Piala Dunia merupakan ajang tertinggi
sepakbola yang sangat menyita perhatian serta kehadiran yang ditunggu-tunggu.
Sebagai ajang yang dinilai mampu menyatukan perhatian seluruh umat manusia,
dilansir dari FIFA melalui liputan6.com (07/07/2014) pada Piala Dunia 2014 di
Brasil, rata-rata jumlah penonton yang datang langsung ke stadion mencapai
52.762 orang per pertandingan. Angka tersebut menggeser total rata-rata
penonton Piala Dunia 2006 di Jerman sebesar 52.491 orang setiap pertandingan.
Piala Dunia tahun ini akan dilaksanakan di Rusia pada bulan Juni sampai dengan
Juli mendatang sekaligus menjadi ajang Piala Dunia ke-20 kalinya sejak digelar
pertama pada tahun 1930 di Uruguay. Dengan mengingat antusiasme penonton yang
begitu tinggi, ajang Piala Dunia menjadi sakral sehingga banyak kejadian-kejadian
yang menarik perhatian sebelum dan sesudah penyelenggaraannya.
Kejadian yang menarik perhatian
sebelum dimulainya ajang pada edisi kali ini ialah isu boikot atau pembatalan
digelarnya piala dunia yang akan dilaksankan di Rusia. Isu ini muncul ke
permukaan, dipicu dengan dugaan mantan mata-mata Rusia yang diracuni bersama
putrinya di Salisbury, Inggris. Insiden ini lantas membuat renggang hubungan
diplomatik kedua negara, bahkan Inggris telah mengusir 23 diplomat serta
ratusan intelijen Rusia keluar dari tanah Ratu Elisabeth. 1
Demi alasan keamanan kepada seluruh
pemain, staff, dan melatih yang akan berlaga di Rusia bulan Juni nanti, FA
selaku badan tertinggi sepakbola Inggris membuat regulasi ketat. Kabarnya
dilansir dari panditfootball.com (24/03/2018), FA akan mengirim sendiri koki
masak serta bahan baku makanan dari Inggris. Ditambah dengan himbauan kepada
suporter Inggris agar berhati-hati saat berada di Rusia khususnya ketika
berjumpa dengan suporter tuan rumah, mengingat kedua suporter ini memiliki
track record yang kelam saat berjumpa di tiap laga.
| Zabivaka, maskot Piala Dunia 2018 Rusia |
Setali tiga uang dengan kecaman
Inggris, dukungan dari negara-negara sekutu dan negara Uni Eropa juga mengalir,
diantaranya Islandia, Australia, Swedia serta Amerika Serikat. Dikabarkan bahwa
Islandia tidak mengirim perwakilan pemerintahannya ke Piala Dunia. Serta
Australia yang memulangkan dua diplomat asal Moskow. Di sisi lain, Australia
juga mengkaitkan isu boikot ini dengan kejadian yang diduga dilakukan Rusia,
salah satunya insiden penembakan jatuhnya pesawat komersil Malaysia Airlines
MH17 tahun 2014. 2
Sebenarnya isu-isu boikot menjelang
Piala Dunia atau saat ajang tengah berlangsung bukan merupakan hal yang baru
terdengar. Bila kita mundur jauh kebelakang, pada Piala Dunia 1958 di Swedia
memboikot atau menolak bertanding melawan Israel yang pada saat itu masuk
kualifikasi Piala Dunia zona Asia-Afrika se-grup dengan Indonesia, Turki, Mesir
dan Sudan. Ketiga negara tersebut menolak bertanding melawan Israel karena
sikap politik dan solidaritas. Israel akhirnya gagal masuk putaran final karena
kalah 0-4 dari Wales.3 Pada Piala Dunia 1974 di Jerman Barat, Rusia
yang pada saat itu masih bernama Uni Soviet sedang berlaga di Playoff melawan
Chili di Moskow dengan skor imbang 0-0. Uni Soviet menolak bertanding ulang di
Chili karena alasan keamanan, alhasil Chili yang berhak maju ke putaran final
Piala Dunia 1974 di Jerman Barat.
Empat tahun kemudian pada Piala
Dunia 1978 di Argentina, Saat itu Cruyff menolak tampil di ajang tersebut,
tidak diketahui penyebab aslinya, namun kabar berhembus bahwa ini adalah bagian
dari penentangan Cruyff terhadap pelanggaran HAM yang dibuat oleh rezim
diktator militer Argentina Jenderal Jorge Videla. Bahkan Piala Dunia yang
diadakan di Argentina merupakan upaya cuci tangan dan pencitraan untuk menutupi
kekejaman yang dilakukan Videla. Aksi Cruyff ini ternyata diikuti oleh seluruh
kompatriotnya di Belanda. Pada saat laga final melawan tuan rumah Argentina,
Belanda harus kalah 1-3. Belanda menolak melakukan acara seremonial karena diduga
hasil tersebut merupakan pengaturan skor yang dilakukan rezim Videla.4
Maju
ke era milenial pada Pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Atmosfir menuju acara
pembukaan lebih panas karena dikecam sendiri oleh warga negaranya. Pasalnya
ajang ini dinilai menghambur-hamburkan uang serta memperburuk kondisi ekonomi
mengingat kondisi ekonomi warganya rata-rata masih dibawah garis kemiskinan.
Dugaan warga bukanlah isapan jempol belaka, seperti yang dilansir CNN bahwa kuartal II beberapa hari menjelang Piala
Dunia, ekonomi Brasil telah jatuh dari tebing, bahkan indeks bursa saham
Bovespa Brasil turun 7% dari tahun sebelumnya. Hal-hal diatas diperparah dengan
persiapan infrastruktur yaitu dengan runtuhnya stadion yang akan dijadikan
acara pembukaan di Sao Paolo. Atas kejadian itu dua orang pekerja tewas serta
enam stadium yang belum rampung, mengingat enam bulan lagi penyelenggaran
terhitung sejak Desember 2013. Masalah itu membuat warga Brasil mengadakan demo
besar-besaran dan menuntut Presiden saat itu Dilma Rouseff turun dari
jabatannya, Piala Dunia benar-benar diambang pembatalan.
Itulah beberapa insiden boikot yang
terjadi di ajang Piala Dunia, namun akhirnya apapun permasalahannya tetap Piala
Dunia bergulir dengan lancar dan meriah (terlepas dari dampak yang ditimbulkan
setelahnya). Piala Dunia tetaplah Piala Dunia, ajang yang salah satunya
bertujuan untuk menyatukan umat manusia dari perbedaan budaya, bahasa, iklim,
struktur negara bahkan kepentingan-kepentingan di dalamnya. Piala Dunia menjadi
alat perdamaian dunia yang mudah, namun jika alat perdamaian ini justru diusik
atau bahkan dirusak maka perdamaian itupun sulit tercipta. Sesuai dengan slogan
FIFA yaitu "For the Game, For The World", kata For The World
merupakan rujukan untuk bersatu demi terciptanya perdamaian dunia.
Apa Tujuan Dilakukan Boikot?
Semua hal di dunia ini memang tak
terlepas dari aspek politik di dalamnya, secara langsung ataupun tidak
langsung. Tapi semua hal itu tidak harus dimasukkan ke ranah politik, apalagi
merusak 'hal baik' yang sudah dibuat itu. Hal yang wajar bila suatu negara
begitu protektif kepada warganya karena kejadian-kejadian yang sudah terjadi
(contohnya Timnas Inggris), karena memang itu adalah kewajiban negara, tapi
tidak dalam taraf berlebihan. Contoh lain Amerika Serikat yang begitu lantang
menyuarakan aksi ancam boikot Piala Dunia 2018. Timnas negeri Paman Sam yang
bahkan tidak turut serta dalam Piala Dunia 2018 itu melantangkan kecaman
boikotnya dengan membuat Piala Dunia tandingan yang diikuti negara-negara yang
gagal masuk Piala Dunia 2018 dan akan diselenggarakan di Amerika Serikat.5
Kembali Ke Posisi Awal
Piala Dunia tetaplah Piala Dunia,
tidak semua ranah harus dikaitkan dengan politik terlebih untuk hal yang
mengarah pada kepentingan kesatuan dan kelompok. Jadi untuk menyikapi hal ini,
agaknya tidak terlalu diperbesar, ajang Piala Dunia tidak dapat dijadikan
kambing hitam. Joseph Blatter selaku mantan ketua FIFA mengatakan dalam akun
Twitter miliknya (22/03/2018):
"Football has up to 2 billion followers, FIFA World Cup 2018 in Russia. The most important sport event in the world. Therefore no boycot! Let’s play the game in peace for peace”.
![]() |
| Jerman saat juara Piala Dunia 2014 di Brasil |
Isu-isu serta potensi terjadinya
batu sandungan dalam ajang besar sudah sangat sering terjadi, ini juga menjadi
ujian besar tuan rumah dalam penyelenggaraan Piala Dunia selanjutnya. Namun
akhirnya batu-batu sandungan itu tidak cukup kuat untuk menerjang digelarnya
ajang tertinggi sepakbola tersebut. Bila kita berkaca pada ajang yang
dilaksanakan beberapa tahun lalu di Brasil (Piala Dunia 2014 dan Olimpiade
2016), mereka sukses melaksanakan dua ajang besar tersebut.
______________________________________________________
Sumber:
Sumber:


Tidak ada komentar:
Posting Komentar