Dunia perkuliahan tentu tidak sama
dengan dunia sekolah, dunia perkuliahan juga tidak sama dengan dunia
perkuliahan versi FTV, yang berkenalan ketikan bersenggolan, membantu merapikan
buku yang berserakan dilantai, hingga jatuh cinta dan memulai kisah yang penuh
kegembiaraan. Semua itu omong kosong belaka dan berbeda 180 derajat.
Saat pertama masuk kuliah, tentu
kita merasa deg-degan ingin memasuki dunia pendidikan yang baru bagi kita,
seperti dunia sekolah segala perlengkapan sudah disiapkan jauh-jauh hari Saat
hari pertama masuk, biasa pihak kampus memberi perayaan terhadap siswa barunya,
ada perayaan tingkat kampus, sampai ke tingkat fakultas. Tapi tidak sedikit
juga yang menggelar perayaan di tingkat fakultasnya saja. Karena mengingat
jumlah mahasiswa dan waktu penyelenggaraannya.
Di tingkat Fakultas, Dekan sebagai
perwakilan dari kampus dan Gubernur Mahasiswa menyambut mahasiswa baru.
Berbagai acara, penegenalan kampus, pengenalan abang dan kakak stambuk (OSPEK)
dilakukan sebagai pengesahan mereka merupakan bagian dari keluarga fakultas
tersebut.
Namun tahukah kalian??? dibalik OSPEK itu
sudah terjadi tarik-menarik mahasiswa baru agar menjadi bagian dari organisasi
kemahasiswaan yang mereka tempati.
Berdasarkan pengalaman saya yang
berkuliah di Fakultas Sosialtahun 2014-2018, FISIP yang terkenal dengan
‘kumpul-kumpul’ ini terbiasa dengan banyak organisasi, baik internal atau
eksternal. Persaingan untuk mendapatkan maba sebanyak-banyak juga terjadi di
segala sisi, sisi Organisasi Internal dan sisi Organisasi Eksternal. Bagi
Organisasi Internal tentunya tidak sulit untuk menarik mahasiwa, karena dalam
peraturan Fakultas, mahasiswa yang tercatat tersebut akan otomatis menjadi
bagian dari Organisasi Internal itu. Organisasi Internal merupakan Himpunan
Mahasiswa Jurusan dan beberapa Organisasi pendukung lain, seperti Unit Kegiatan
Mahasiswa Keagaamaan, dan organisasi yang berkaitan dengan kebutuhan
jurusannya.
Sementara Organisasi Eksternal
merupakan Organisasi yang berasal dari luar kampus namun terdaftar disana,
biasanya Organisasi Eksternal merupakan organisasi sejarah yang telah ada dan
mengikuti ideologi yang dianutnya, Organisasi Eksternal yang ‘alami’ antara lain
GMNI, HMI, GMKI, PMKRI, dan lainnya. Namun, dewasa kini, organisasi Eksternal
yang ‘tidak alami’ muncul, organisasi tersebut bersifat massa. Seperti
Organisasi Kepemudaan, Organisasi Parpol yang saya pikir belum saatnya berada
di kampus, karena kampus dan mahasiswanya akan bersentuhan dengan politik praktis.
Entah kenapa Organisasi Eksternal itu bisa masuk ke kampus.
Ya
sudah, kita masuk ke proses ‘penjeratan massa’.
Penjeratan massa’ itu telah terjadi
saat mahasiswa berangkat untuk melakukan pendaftaran ulang, yang biasanya
dilakukan di sebuah gdeung besar, seperti Gelanggang Mahasiwa, Auditorium,
Ruang Serbaguna, dan lainnya. Para abang kakak yang berpakaian modis,
menunjukkan simpati terhadap mahasiswa baru yang sudah menunggu di depan pintu
keluar sembari menunggu para mahasiswa baru menyelesaikan pendaftaran ulang. Mereka
membawa segala peralatan yang dapat menarik adik-adik ini bergabung dengan
mereka, kertas karton dengan bertuliskan “Jurusan
Apa Dek?” “Antro mana suaranya”, “anak Politik merapat dong”.
Selain itu juga melalui persuasif,
pendekatan dari hati ke hati, jika maba terlihat muslimah, maka organisasi
bertema keagaamaan pun datang terdepan. Jika terlihat maba-maba slengean,
biasanya laki-laki yang masih membawa nuansa SMA-nya, mahasiswa cewek yang
dianggap paling cantik di organisasi tersebut pun datang dengan pesonanya,
menanyakan jurusan dan lain semacamnya. Begitu juga dengan ciwi-ciwi mahasiswa
baru, mengandalkan pria tampan di organisasi tersebut untuk menariknya. Segala
organisasi baik internal dan eksternal pun berbaur dengan segala teknik
‘penjeratnnya’.
Setelah selesai di pendaftaran
ulang, biasanya ada jeda libur sebelum masuk perkuliahan pertama. Di hari
kosong itu, biasa abang dan kakak ini tadi menghubungi kembali adik-adik maba
yang jadi targetnya, yang sebelumnya sudah dimintai identitanya. Untuk lebih
efektif, biasanya mereka diajak ke sekretariat atau tempat dimana organisasi
itu kumpul dengan sedikit berbohong; mendadak melakukan acara yang katanya
resmi dari kampus untuk persiapan hari pertama masuk kuliah, dengan tanpa rasa
curiga, maba pun menyetujuinya.
Saat hari pertama kuliah, pihak
kampus melakukan penyambutan secara resmi, setelah itu diserahkan kepada HMJ.
Nah, disini sebenarnya terjadi bermanis-manis kata dan pesona, padahal mereka
masing sudah menargetkan siapa yang akan ditarik. Bagi saya alumni jurusan
politik, tidak ada orang-orang di HMJ yang murni “mengabdikan’ dirinya disana,
isi orang-orang HMJ adalah hasil pergulatan kursi ketua berbagai organisasi,
baik internal atau eksternal. Jadi acara penyambutan di tingkat HMJ hanyalah
penegasan kepada adik-adik agar dirinya ‘harus’ masuk di organisasi ini dan
ini.
Secara filosofis, memang anak FISIP
harus berorganisasi, karena disana lah laboratorium mereka, tidak seperti anak
Saintek yang memilik laboratorium sebagai tempat penelitian atau pelampiasannya
selama kuliah. Di FISIP organisasi merupakan tempat mereka curhat.
Dalam acara penyambutan HMJ, mereka
diberi ‘asupan’ tentang solidaritas dan kekeluargaan yang yang utuh, atas nama
HMJ yang dibawanya, mereka akan menataati dan menjaga nama baik tersebut.
Setelah proses penyambutan selesai,
proses perkuliahan berjalan, selama 3 bulan pertama, memang para maba ini masih
memegang janji ‘solidaritas’ mereka. Namunnnn,,, saat ada Open Recruitmen yang
didalamnya berisi MALAM KEAKRABAN anggota, disini pergolakan solidaritas maba
ini digoyang. Di tahap ini mulai timbul kebimbangan dari para maba yang bingung
ingin masuk organisasi mana, ada yang sudah menentukan pilihan, karena mungkin
sudah diberi ‘wejangan’ dari dedengkot organisasi itu sebelumnya, ada yang
mengikuti semua tanpa membuat keyakinan harus setia, ada juga yang ikut-ikutan
teman dekatnya karena bingung.
Setelah satu-persatu organisasi itu
telah melakukan Oprec, telah didapatkan calon-calon yang akan meneruskan mereka
di organisasi tersebut. Ada yang melakukan penyaringan sebesar-besarnya, ada
juga yang melakukan penyaringan dengan ketat yang tidak terfokus pada
intensitas, tapi kualitas begitu kira-kira. Maba-maba yang sebelumnya tanpa
logo, kini sudah memiliki ‘bendera’ masing-masing. Tak sedikit juga dari mereka
yang tidak mempersoalkan tentang organisasi dan hanya berfokus kuliah ke kuliah
saja.
Organisasi
Internal vs Organisasi Eksternal
Dalam peraturan fakultas, organisasi
internal bisa sedikit membusungkan dada karena organisasi mereka merupakan
organisasi resmi. Tanpa kerja keras untuk melakukan penyaringan, nama-nama maba
tersebut sudah ada dalam daftar mereka... Tapi nyatanya tidak semua begitu,,
ada maba yang justru tertarik dengan organisasi eksnternal ketimbang internal.
Ini yang menjadikan organisasi Internal berang, segala cara untuk memberi
pengertian kepada maba agara lebih mempriotaskan organisasi interal; dan
menganggap organisasi eksternal itu illegal dan tidak dibenarkan oleh fakultas
dan akan diberikan sanksi. Sementara organisasi eksternal menanggapi kepada
maba, untuk apa ke internal lagi, toh
kalian sudah otomatis masuk di sana, lalu kalian dapat apa?? di eskternal lebih
nyata, manfaatnya langsung kalian alami, dek,, seperti nanya soal tugas, pinjam
buku, dan diskusi...
Begitu
kira-kira organisasi-organisasi kampus melakukan manuvernya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar