Cari Blog Ini

Kamis, 12 April 2018

Lagi, Isu Boikot Piala Dunia


     

     
     Piala Dunia merupakan ajang tertinggi sepakbola yang sangat menyita perhatian serta kehadiran yang ditunggu-tunggu. Sebagai ajang yang dinilai mampu menyatukan perhatian seluruh umat manusia, dilansir dari FIFA melalui liputan6.com (07/07/2014) pada Piala Dunia 2014 di Brasil, rata-rata jumlah penonton yang datang langsung ke stadion mencapai 52.762 orang per pertandingan. Angka tersebut menggeser total rata-rata penonton Piala Dunia 2006 di Jerman sebesar 52.491 orang setiap pertandingan. Piala Dunia tahun ini akan dilaksanakan di Rusia pada bulan Juni sampai dengan Juli mendatang sekaligus menjadi ajang Piala Dunia ke-20 kalinya sejak digelar pertama pada tahun 1930 di Uruguay. Dengan mengingat antusiasme penonton yang begitu tinggi, ajang Piala Dunia menjadi sakral sehingga banyak kejadian-kejadian yang menarik perhatian sebelum dan sesudah penyelenggaraannya.

     Kejadian yang menarik perhatian sebelum dimulainya ajang pada edisi kali ini ialah isu boikot atau pembatalan digelarnya piala dunia yang akan dilaksankan di Rusia. Isu ini muncul ke permukaan, dipicu dengan dugaan mantan mata-mata Rusia yang diracuni bersama putrinya di Salisbury, Inggris. Insiden ini lantas membuat renggang hubungan diplomatik kedua negara, bahkan Inggris telah mengusir 23 diplomat serta ratusan intelijen Rusia keluar dari tanah Ratu Elisabeth. 1

     Demi alasan keamanan kepada seluruh pemain, staff, dan melatih yang akan berlaga di Rusia bulan Juni nanti, FA selaku badan tertinggi sepakbola Inggris membuat regulasi ketat. Kabarnya dilansir dari panditfootball.com (24/03/2018), FA akan mengirim sendiri koki masak serta bahan baku makanan dari Inggris. Ditambah dengan himbauan kepada suporter Inggris agar berhati-hati saat berada di Rusia khususnya ketika berjumpa dengan suporter tuan rumah, mengingat kedua suporter ini memiliki track record yang kelam saat berjumpa di tiap laga.

Zabivaka, maskot Piala Dunia 2018 Rusia

     Setali tiga uang dengan kecaman Inggris, dukungan dari negara-negara sekutu dan negara Uni Eropa juga mengalir, diantaranya Islandia, Australia, Swedia serta Amerika Serikat. Dikabarkan bahwa Islandia tidak mengirim perwakilan pemerintahannya ke Piala Dunia. Serta Australia yang memulangkan dua diplomat asal Moskow. Di sisi lain, Australia juga mengkaitkan isu boikot ini dengan kejadian yang diduga dilakukan Rusia, salah satunya insiden penembakan jatuhnya pesawat komersil Malaysia Airlines MH17 tahun 2014. 2

     Sebenarnya isu-isu boikot menjelang Piala Dunia atau saat ajang tengah berlangsung bukan merupakan hal yang baru terdengar. Bila kita mundur jauh kebelakang, pada Piala Dunia 1958 di Swedia memboikot atau menolak bertanding melawan Israel yang pada saat itu masuk kualifikasi Piala Dunia zona Asia-Afrika se-grup dengan Indonesia, Turki, Mesir dan Sudan. Ketiga negara tersebut menolak bertanding melawan Israel karena sikap politik dan solidaritas. Israel akhirnya gagal masuk putaran final karena kalah 0-4 dari Wales.3 Pada Piala Dunia 1974 di Jerman Barat, Rusia yang pada saat itu masih bernama Uni Soviet sedang berlaga di Playoff melawan Chili di Moskow dengan skor imbang 0-0. Uni Soviet menolak bertanding ulang di Chili karena alasan keamanan, alhasil Chili yang berhak maju ke putaran final Piala Dunia 1974 di Jerman Barat.

     Empat tahun kemudian pada Piala Dunia 1978 di Argentina, Saat itu Cruyff menolak tampil di ajang tersebut, tidak diketahui penyebab aslinya, namun kabar berhembus bahwa ini adalah bagian dari penentangan Cruyff terhadap pelanggaran HAM yang dibuat oleh rezim diktator militer Argentina Jenderal Jorge Videla. Bahkan Piala Dunia yang diadakan di Argentina merupakan upaya cuci tangan dan pencitraan untuk menutupi kekejaman yang dilakukan Videla. Aksi Cruyff ini ternyata diikuti oleh seluruh kompatriotnya di Belanda. Pada saat laga final melawan tuan rumah Argentina, Belanda harus kalah 1-3. Belanda menolak melakukan acara seremonial karena diduga hasil tersebut merupakan pengaturan skor yang dilakukan rezim Videla.4 

     Maju ke era milenial pada Pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Atmosfir menuju acara pembukaan lebih panas karena dikecam sendiri oleh warga negaranya. Pasalnya ajang ini dinilai menghambur-hamburkan uang serta memperburuk kondisi ekonomi mengingat kondisi ekonomi warganya rata-rata masih dibawah garis kemiskinan. Dugaan warga bukanlah isapan jempol belaka, seperti yang dilansir CNN bahwa kuartal II beberapa hari menjelang Piala Dunia, ekonomi Brasil telah jatuh dari tebing, bahkan indeks bursa saham Bovespa Brasil turun 7% dari tahun sebelumnya. Hal-hal diatas diperparah dengan persiapan infrastruktur yaitu dengan runtuhnya stadion yang akan dijadikan acara pembukaan di Sao Paolo. Atas kejadian itu dua orang pekerja tewas serta enam stadium yang belum rampung, mengingat enam bulan lagi penyelenggaran terhitung sejak Desember 2013. Masalah itu membuat warga Brasil mengadakan demo besar-besaran dan menuntut Presiden saat itu Dilma Rouseff turun dari jabatannya, Piala Dunia benar-benar diambang pembatalan.
 
     Itulah beberapa insiden boikot yang terjadi di ajang Piala Dunia, namun akhirnya apapun permasalahannya tetap Piala Dunia bergulir dengan lancar dan meriah (terlepas dari dampak yang ditimbulkan setelahnya). Piala Dunia tetaplah Piala Dunia, ajang yang salah satunya bertujuan untuk menyatukan umat manusia dari perbedaan budaya, bahasa, iklim, struktur negara bahkan kepentingan-kepentingan di dalamnya. Piala Dunia menjadi alat perdamaian dunia yang mudah, namun jika alat perdamaian ini justru diusik atau bahkan dirusak maka perdamaian itupun sulit tercipta. Sesuai dengan slogan FIFA yaitu "For the Game, For The World", kata For The World merupakan rujukan untuk bersatu demi terciptanya perdamaian dunia.

Apa Tujuan Dilakukan Boikot?
     Semua hal di dunia ini memang tak terlepas dari aspek politik di dalamnya, secara langsung ataupun tidak langsung. Tapi semua hal itu tidak harus dimasukkan ke ranah politik, apalagi merusak 'hal baik' yang sudah dibuat itu. Hal yang wajar bila suatu negara begitu protektif kepada warganya karena kejadian-kejadian yang sudah terjadi (contohnya Timnas Inggris), karena memang itu adalah kewajiban negara, tapi tidak dalam taraf berlebihan. Contoh lain Amerika Serikat yang begitu lantang menyuarakan aksi ancam boikot Piala Dunia 2018. Timnas negeri Paman Sam yang bahkan tidak turut serta dalam Piala Dunia 2018 itu melantangkan kecaman boikotnya dengan membuat Piala Dunia tandingan yang diikuti negara-negara yang gagal masuk Piala Dunia 2018 dan akan diselenggarakan di Amerika Serikat.5

Kembali Ke Posisi Awal
     Piala Dunia tetaplah Piala Dunia, tidak semua ranah harus dikaitkan dengan politik terlebih untuk hal yang mengarah pada kepentingan kesatuan dan kelompok. Jadi untuk menyikapi hal ini, agaknya tidak terlalu diperbesar, ajang Piala Dunia tidak dapat dijadikan kambing hitam. Joseph Blatter selaku mantan ketua FIFA mengatakan dalam akun Twitter miliknya (22/03/2018):

"Football has up to 2 billion followers, FIFA World Cup 2018 in Russia. The most important sport event in the world. Therefore no boycot! Let’s play the game in peace for peace”.

Jerman saat juara Piala Dunia 2014 di Brasil
     Isu-isu serta potensi terjadinya batu sandungan dalam ajang besar sudah sangat sering terjadi, ini juga menjadi ujian besar tuan rumah dalam penyelenggaraan Piala Dunia selanjutnya. Namun akhirnya batu-batu sandungan itu tidak cukup kuat untuk menerjang digelarnya ajang tertinggi sepakbola tersebut. Bila kita berkaca pada ajang yang dilaksanakan beberapa tahun lalu di Brasil (Piala Dunia 2014 dan Olimpiade 2016), mereka sukses melaksanakan dua ajang besar tersebut.




______________________________________________________
Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar