Apa yang anda bayangkan
jika mendengar tentang negara Jepang?
Kemajuan Teknologi? Rakyat Makmur? Ya dominan orang memikirkan hal
seperti itu. Namun bagaimana Jepang dapat memajukan negaranya? apa bedanya
dengan Indonesia, mengapa Indonesia “belum”
dapat seperti Jepang?
Jepang merupakan negara maju yang tingkat kesejahteraan
masyarakatnya tinggi. Jepang sebagai negara yang sudah tergolong maju dalam
berbagai bidang, baik di bidang teknologi, etomotif dan kebudayaan dibanding
negara-negara Asia lainnya. Walaupun dengan berbagai kemajuan yang sudah mereka
capai negara Jepang tidak luput dengan dinamika politik yang sudah berlangsung
sejak lama.
Dengan melihat berbagai kelebihan negara Jepang kita
negara Indonesia sebagai negara berkembang ada baiknya mengamati dan
mempelajari perkembangan perpolitikan di Jepang. Karena sistem perdana menteri di Jepang hanya merupakan
sebuah simbol politik semata. Politik Jepang awalnya didominasi oleh kekeluarga
kekaisaran yang berkembang menjadi sistem feodalistik. Di dalam pembentukan
politik Jepang tidak terlepas dari nilai sosial masyarakat Jepang diantaranya
IE (Coorporate Entinity), Ko (Kepatuhan), dan Wa (kehidupan harmonis).
Di Jepang pemilihan bersifat kompetitif dan melibatkan
semua pihak. Partisipasi pemilihan di Jepang dilakukan oleh warga negara yang
berumur 20 tahun ke atas. Selain proses pemilihan, sistem kepartaian di Jepang
menganut sistem multipartai. Terkait dengan hal implementasi bukti bahwa
keberhasilan proses politik mereka yang sudah berlangsung tercermin dari
berkembangnya ekonomi di negara tersebut. Jepang adalah
suatu negara kepaulauan. Sebagai negara kepulauan, Jepang memiliki persamaan
dengan bangsa-bangsa Asia Tenggara, khususnya Filipina dan Indonesia. Bentuk
geografis negara Jepang memanjang sepanjang lebih dari 3.500 kilometer kearah Timur
Laut dan berada antara 24ᵒ LU dan 45ᵒ LU dengan luas wilayah total 377.915 km2 atau 1/5 dari luas negara
Indonesia.
Sistem politik Jepang adalah menganut negara monarki
konstitusional yang sangat membatasi kekuasaan kaisarJepang sebagai kepala
negara seremonial. Kedudukan kaisar Jepang diatur dalam konstitusi sebagai
simbol negara dan pemersatu rakyat. Kekuasaan pemerintah Jepang berada di
tangan perdana menteri Jepang dan anggota terpilih parlemen Jepang. Sementara
kedaulatan sepenuhnya berada di tangan rakyat Jepang. Kaisar Jepang bertindak
sebagai kepala negara dalam urusan diplomatik. Kabinet
Jepang beranggotakan perdana menteri dan para menteri. Perdana menteri Jepang
adalah kepala pemerintahan yang diangkat melalui pemilihan diantara anggota
parlemen. Pada praktiknya perdana menteri berasal dari partai mayoritas di
parlemen. Menteri-menteri kabinet diangkat oleh perdana menteri. Kaisar Jepang
mengangkat perdana menteri berdasarkan keputusan parlemen Jepang dan memberi
persetujuan atas pengangkatan menteri-menteri kabinet.
Asal
Mula Bangsa Jepang
Orang
Jepang termasuk bangsa tertua di dunia. Namun yang lebih dibanggakan orang
Jepang adalah bahwa kerajaannya merupakan satu kesatuan negara yang berlangsung
secara kontinu dan paling lama di antara bangsa-bangsa di dunia. Yang paling
awal di ketahui berada di Jepang adalah Ainu, yang mempunyai hubungan dengan
ras Kaukasia; dan karena itu mungkin
sekali bukan penduduk asli. Kemudian bergerak ke Jepang ras yang berasa ldari
Asia Tenggara, yaitu Polinesia-Melanesia. Masuk pula ras Cina dari daratan Cina
dan ras Mongol melalui Korea. Dan ada pula yang masuk dari Siberia yang berbeda
dari kaum Mongol. Boleh dikatakan, lima sumber ini menjadi asal bangsa dan
orang Jepang yang kemudian. Kendati pun demikian, dalam percakapan umumnya,
orang Jepang merasa berasal dari dua sumber, yaitu Cina dan Asia Tenggara.
Dengan demikian, ia mungkin menyatukan sumber Mongol dan Siberia menjadi satu
dengan sumber Cina yang sebetulnya secara ras berbeda sekali. Dan juga
menunjukkan bahwa ia tidak merasa berasal dari kaum Ainu. Tetapi, meskipun rakyat
Jepang berasal dari lima sumber, dalam perkembangan sejarahnya ia telah menjadi
satu bangsa yang homogen. Dengan demikian, orang Jepang pada dasarnya merasa
dirinya sebagai Asia dan tidak sebagai Eropa atau Barat.
Sejarah Demokrasi Jepang
Demokrasi
yang diterapkan di Jepang sudah di rintis jaman Meiji, akan tetapi setiap
bentuk gerakan demokrasi selalu ditekan oleh pemerintah. Setelah berakhirnya Perang Dunia II yakni setelah berlakunya undang-undang di Jepang
sekarang pertumbuhan Demokrasi di Jepang sangat pesat. Demokrasi Jepang lahir dari masyarakat Jepang yang sedang
mengadakan modernisasi walaupun pemikiran Demokrasi itu diperkenalkan dari
luar, khususnya dari Barat. Kemajuan Demokrasi Jepang dikarenakan sudah dirintis di jaman Meiji oleh
pendukung pendukung Gerakan Demokrasi (Jiyu
Minken Undo) antara tahun 1874 – 1887.
Gerakan Demokrasi dipimpin oleh bekas samurai
melalui petisi yang dikeluarkan oleh Itagaki Taisuke. Gerakan ini sebagai
gerakan politik, gerakan kebudayaan, dan gerakan pemikiran. Sebab di dalam Jiyu
Minken Undo, rakyat menjadi banyak dimungkinkan
untuk berpartisipasi dalam politik melalui pendidikan politik secara luas.
Gerakan ini,
beserta dengan gerakan demokrasi lainnya akhirnya berakhir di perjanjian Pasal
X Deklarasi Postdam yang berbunyi:
”Pemerintahan Jepang harus membuang semua hambatan menuju kebangkitan demokrasi dalam kalangan rakyat Jepang. Kebebasan berbicara, beragama dan berpikir serta hormat terhadap HAM”.
Partisipasi Politik Masyarakat
Jepang
Masyarakat
Jepang telah tumbuh menjadi semakin kompleks dan beragam, pemerintah daerah
menyadari adanya kebutuhan akan cara-cara baru untuk tetap berhubungan dengan
masyarakat. Pemerintahan di Jepang telah menyediakan kotak-kotak saran, agar
setiap orang dapat menyuarakan pendapat mereka.
Di Jepang sendiri terdapat beberapa bentuk partisipasi
yaitu referenda, yaitu memungkinkan pemberlakuan suatu peraturan daerah yang
bersifat khusus untuk pemerintah suatu daerah tertentu namun dengan syarat
bahwa mayoritas pemilih menyetujui peraturan pemerintah daerah itu. Selain
referenda, partisipasi masyarakat Jepang lainnya adalah tuntutan audit dan
gugatan oleh penduduk sebagai pembayar pajak. Penduduk dapat meminta agar
komite audit menyelidki pembelanjaan tindakan akuisisi, dan keputusan-keputusan
pemerintah daerah mereka.
Nah, dengan adanya
partisipasi masyarakat Jepang terhadap pembangunan politik nya itulah kemudian yang menopang kemajuan berbagai bidang
seperti industri otomotif, teknologi, ekonomi, sosial budaya. Dan didukung juga
oleh pola pikir masyarakat yang maju serta partisipasi yang meningkat terhadap
pemerintahannya, ini tercermin sejak 1946 hingga 2008 belum pernah tercapai
angka partisipasi yang lebih tinggi dari tahun 2008, dimana di tahun tersebut terjadi
peningkatan angka partisipasi politik sebesar 69,77%. masyarakatnya peka
terhadap perkembangan yang terjadi di negaranya, keinginan berhasil yang tinggi
seperti agama Tokugawa
yang mengajarkan “berhasil di dunia berarti berhasil di akhirat” yang itulah
merupakan suatu pendukung bahwa masyarakat Jepang itu pola pikirnya maju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar