![]() |
| John Calvin - Max Weber |
Artikel
ini merupakan sambungan dari edisi sebelumnya tentang Profil John Calvin pada
bagian pengaruh ekonomi Serta gesekan-gesekan dari pemikirannya. Meskipun
Calvin tidak pernah merumuskan suatu bentuk teologi ekonomi. Namun ajarannya
menjawab persoalan-persoalan ekonomi sehari-hari.
- Pisau
Bermata Dua itu ialah Etika Kerja Protestan
Doktrin-doktrin yang diajarkan John Calvin
tentang arti bekerja, pembayaran bunga dan pengertian terhadap profit menjadi
awal bercabangnya pengertian Etika Kerja Protestan. Tokoh besar yang
beranggapan ajaran itu menimbulkan kapitalisme modern, siapa lagi kalau bukan
Max Weber. Weber yang menggiring opini Clavinisme yang citranya terlanjur dekat
dengan kapitalisme yang tertuang dalam Tesis terkenalnya The Protestant Ethic and The
Spirit of Capitalism.
Weber menulis bahwa kapitalisme berevolusi ketika
Etika Protestan mempengaruhi sejumlah orang untuk bekerja dalam dunia sekuler,
mengembangkan perusahaan mereka sendiri untuk turut serta dalam perdagangan dan
pengumpulan kekayaan untuk investasi. Dengan kata lain, Etika Protestan adalah
sebuah kekuatan belakang dalam sebuah aksi massal tak terencana dan tak
terkoordinasi yang menuju ke pengembangan kapitalisme. Ia mendefinisikan
semangat kapitalisme sebagai gagasan dan kebiasaan yang menunjang pengejaran
keuntungan ekonomi secara rasional.
Jika dituangkan
dalam poin per poin, beginilah anggapan Weber:
· ==> Tipe-tipe
Protestanian tertentu mendukung pengejaran keuntungan ekonomi yang rasional dan
bahwa kegiatan-kegiatan duniawi telah memperoleh makna spiritual dan moral yang
positif. Ini bukanlah tujuan dari gagasan-gagasan keagamaan tersebut, melainkan
lebih sebagai produk sampingan__logika yang inheren dari doktrin-doktrin
tersebut secara langsung ataupun tidak langsung mendorong perencanaan dan
penyangkalalan demi pengejaran keuntungan ekonomi.
· ==> Weber menelusuri
asal usul Etika Protestan saat masa Reformasi. Di bawah Gereja Katolik Roma,
seorang individu dapat dijamin keselamatannya melalui kepercayaan akan
sakramen-sakramen gereja dan otoritas hierarkhinya, namun era Reformasi
Protestan secara efektif telah menyingkiran jaminan-jaminan tersebut. Dalam
keadaan tanpa jaminan seperti itu dari otoritas keagamaan, Weber berpendapat
bahwa kaum Protestan mulai mencari ‘tanda-tanda’ lain yang menunjukkan bahwa
mereka selamat. Sukses dunia merupakan ukuran keselamatan.
· ==> Menurut
agama-agama Protestan yang baru, seorang individu secara keagamaan individu
secara keagamaan didorong untuk mengikuti suatu panggilan sekuler dengan
semangat sebesar mungkin. Seseorang yang hidup menurut pandangan dunia ini
lebih besar kemungkinannya untuk mengakumulasi uang.
· ==> Tentang
pembayaran bunga; Calvin memperbolehkan peminjaman uang dengan bunga dibawah
5%. Pengunaan bunga membuat orang yang meminjam tidak mempermainkan dan
menganggap remeh uang tersebut. Konsep semacam ini mengakibatkan orang Kristen
harus dipertanggungjawabkan dalam memakai uang mereka dan hal itu membuat
mereka semakin menyimpan uang mereka. Mereka menanam modal dan bekerja sehingga
mereka mendapatkan uang yang lebih besar lagi. Inilah yang menimbulkan semangat
kapitalisme.[1]
·
==> Namun, menurut
agama-agama baru ini (khususnya Calvinisme), menggunakan uang ini untuk
kemewahan pribadi atau untuk membeli ikon-ikon keagamaan dianggap dosa. Selain
itu, amal umumnya dipandang negatif karena orang yang tidak berhasil dalam
ukuran dunia dipandang sebagai gabungan dari kemalasan atau tanda bahwa Tuhan
tidak memberkatinya. Dan cara pemecahan dari ini ialah investasi uang.
Menolak Anggapan
Weber
Dengan dikumpulkan dari beberapa sumber, pendapat
yang menolak Weber:
· ==> Tesis Weber
tentu tidak bisa diliat sebagai studi yang rinci tentang Protestanisme
melainkan lebih sebagai pengantar ke dalam karya-karya Weber tentang interaksi
antara berbagai gagasan keagamaan dan ekonomi. Lebih lanjut karya itu
meruapakan upaya pertama Weber dalam menggunakan konsep rasionalisasi. Gagasan
bahwa kapitalisme modern berkembang dari pengejaran kekayaan yang bersifat
keagamaan berarti suatu perubahan terhadap cara keberadaan yang rasional, yakni
kekayaan.
·
==> Contoh-contoh
pola kerja yang dirujuk Weber cenderung tertuju pada Calvinisme kaum Puritan di
Inggris. Ia sangat menitikberatkan fenomena Puritan di Inggris, lalu seolah
menggeneralisasikan dalam sebutan yang cakupannya umum, yakni Calvinisme. Dan
Calvin sendiri tidak menunjukkan gelagat bakal mendukung praktik akumulasi
profit yang digambarkan Weber.
·
==> Tetang orientasi
pada dunia; Ibadah sejati bagi seorang Calvinis dilakukan di tengah dunia,
bukan di biara. Oleh kaum Puritan di Inggris pokok ini emmang digunakan untuk
membenarkan agenda ‘kerja, kerja, kerja’. Tetapi orientasi pada dunia itu bisa
juga ditarik ke arah keterlibatan dalam perjuangan-perjuangan kolektif umat
manusia. Berbekal pokok ini, kegiatan-kegiatan gereja yang sifatnya ritualistik
bisa diminimalisir.[2]
·
==> Weber mencoba
menginterpretasikan ulang secara sekluer duna modern sebagai hasil dari
interpretasi kehidupan ala Calvinisme. Calvin memberikan basis religius dalam
bekerja yaitu konsep tentang panggilan yang membuat pengikutnya bekerja
sungguh-sungguh untuk memuliakan Tuhan. Di masa sebelumnya, pekerjaan paling
penting adalah pekerjaan yang berkaitan dengan nilai-nilai religius. Ajaran
Calvin bahwa bekerja itu ibadah (Laborare
et orare) membuat manusia harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang
telah diberikan Allah.
Praktis,
dari keseluruhan pemikiran Weber yang menyerang dengan sengaja atau tidak
disengaja tersebut kaum Calvinis cukup diterima atas dasar rasionalitas.
Kelahiran Kapitalisme lahir akibat keterbatasan manusia dalam menerapkan sistem
ekonomi. Anggapan Weber yang awalnya hanya ingin memulaikan konsep rasionalitas
manusia—namun tergambar pada masa kehidupan agama-agama gereja. Weber juga
menyebut aliran Lutherian, Puritan serta Geraja Katolik Roma. Namun pemikiran
Weber semakin terasa menyerang doktrin-doktrin ekonomi yang dikemukakan John
Calvin.
-
Bagaimana menurut Anda? apakah Kapitalisme lahir
dari penalaran atas keinginan pendekatan umat manusia kepada Tuhannya yang
diajarkan para Nabi mereka??
-
Atau Kapitalisme memang sengaja diciptakan Tuhan
Yang Esa atas keterbasan umat manusia dalam setiap kehidupannya? Sehingga Tuhan
selalu memberi ‘Imam’ kepada umatnya dalam setiap masa guna menuntun mereka ke
kehidupan yang lebih baik???
-


Tidak ada komentar:
Posting Komentar