Cari Blog Ini

Jumat, 10 Juli 2020

John Calvin part. II: Kritik Max Weber terhadap Etika Kerja Protestan. (Bagai Pisau Bermata Dua)



John Calvin - Max Weber

  Artikel ini merupakan sambungan dari edisi sebelumnya tentang Profil John Calvin pada bagian pengaruh ekonomi Serta gesekan-gesekan dari pemikirannya. Meskipun Calvin tidak pernah merumuskan suatu bentuk teologi ekonomi. Namun ajarannya menjawab persoalan-persoalan ekonomi sehari-hari.

- Pisau Bermata Dua itu ialah Etika Kerja Protestan
  
    Doktrin-doktrin yang diajarkan John Calvin tentang arti bekerja, pembayaran bunga dan pengertian terhadap profit menjadi awal bercabangnya pengertian Etika Kerja Protestan. Tokoh besar yang beranggapan ajaran itu menimbulkan kapitalisme modern, siapa lagi kalau bukan Max Weber. Weber yang menggiring opini Clavinisme yang citranya terlanjur dekat dengan kapitalisme yang tertuang dalam Tesis terkenalnya The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism.





     Weber menulis bahwa kapitalisme berevolusi ketika Etika Protestan mempengaruhi sejumlah orang untuk bekerja dalam dunia sekuler, mengembangkan perusahaan mereka sendiri untuk turut serta dalam perdagangan dan pengumpulan kekayaan untuk investasi. Dengan kata lain, Etika Protestan adalah sebuah kekuatan belakang dalam sebuah aksi massal tak terencana dan tak terkoordinasi yang menuju ke pengembangan kapitalisme. Ia mendefinisikan semangat kapitalisme sebagai gagasan dan kebiasaan yang menunjang pengejaran keuntungan ekonomi secara rasional.

Jika dituangkan dalam poin per poin, beginilah anggapan Weber: 

·      ==> Tipe-tipe Protestanian tertentu mendukung pengejaran keuntungan ekonomi yang rasional dan bahwa kegiatan-kegiatan duniawi telah memperoleh makna spiritual dan moral yang positif. Ini bukanlah tujuan dari gagasan-gagasan keagamaan tersebut, melainkan lebih sebagai produk sampingan__logika yang inheren dari doktrin-doktrin tersebut secara langsung ataupun tidak langsung mendorong perencanaan dan penyangkalalan demi pengejaran keuntungan ekonomi.

·      ==> Weber menelusuri asal usul Etika Protestan saat masa Reformasi. Di bawah Gereja Katolik Roma, seorang individu dapat dijamin keselamatannya melalui kepercayaan akan sakramen-sakramen gereja dan otoritas hierarkhinya, namun era Reformasi Protestan secara efektif telah menyingkiran jaminan-jaminan tersebut. Dalam keadaan tanpa jaminan seperti itu dari otoritas keagamaan, Weber berpendapat bahwa kaum Protestan mulai mencari ‘tanda-tanda’ lain yang menunjukkan bahwa mereka selamat. Sukses dunia merupakan ukuran keselamatan.

·      ==> Menurut agama-agama Protestan yang baru, seorang individu secara keagamaan individu secara keagamaan didorong untuk mengikuti suatu panggilan sekuler dengan semangat sebesar mungkin. Seseorang yang hidup menurut pandangan dunia ini lebih besar kemungkinannya untuk mengakumulasi uang.

·        ==> Tentang pembayaran bunga; Calvin memperbolehkan peminjaman uang dengan bunga dibawah 5%. Pengunaan bunga membuat orang yang meminjam tidak mempermainkan dan menganggap remeh uang tersebut. Konsep semacam ini mengakibatkan orang Kristen harus dipertanggungjawabkan dalam memakai uang mereka dan hal itu membuat mereka semakin menyimpan uang mereka. Mereka menanam modal dan bekerja sehingga mereka mendapatkan uang yang lebih besar lagi. Inilah yang menimbulkan semangat kapitalisme.[1]

·         ==> Namun, menurut agama-agama baru ini (khususnya Calvinisme), menggunakan uang ini untuk kemewahan pribadi atau untuk membeli ikon-ikon keagamaan dianggap dosa. Selain itu, amal umumnya dipandang negatif karena orang yang tidak berhasil dalam ukuran dunia dipandang sebagai gabungan dari kemalasan atau tanda bahwa Tuhan tidak memberkatinya. Dan cara pemecahan dari ini ialah investasi uang.

Menolak Anggapan Weber
Dengan dikumpulkan dari beberapa sumber, pendapat yang menolak Weber:

·        ==> Tesis Weber tentu tidak bisa diliat sebagai studi yang rinci tentang Protestanisme melainkan lebih sebagai pengantar ke dalam karya-karya Weber tentang interaksi antara berbagai gagasan keagamaan dan ekonomi. Lebih lanjut karya itu meruapakan upaya pertama Weber dalam menggunakan konsep rasionalisasi. Gagasan bahwa kapitalisme modern berkembang dari pengejaran kekayaan yang bersifat keagamaan berarti suatu perubahan terhadap cara keberadaan yang rasional, yakni kekayaan.

·         ==> Contoh-contoh pola kerja yang dirujuk Weber cenderung tertuju pada Calvinisme kaum Puritan di Inggris. Ia sangat menitikberatkan fenomena Puritan di Inggris, lalu seolah menggeneralisasikan dalam sebutan yang cakupannya umum, yakni Calvinisme. Dan Calvin sendiri tidak menunjukkan gelagat bakal mendukung praktik akumulasi profit yang digambarkan Weber.
·       
         ==> Tetang orientasi pada dunia; Ibadah sejati bagi seorang Calvinis dilakukan di tengah dunia, bukan di biara. Oleh kaum Puritan di Inggris pokok ini emmang digunakan untuk membenarkan agenda ‘kerja, kerja, kerja’. Tetapi orientasi pada dunia itu bisa juga ditarik ke arah keterlibatan dalam perjuangan-perjuangan kolektif umat manusia. Berbekal pokok ini, kegiatan-kegiatan gereja yang sifatnya ritualistik bisa diminimalisir.[2]
·     
    ==> Weber mencoba menginterpretasikan ulang secara sekluer duna modern sebagai hasil dari interpretasi kehidupan ala Calvinisme. Calvin memberikan basis religius dalam bekerja yaitu konsep tentang panggilan yang membuat pengikutnya bekerja sungguh-sungguh untuk memuliakan Tuhan. Di masa sebelumnya, pekerjaan paling penting adalah pekerjaan yang berkaitan dengan nilai-nilai religius. Ajaran Calvin bahwa bekerja itu ibadah (Laborare et orare) membuat manusia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang telah diberikan Allah.

   Praktis, dari keseluruhan pemikiran Weber yang menyerang dengan sengaja atau tidak disengaja tersebut kaum Calvinis cukup diterima atas dasar rasionalitas. Kelahiran Kapitalisme lahir akibat keterbatasan manusia dalam menerapkan sistem ekonomi. Anggapan Weber yang awalnya hanya ingin memulaikan konsep rasionalitas manusia—namun tergambar pada masa kehidupan agama-agama gereja. Weber juga menyebut aliran Lutherian, Puritan serta Geraja Katolik Roma. Namun pemikiran Weber semakin terasa menyerang doktrin-doktrin ekonomi yang dikemukakan John Calvin.
 -
Bagaimana menurut Anda? apakah Kapitalisme lahir dari penalaran atas keinginan pendekatan umat manusia kepada Tuhannya yang diajarkan para Nabi mereka??
 -
Atau Kapitalisme memang sengaja diciptakan Tuhan Yang Esa atas keterbasan umat manusia dalam setiap kehidupannya? Sehingga Tuhan selalu memberi ‘Imam’ kepada umatnya dalam setiap masa guna menuntun mereka ke kehidupan yang lebih baik???
-
-

[1] buletinpillar.org


[2] Setelah Weber: Klarifikasi Tesis ‘Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme’ dan Prospek Calvinisme Porgresif - Indoprogress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar