat
tercapainya negara industri besar sesuai dengan pencapainya. Dengan dibangunnya
hal-hal tersebut, pembawaan rakyat Jerman terhadap terlahirnya suatu otoritas
akan memudahkan lahirnya suatu kepemimpinan fasisme”.
Dengan
adanya semangat nasionalisme yang tinggi dan rasa kebangaan yang sangat tinggi
terhadap ras-nya sendiri maka dimulailah sebuah propaganda oleh Hitler yang
pada kelanjutanya menjadikan Jerman sebagai negara “gila perang”. Dilakukannya
beberapa serangan brutal ke negara-negara tengga demi mengukuhkan supremasi
Jerman raya di bumi Eropa dengan pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh
kaum Nazi. Serangan sadis ini didorong oleh semangat moril yang sangat tinggi,
tetapi hakekatnya mereka perupakan pernyataan dari kekuatan-kekuatan jiwa yang
primitif. Dalam hal-hal sedemikian dikatakan, bahwa ego telah dikorupsi oleh
jiwa. Seraya dengan meningkatnya nasionalisme, chavunisme, dan perlunya
perluasan wiliyah maka pemimpin Jerman Adolf Hitler melakukan ekspansi tanpa
terduga ke beberapa negara Eropa dengan tujuan mendirikan suatu negeri bagi
bangsa Jerman saja atau dikenal dengan sebutan negera Jerman Raya.
2.2. Sejarah Bangsa Jerman
Sebenarnya bangsa Jerman berasal dari
Skandinavia Selatan. Karena keadaan cuaca yang memburuk pada abad ke-2 SM, mereka
terpaksa mengungsi ke selatan. Maka tibalah mereka di wilayah yang sekarang
dikenal sebagai Jerman. Di sana memang sebagian besar masih hutan belantara,
namun demikian bukan berarti daerah itu tidak bisa didiami. Saat pertama kali
masuk ke sana, bangsa Jerman bertemu dan bergabung dengan suku Celtis dan
terdampar di perbatasan kerajaan Romawi. Karena sulitnya bahan pangan pada saat
itu suku-suku tersebut sering menjarah makanan dari kota-kota jajahan Romawi.
Tak heran,
kemarahan sudah barang tentu tidak terhindarkan. Bangsa Romawi tentu
tidak mengizinkan kaum bar-bar (Bart = janggut) yang tidak
berpendidikan ini memasuki kerajaan mereka seenaknya menjarah secara membabi
buta. Untuk menahan serangan bangsa Jerman ke selatan ini, pada abad pertama
atau kedua SM, mereka membangun Limes (sebuah benteng perbatasan yang melintang
lebih dari 500 Km dan membelah Jerman pas di tengah-tengah). Limes ini
memisahkan provinsi-provinsi taklukan Romawi dari wilayah-wilayah yang
selanjutnya diduduki oleh suku-suku bangsa Jerman. Akan tetapi Jangan dikira
bahwa perbatasan tersebut yang terjadi hanyalah perang melulu. Antara bangsa
Jerman dan Romawi pun terjalin hubungan dagang.
Bukan hanya
itu: Bangsa Jerman yang hidup di luar Limes, semakin lama semakin menyerap gaya
hidup dan kebudayaan sang penakluk. Banyak yang mampu menjadi tentara Romawi
dan bahkan naik pangkat. Pertanyaannya adalah; Apakah dengan itu bangsa
Jerman menjadi penerus sejati Romawi? Sama sekali tidak. Contoh yang paling
jelas adalah Raja Cherusk Arminus. Meskipun ia belajar di Roma, ia menjadi
simbol perlawanan terhadap penguasa asing. Pada tahun 9, tentaranya mengalahkan
tentara Romawi di bawah pimpinan Varus di Hutan Teutoburg.
Bagaimana
kehidupan bangsa Jerman di luar Limes? Setiap suku bangsa memiliki kepala suku
yang menguasai daerah bebas. Sejak saat itu semakin sering saja perampok
keturunan Jerman menjarah kota-kota taklukan Romawi, bahkan kota Romawi tidak
lagi aman dari jangkauan mereka. Tanggal 23 Agustus tahun 476 imperium dunia
ini berakhir, kaisar terakhir Romulus Agustulus dijatuhkan oleh tentaranya
sendiri. Kawasan yang dulunya dikuasai bangsawan Romawi, yakni sampai ke
Spanyol dan Afrika Utara, Akhirnya Jaruh ke tangan bansa Jerman. Sementara itu,
bangsa Jerman tidak terlalu paham bagaimana harus mengurus peninggalan budaya
dan arsitektur Roma, mereka merasakan adanya daya tarik magis yang kuat dari
agama musuh yang mereka taklukkan. Para misionaris akhirnya dapat
mengkristenisasi bangsa Jerman dengan cara membuktikan kepada orang-orang
Jerman tentang ketidakberdayaan dewa-dewa mereka. Di dekat Geismar ada pohon
Eik yang konon sudah diberkati Dewa Donar, mereka menebang pohon itu lalu
membangun gereja dari kayu pohon tersebut.
2.3. Sejarah Bangsa Arya
Menurut beberapa pengamat, terdapat beragam sumber asal bangsa Arya
bermaura. Ada yang menyebut Bangsa
arya merupakan bagian dari rumpun Kaukosid, mereka masuk ke India sekitar 1500
SM dari Persia (Nobble dan Dutt, 1982:4), bangsa inilah yang memulai mendirikan
peradaban bangsa persia. Bangsa Arya ini
sebenarnya adalah bangsa pendatang yang hijrah ke Iran pada milinium ke-III,
sebelumnya peradaban di Iran di kuasai oleh ELAM dan Proto-Iran. Peradaban Iran
tertua dan pertamakalinya adalah Peradaban Proto-Iran dan ELAM itu sendiri,
tapi kemudian ditaklukkan oleh bangsa Arya. Selanjutnya keturunan anak bangsa
arya ini lah yang berkuasa di Iran. Kemudian mendirikan kekaisaran Media dan
Akhemeniyah. kekaisaran Media dan Akhemeniyah ini dikuasai oleh raja yang
bernama Koresh Yang Agung. Setelah Koresh mangkat, maka selanjutnya beberapa
generasi di gantikan oleh kekaisaran Darius Yang Agung (Darius I, II dan III). Selanjutnya
kekaisaran persia (Akhemeniyah) diserang oleh kerajaan Yunani Kuno hegemoni
dari kerajaan Makedonia (pemimpinnya adalah Alexander Agung), kemudian
Alexander agung berkuasa di Persia (Iran), dia lah raja dari kerajaan Makedonia
(Yunani Kuno). Mereka menjadi bangsa campuran, tak hayal kalau bangsa Yahudi
juga memiliki darah Arya akibat perkawinan ini, termasuk bangsa Yahudi yang
mendiami Jerman pada masa Hitler. Jadi intinya adalah bangsa Iran sekarang ini
adalah keturunan dari bangsa Arya dulunya. Gelar kebangsawan mereka adalah
AGUNG dan SHAH. Gelar shah ini pertama kalinya digunakan pada masa kekaisaran
SASSANIA. Orang-orang sassania memanggil raja mereka dengan istilah ERANSHAHR,
atau Iranshahaer artinya yaitu (penguasaan orang Arya). Kerajaan Sassania ini
sangat berjaya sekali, sampai masa penaklukkan Islam di Iraq.
Jadi, tidak
benar kalau syiah sekarang ini. Termasuk Syiah di iran sekarang ini adalah anak
keturunan dari bangsa Arya (Yahudi Kuno) dan sebenarnya bukan keturunan dari
khalifah ali bin abi thalib. Termasuk didalamnya Khomeini, Shah Pahlevi,
Ahamdinejad dan lain-lainnya, mereka itu adalah satu garis keturunan Yahudi
Kuno (bangsa arya). Sementara itu, bangsa Romawi kuno (Peradaban Yunani Kuno,
Athena dan Sparta) tak ada hubungannya dengan bangsa Arab (anak keturunan suku
kedar, yaitu anak pertama nabi ismail yang melahirkan nabi Muhammad) dan bangsa
arya (Keturunan raja persia, Iran). Bangsa Arab dan Arya ini adalah satu garis
keturunan mereka kepada nabi Ibrahim (satu garis keturunan kakek moyang).
2.4.
Hitler dan Supremasinya terhadap Bangsa Arya untuk Negara Jerman
Adolf
Hitler dilahirkan di Braunau am Inn, Austria pada 20 April 1889. Ayah Adolf Hitler, Alois Hitler, merupakan seorang
pegawai kantor bea cukai. Setelah ayahnya pensiun, keluarga Hitler pindah ke
kota Lambach (awal dari kehidupan yg terus berpindah-pindah di masa pensiun
ayahnya).Ibunya merupakan keturunan yahudi. Di Kota tersebut terdapat sebuah
biara Katolik yang dihiasi ukiran kayu dan batu yang diantaranya terdapat
beberapa ukiran swastika, yang kemudian menjadi tempat Adolf muda belajar. Adolf
Hitler dapat menyesuaikan dengan baik di sekolah biara tersebut, bahkan konon
ia memiliki suara yang lumayan bagus. Sebagai Adolf muda, ia juga memiliki
idola, yaitu biarawan yang melayani di sekolah biaranya, bahkan ia pernah
serius selama 2 tahun bercita-cita ingin menjadi biarawan. Ketika beranjak
dewasa, cita-citanya berubah ingin menjadi seorang seniman. bahkan ia mencoba
untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi seni di Wina, Austria namun gagal,
dan bahkan ia pernah menjadi seorang tunawisma di kota ini.
Ketika Perang Dunia I meletus, Hitler turut serta pada usia 25 tahun sebagai
pengantar pesan dalam pasukan Infantri Resimen Bavaria ke-16, dan ia merupakan
salah satu orang yang paling beruntung di medan pertempuran. Pernah suatu kali
resimennya bertemu pasukan Inggris dan Belgia di dekat Ieper, resimennya
kehilangan 2.500 dari 3.000 orang, tewas, luka-luka atau hilang dan Adolf
Hitler lolos tanpa luka sedikitpun dan beberapa kali ia berdiri di satu tempat
dan kemudian berpindah ke tempat lain yang beberapa detik kemudian tempat dia
sebelumnya berdiri kejatuhan bom. Luka pertamanya didapatnya pada tanggal 7 Oktober 1916 tepat 2 tahun setelah ia terjun kedalam perang, akibat
pecahan mortir di perang di Kota Somme. Ketika gencatan senjata ditanda tangani
pada tanggal 11 November 1918, Hitler sedang dirawat di rumah sakit akibat terkena serangan gas klorin dari inggris yang
mengakibatkan buta sementara. Ketika itu Hitler menjabat sebagai kopral.
Tahun 1919
Hitler lalu bergabung dengan sebuah partai kecil bernama Partai Pekerja Jerman
dan meninggalkan karir militernya. Saat berhasil menjadi pemimpinnya dan
akhirnya mengubah namanya menjadi partai Nazi. Tahun 1920, Hitler menterbitkan
simbol Swastika dan Tahun 1921 Partai ini semakin solid dengan didukung oleh
kelompok milisia SA. Disinilah kita bisa melihat salah satu kejeniusan Hitler,
berorganisasi dan berpidato. Terus terang, secara pribadi, saya tidak pernah
melihat orang berpidato sehebat Hitler. Ketika pengikutnya berteriak sambil
mengangkat tangan “HAIL HITLER!”. Apapun yang Hitler katakan adalah seperti
sebuah “Religion’s
order” yang
membuat pengikutnya menjadi super fanatik dan mengikuti apapun yang
diucapkannya.
Ketika di
penjara dia menulis bukunya yang terkenal, “Mein
Kampf” (Perjuanganku)
1924. Buku ini bisa digambarkan sebagai sebuah buku otobiografi, pikiran
politik/ filsafatnya, sejarah serta buku hariannya. Dalam tulisannya ini Hitler
yakin bahwa bangsa Arya adalah ras teringgi, penemu seni, ilmu dan tekhnology.
Selanjutnya Hitler ingin menciptakan sebuah “ras arya” yang “genuine” yang
nantinya akan meleading kebudayaan, keindahan, martabat dari semua jenis ras
manusia, itulah mengapa ia menyelipkan lambing swastika (lambing Arya) sebagai
logo partainya, Nazi. Buku ini kemudian menjadi seperti “The Bible” bagi
pengikutnya.
a. Partai Nazi
Nazisme
muncul sebagai akibat dari Perang Dunia I. Pada 11 November 1918 secara mengejutkan bagi pasukan garis depan Jerman, perang tiba-tiba berakhir. Pasukan garis depan tidak
merasa dikalahkan dan mereka heran mengapa gencatan senjata terjadi begitu
cepat sehingga mereka harus segera meninggalkan posisinya padahal mereka masih
berada di wilayah musuh. Hal
yang berkembang (masih diperdebatkan) di antara para
prajurit Jerman yang menyerah ini adalah bahwa mereka telah “ditikam dari
belakang.” Bahwa pasukan garis depan dan 2 juta rakyat Jerman tewas selama
perang telah dikhianati oleh kelompok Marxis dan Yahudi yang telah memunculkan perbedaan pendapat di
negara mereka. Ketika pasukan selamat itu kembali ke Jerman baru yang
demokratis, mereka membawa serta kekecewaan mereka. Seusai perang, negara-negara
sekutu melanjutkan blokade terhadap Jerman. Pasukan yang kembali dan berbaris
melewati München, ibukota Bayern, terkejut melihat keluarga mereka yang masih menderita.
Jutaan rakyat Jerman kelaparan dan ribuan lainnya sekarat akibat penyakit TBC dan influenza.
Di Jerman,
politik terbagi menjadi 2 kutub, Konservatif dan Sosialis; masing-masing
kelompok menjadi radikal di masa krisis. Situasi semakin bertambah buruk dengan
munculnya gerakan Republik Soviet München, sebuah upaya untuk menciptakan pemerintahan bergaya Soviet yang dikobarkan oleh kelompok sayap kiri Raterepublik di Munich. Tentara pemerintah
diturunkan untuk menumpas pemberontakan tersebut dan pecahlah pertempuran
terbuka di jalan-jalan Munich. Lebih dari 500 orang terbunuh. Tentara didukung
oleh Freikorps, prajurit
bayaran sayap kanan yang dibiayai oleh pemerintah. Freikorps benar-benar menjalankan tugasnya,
mereka membantai orang-orang yang mereka anggap sebagai anggota Raterepublik dan berhasil menumpas pemberontakan
itu.
Pransangka
anti-Semit di kelompok kanan semakin diperkuat oleh kenyataan bahwa pimpinan Raterepublik sebagian besar adalah orang Yahudi,
sehingga muncul kesan bahwa Bolshevisme (komunis) dan Yudaisme pada adalah
dasarnya sama. Wajar ketika sikap anti Yahudi kemudian berkembang luas. Freikorps dielu-elukan di München setelah
penumpasan Raterepublik.
Kelompok Yahudi adalah kambing hitam yang sempurna untuk disalahkan atas semua
penyakit negara tersebut. Freikorps didukung pejabat-pejabat sayap kanan
di militer seperti Kapten Ernst Roehm (yang nantinya akan menjadi komandan
tertinggi SA, “Pasukan Badai”).
Di awal
tahun 1918, sebuah partai bernama Freier
Ausschuss für Einen Deutschen Arbeiterfrieden (Komite Bebas untuk Kedamaian Buruh
Jerman) didirikan di Bremen, Jerman. Anton Drexler, seorang tukang kunci dan
penyair, mendirikan sebuah cabang dari perkumpulan ini pada 7 Maret 1918, di
Munich. Drexler merupakan salah satu penentang perjanjian damai antara Sekutu
dengan Jerman untuk mengakhiri Perang Dunia I tahun 1918. Ia memiliki pandangan
seperti umumnya nasionalis militan saat itu: menentang Perjanjian Versailes,
anti-semit dan anti-marxis, dan mempercayai superioritas ras Arya. Ia juga
percaya bahwa kapitalisme Internasional merupakan bagian dari gerakan dominasi
Yahudi di seluruh dunia dan menuduh kapitalis mengambil keuntungan (profit)
dari Perang Dunia I.
Pada tahun
1919, Drexler, dengan Gottfried Feder, Dietrich Eckart dan Karl Harrer,
mengubah nama partai tersebut menjadi Deutsche
Arbeiterparte (Partai
Pekerja Jerman) atau biasa disingkat DAP. Tahun 1919, Rohm bergabung dengan
partai tersebut. Di sana, dia bertemu dengan seorang veteran Perang Dunia I,
berusia 30 tahun: Kopral Adolf Hitler yang sama seperti Rohm, membenci kelompok
Komunis dan Yahudi. Hitler juga bergabung dengan partai pekerja Jerman pada
tahun 1919.
Hitler tak
berbeda dengan ribuan mantan prajurit lainnya di München, dia luntang-lantung
tanpa pekerjaan tetap. Tapi kini dia telah menyadari bakat alaminya untuk
berorasi dan menarik orang untuk bergabung dengan partainya, sehingga ia
memiliki peran dominan di sana. Dia salurkan kebencian, kemarahan atas
berakhirnya perang dengan pidato yang berapi-api. Hitler selalu berbicara
tentang apa yang disebutnya sebagai ketidakadilan perjanjian damai Versailes
yang ditandatangani pada akhir Perang Dunia I. Berdasarkan perjanjian itu,
Jerman kehilangan banyak wilayah negaranya. dan dipaksa membayar ganti rugi
pada negara-negara pemenang. Pada awal 1920, inflasi merajalela tak terkendali,
keuangan benar-benar hancur sehingga rakyat Jerman berpikir bahwa demokrasi tak
menghasilkan apapun.
Di Bayern,
pada tahun 1921 Hitler dinobatkan menjadi pimpinan partai pekerja Jerman yang
kecil itu. Namanya di ubah menjadi Nationalsozialistische
Deutsche Arbeiterpartei (“Partai
Pekerja Nasionalis Sosialis Jerman”), disingkat Nazi atau NSDAP. Saat itu
hanyalah salah satu dari banyak partai sayap kanan di Munich dan mereka semua
mengatakan yang sama: Versailes adalah kejahatan dan kelompok Yahudi ada di
belakangnya. Dinamisme Hitler yang dibarengi dengan nada tanpa kompromi dalam
pidato-pidatonya mulai menarik warga Bayern terkemuka lainnya untuk berpaling
pada partai baru Nazi. Pada tahun 1922, seorang penerbang ulung pemegang
penghargaan “Pour le Merite” sekaligus komandan skuadron Richthodenber dalam Perang Dunia I, Hermann Göring,
bergabung dengan Nazi. Nazi pun menyebarkan pengaruhnya ke wilayah pedesaan
Bayern. Di sana, seorang mahasiswa pertanian yang awalnya ingin menjadi
peternak ayam, Heinrich Himmler bergabung dengan Nazi (di kemudian hari, ia ditunjuk
sebagai komandan tertinggi SS).
Bulan
Januari 1923 di Ruhr, pasukan Perancis datang untuk meminta pembayaran ganti
rugi perang, mengasingkan dan menghina rakyat Jerman. Perancis memerintah
mereka dengan tangan besi. Rakyat Jerman menganggap hal ini sebagai upaya balas
dendam. Sentimen nasionalis pun mulai berkembang di Jerman. Sebagai hasilnya,
jumlah anggota Partai Nazi bertambah drastis menjadi sekitar 20.000 orang.
Dalam suasana krisis yang disebabkan oleh pendudukan Ruhr, Hitler dan Nazinya
mulai bertindak. Hitler berdiri di atas panggung Burgerbrau Keller pada tanggal 8 November dan
menghentikan rapat politik sayap kanan, ia menyerukan dilaksanakannya sebuah
revolusi nasional untuk menggulingkan pemerintah sayap kiri di Berlin. Keesokan
harinya, 9 November 1923, Nazi, bersama dengan partai sayap kanan lainnya
berparade di Munich untuk mengumpulkan dukungan. Mereka dihentikan oleh polisi
di monumen perang Feldherrenhalle.
Awalnya, Nazi berharap militer dan polisi mendukung parade tersebut dan bergabung
bersama mereka, tapi yang terjadi sebaliknya, polisi tidak mendukung mereka;
tembakan dilepaskan dan peserta parade dibubarkan. Untung bagi Hitler, ia
berhasil lolos dari penembakan itu. 4 perwira polisi dan 16 anggota Nazi
kehilangan nyawa mereka. Selain membunuh polisi, beberapa pengikut Nazi juga
melakukan perampokan bank dalam aksinya. Hitler kemudian diadili bersama
pimpinan parade lainnya pada awal 1924 dengan tuduhan melakukan penyerangan
terhadap polisi dan perampokan bank.
Pada
pertengahan 1920-an ekonomi Jerman pulih dan inflasi mulai berkurang.
Pemerintahan Weimar yang berkuasa berhasil menyelesaikan masalah pergantian
kerugian perang dengan meminjam uang dari Amerika Serikat. Namun, ada sejumlah
rakyat Jerman yang tidak setuju dan menyebut peristiwa ini sebagai “kemerosotan
Weimar”. Mereka bergabung dengan kelompok nonpolitik seperti Wandervogel yang menyerukan untuk kembali ke cara
hidup lama yang lebih sederhana. Nazi memanfaatkannya dan ikut
mensosialisasikan gerakan untuk kembali ke nilai lama ini (gerakan ini tetap
bertahan ketika Nazi berkuasa dalam sebuah kelompok yang dinamakan Hitler-Jugend, Pemuda
Hitler).
Pada
pertengahan tahun 1920-an, partai Nazi menjadi sebuah partai kecil yang
radikal. Program partai mereka menjanjikan bahwa jika Nazi berkuasa, Yahudi
Jerman, yang dianggap berada dibalik ‘Perjanjian
Versailes’, akan dicabut kewarganegaraannya, atau bahkan diusir dari negara
tersebut. Menurut Bruno Hahnel, pemimpin Kelompok Muda Hitler untuk tahun
1927—1945, mereka menganggap bahwa Golongan Yahudi Dunia ingin meraih kekuasaan
dan menguasai dunia sehingga Kelompok Muda Hitler harus menggagalkannya.
Isu
konspirasi Yahudi sedunia itu disuarakan secara terbuka oleh Nazi dan
dipercaya. Bersamaan dengan munculnya paham anti-Semit itu, tumbuh keyakinan
bahwa kekerasan adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses politik,
sehingga kemudian, Nazi mendirikan sayap paramiliter yang disebut Sturmabteilung (SA), “Pasukan Badai“.
Tugasnya adalah menjaga pertemuan-pertemuan Nazi, mengancam pengikut
partai-partai lain, dan menggalang dukungan. Pada tahun 1928 atau 7 tahun
setelah Hitler memimpin partai, Nazi gagal meraih kekuasaan dalam pemilu. Pada
pemilu itu, Nazi hanya mendapatkan 2,6 % suara. Tapi 4 tahun dan 18 bulan
kemudian, Hitler menjadi Kanselir Jerman karena Nazi didukung oleh keadaan.
Pada tahun
1930-an, Jermah jatuh bangkrut. Harga produk pertanian dunia yang jatuh
mengakibatkan kemiskinan, jatuhnya Wall Street mengakibatkan kemerosotan
ekonomi di seluruh dunia, ditambah lagi dengan datangnya tagihan utang dari
Amerika Serikat yang semakin menekan persediaan devisa Jerman. Tahun 1931 angka
pengangguran di Jerman meningkat hingga 5 juta orang. Pengangguran hidup dengan
susah payah di perkotaan ketika Jerman menjadi negara dengan perekonomian
paling buruk di dunia. Keadaan semakin buruk ketika lima bank utama di Jerman
hancur pada tahun 1931 menyebabkan lebih dari 20.000 perusahaan Jerman gulung
tikar.
Tanpa
diduga, dalam krisis ekonomi itu, suara untuk Nazi meningkat. orang-orang mulai
tertarik dengan prinsip mereka: “Versailes adalah kejahatan dan Yahudi berada
dibelakangnya. Marxisme harus dihancurkan dan Bangsa Jerman harus lahir
kembali.” Bahkan karena sedemikian bosannya dengan keadaan ekonomi, orang-orang
pedesaan yang belum pernah mendengar tentang Hitler dan partainya ikut memilih
Nazi. Seperti misalnya di kota terpencil di wilayah Prusia Timur, Neidenburg,
terjadi peningkatan suara yang sangat drastis untuk Nazi. Pada tahun 1928, Nazi
mendapat 2.3% suara di sini. Namun pada tahun 1930 dukungan yang mereka
dapatkan melonjak ke angka 25.8%; padahal Hitler tak pernah berkunjung ke sana
dan tak ada perwakilan partai Nazi di kota itu. Tapi bukan hanya Nazi yang
mulai naik daun, komunis juga mulai mendapat dukungan sehingga demokrasi yang
baru lahir di Jerman mulai terancam karena para pemilih terdorong ke titik
ekstrim; antara Nazi dan Komunis. Pertikaian mulai terjadi, Nazi dan Pasukan
Badainya (SA) dengan Komunis.
Hitler dalam pidato pemilihan umumnya (Juli 1932).
“Musuh kita menuduh kita golongan sosialis-nasional, dan aku pada khususnya, sebagai orang yang tidak toleran dan menyukai permusuhan. Mereka bilang kita tak mau bekerjasama dengan partai lain. Mereka bilang golongan Sosialis-Nasional bukanlah orang Jerman karena menolak bekerjasama dengan partai lain. Lalu, apakah memiliki 30 partai adalah ciri khas bangsa Jerman!? Aku harus mengakui satu hal – orang-orang itu tidak salah. Kita tidak toleran. Aku memiliki satu tujuan – untuk menyingkirkan 30 partai politik itu dari Jerman! Mereka salah mengira kita adalah salah satu dari mereka. kita punya satu tujuan, dan kita akan mewujudkannya dengan setia dan tanpa kompromi sampai ke liang kubur!”
2.5.
Awal Mula Pemikiran Adolf Hitler :
Pemikiran
dan siasat serta tujuan Hitler untuk membangkitkan semangat perjuangan Jerman
yang hakiki (yang dalam hal ini melalui Bangsa Arya), tidak mucul begitu saja.
Ada beberapa tokoh yang melatarbelakanginya.
a. Niccolo Machiavelli
Yang
paling menonjol dari dari ajaran Machiavelli terhadap pemikiran Adolf Hitler
adalah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya dan juga menghendaki pengontrolan
terhadap kekuasaan, yaitu dengan cara membungkam setiap lawan politiknya. Cara
yang dilakukannya yaitu dengan dibakarlah gedung parlemen Jerman, lalu ia
menuduh bahwa aksi keji itu dilakukan para musuh politiknya yang selama ini
berdiam di gedung wakil rakyat.
b. Charles Darwin
Pendapatnya
yang mengatakan “peperangan
(perjuangan untuk mempertahankan hidup” pada
mahluk hidup di alam. Oleh sebab itu, ide bahwa “yang kuat tetap hidup dan
yang lemah akan musnah” mulai
diterapkan juga pada manusia dan kehidupan dalam bermasyarakat. Justifikasi
ilmiah Darwinisme inilah yang kemudian digunakan oleh Adolf Hitler untuk
membangun ras super. Inspirasi terbesar dari Darwin terhadap Hitler adalah
tentang pertarumhan (perjuangan) untuk mempertahankan kelangsungan hidup.
Bukunya yang terkenal diberi judul Mein
Kampf (Perjuangan Saya)
teinspirasi dari pertarungan (perjuangan) untuk mempertahankan kelangsungan
hidup ini. Sebagaimana Darwin, Hitler memberikan staus kera pada ras-ras
non-Eropa.
c. Freidrich Nietzsche
Pengaruh
Nietzsche terhadap ideologi Nazi merupakan sebuah kenyataan yang ditekankan
oleh begitu banyak sejarawan. Sebagaimana dinyatakan sejarawan H.F. Peters,
banyak orang mengutuk Nietzsche sebagai “bapak fasisme”. Dalam bukunya, The Myth of the 20th Century,
ideolog Nazi Alfred Rosenberg secara terbuka memuji Nietzsche. Hitlerjugend (Kaum Muda Hitler), sayap kepemudaan
dari gerakan Nazi, menjadikan buku Nietzsche Thus
Spake Zarathustra sebagai
sebuah naskah keramat. Adolf Hitler memerintahkan pembangunan monumen khusus
untuk mengenang Nietzsche, dan merintis pendirian pusat-pusat pendidikan dan
perpustakaan “di mana para pemuda Jerman dapat diajarkan doktrin Nietzsche
mengenai ras unggul”. Akhirnya, Gedung Peringatan Friedrich Nietzsche dibuka
oleh Hitler pada bulan Agustus 1938. Nietzsche
merupakan seseorang yang memuliakan individu yang bebas, besar, dan kuat, yaitu
seseorang yang diadopsi oleh orang-orang Nazi dari ras arya.
2.5.1. Kelanjutan Pemikiran Adolf Hitler :
Teori
Darwin telah memasuki benak Hitler, bahkan meresap sampai ke tulang sumsum. Hal
ini amat terasa dalam bukunya Mein
Kampf (Perjuanganku). Ia
menyamakan ras non-Eropa sebagai kera. Dari dalam dirinya tumbuh ‘kekuatan’
yang mendapat inspirasi dari teori Darwin bahwa untuk mempertahankan hidup
manusia harus bertarung. Ia menerjemahkan impiannya dengan menyerang Austria,
Cekoslowakia, Perancis, Rusia, dll. Malah terbersit nafsu menguasai seluruh
dunia. Ia melansir konsep eugenetika yang menjadi dasar pijakan pandangan
evolusionis Nazi. Eugenetika berarti ‘perbaikan’ ras manusia dengan
membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta memperbanyak individu sehat.
Sehingga menurut teori itu, ras manusia bisa diperbaiki dengan meniru cara
bagaimana hewan berkualitas baik dihasilkan melalui perkawinan hewan yang
sehat. Sedangkan hewan cacat dan berpenyakit dimusnahkan.
Tak lama setelah berkuasa, Hitler menerapkan teori itu
dengan tangan besi. Orang-orang lemah mental, cacat, dan berpenyakit keturunan
dikumpulkan dalam ‘pusat sterilisasi’ khusus. Karena dianggap parasit yang
mengancam kemurnian rakyat Jerman dan menghambat kemajuan evolusi, maka atas
perintah rahasianya, dalam waktu singkat mereka semua dibabat habis.
Masih
dalam eforia teori evolusi dan eugenetika,
Nazi menghimbau muda-mudi berambut pirang bermata biru yang diyakini mewakili
ras murni Jerman biar berhubungan seks tanpa harus menikah. Pada 1935, Hitler
memerintahkan didirikannya ladang-ladang khusus reproduksi manusia. Di dalamnya
tinggal para wanita muda yang memiliki ras Arya. Para perwira SS (Schutzstaffel)
sering mampir ke sana buat mesum dengan dalih eugenetika.
Para bayi yang lahir kemudian disiapkan menjadi prajurit masa depan ‘Imperium
Jerman’.
2.6. Akar Kebencian
Pada Yahudi
Kenangan
akan sebuah lokasi di Polandia, bernama kamp Auschwitz, masih menyisakan trauma
mendalam bagi bangsa Yahudi. Orang-orang Yahudi yang ditakuti Hitler
dianggapnya akan memicu Revolusi Bolshevik sebagaimana yang terjadi di Rusia
sehingga menghancurkan negeri para Tsar (gelar raja-raja Rusia dahulu) itu.
Karenanya, Yahudi dijadikan Hitler sebagai musuh yang harus segera dibinasakan
sebelum mereka sempat memupuk kekuatan. Ada juga teori yang mengatakan bahwa
Hitler sangat khawatir dan kesal dengan propaganda The Protocol of Zion milik bangsa Yahudi yang
bercita-cita menjadi pemimpin
dunia. Kemudian, kebencian terhadap bangsa Yahudi yang melanda rakyat Jerman
dipicu oleh sikap masyarakat Jerman keturunan Yahudi yang menentang keinginan
Jerman untuk berperang. Ras Arya, yang merupakan mayoritas di Jerman,
menganggap orang-orang Yahudi sebagai ‘parasit’, yakni, “Mau mendapatkan kemakmuran dari
negara Jerman, tapi menolak membela negara untuk berperang.”
Bahkan, Hitler menyebut orang-orang
Yahudi Jerman sebagai sekumpulan imigran yang merugikan Jerman. Akhirnya,
rakyat Jerman yang banyak menjadi buruh para juragan Yahudi, mendukung penuh
sikap Hitler. Mereka menyebut diri mereka sebagai korban-korban penindasan
ekonomi oleh orang-orang Yahudi di negara sendiri.
BAB
III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Pemikiran
serta siasat usaha Hitler dalam membangkitkan kembali semangat kejayaan Jerman
memang bukan yang pertama kali memproklamirkannya. Program yang biasa disebut German
Supremacy ini sebenarnya didahulukan oleh Gustav Kossinna taon 1902 dan Herman
Hirt taon 1905 yang mengklaim bahwa sebelah utara German adalah murni
Indo-Europe (Sebangsa Arya), hingga V. Gordon Childe tahun 1926 menyebutkan
study Indo European, termasuk bangsa Nordic yang superior dari fisiknya yang
tegap dan kuat, berambut pirang, dan beriris biru. Teori ini menjadi kebanggaan
bangsa Jerman pada waktu itu meskipun teori itu sebenarnya salah. Hal ini dipakai
Nazi sebagai propagandanya, adalah ras Arya yang paling unggul dalam hirarki
ras dan dan ras yahudi Jewish-Semitic (jüdisch-semitisch) adalah ras yang dapat
mengotori "Kemurnian" dari
ras Arya.
Semua
propaganda Hitler bercampur aduk dari isu terhadap penghianatan Kaum Yahudi
Marxis yang berbeda arah tujuan negara, program anti-Semit (Jewish) yang
menurut nya sebagai perusak, pembuat kekacauan yang tiada habis nya di negara
itu, ditambah dengan sekutu personalnya yang semakin membuat rezim Hitler berkuasa,
serta hingga menyebar kearah yang paling sensitive yaitu Ras. Hitler mengkalim
bahwa Ras Arya merupakan suatu DNA yang sempurna dan luar biasa yang berhak
menguasai dunia, untuk itu marilah bersatu demi kembalinya kejayaan Jerman
Raya. Akhir dari tujuan ini ialah melenyapkan bangsa Yahudi dan Non-Eropa yang
mendiami Jerman. Melalui teori Eugenetika versinya berarti ‘perbaikan’ ras
manusia dengan membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta memperbanyak
individu sehat. Selain membantai bangsa non-Arya, Hitler juga menyingkirkan
bangsa Arya sendiri yang menurutnya kurang sehat (gagal produksi). Untuk itu
dia membuat suatu “ternak” untuk memperbanyak dan meningkatkan kualitas bangsa
Arya. Bahkan Hitler juga mengambil orang Ras Arya dari Tibet (yang notabene
masih ada Ras Arya).
Propaganda
ini telah berhasil tertancap pada jiwa bangsa Arya, menjadi prajurit dengan
semangat Nasionalisme radikal yang berapi-rapi. Berasal dari sebuah teori yang
bersifat ilmiah kemudian Hitler merumuskannya ke dalam teori bernegara dan
berbangsa terhadap Jerman, hal ini dimaksudkan agar kemutlakan atas bangsa Arya
tidak dapat dipungkiri dan atas dasar itu pula maka Jerman-lah yang seharusnya
memimpin dunia ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar