Cari Blog Ini

Selasa, 19 Mei 2020

19 Mei Birthday: dari Mustafa Kemal sampai Malcolm X



 
Mustafa Kemal - Ho Chi Minh - Pol Pot - Malcolm X

*MUSTAFA KEMAL PASHA ‘ATTATURK’
   Lahir 19 Mei 1881, sejak kecil pola pikir lugu-nya sudah ‘terganggu’ dengan kondisi keluarganya. Ayahnya adalah peminum berat yang membuanta frustrasi dan ditinggal mati saat usia 7 tahun. ‘Gangguan’ itu terus muncul dan berkembang saat dia menduduki bangku sekolah dasar, ia menjadi anak dengan jiwa pemberontak, tidak suka aturan, penyendiri. Ia juga suka berkelahi dan melawan guru sehingga membuatnya kabur dan tidak pernah kembali ke sekolah itu. Saat ibunya merasa bimbang, muncul saran dari pamannya untuk memasukkannya ke sekolah militer; disitu Mustafa menemukan dunianya, dia mahir dan lulus disana dengan pangkat kapten pada 1905. Berbagai kegemilangannya serta keberhasilan di berbagai operasi militer diraihnya.
   Disaat Turki sedang goncang setelah kalah di PD I, Mustafa mendapat panggungnya, ia muncul sebagai pemimpin pasukan pertahanan Turki melawan sekutu-sekutu Eropa. Saat Turki berhasil menang dalam perang kemerdekaan Turki, dengan cepat Mustafa menjadi pahlawan nasional, rakyat Turki memujanya sebagai Sang Penyelamat. Rakyatnya jadi berpaling mendukung Mustafa sebagai penyelamat negara. Melalui Traktat Lausanne 29 Oktober 1923 menjadikannya presiden dan berdirinya Republik Turki
  
Mustafa Kemal Pasha 'Attaturk'
Setelah posisi Mustafa Kemal semakin kuat, ia menyatakan keinginannya untuk membangun Turki dalam batas-batas alamiahnya menjadi suatu bangsa yang kuat, sejahtera dan modern. Tak lama kemudian, ia menyatakan dengan tegas bahwa ia akan menghapus puing-puing masa kelam Khilafah dalam kehidupan bangsa Turki yang menurutnya menghambat kemajuan negara tersebut. Dengan cepat pemerintahannya melancarkan sebuah program pembaruan yang ekstrem. Pada tanggal 3 Maret 1924, Mustafa mengajukan Undang-undang untuk menghapuskan Khalifah selamanya dan mendirikan negara sekuler Turki. Adapun berbagai UU yang berhasil ditancapkan seperti, UU tentang penyataraan gender, UU cadar, UU tentang penerapan alphabet latin dan pelarangan tulisan Arab. Bahkan mengganti adzan Arab dengan bahasa Turki.
   Para pengikut setia Mustafa atau Kemalisme juga memiliki beberapan prinsip yang akan diterapkan bersama, yakni Republikanisme; sebagai antisipasi kembalinya sistem monarki, Sekularisme; pemisahan antara agama dan negara, sebagai penyingkiran agama dari kehidupan publik dan tegaknya pengawasan negara atas institusi-institusi keagamaan, Nasionalisme; mitos-mitos historis yang menyertainya dimanfaatkan sebagai alat utama dalam pembinaan identitas nasional baru, dan hal demikian dimaksudkan untuk mengambil alih kedudukan agama dalam banyak hal. Populisme; gagasan tentang solidaritas nasional dan mengutamakan kepentingan seluruh bangsa di atas kepentingan-kepentingan kelompok, negaraisme; pengakuan atas kemajuan negara di bidang ekonomi dan revolusionisme sebagai penerapan dari semuanya. Enam prinsip itu dituangkan dalam konstitusi Turki 1937.
   Berbagai kebijakan yang dianggap memusuhi Islam tersebut dengan cepat membuatnya memiliki banyak oposisi, namun dengan kekuasaannya, ia juga dengan cepat menyingkirkan itu. Kegeringannya terhadap kehidupan Barat, seperti pesta miras, di istananya membuatnya mengalami komplikasi penyakit, kehidupan itu menyerupai kehidupan ayahnya dulu. Infeksi hati membuatnya wafat pada 10 November 1938. Mengenai berbagai kebijakan serta kontribusinya terhadap negara Turki, memiliki dua pandangan berbeda, ada yang menganggap sebagai pahlawan sehingga member gelar ‘Attaturk’ dan itu dinyatakan resmi dalam konstitusi Turki, ada juga yang mengutuk beliau karena merubah wajah Turki secara ekstrem dan dianggap membenci Islam, mereka tidak menganggap Attaturk, mereka menyebut Mustafa Kemal Pasha.

*HO CHI MINH
  
Ho Chi Minh
Lahir pada 19 Mei 1890, Ho Chi Minh besar dan tumbuh di masa kolonial Perancis. Pada 1911 ia bekerja di kapal uap Perancis dan berkeliling dunia. Saat mendarat di Perancis ia bertemu dengan rekan-rekan yang kelak berperan dalam kemerdekaan Vietnam. Di Perancis ia menunjukkan minat politiknya dengan menjadi salah satu orang yang membentuk Partai Komunis Perancis. Di sana ia sempat membuat petisi untuk menuntut eksploitasi koloni Perancis terhadap Vietnam melalui Versailles Peace Conference yang diselenggarakan di akhir PD I.
   Melanjutkan perjalanannya, pada 1923 mengunjungi Rusia. Dia dilatih sebagai agen Komintern (Komunis Internasional) yang berfungsi untuk menyebarkan revolusi, sosialisme di dunia; juga mempelajari Marxisme-Leninisme, serta teknik revolusioner di Communist University of the Toilers of The East[1]. Pada 1925 Ho pergi ke China dan bekerja sebagai penerjemah bagi Michael Borodin sesama agen Komintern, yang ingin menggerakkan revolusi sosialis di China. Di sana, Ho juga mengajak pengungsi Vietnam mendirikan Perkumpulan Pemuda Revolusioner Vietnam (Thanh Nien). Lebih ekstrem, Ho mendirikan Partai Komunis Indocina (ICP) di Hongkong, ia sempat ditangkap pemerintahan Inggris karena terlibat dalam kegiatan revolusioner dan dipenjara selama dua tahun.
   Pada 1941 dia kembali ke negaranya untuk membantu gerakan perjuangan Vietnam, ia meminta bantuan kepada ICP dan membentuk kelompok pergerakan perjuangan Vietnam (Vietminh) untuk mengusir koloni Perancis dan dilain sisi Jepang juga sedang menduduki Vietnam. Saat Jepang menyerah pada 1945, Vietminh menggunakan kesempatan tersebut dan mendeklarasikan pendirian Republik Demokrasi Vietnam dengan Ho Chi Minh sebagai presidennya. Namun pihak Perancis tak terima dan memerangi para Vietminh[2]. Perancis pun berhasil menguasi Vietnam bagian Selatan dan juga Vietnam bagian Utara yang sebelumnya tidak mencapai kesepakatan berunding dengan kaum komunis Vietnam. Vietminh membalas dengan penyerangan di kota Hanoi pada 19 Desember 1945 yang menandai berawalnya Perang-Indocina. Selama delapan tahun peperangan beberapa pihak terlibat, Mao Zedong yang membantu Vietminh sementara Amerika Serikat membantu Perancis.
   Pada tahun 1954, Perancis mengalami kekalahan besar di Dien Bien Phu, barat laut Vietnam dan memulai perundingan damai[3]. Berdasarkan hasil perundingan Jenewa, Vietnam dibagi menjadi Vietnam Utara yang dipimpin Ho Chi Minh dan Vietnam Selatan yang dikuasai Kaisar Bao Dai. Ho tidak setuju dan menyerukan Vietminh dan kelompok perjuangan Vietnam Utara untuk memerangi Vietnam Selatan yang dipengaruhi Amerika Serikat. Dengan begitu terjadilah perang saudara[4]. Pada 1950, Ho membentuk pasukan gerilya komunis di bagian Vietnam Selatan yang bernama Vietcong. Bersama dengan Vietman Utara, Vietcong berhasil mengalahkan intervensi militer AS selama satu dekade dan bersembunyi dari PM Ngo Dinh Diem (Pemimpin Vietnam Selatan) di bawah tanah.
   Sejak 1960, Ho mulai mengurangi aktivisnya karena masalah kesehatan. Ho akhirnya meninggal pada 2 September 1969 akibat serangan jantung. Para pihak yang bertikai memutuskan untuk genjatan senjata selama 72 jam untuk mengenang Ho Chi Minh. Enam tahun kemudian akhirnya Vietnam bersatu di bawah paham komunis.
  
*SALOTH SAR (POL POT)
Sarloth Sar
  Lahir 19 Mei dengan nama Saloth Sar adalah seorang revolusioner Kamboja dan sebagai pemimpin Khmer Merah. Berbagai jabatan pernah dia duduki, dari Sekjen Partai Komunis Kampuchea sampai Perdana Menteri. Di bawah pemerintahannya, Kamboja diubah menjadi komunis satu partai, negara diatur sesuai interpretasi Pol Pot tentang Marxisme-Leninisme. Dia juga dikenal dengan pemimpinan diktator totaliter, menerapkan kepada rakyatnya sistem kerja paksa dengan kondisi kerja yang berat; mengakibatkan kematian sekitar 25% dari penduduk Kamboja[5]. Sama seperti tokoh sebelumnya Ho Chi Minh, yang berideologi komunis, kehidupan keduanya juga pada situasi koloni Perancis, juga sama-sama mendapat beasiswa pendidikan Perancis. Pol Pot juga terinspirasi dari gebrakan Ho Chi Min saat di Perancis berkontribusi untuk Partai Komunis Perancis (PKP). Pandangan anti-kolonialisme dari PKP menarik banyak perhatian anak muda Kamboja, termasuk Pol Pot [6].
   Pada 1953 ia kembali ke Kamboja dan melibatkan diri dalam Khmer Vietminh dan perang gerilya melawan pemerintahan Raja Norodom Shinouk yang baru merdeka atas Perancis setelah kekalahannya juga di Vietnam. Merujuk pada Perjanjian Damai Jenewa, 1954 Khmer Vietminh bergabung ke Marxis-Leninisme yang dikuasai Vietnam Utara, Pol Pot kembali ke Phnom Phenh berkamuflase bekerja sebagai guru sambil membantu meresmikan gerakan itu ke Partai Buruh Kampuchea dan berganti nama menjadi Partai Komunis Kampuchea (CPK). Untuk menghindari represi negara yang saat itu sedang berkecamuk pada 1963, Pol Pot ke perkemahan hutan, sembari mengatur strategi untuk menggulingkan Norodom.
- Kudeta 1970 Kamboja
   Saat Norodom Shinaouk memaksa majelis parlemen untuk menjadikannya kepala negara selamanya, dan memutuskan dalam konstitusinya untuk menyemimbangkan sayap kiri dan kanan demi kesejahteraan rakyat Kamboja, Dengan itu artinya Norodom melonggarkan aktivitas Khmer Vietminh. Namun tampaknya itu sulit terjadi, pada 1963 Lon Nol adalah seorang sayap kanan yang menjadi PM bahkan berbalik menyerangnya. Pada Maret 1970, demonstrasi anti-Vietnam berskala besar meletus di Phonm Penh mengutuk kebijakan Norodom, demonstrasi ini semakin meningkat dan diluar kendali pemerintah. Banyak pengamat mengatakan demonstrasi didorong oleh Lon Nol. Norodom yang saat itu sedang di luar negeri semakin memuluskan langkah Lon Nol untuk berkuasa ditambah dengan sikap kompor Sirik Matak yang juga sebagai Wakil PM, Sirik Matak dikenal kecemburuannya terhadap Norodom dan ingin merampasnya. Lon Nol resmi menjadi pemimpin Kamboja saat itu.[7]
   Sementara parlemen berdebat tentang masa depan pemerintahannya. Dengan suara dominan dalam majelis, mengeluarkan keputusan untuk menarik kepercayaan pada Norodom. Pada 23 Maret, Norodom via radio Beijing menyerukan pemberontakan terhadap Lon Nol. Demonstran pro-Norodom juga turun ke jalan. Akibat kekacauan luar biasa itu, Pol Pot yang sebelumnya ingin menggulingkan Norodom, justru berkamuflase memihaknya untuk mengambil momentum penyerangan kepada yang berkuasa disana. Seteleah tahu bahwa Lon Nol juga merupakan anti-Khmer. Namun yang aneh adalah, bagaimana bisa Pol Pot ingin mengkudeta Norodom, sementara Norodom sudah mulai merangkul Khmer di dalam pemerintahan. Pol Pot datang dengan bantuan dari pasukan Vietnam Utara maju dan merebut pemerintahan dari Lon Nol yang didukung AS, dan terjadi perang saudara. Ratusan ribu orang tewas.
   Pada April 1975 Pol Pot menjadi penguasa tertinggi disamping Khmer Merah hingga menjadi perdana Menteri. Kamboja menjadi negara satu partai yang disebut Partai Demokratik Kampuchea. Dia berusaha menciptakan masyarakat sosialis agraris yang ia yakini akan berkembang menjadi masyarakat komunis. Dia menggenjot bidang pertanian untuk swasembada pangan yang menurutnya akan memulihkan kondisi ekonomi rakyatnya dari perang saudara. Ekstrem-nya yang dilakukan Pol Pot untuk swasembada beras mengakibatkan kerja paksa; disinilah rakyat menderita dan berjatuhan.
   - Jatuhnya Rezim Khmer Merah
   Konflik yang terjadi di perbatasan Kamboja dan Vietnam masih terus terjadi. Vietnam mengirim 50.000 tentara menembus 12 mil ke Kamboja. Kamboja pun memutus hubungan dengan Vietnam dan menyatakan perang. Vietnam berhasil menguasai Zona Timur Kamboja, Pol Pot panik dan mengirim 400 kader CPK untuk melawan puluhan ribu tentara Vietnam. Sadar merka akan mati sia-sia, kader itu justru berbalik menyerang pemerintah Khmer Merah. Pol Pot semakin kehilangan banyak pasukan yang membelot, Pol Pot berusaha meningkatkan hubungan dengan negara lain untuk mencari bantuan pasukan, tetapi banyak negara menolak karena takut akan dampak invasi Vietnam dan pengaruh Uni Soviet. Termasuk China yang enggan mengirimkan pasukan karena dapat memicu perang dengan Uni Soviet.
   Pada Desember 1978, Angkatan Darat Vietnam meluncurkan invasi skala besar dan berhasil menduduki Phonm Penh pada Januari 1979. Pol Pot tersudut, seluruh pasukannya kabur, Vietnam mendirikan pemerintahan baru di bawah Samrin dan menamakan diri sebagai Republik Rakyat Kampuchea. Khmer Merah lari ke China meminta arahan dari Deng Xiaoping. China yang sebelumnya enggan terlibat kali ini menyerang Vietnam Utara, berharap dapat menarik pasukan Vietnam menjauh dari invasi di Kamboja. Khmer Merah juga mendapat bantuan dari AS dan sebagian besar negara Asia Tenggara non-Marxis yang takut akan agresi Vietnam sebagai alat pengaruh Soviet di wilayah tersebut. Vietnam justru berhasil menguasai daerah Sisophon yang semakin dekat dengan Pol Pot.
   Puncak dari perang ini adalah negosiasi pemerintahan dengan dua Perdana Menteri, dengan keadaan yang semakin kondusif, tentara nasional Kamboja terus memburu Pol Pot dan Khmer sebagai tuntutan agar mereka mempertanggungjawabkan perbuantannya. Pol Pot akhirnya tertangkap dan menjadi tahanan rumah sampai meninggal pada 1998.

*MALCOLM X
  
Malcolm X
Lahir 19 Mei 1925 dengan nama Malcolm Little dan dikenal sebagai El-Hajj Malik El-Shabazz di Omaha, Nebraska, merupakan tokoh muslim Afrika-Amerika dan aktivis HAM yang memperjuangkan hak-hak bangsa kulit hitam. Sejak kecil dia sudah terbiasa dengan kekerasan, ayahnya tewas dibunuh para pendukung supremasi kulit putih ketika ia masih anak-anak. Sementara ibunya depresi melihat kejadian itu dan dikirim ke rumah sakit jiwa. Malcolm sendiri diasuh di panti asuhan. Mereka sering berpindah-pindah karena gangguan dari rasial, di Lansing Michigan mereka diganggu oleh Black Legion, sebuah pendukung supremasi kulit putih. Saat berusia 20 tahun, Malcolm dijobloskan ke penjara karena membobol masuk sejumlah gedung dan mencuri, merampas keluarga kulit putih dan kaya.[8]
   Saat di penjara Malcolm menjadi anggota Nation of Islam dan setelah pembebasan bersyarat pada tahun 1952, ia dengan cepat naik menjadi salah satu pemimpin organisasi tersebut. Selama belasan tahun Malcolm X menjadi cerminan dari kelompok itu karena menjadi juru bicara dalam mengajarkan supremasi kulit hitam dan memperjuangkan pemisahan kulit hitam dan putih. Bahwa orang kulit hitam lebih unggul daripada kulit putih, dan bahwa orang kulit hitam merupakan orang-orang asli dunia[9].Ratusan orang Afrika-Amerika bergabung dengan Nation of Islam setiap bulan karena kelihaiannya dalam berbicara. Namun tak sedikit juga orang kulit putih dan beberapa orang kulit hitam khawatir dengan apa yg dibicarakan Malcolm. Dia dan Nation of Islam digambarkan sebagai pendukung supremasi kulit hitam, rasis, pendukung kekerasan dan sebuah ancaman terhadap hubungan antar ras. Dia juga banyak mengkritik berbagai kebijakan yang mengdiskreditkan kulit hitam, akibatnya dia tidak terlepas dari penyelidikan FBI atas dugaan komunis dan antisemit.
   Pada 1 Desember 1963, ketika ia diminta untuk berkomentar tentang pembunuhan Presiden Kennedy, Malcolm mengatakan bahwa kasus itu adalah kasus ‘ayam pulang ke kandang’ karenanya ia tidak pernah sedih dan justru merasa senang[10]. Pernyataan itu membuat kemarahan public sementara Nation of Islam sendiri sudah mengeluarkan pesan berbelasungkawan atas kematian Kennedy. Malcolm pun akhirnya dilarang berbicara di depan umum selama 90 hari. Pada 8 Maret 1964 Malcolm keluar dari Nation of Islam dan mendirikan Muslim Mosque, Inc. dan Organisasi Persatuan Afro-Afrika, sebuah kelompok sekuler untuk meningkatkan kesadaran politik orang-orang Afrika-Amerika.
   Setelah Malcolm X memeluk Islam Sunni ia pergi berhaji, setelah kembali ke AS dia justru banyak menerima tawaran berbicara di kampus-kampus, serta di publik. Keunggulan itu nampaknya menjadi ancaman bagi Nation of Islam yang sebelumnya bersitegang dengan ketuanya, Elijah Muhammad terkait dugaan perselingkuhan. NOI pun menyatakan perang dengan Malcolm dan mengancam akan membunuhnya. Berbagai tindakan ancaman telah dilancarkan oleh kelompok anonim mengancam melalui berbagai telepon yang ditujukan kepada istri Malcolm X, Betty Shabaz dan mengatakan ‘Malcolm X akan disingkirkan’.
- Pembunuhan
 
Situasi Audobon Ballroom saat penembakan (cbsnews)
 
Pada 21 Februari 1965, saat Malcolm X bersiap untuk berbicara di acara organisasi Persatuan AAfro-Amerika di Manhattan, keributan pecah diantara 400 orang penonton. Seseorang berteriak, “Negro! keluarkan tanganmu dari sakuku!’[11]. Beberapa pengawal Malcolm menenangkan keributan. Seorang pria yang duduk di barisan depan menembaknya skeali di dada demham senapan sawef-off berlaras ganda. Dua orang lainnya naik ke panggung dan menembaki Malcolm menggunakan pistol semi-otomatis.
 
Lingkaran bekas peluru
Dia dinyatakan meninggal pukul 3.30 sore di Columbia Presbyterian Hospital dengan 21 luka tembak di dada, bahu kiri, lengan kaki. Pelakunya berjumlah tiga orang dan semua merupakan anggota Nation of Islam, yakni Butler, Johson dan Hayer.
 Malcolm X telah digambarkan sebagai salah satu orang Afrika Amerika terbesar dan paling berpengaruh sepanjang sejarah. Dia dikenal akrena meningkatkan harga diri dan martabat orang kulit hitam Amerika. Dia menyebabkan penyebaran Islam diantara masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat.
 .
.
.
            Itulah keempat tokoh terkenal yang lahir pada 19 Mei, setiap tokoh mempunyai cerita masing-masing yang tidak dapat dilupakan sejarah.....
           

[1] New York Time terbitan 4 September 1969 - Terjemahan
[2] merdeka.com/HoChiMinh
[3] Vietnam Indepence Proclaimed, History.com
[4] HistoryLearningSite.co.uk/HoChiMinh - Terjemahan
[5] Locard, Henri, European Review of History, Maret 2005 - Terjemahan
[6] Wikipedia/PolPot
[7] Kudeta 1970 Kamboja/Wikipedia
[8] Malcolm X, Autobiography  - Terjemahan
[9] Lomax, When The Word is Given 1963 - Terjemahan
[10] Malcolm X Scores U.S. and Kennedy. New York Times (2.12.1963)
[11] Kihs, Peter “Malcolm X Shot to Death at Really Here”. The New York Times (22.2.1965)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar