Cari Blog Ini

Kamis, 02 Juni 2016

HITLER DAN BANGSA ARYA


 
Adolf Hitler

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
   Betapa dia bertubi-tubi dituding sebagai orang yang paling bertanggung-jawab atas kematian puluhan juta jiwa semasa Perang Dunia II, Adolf Hitler akan tetap dicatat sebagai penentu sejarah dunia. Ia adalah satu dari segelintir tentara rendahan yang sanggup tampil menjadi hantu dunia, membawa Jerman keluar dari cengkeraman Sekutu dan bangkit menjadi penguasa Eropa. Sebuah upaya besar yang bahkan seorang jenderal Sekutu pun kecil kemungkinan tak akan sanggup melakukannya. Tak heran jika kemudian banyak ahli sejarah, politik lalu tertarik membedah profil Hitler secara mendalam. Melalui Nazi, partai berpengaruh yang ia pimpin dengan didukung dengan pasukan superior (menurutnya) nya (Bangsa Arya-Red), serta The Third Reich, visi masa depan Jerman yang ia perjuangkan, memang merupakan fenomena tersendiri. Begitu pula dengan angkatan perang Jerman yang sanggup merangsek begitu cepat ke negara-negara sekitar Jerman. Namun, Hitler adalah sosok central yang jauh lebih fenomenal.
   Berbagai penilaian diberikan oleh para pengamat, sejawat, dan orang-orang yang pernah berada di lingkaran terdalamnya. Ada yang menyebutnya sebagai nasionalis sejati, orator yang sanggup mempengaruhi orang, penjahat perang yang sadis, psikopat. Tetapi ada pula yang menyebutnya sebagai pemimpin agung serta pemimpin yang lembut dan Leman yang kebapakan. Profilnya amat variatif. Dari sekian telaah yang ditunjukan kepadanya, yang menarik perhatian untuk diketengahkan adalah visinya yang megalomania. Banyak yang berpendapat, justru dari karakternya inilah Hitler, yang secara intelejensia sebenarnya pas-pasan, memiliki ambisi yang kelewat batas. Ia, misalnya ingin menjadikan Jerman sebagai tuan di bumi ini, atau “Lord of the Earth” dan menasbihkan diri bahwa bangsa yang bersama dia ketika itu merupakan bangsa yang diciptakan sempurna dan ditakdirkan untuk berkuasa di dunia ini. Bagaima lihai nya ketika ia melakukan suatu gebrakan besar dengan menggaet persatuan bangsa Arya menjadi kekuatan terbesarnya.
   Dengan kelihaiannya mengikat serta mengkomandoi bangsa Arya yang sedang kala situ sedang berada dibawah tekanan bangsa Yahudi, menjadi suatu kekuatan yang spektakuler. Lalu siapa itu bangsa Arya? apakah bangsa Arya merupakan bangsa asli Jerman yang ketika diserukan Hitler menjadi kekuatan besar yang mengusir dan membantai bangsa Yahudi? Apakah bangsa yang dieluh-eluhkan Hitler sebagai bangsa superior ini bangkit bersama atas dasar nasionalisme yang tinggi? Atau justru hanya sebagai alat tunggangan propaganda guna mereduksi tekanan kekalahan Jerman pada Perang Dunia I?
1.2. Pokok Masalah
1.   Bagaimana latar belakang konsep lahirnya pemikiran fasisme ala Adolf Hitler?
2. Bagaimana supremasi Jerman Raya dicanangkan oleh Adolf Hitler dalam bentuk kekuasaan superior ras Arya dengan agresi militernya?
1.3. Batasan Masalah
   Identifikasi propaganda Hitler terhadap bangsa Arya demi terjuwud tujuannya yang salah satunya guna membangkitkan kembali semangat prajurit Nasionalisme negara nya (Supremasi Jerman Raya). Meyakini bagaimana bangsa Arya itu merupakan ras unggul dan asli, maka dari itu menumpas semua ras-ras yang bertentangan dengan ras Arya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Titik Balik Jerman pasca Perang Dunia I
   Dengan bangkitnya Jerman dibawah kekuasaan Hitler yang bernaung di Partai Nazi telah membuka pintu negara Jerman menjadi negara yang terpandang terutama setelah kalahnya Jerman pada Perang Dunia I. Kebangkitan Jerman tidak hanya dalam faktor-faktor kemakmuran negaranya saja, namum dalam hal militer pun Jerman menjadi negara yang sangat kuat dengan adanya propaganda dari pemimpinnya. Disini Rakyat Jerman sudah mencapai titik dimana kekuasaan dan pertahanan menjadi prioritas utama dibanding mementingkan kebebasan berpolitik yang pada akhirnya akan menjadi pertikaian dan pertumpahan darah, Hitler mengerti akan hal-hal tersebut dan menggunakannya demi tercapai tujuannya. Dibantu dengan kapasitas yang fenomenal dalam hal organisasi untuk propaganda dengan semangat tercapainya negara industri besar sesuai dengan pencapainya. Dengan dibangunnya hal-hal tersebut, pembawaan rakyat Jerman terhadap terlahirnya suatu otoritas akan memudahkan lahirnya suatu kepemimpinan fasisme”.
   Dengan adanya semangat nasionalisme yang tinggi dan rasa kebangaan yang sangat tinggi terhadap ras-nya sendiri maka dimulailah sebuah propaganda oleh Hitler yang pada kelanjutanya menjadikan Jerman sebagai negara “gila perang”. Dilakukannya beberapa serangan brutal ke negara-negara tengga demi mengukuhkan supremasi Jerman raya di bumi Eropa dengan pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh kaum Nazi. Serangan sadis ini didorong oleh semangat moril yang sangat tinggi, tetapi hakekatnya mereka perupakan pernyataan dari kekuatan-kekuatan jiwa yang primitif. Dalam hal-hal sedemikian dikatakan, bahwa ego telah dikorupsi oleh jiwa. Seraya dengan meningkatnya nasionalisme, chavunisme, dan perlunya perluasan wiliyah maka pemimpin Jerman Adolf Hitler melakukan ekspansi tanpa terduga ke beberapa negara Eropa dengan tujuan mendirikan suatu negeri bagi bangsa Jerman saja atau dikenal dengan sebutan negera Jerman Raya.
2.2. Sejarah Bangsa Jerman
   Sebenarnya bangsa Jerman berasal dari Skandinavia Selatan. Karena keadaan cuaca yang memburuk pada abad ke-2 SM, mereka terpaksa mengungsi ke selatan. Maka tibalah mereka di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Jerman. Di sana memang sebagian besar masih hutan belantara, namun demikian bukan berarti daerah itu tidak bisa didiami. Saat pertama kali masuk ke sana, bangsa Jerman bertemu dan bergabung dengan suku Celtis dan terdampar di perbatasan kerajaan Romawi. Karena sulitnya bahan pangan pada saat itu suku-suku tersebut sering menjarah makanan dari kota-kota jajahan Romawi.
   Tak heran, kemarahan  sudah barang tentu tidak terhindarkan. Bangsa Romawi tentu tidak mengizinkan kaum bar-bar (Bart = janggut) yang tidak berpendidikan ini memasuki kerajaan mereka seenaknya menjarah secara membabi buta. Untuk menahan serangan bangsa Jerman ke selatan ini, pada abad pertama atau kedua SM, mereka membangun Limes (sebuah benteng perbatasan yang melintang lebih dari 500 Km dan membelah Jerman pas di tengah-tengah). Limes ini memisahkan provinsi-provinsi taklukan Romawi dari wilayah-wilayah yang selanjutnya diduduki oleh suku-suku bangsa Jerman. Akan tetapi Jangan dikira bahwa perbatasan tersebut yang terjadi hanyalah perang melulu. Antara bangsa Jerman dan Romawi pun terjalin hubungan dagang.

   Bukan hanya itu: Bangsa Jerman yang hidup di luar Limes, semakin lama semakin menyerap gaya hidup dan kebudayaan sang penakluk. Banyak yang mampu menjadi tentara Romawi dan bahkan naik pangkat.  Pertanyaannya adalah; Apakah dengan itu bangsa Jerman menjadi penerus sejati Romawi? Sama sekali tidak. Contoh yang paling jelas adalah Raja Cherusk Arminus. Meskipun ia belajar di Roma, ia menjadi simbol perlawanan terhadap penguasa asing. Pada tahun 9, tentaranya mengalahkan tentara Romawi di bawah pimpinan Varus di Hutan Teutoburg.

   Bagaimana kehidupan bangsa Jerman di luar Limes? Setiap suku bangsa memiliki kepala suku yang menguasai daerah bebas. Sejak saat itu semakin sering saja perampok keturunan Jerman menjarah kota-kota taklukan Romawi, bahkan kota Romawi tidak lagi aman dari jangkauan mereka. Tanggal 23 Agustus tahun 476 imperium dunia ini berakhir, kaisar terakhir Romulus Agustulus dijatuhkan oleh tentaranya sendiri. Kawasan yang dulunya dikuasai bangsawan Romawi, yakni sampai ke Spanyol dan Afrika Utara, Akhirnya Jaruh ke tangan bansa Jerman. Sementara itu, bangsa Jerman tidak terlalu paham bagaimana harus mengurus peninggalan budaya dan arsitektur Roma, mereka merasakan adanya daya tarik magis yang kuat dari agama musuh yang mereka taklukkan. Para misionaris akhirnya dapat mengkristenisasi bangsa Jerman dengan cara membuktikan kepada orang-orang Jerman tentang ketidakberdayaan dewa-dewa mereka. Di dekat Geismar ada pohon Eik yang konon sudah diberkati Dewa Donar, mereka menebang pohon itu lalu membangun gereja dari kayu pohon tersebut.

2.3. Sejarah Bangsa Arya
   Menurut beberapa pengamat, terdapat beragam sumber asal bangsa Arya bermaura. Ada yang menyebut Bangsa arya merupakan bagian dari rumpun Kaukosid, mereka masuk ke India sekitar 1500 SM dari Persia (Nobble dan Dutt, 1982:4), bangsa inilah yang memulai mendirikan peradaban bangsa persia. Bangsa Arya ini sebenarnya adalah bangsa pendatang yang hijrah ke Iran pada milinium ke-III, sebelumnya peradaban di Iran di kuasai oleh ELAM dan Proto-Iran. Peradaban Iran tertua dan pertamakalinya adalah Peradaban Proto-Iran dan ELAM itu sendiri, tapi kemudian ditaklukkan oleh bangsa Arya. Selanjutnya keturunan anak bangsa arya ini lah yang berkuasa di Iran. Kemudian mendirikan kekaisaran Media dan Akhemeniyah. kekaisaran Media dan Akhemeniyah ini dikuasai oleh raja yang bernama Koresh Yang Agung. Setelah Koresh mangkat, maka selanjutnya beberapa generasi di gantikan oleh kekaisaran Darius Yang Agung (Darius I, II dan III). Selanjutnya kekaisaran persia (Akhemeniyah) diserang oleh kerajaan Yunani Kuno hegemoni dari kerajaan Makedonia (pemimpinnya adalah Alexander Agung), kemudian Alexander agung berkuasa di Persia (Iran), dia lah raja dari kerajaan Makedonia (Yunani Kuno). Mereka menjadi bangsa campuran, tak hayal kalau bangsa Yahudi juga memiliki darah Arya akibat perkawinan ini, termasuk bangsa Yahudi yang mendiami Jerman pada masa Hitler. Jadi intinya adalah bangsa Iran sekarang ini adalah keturunan dari bangsa Arya dulunya. Gelar kebangsawan mereka adalah AGUNG dan SHAH. Gelar shah ini pertama kalinya digunakan pada masa kekaisaran SASSANIA. Orang-orang sassania memanggil raja mereka dengan istilah ERANSHAHR, atau Iranshahaer artinya yaitu (penguasaan orang Arya). Kerajaan Sassania ini sangat berjaya sekali, sampai masa penaklukkan Islam di Iraq.

 Jadi, tidak benar kalau syiah sekarang ini. Termasuk Syiah di iran sekarang ini adalah anak keturunan dari bangsa Arya (Yahudi Kuno) dan sebenarnya bukan keturunan dari khalifah ali bin abi thalib. Termasuk didalamnya Khomeini, Shah Pahlevi, Ahamdinejad dan lain-lainnya, mereka itu adalah satu garis keturunan Yahudi Kuno (bangsa arya). Sementara itu, bangsa Romawi kuno (Peradaban Yunani Kuno, Athena dan Sparta) tak ada hubungannya dengan bangsa Arab (anak keturunan suku kedar, yaitu anak pertama nabi ismail yang melahirkan nabi Muhammad) dan bangsa arya (Keturunan raja persia, Iran). Bangsa Arab dan Arya ini adalah satu garis keturunan mereka kepada nabi Ibrahim (satu garis keturunan kakek moyang).

2.4. Hitler dan Supremasinya terhadap Bangsa Arya untuk Negara Jerman
  Adolf Hitler dilahirkan di Braunau am Inn, Austria pada 20 April 1889. Ayah Adolf Hitler, Alois Hitler, merupakan seorang pegawai kantor bea cukai. Setelah ayahnya pensiun, keluarga Hitler pindah ke kota Lambach (awal dari kehidupan yg terus berpindah-pindah di masa pensiun ayahnya).Ibunya merupakan keturunan yahudi. Di Kota tersebut terdapat sebuah biara Katolik yang dihiasi ukiran kayu dan batu yang diantaranya terdapat beberapa ukiran swastika, yang kemudian menjadi tempat Adolf muda belajar. Adolf Hitler dapat menyesuaikan dengan baik di sekolah biara tersebut, bahkan konon ia memiliki suara yang lumayan bagus. Sebagai Adolf muda, ia juga memiliki idola, yaitu biarawan yang melayani di sekolah biaranya, bahkan ia pernah serius selama 2 tahun bercita-cita ingin menjadi biarawan. Ketika beranjak dewasa, cita-citanya berubah ingin menjadi seorang seniman. bahkan ia mencoba untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi seni di Wina, Austria namun gagal, dan bahkan ia pernah menjadi seorang tunawisma di kota ini.
   Ketika Perang Dunia I meletus, Hitler turut serta pada usia 25 tahun sebagai pengantar pesan dalam pasukan Infantri Resimen Bavaria ke-16, dan ia merupakan salah satu orang yang paling beruntung di medan pertempuran. Pernah suatu kali resimennya bertemu pasukan Inggris dan Belgia di dekat Ieper, resimennya kehilangan 2.500 dari 3.000 orang, tewas, luka-luka atau hilang dan Adolf Hitler lolos tanpa luka sedikitpun dan beberapa kali ia berdiri di satu tempat dan kemudian berpindah ke tempat lain yang beberapa detik kemudian tempat dia sebelumnya berdiri kejatuhan bom. Luka pertamanya didapatnya pada tanggal 7 Oktober 1916 tepat 2 tahun setelah ia terjun kedalam perang, akibat pecahan mortir di perang di Kota Somme. Ketika gencatan senjata ditanda tangani pada tanggal 11 November 1918, Hitler sedang dirawat di rumah sakit akibat terkena serangan gas klorin dari inggris yang mengakibatkan buta sementara. Ketika itu Hitler menjabat sebagai kopral.
   Tahun 1919 Hitler lalu bergabung dengan sebuah partai kecil bernama Partai Pekerja Jerman dan meninggalkan karir militernya. Saat berhasil menjadi pemimpinnya dan akhirnya mengubah namanya menjadi partai Nazi. Tahun 1920, Hitler menterbitkan simbol Swastika dan Tahun 1921 Partai ini semakin solid dengan didukung oleh kelompok milisia SA. Disinilah kita bisa melihat salah satu kejeniusan Hitler, berorganisasi dan berpidato. Terus terang, secara pribadi, saya tidak pernah melihat orang berpidato sehebat Hitler. Ketika pengikutnya berteriak sambil mengangkat tangan “HAIL HITLER!”. Apapun yang Hitler katakan adalah seperti sebuah Religion’s order yang membuat pengikutnya menjadi super fanatik dan mengikuti apapun yang diucapkannya.
   Ketika di penjara dia menulis bukunya yang terkenal, Mein Kampf (Perjuanganku) 1924. Buku ini bisa digambarkan sebagai sebuah buku otobiografi, pikiran politik/ filsafatnya, sejarah serta buku hariannya. Dalam tulisannya ini Hitler yakin bahwa bangsa Arya adalah ras teringgi, penemu seni, ilmu dan tekhnology. Selanjutnya Hitler ingin menciptakan sebuah “ras arya” yang “genuine” yang nantinya akan meleading kebudayaan, keindahan, martabat dari semua jenis ras manusia, itulah mengapa ia menyelipkan lambing swastika (lambing Arya) sebagai logo partainya, Nazi. Buku ini kemudian menjadi seperti “The Bible” bagi pengikutnya.
a. Partai Nazi
   Nazisme muncul sebagai akibat dari Perang Dunia I. Pada 11 November 1918 secara mengejutkan bagi pasukan garis depan Jerman, perang tiba-tiba berakhir. Pasukan garis depan tidak merasa dikalahkan dan mereka heran mengapa gencatan senjata terjadi begitu cepat sehingga mereka harus segera meninggalkan posisinya padahal mereka masih berada di wilayah musuh. Hal yang berkembang (masih diperdebatkan) di antara para prajurit Jerman yang menyerah ini adalah bahwa mereka telah “ditikam dari belakang.” Bahwa pasukan garis depan dan 2 juta rakyat Jerman tewas selama perang telah dikhianati oleh kelompok Marxis dan Yahudi yang telah memunculkan perbedaan pendapat di negara mereka. Ketika pasukan selamat itu kembali ke Jerman baru yang demokratis, mereka membawa serta kekecewaan mereka. Seusai perang, negara-negara sekutu melanjutkan blokade terhadap Jerman. Pasukan yang kembali dan berbaris melewati München, ibukota Bayern, terkejut melihat keluarga mereka yang masih menderita. Jutaan rakyat Jerman kelaparan dan ribuan lainnya sekarat akibat penyakit TBC dan influenza.
   Di Jerman, politik terbagi menjadi 2 kutub, Konservatif dan Sosialis; masing-masing kelompok menjadi radikal di masa krisis. Situasi semakin bertambah buruk dengan munculnya gerakan Republik Soviet München, sebuah upaya untuk menciptakan pemerintahan bergaya Soviet yang dikobarkan oleh kelompok sayap kiri Raterepublik di Munich. Tentara pemerintah diturunkan untuk menumpas pemberontakan tersebut dan pecahlah pertempuran terbuka di jalan-jalan Munich. Lebih dari 500 orang terbunuh. Tentara didukung oleh Freikorps, prajurit bayaran sayap kanan yang dibiayai oleh pemerintah. Freikorps benar-benar menjalankan tugasnya, mereka membantai orang-orang yang mereka anggap sebagai anggota Raterepublik dan berhasil menumpas pemberontakan itu.
   Pransangka anti-Semit di kelompok kanan semakin diperkuat oleh kenyataan bahwa pimpinan Raterepublik sebagian besar adalah orang Yahudi, sehingga muncul kesan bahwa Bolshevisme (komunis) dan Yudaisme pada adalah dasarnya sama. Wajar ketika sikap anti Yahudi kemudian berkembang luas. Freikorps dielu-elukan di München setelah penumpasan Raterepublik. Kelompok Yahudi adalah kambing hitam yang sempurna untuk disalahkan atas semua penyakit negara tersebut. Freikorps didukung pejabat-pejabat sayap kanan di militer seperti Kapten Ernst Roehm (yang nantinya akan menjadi komandan tertinggi SA, “Pasukan Badai”).
   Di awal tahun 1918, sebuah partai bernama Freier Ausschuss für Einen Deutschen Arbeiterfrieden (Komite Bebas untuk Kedamaian Buruh Jerman) didirikan di Bremen, Jerman. Anton Drexler, seorang tukang kunci dan penyair, mendirikan sebuah cabang dari perkumpulan ini pada 7 Maret 1918, di Munich. Drexler merupakan salah satu penentang perjanjian damai antara Sekutu dengan Jerman untuk mengakhiri Perang Dunia I tahun 1918. Ia memiliki pandangan seperti umumnya nasionalis militan saat itu: menentang Perjanjian Versailes, anti-semit dan anti-marxis, dan mempercayai superioritas ras Arya. Ia juga percaya bahwa kapitalisme Internasional merupakan bagian dari gerakan dominasi Yahudi di seluruh dunia dan menuduh kapitalis mengambil keuntungan (profit) dari Perang Dunia I.
   Pada tahun 1919, Drexler, dengan Gottfried Feder, Dietrich Eckart dan Karl Harrer, mengubah nama partai tersebut menjadi Deutsche Arbeiterparte (Partai Pekerja Jerman) atau biasa disingkat DAP. Tahun 1919, Rohm bergabung dengan partai tersebut. Di sana, dia bertemu dengan seorang veteran Perang Dunia I, berusia 30 tahun: Kopral Adolf Hitler yang sama seperti Rohm, membenci kelompok Komunis dan Yahudi. Hitler juga bergabung dengan partai pekerja Jerman pada tahun 1919.
   Hitler tak berbeda dengan ribuan mantan prajurit lainnya di München, dia luntang-lantung tanpa pekerjaan tetap. Tapi kini dia telah menyadari bakat alaminya untuk berorasi dan menarik orang untuk bergabung dengan partainya, sehingga ia memiliki peran dominan di sana. Dia salurkan kebencian, kemarahan atas berakhirnya perang dengan pidato yang berapi-api. Hitler selalu berbicara tentang apa yang disebutnya sebagai ketidakadilan perjanjian damai Versailes yang ditandatangani pada akhir Perang Dunia I. Berdasarkan perjanjian itu, Jerman kehilangan banyak wilayah negaranya. dan dipaksa membayar ganti rugi pada negara-negara pemenang. Pada awal 1920, inflasi merajalela tak terkendali, keuangan benar-benar hancur sehingga rakyat Jerman berpikir bahwa demokrasi tak menghasilkan apapun.
   Di Bayern, pada tahun 1921 Hitler dinobatkan menjadi pimpinan partai pekerja Jerman yang kecil itu. Namanya di ubah menjadi Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (“Partai Pekerja Nasionalis Sosialis Jerman”), disingkat Nazi atau NSDAP. Saat itu hanyalah salah satu dari banyak partai sayap kanan di Munich dan mereka semua mengatakan yang sama: Versailes adalah kejahatan dan kelompok Yahudi ada di belakangnya. Dinamisme Hitler yang dibarengi dengan nada tanpa kompromi dalam pidato-pidatonya mulai menarik warga Bayern terkemuka lainnya untuk berpaling pada partai baru Nazi. Pada tahun 1922, seorang penerbang ulung pemegang penghargaan “Pour le Merite” sekaligus komandan skuadron Richthodenber dalam Perang Dunia I, Hermann Göring, bergabung dengan Nazi. Nazi pun menyebarkan pengaruhnya ke wilayah pedesaan Bayern. Di sana, seorang mahasiswa pertanian yang awalnya ingin menjadi peternak ayam, Heinrich Himmler bergabung dengan Nazi (di kemudian hari, ia ditunjuk sebagai komandan tertinggi SS).
   Bulan Januari 1923 di Ruhr, pasukan Perancis datang untuk meminta pembayaran ganti rugi perang, mengasingkan dan menghina rakyat Jerman. Perancis memerintah mereka dengan tangan besi. Rakyat Jerman menganggap hal ini sebagai upaya balas dendam. Sentimen nasionalis pun mulai berkembang di Jerman. Sebagai hasilnya, jumlah anggota Partai Nazi bertambah drastis menjadi sekitar 20.000 orang. Dalam suasana krisis yang disebabkan oleh pendudukan Ruhr, Hitler dan Nazinya mulai bertindak. Hitler berdiri di atas panggung Burgerbrau Keller pada tanggal 8 November dan menghentikan rapat politik sayap kanan, ia menyerukan dilaksanakannya sebuah revolusi nasional untuk menggulingkan pemerintah sayap kiri di Berlin. Keesokan harinya, 9 November 1923, Nazi, bersama dengan partai sayap kanan lainnya berparade di Munich untuk mengumpulkan dukungan. Mereka dihentikan oleh polisi di monumen perang Feldherrenhalle. Awalnya, Nazi berharap militer dan polisi mendukung parade tersebut dan bergabung bersama mereka, tapi yang terjadi sebaliknya, polisi tidak mendukung mereka; tembakan dilepaskan dan peserta parade dibubarkan. Untung bagi Hitler, ia berhasil lolos dari penembakan itu. 4 perwira polisi dan 16 anggota Nazi kehilangan nyawa mereka. Selain membunuh polisi, beberapa pengikut Nazi juga melakukan perampokan bank dalam aksinya. Hitler kemudian diadili bersama pimpinan parade lainnya pada awal 1924 dengan tuduhan melakukan penyerangan terhadap polisi dan perampokan bank.
   Pada pertengahan 1920-an ekonomi Jerman pulih dan inflasi mulai berkurang. Pemerintahan Weimar yang berkuasa berhasil menyelesaikan masalah pergantian kerugian perang dengan meminjam uang dari Amerika Serikat. Namun, ada sejumlah rakyat Jerman yang tidak setuju dan menyebut peristiwa ini sebagai “kemerosotan Weimar”. Mereka bergabung dengan kelompok nonpolitik seperti Wandervogel yang menyerukan untuk kembali ke cara hidup lama yang lebih sederhana. Nazi memanfaatkannya dan ikut mensosialisasikan gerakan untuk kembali ke nilai lama ini (gerakan ini tetap bertahan ketika Nazi berkuasa dalam sebuah kelompok yang dinamakan Hitler-Jugend, Pemuda Hitler).
   Pada pertengahan tahun 1920-an, partai Nazi menjadi sebuah partai kecil yang radikal. Program partai mereka menjanjikan bahwa jika Nazi berkuasa, Yahudi Jerman, yang dianggap berada dibalik ‘Perjanjian Versailes’, akan dicabut kewarganegaraannya, atau bahkan diusir dari negara tersebut. Menurut Bruno Hahnel, pemimpin Kelompok Muda Hitler untuk tahun 1927—1945, mereka menganggap bahwa Golongan Yahudi Dunia ingin meraih kekuasaan dan menguasai dunia sehingga Kelompok Muda Hitler harus menggagalkannya.
  Isu konspirasi Yahudi sedunia itu disuarakan secara terbuka oleh Nazi dan dipercaya. Bersamaan dengan munculnya paham anti-Semit itu, tumbuh keyakinan bahwa kekerasan adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses politik, sehingga kemudian, Nazi mendirikan sayap paramiliter yang disebut Sturmabteilung (SA), “Pasukan Badai“. Tugasnya adalah menjaga pertemuan-pertemuan Nazi, mengancam pengikut partai-partai lain, dan menggalang dukungan. Pada tahun 1928 atau 7 tahun setelah Hitler memimpin partai, Nazi gagal meraih kekuasaan dalam pemilu. Pada pemilu itu, Nazi hanya mendapatkan 2,6 % suara. Tapi 4 tahun dan 18 bulan kemudian, Hitler menjadi Kanselir Jerman karena Nazi didukung oleh keadaan.
   Pada tahun 1930-an, Jermah jatuh bangkrut. Harga produk pertanian dunia yang jatuh mengakibatkan kemiskinan, jatuhnya Wall Street mengakibatkan kemerosotan ekonomi di seluruh dunia, ditambah lagi dengan datangnya tagihan utang dari Amerika Serikat yang semakin menekan persediaan devisa Jerman. Tahun 1931 angka pengangguran di Jerman meningkat hingga 5 juta orang. Pengangguran hidup dengan susah payah di perkotaan ketika Jerman menjadi negara dengan perekonomian paling buruk di dunia. Keadaan semakin buruk ketika lima bank utama di Jerman hancur pada tahun 1931 menyebabkan lebih dari 20.000 perusahaan Jerman gulung tikar.
   Tanpa diduga, dalam krisis ekonomi itu, suara untuk Nazi meningkat. orang-orang mulai tertarik dengan prinsip mereka: “Versailes adalah kejahatan dan Yahudi berada dibelakangnya. Marxisme harus dihancurkan dan Bangsa Jerman harus lahir kembali.” Bahkan karena sedemikian bosannya dengan keadaan ekonomi, orang-orang pedesaan yang belum pernah mendengar tentang Hitler dan partainya ikut memilih Nazi. Seperti misalnya di kota terpencil di wilayah Prusia Timur, Neidenburg, terjadi peningkatan suara yang sangat drastis untuk Nazi. Pada tahun 1928, Nazi mendapat 2.3% suara di sini. Namun pada tahun 1930 dukungan yang mereka dapatkan melonjak ke angka 25.8%; padahal Hitler tak pernah berkunjung ke sana dan tak ada perwakilan partai Nazi di kota itu. Tapi bukan hanya Nazi yang mulai naik daun, komunis juga mulai mendapat dukungan sehingga demokrasi yang baru lahir di Jerman mulai terancam karena para pemilih terdorong ke titik ekstrim; antara Nazi dan Komunis. Pertikaian mulai terjadi, Nazi dan Pasukan Badainya (SA) dengan Komunis.
Hitler dalam pidato pemilihan umumnya (Juli 1932).

“Musuh kita menuduh kita golongan sosialis-nasional, dan aku pada khususnya, sebagai orang yang tidak toleran dan menyukai permusuhan. Mereka bilang kita tak mau bekerjasama dengan partai lain. Mereka bilang golongan Sosialis-Nasional bukanlah orang Jerman karena menolak bekerjasama dengan partai lain. Lalu, apakah memiliki 30 partai adalah ciri khas bangsa Jerman!? Aku harus mengakui satu hal – orang-orang itu tidak salah. Kita tidak toleran. Aku memiliki satu tujuan – untuk menyingkirkan 30 partai politik itu dari Jerman! Mereka salah mengira kita adalah salah satu dari mereka. kita punya satu tujuan, dan kita akan mewujudkannya dengan setia dan tanpa kompromi sampai ke liang kubur!

2.5. Awal Mula Pemikiran Adolf Hitler :
            Pemikiran dan siasat serta tujuan Hitler untuk membangkitkan semangat perjuangan Jerman yang hakiki (yang dalam hal ini melalui Bangsa Arya), tidak mucul begitu saja. Ada beberapa tokoh yang melatarbelakanginya.
a. Niccolo Machiavelli
            Yang paling menonjol dari dari ajaran Machiavelli terhadap pemikiran Adolf Hitler adalah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya dan juga menghendaki pengontrolan terhadap kekuasaan, yaitu dengan cara membungkam setiap lawan politiknya. Cara yang dilakukannya yaitu dengan  dibakarlah gedung parlemen Jerman, lalu ia menuduh bahwa aksi keji itu dilakukan para musuh politiknya yang selama ini berdiam di gedung wakil rakyat.
b. Charles Darwin
            Pendapatnya yang mengatakan “peperangan (perjuangan untuk mempertahankan hidup” pada mahluk hidup di alam. Oleh sebab itu, ide bahwa “yang kuat tetap hidup dan yang lemah akan musnah” mulai diterapkan juga pada manusia dan kehidupan dalam bermasyarakat. Justifikasi ilmiah Darwinisme inilah yang kemudian digunakan oleh Adolf Hitler untuk membangun ras super. Inspirasi terbesar dari Darwin terhadap Hitler adalah tentang pertarumhan (perjuangan) untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Bukunya yang terkenal diberi judul Mein Kampf (Perjuangan Saya) teinspirasi dari pertarungan (perjuangan) untuk mempertahankan kelangsungan hidup ini. Sebagaimana Darwin, Hitler memberikan staus kera pada ras-ras non-Eropa.
c. Freidrich Nietzsche
            Pengaruh Nietzsche terhadap ideologi Nazi merupakan sebuah kenyataan yang ditekankan oleh begitu banyak sejarawan. Sebagaimana dinyatakan sejarawan H.F. Peters, banyak orang mengutuk Nietzsche sebagai “bapak fasisme”. Dalam bukunya, The Myth of the 20th Century, ideolog Nazi Alfred Rosenberg secara terbuka memuji Nietzsche. Hitlerjugend (Kaum Muda Hitler), sayap kepemudaan dari gerakan Nazi, menjadikan buku Nietzsche Thus Spake Zarathustra sebagai sebuah naskah keramat. Adolf Hitler memerintahkan pembangunan monumen khusus untuk mengenang Nietzsche, dan merintis pendirian pusat-pusat pendidikan dan perpustakaan “di mana para pemuda Jerman dapat diajarkan doktrin Nietzsche mengenai ras unggul”. Akhirnya, Gedung Peringatan Friedrich Nietzsche dibuka oleh Hitler pada bulan Agustus 1938. Nietzsche merupakan seseorang yang memuliakan individu yang bebas, besar, dan kuat, yaitu seseorang yang diadopsi oleh orang-orang Nazi dari ras arya.
2.5.1. Kelanjutan Pemikiran Adolf Hitler :
            Teori Darwin telah memasuki benak Hitler, bahkan meresap sampai ke tulang sumsum. Hal ini amat terasa dalam bukunya Mein Kampf (Perjuanganku). Ia menyamakan ras non-Eropa sebagai kera. Dari dalam dirinya tumbuh ‘kekuatan’ yang mendapat inspirasi dari teori Darwin bahwa untuk mempertahankan hidup manusia harus bertarung. Ia menerjemahkan impiannya dengan menyerang Austria, Cekoslowakia, Perancis, Rusia, dll. Malah terbersit nafsu menguasai seluruh dunia. Ia melansir konsep eugenetika yang menjadi dasar pijakan pandangan evolusionis Nazi. Eugenetika berarti ‘perbaikan’ ras manusia dengan membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta memperbanyak individu sehat. Sehingga menurut teori itu, ras manusia bisa diperbaiki dengan meniru cara bagaimana hewan berkualitas baik dihasilkan melalui perkawinan hewan yang sehat. Sedangkan hewan cacat dan berpenyakit dimusnahkan.
Tak lama setelah berkuasa, Hitler menerapkan teori itu dengan tangan besi. Orang-orang lemah mental, cacat, dan berpenyakit keturunan dikumpulkan dalam ‘pusat sterilisasi’ khusus. Karena dianggap parasit yang mengancam kemurnian rakyat Jerman dan menghambat kemajuan evolusi, maka atas perintah rahasianya, dalam waktu singkat mereka semua dibabat habis.
            Masih dalam eforia teori evolusi dan eugenetika, Nazi menghimbau muda-mudi berambut pirang bermata biru yang diyakini mewakili ras murni Jerman biar berhubungan seks tanpa harus menikah. Pada 1935, Hitler memerintahkan didirikannya ladang-ladang khusus reproduksi manusia. Di dalamnya tinggal para wanita muda yang memiliki ras Arya. Para perwira SS (Schutzstaffel) sering mampir ke sana buat mesum dengan dalih eugenetika. Para bayi yang lahir kemudian disiapkan menjadi prajurit masa depan ‘Imperium Jerman’.
2.6.  Akar Kebencian Pada Yahudi
            Kenangan akan sebuah lokasi di Polandia, bernama kamp Auschwitz, masih menyisakan trauma mendalam bagi bangsa Yahudi. Orang-orang Yahudi yang ditakuti Hitler dianggapnya akan memicu Revolusi Bolshevik sebagaimana yang terjadi di Rusia sehingga menghancurkan negeri para Tsar (gelar raja-raja Rusia dahulu) itu. Karenanya, Yahudi dijadikan Hitler sebagai musuh yang harus segera dibinasakan sebelum mereka sempat memupuk kekuatan. Ada juga teori yang mengatakan bahwa Hitler sangat khawatir dan kesal dengan propaganda The Protocol of Zion milik bangsa Yahudi yang bercita-cita menjadi pemimpin dunia. Kemudian, kebencian terhadap bangsa Yahudi yang melanda rakyat Jerman dipicu oleh sikap masyarakat Jerman keturunan Yahudi yang menentang keinginan Jerman untuk berperang. Ras Arya, yang merupakan mayoritas di Jerman, menganggap orang-orang Yahudi sebagai ‘parasit’, yakni, “Mau mendapatkan kemakmuran dari negara Jerman, tapi menolak membela negara untuk berperang.”
Bahkan, Hitler menyebut orang-orang Yahudi Jerman sebagai sekumpulan imigran yang merugikan Jerman. Akhirnya, rakyat Jerman yang banyak menjadi buruh para juragan Yahudi, mendukung penuh sikap Hitler. Mereka menyebut diri mereka sebagai korban-korban penindasan ekonomi oleh orang-orang Yahudi di negara sendiri.
 

BAB III
PENUTUP
  
3.1. Kesimpulan
   Pemikiran serta siasat usaha Hitler dalam membangkitkan kembali semangat kejayaan Jerman memang bukan yang pertama kali memproklamirkannya. Program yang biasa disebut German Supremacy ini sebenarnya didahulukan oleh Gustav Kossinna taon 1902 dan Herman Hirt taon 1905 yang mengklaim bahwa sebelah utara German adalah murni Indo-Europe (Sebangsa Arya), hingga V. Gordon Childe tahun 1926 menyebutkan study Indo European, termasuk bangsa Nordic yang superior dari fisiknya yang tegap dan kuat, berambut pirang, dan beriris biru. Teori ini menjadi kebanggaan bangsa Jerman pada waktu itu meskipun teori itu sebenarnya salah. Hal ini dipakai Nazi sebagai propagandanya, adalah ras Arya yang paling unggul dalam hirarki ras dan dan ras yahudi Jewish-Semitic (jüdisch-semitisch) adalah ras yang dapat mengotori "Kemurnian" dari ras Arya.
           
   Semua propaganda Hitler bercampur aduk dari isu terhadap penghianatan Kaum Yahudi Marxis yang berbeda arah tujuan negara, program anti-Semit (Jewish) yang menurut nya sebagai perusak, pembuat kekacauan yang tiada habis nya di negara itu, ditambah dengan sekutu personalnya yang semakin membuat rezim Hitler berkuasa, serta hingga menyebar kearah yang paling sensitive yaitu Ras. Hitler mengkalim bahwa Ras Arya merupakan suatu DNA yang sempurna dan luar biasa yang berhak menguasai dunia, untuk itu marilah bersatu demi kembalinya kejayaan Jerman Raya. Akhir dari tujuan ini ialah melenyapkan bangsa Yahudi dan Non-Eropa yang mendiami Jerman. Melalui teori Eugenetika versinya berarti ‘perbaikan’ ras manusia dengan membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta memperbanyak individu sehat. Selain membantai bangsa non-Arya, Hitler juga menyingkirkan bangsa Arya sendiri yang menurutnya kurang sehat (gagal produksi). Untuk itu dia membuat suatu “ternak” untuk memperbanyak dan meningkatkan kualitas bangsa Arya. Bahkan Hitler juga mengambil orang Ras Arya dari Tibet (yang notabene masih ada Ras Arya).

   Propaganda ini telah berhasil tertancap pada jiwa bangsa Arya, menjadi prajurit dengan semangat Nasionalisme radikal yang berapi-rapi. Berasal dari sebuah teori yang bersifat ilmiah kemudian Hitler merumuskannya ke dalam teori bernegara dan berbangsa terhadap Jerman, hal ini dimaksudkan agar kemutlakan atas bangsa Arya tidak dapat dipungkiri dan atas dasar itu pula maka Jerman-lah yang seharusnya memimpin dunia ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar