Cari Blog Ini

Selasa, 13 Februari 2018

Jebakan Betmen ala Organisasi Kampus




   Dunia perkuliahan tentu tidak sama dengan dunia sekolah, dunia perkuliahan juga tidak sama dengan dunia perkuliahan versi FTV, yang berkenalan ketikan bersenggolan, membantu merapikan buku yang berserakan dilantai, hingga jatuh cinta dan memulai kisah yang penuh kegembiaraan. Semua itu omong kosong belaka dan berbeda 180 derajat.

  Saat pertama masuk kuliah, tentu kita merasa deg-degan ingin memasuki dunia pendidikan yang baru bagi kita, seperti dunia sekolah segala perlengkapan sudah disiapkan jauh-jauh hari Saat hari pertama masuk, biasa pihak kampus memberi perayaan terhadap siswa barunya, ada perayaan tingkat kampus, sampai ke tingkat fakultas. Tapi tidak sedikit juga yang menggelar perayaan di tingkat fakultasnya saja. Karena mengingat jumlah mahasiswa dan waktu penyelenggaraannya.

   Di tingkat Fakultas, Dekan sebagai perwakilan dari kampus dan Gubernur Mahasiswa menyambut mahasiswa baru. Berbagai acara, penegenalan kampus, pengenalan abang dan kakak stambuk (OSPEK) dilakukan sebagai pengesahan mereka merupakan bagian dari keluarga fakultas tersebut.

   Namun tahukah kalian??? dibalik OSPEK itu sudah terjadi tarik-menarik mahasiswa baru agar menjadi bagian dari organisasi kemahasiswaan yang mereka tempati.

   Berdasarkan pengalaman saya yang berkuliah di Fakultas Sosialtahun 2014-2018, FISIP yang terkenal dengan ‘kumpul-kumpul’ ini terbiasa dengan banyak organisasi, baik internal atau eksternal. Persaingan untuk mendapatkan maba sebanyak-banyak juga terjadi di segala sisi, sisi Organisasi Internal dan sisi Organisasi Eksternal. Bagi Organisasi Internal tentunya tidak sulit untuk menarik mahasiwa, karena dalam peraturan Fakultas, mahasiswa yang tercatat tersebut akan otomatis menjadi bagian dari Organisasi Internal itu. Organisasi Internal merupakan Himpunan Mahasiswa Jurusan dan beberapa Organisasi pendukung lain, seperti Unit Kegiatan Mahasiswa Keagaamaan, dan organisasi yang berkaitan dengan kebutuhan jurusannya.

   Sementara Organisasi Eksternal merupakan Organisasi yang berasal dari luar kampus namun terdaftar disana, biasanya Organisasi Eksternal merupakan organisasi sejarah yang telah ada dan mengikuti ideologi yang dianutnya, Organisasi Eksternal yang ‘alami’ antara lain GMNI, HMI, GMKI, PMKRI, dan lainnya. Namun, dewasa kini, organisasi Eksternal yang ‘tidak alami’ muncul, organisasi tersebut bersifat massa. Seperti Organisasi Kepemudaan, Organisasi Parpol yang saya pikir belum saatnya berada di kampus, karena kampus dan mahasiswanya akan bersentuhan dengan politik praktis. Entah kenapa Organisasi Eksternal itu bisa masuk ke kampus.

Ya sudah, kita masuk ke proses ‘penjeratan massa’.

   Penjeratan massa’ itu telah terjadi saat mahasiswa berangkat untuk melakukan pendaftaran ulang, yang biasanya dilakukan di sebuah gdeung besar, seperti Gelanggang Mahasiwa, Auditorium, Ruang Serbaguna, dan lainnya. Para abang kakak yang berpakaian modis, menunjukkan simpati terhadap mahasiswa baru yang sudah menunggu di depan pintu keluar sembari menunggu para mahasiswa baru menyelesaikan pendaftaran ulang. Mereka membawa segala peralatan yang dapat menarik adik-adik ini bergabung dengan mereka, kertas karton dengan bertuliskan “Jurusan Apa Dek?” “Antro mana suaranya”, “anak Politik merapat dong”.

   Selain itu juga melalui persuasif, pendekatan dari hati ke hati, jika maba terlihat muslimah, maka organisasi bertema keagaamaan pun datang terdepan. Jika terlihat maba-maba slengean, biasanya laki-laki yang masih membawa nuansa SMA-nya, mahasiswa cewek yang dianggap paling cantik di organisasi tersebut pun datang dengan pesonanya, menanyakan jurusan dan lain semacamnya. Begitu juga dengan ciwi-ciwi mahasiswa baru, mengandalkan pria tampan di organisasi tersebut untuk menariknya. Segala organisasi baik internal dan eksternal pun berbaur dengan segala teknik ‘penjeratnnya’.

   Setelah selesai di pendaftaran ulang, biasanya ada jeda libur sebelum masuk perkuliahan pertama. Di hari kosong itu, biasa abang dan kakak ini tadi menghubungi kembali adik-adik maba yang jadi targetnya, yang sebelumnya sudah dimintai identitanya. Untuk lebih efektif, biasanya mereka diajak ke sekretariat atau tempat dimana organisasi itu kumpul dengan sedikit berbohong; mendadak melakukan acara yang katanya resmi dari kampus untuk persiapan hari pertama masuk kuliah, dengan tanpa rasa curiga, maba pun menyetujuinya.

   Saat hari pertama kuliah, pihak kampus melakukan penyambutan secara resmi, setelah itu diserahkan kepada HMJ. Nah, disini sebenarnya terjadi bermanis-manis kata dan pesona, padahal mereka masing sudah menargetkan siapa yang akan ditarik. Bagi saya alumni jurusan politik, tidak ada orang-orang di HMJ yang murni “mengabdikan’ dirinya disana, isi orang-orang HMJ adalah hasil pergulatan kursi ketua berbagai organisasi, baik internal atau eksternal. Jadi acara penyambutan di tingkat HMJ hanyalah penegasan kepada adik-adik agar dirinya ‘harus’ masuk di organisasi ini dan ini.
            Secara filosofis, memang anak FISIP harus berorganisasi, karena disana lah laboratorium mereka, tidak seperti anak Saintek yang memilik laboratorium sebagai tempat penelitian atau pelampiasannya selama kuliah. Di FISIP organisasi merupakan tempat mereka curhat.
            Dalam acara penyambutan HMJ, mereka diberi ‘asupan’ tentang solidaritas dan kekeluargaan yang yang utuh, atas nama HMJ yang dibawanya, mereka akan menataati dan menjaga nama baik tersebut.

   Setelah proses penyambutan selesai, proses perkuliahan berjalan, selama 3 bulan pertama, memang para maba ini masih memegang janji ‘solidaritas’ mereka. Namunnnn,,, saat ada Open Recruitmen yang didalamnya berisi MALAM KEAKRABAN anggota, disini pergolakan solidaritas maba ini digoyang. Di tahap ini mulai timbul kebimbangan dari para maba yang bingung ingin masuk organisasi mana, ada yang sudah menentukan pilihan, karena mungkin sudah diberi ‘wejangan’ dari dedengkot organisasi itu sebelumnya, ada yang mengikuti semua tanpa membuat keyakinan harus setia, ada juga yang ikut-ikutan teman dekatnya karena bingung.

   Setelah satu-persatu organisasi itu telah melakukan Oprec, telah didapatkan calon-calon yang akan meneruskan mereka di organisasi tersebut. Ada yang melakukan penyaringan sebesar-besarnya, ada juga yang melakukan penyaringan dengan ketat yang tidak terfokus pada intensitas, tapi kualitas begitu kira-kira. Maba-maba yang sebelumnya tanpa logo, kini sudah memiliki ‘bendera’ masing-masing. Tak sedikit juga dari mereka yang tidak mempersoalkan tentang organisasi dan hanya berfokus kuliah ke kuliah saja.

Organisasi Internal vs Organisasi Eksternal
   Dalam peraturan fakultas, organisasi internal bisa sedikit membusungkan dada karena organisasi mereka merupakan organisasi resmi. Tanpa kerja keras untuk melakukan penyaringan, nama-nama maba tersebut sudah ada dalam daftar mereka... Tapi nyatanya tidak semua begitu,, ada maba yang justru tertarik dengan organisasi eksnternal ketimbang internal. Ini yang menjadikan organisasi Internal berang, segala cara untuk memberi pengertian kepada maba agara lebih mempriotaskan organisasi interal; dan menganggap organisasi eksternal itu illegal dan tidak dibenarkan oleh fakultas dan akan diberikan sanksi. Sementara organisasi eksternal menanggapi kepada maba, untuk apa ke internal lagi, toh kalian sudah otomatis masuk di sana, lalu kalian dapat apa?? di eskternal lebih nyata, manfaatnya langsung kalian alami, dek,, seperti nanya soal tugas, pinjam buku, dan diskusi...

Begitu kira-kira organisasi-organisasi kampus melakukan manuvernya...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar