Betapa pun
dianggap bertanggung-jawab atas kematian puluhan juta jiwa semasa Perang Dunia
II, Adolf Hitler akan tetap dicatat sebagai penentu sejarah dunia. Ia adalah
satu dari segelintir tentara rendahan yang sanggup tampil menjadi hantu dunia,
membawa Jerman keluar dari cengkeraman Sekutu dan bangkit menjadi penguasa
Eropa. Sebuah upaya besar yang bahkan seorang jenderal Sekutu pun kecil
kemungkinan tak akan sanggup melakukannya.Tak heran jika kemudian banyak ahli
sejarah, politik, bahkan kejiwaan, lalu tertarik membedah profil Hitler secara
mendalam. Nazi, partai berpengaruh yang ia pimpin, serta The Third Reich, visi masa
depan Jerman yang ia perjuangkan, memang merupakan fenomena tersendiri. Begitu
pula dengan angkatan perang Jerman yang sanggup merangsek begitu cepat ke
negara-negara sekitar Jerman. Namun, Hitler adalah sosok central yang jauh
lebih fenomenal.
Berbagai
penilaian diberikan oleh para pengamat, sejawat, dan orang-orang yang pernah
berada di lingkaran terdalamnya. Ada yang menyebutnya sebagai nasionalis
sejati, orator yang sanggup mempengaruhi orang, penjahat perang yang sadis,
psikopat. Tetapi ada pula yang menyebutnya sebagai pemimpin agung serta
pemimpin yang lembut dan Leman yang kebapakan. Profilnya amat variatif. Apa pun
itu keputusannya untuk bunuh diri di ujung keambrukan Jerman Nazi harus
dianggap sebagai akhir dari sebuah kisah besar yang ironis sekaligus tragis. Ia
berhasil membawa keluar rakyatnya yang tengah didera depresi ekonomi hebat,
mampu membangun angkatan perang hingga terdigdaya di Eropa, namun justru
memilih mengakhiri hidupnya dengan menelan racun dan menembakkan pistol ke
mulut. Bersama istrinya, Eva Braun, ia bunuh diri di bunker bawah kota Berlin
pada 30 April 1945, ketika disadari bahwa Rusia, musuh besarnya, telah berhasil
menguasai kota ini.
Kepada sejumlah perwira dan dokter yang mendampinginya di
hari-hari terakhir, ia menyatakan merasa terhormat mati bunuh diri ketimbang
menyerah kepada tentara Rusia atau dihadapkan ke pengadilan perang. Yang begitu
luar biasa yaitu ambisinya menguasai Eropa tak pernah padam hingga ia
memutuskan bunuh diri. Dari sekian telaah yang ditunjukan kepadanya, yang
menarik perhatian untuk diketengahkan adalah visinya yang megalomania. Banyak
yang berpendapat, justru dari karakternya inilah Hitler, yang secara
intelejensia sebenarnya pas-pasan, memiliki ambisi yang kelewat batas. Ia,
misalnya ingin menjadikan Jerman sebagai tuan di bumi ini, atau “Lord of the
Earth”. Untuk itu ia harus lebih dulu memimpin Jerman meraih kembali
kedigdayaan Imperium Roma yang pernah berjaya antara tahun 962 hingga 1806.
Dengan
bangkitnya Jerman dibawah kekuasaan Hitler yang bernaung di Partai Nazi telah
membuka pintu negara Jerman menjadi negara yang terpandang terutama setelah
kalahnya Jerman pada Perang Dunia I. Kebangkitan Jerman tidak hanya dalam
faktor-faktor kemakmuran negaranya saja, namum dalam hal militer pun Jerman
menjadi negara yang sangat kuat dengan adanya propaganda dari pemimpinnya.
Disini Rakyat Jerman sudah mencapai titik dimana kekuasaan dan pertahanan
menjadi prioritas utama dibanding mementingkan kebebasan berpolitik yang pada
akhirnya akan menjadi pertikaian dan pertumpahan darah, Hitler mengerti akan
hal-hal tersebut dan menggunakannya demi tercapai tujuannya. Dibantu dengan
kapasitas yang fenomenal dalam hal organisasi untuk propaganda dengan semangat
tercapainya negara industri besar sesuai dengan pencapainya. Dengan dibangunnya
hal-hal tersebut, pembawaan rakyat Jerman terhadap terlahirnya suatu otoritas
akan memudahkan lahirnya suatu kepemimpinan fasisme.
Dengan
adanya semangat nasionalisme yang tinggi dan rasa kebangaan yang sangat tinggi
terhadap ras-nya sendiri maka dimulailah sebuah propaganda oleh Hitler yang
pada kelanjutanya menjadikan Jerman sebagai negara “gila perang”. Dilakukannya
beberapa serangan brutal ke negara-negara tengga demi mengukuhkan supremasi
Jerman raya di bumi Eropa dengan pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh
kaum Nazi. Serangan sadis ini didorong oleh semangat moril yang sangat tinggi,
tetapi hakekatnya mereka perupakan pernyataan dari kekuatan-kekuatan jiwa yang
primitif. Dalam hal-hal sedemikian dikatakan, bahwa ego telah dikorupsi oleh
jiwa.
Seraya dengan meningkatnya nasionalisme, chauvinisme, dan
perlunya perluasan wiliyah maka pemimpin Jerman Adolf Hitler melakukan ekspansi
tanpa terduga ke beberapa negara Eropa dengan tujuan mendirikan suatu negeri
bagi bangsa Jerman saja atau dikenal dengan sebutan negera Jerman Raya.
Supremasinya disini dapat dilihat dengan giat melakukan tekanan dan penyerangan
terhadap negara yang akan didudukinya dan negara yang memerangi Jerman.
Profil
Adolf
Hitler dilahirkan di Braunau Inn, Austria, pada 20 April 1889. Ayah Adolf Hitler, Alois Hitler, merupakan seorang
pegawai kantor bea cukai. Setelah ayahnya pensiun, keluarga Hitler pindah ke
kota Lambach (awal dari kehidupan yg terus berpindah-pindah di masa pensiun
ayahnya).Ibunya merupakan keturunan yahudi. Di Kota tersebut terdapat sebuah
biara Katolik yang dihiasi ukiran kayu dan batu yang diantaranya terdapat
beberapa ukiran swastika, yang kemudian menjadi tempat Adolf muda belajar. Adolf
Hitler dapat menyesuaikan dengan baik di sekolah biara tersebut, bahkan konon
ia memiliki suara yang lumayan bagus. Sebagai Adolf muda, ia juga memiliki
idola, yaitu biarawan yang melayani di sekolah biaranya, bahkan ia pernah
serius selama 2 tahun bercita-cita ingin menjadi biarawan. Ketika beranjak
dewasa, cita-citanya berubah ingin menjadi seorang seniman. bahkan ia mencoba
untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi seni di Wina, Austria namun gagal,
dan bahkan ia pernah menjadi seorang tunawisma di kota ini.
Kala Itu
Ketika Perang Dunia I meletus, Hitler turut serta pada usia 25 tahun sebagai
pengantar pesan dalam pasukan Infantri Resimen Bavaria ke-16, dan ia merupakan
salah satu orang yang paling beruntung di medan pertempuran. Pernah suatu kali
resimennya bertemu pasukan Inggris dan Belgia di dekat Ieper (bahasa Perancis: Ypres),
resimennya kehilangan 2.500 dari 3.000 orang, tewas, luka-luka atau hilang dan
Adolf Hitler lolos tanpa luka sedikitpun dan beberapa kali ia berdiri di satu
tempat dan kemudian berpindah ke tempat lain yang beberapa detik kemudian
tempat dia sebelumnya berdiri kejatuhan bom. Luka pertamanya didapatnya pada
tanggal 7 Oktober 1916 tepat 2 tahun setelah ia terjun kedalam perang, akibat
pecahan mortir di perang di Kota Somme. Ketika gencatan senjata ditanda tangani
pada tanggal 11 November 1918, Hitler sedang dirawat di rumah sakit akibat terkena serangan gas klorin dari inggris yang
mengakibatkan buta sementara. Ketika itu Hitler menjabat sebagai kopral.
Tahun 1919
Hitler lalu bergabung dengan sebuah partai kecil bernama Partai Pekerja Jerman
dan meninggalkan karir militernya. Saat berhasil menjadi pemimpinnya dan
akhirnya mengubah namanya menjadi partai Nazi. Tahun 1920, Hitler menterbitkan
simbol Swastika dan Tahun 1921 Partai ini semakin solid dengan didukung oleh
kelompok milisia SA. Disinilah kita bisa melihat salah satu kejeniusan Hitler,
berorganisasi dan berpidato. Terus terang, secara pribadi, saya tidak pernah
melihat orang berpidato sehebat Hitler. Ketika pengikutnya berteriak sambil
mengangkat tangan “HAIL HITLER!”. Apapun yang Hitler katakan adalah seperti
sebuah “Religion’s
order” yang
membuat pengikutnya menjadi super fanatik dan mengikuti apapun yang
diucapkannya.
Di penjara
dia menulis bukunya yang terkenal, “Mein Kampf” (Perjuanganku) 1924. Ernst Hanfstaengl
menjadi salah satu penerbit buku yang super laris dan menghasilkan income yang
banyak. Buku ini bisa digambarkan sebagai sebuah buku otobiografi, pikiran
politik/ filsafatnya, sejarah serta buku hariannya. Dalam tulisannya ini Hitler
yakin bahwa bangsa Arya adalah ras teringgi, penemu seni, ilmu dan tekhnology.
Selanjutnya Hitler ingin menciptakan sebuah “ras arya” yang “genuine” yang
nantinya akan meleading kebudayaan, keindahan, martabat dari semua jenis ras
manusia. Buku ini kemudian menjadi seperti “The Bible” bagi pengikutnya.
Setelah mendekam di penjara kurang lebih 9 bulan, Hitler
mendapat amnesti, tetapi partai Nazi miliknya sudah amburadul saat dia keluar
penjara. Disini kita bisa melihat salah satu talenta besarnya dalam
berorganisasi. Hitler berhasil membangun kembali partainya dari partai kacau
balau sampai menjadi salah satu partai terbesar di Jerman
Partai Nazi
Nazisme
muncul sebagai akibat dari Perang Dunia I. Pada 11 November 1918 secara mengejutkan bagi pasukan garis depan Jerman, perang tiba-tiba berakhir. Pasukan garis depan tidak
merasa dikalahkan dan mereka heran mengapa gencatan senjata terjadi begitu
cepat sehingga mereka harus segera meninggalkan posisinya padahal mereka masih
berada di wilayah musuh. Mitos yang berkembang di antara para prajurit Jerman yang
menyerah ini adalah bahwa mereka telah “ditikam dari belakang.” Bahwa pasukan
garis depan dan 2 juta rakyat Jerman tewas selama perang telah dikhianati oleh
kelompok Marxis dan Yahudi yang telah memunculkan perbedaan pendapat di
negara mereka. Ketika pasukan selamat itu kembali ke Jerman baru yang
demokratis, mereka membawa serta kekecewaan mereka. Seusai perang,
negara-negara sekutu melanjutkan blokade terhadap Jerman. Pasukan yang kembali
dan berbaris melewati München, ibukota Bayern, terkejut melihat keluarga mereka yang masih menderita.
Jutaan rakyat Jerman kelaparan dan ribuan lainnya sekarat akibat penyakit TBC dan influenza.
Di Jerman,
politik terbagi menjadi 2 kutub, Konservatif dan Sosialis; masing-masing
kelompok menjadi radikal di masa krisis. Situasi semakin bertambah buruk dengan
munculnya gerakan Republik Soviet München, sebuah upaya untuk menciptakan pemerintahan bergaya Soviet yang dikobarkan oleh kelompok sayap kiri Raterepublik di Munich. Tentara pemerintah
diturunkan untuk menumpas pemberontakan tersebut dan pecahlah pertempuran
terbuka di jalan-jalan Munich. Lebih dari 500 orang terbunuh. Tentara didukung
oleh Freikorps, prajurit
bayaran sayap kanan yang dibiayai oleh pemerintah. Freikorps benar-benar menjalankan tugasnya,
mereka membantai orang-orang yang mereka anggap sebagai anggota Raterepublik dan berhasil menumpas pemberontakan
itu.
Pransangka anti-Semit di kelompok kanan semakin diperkuat
oleh kenyataan bahwa pimpinan Raterepublik sebagian besar adalah orang Yahudi,
sehingga muncul kesan bahwa Bolshevisme (komunis) dan Yudaisme pada adalah
dasarnya sama. Wajar ketika sikap anti Yahudi kemudian berkembang luas.
Freikorps dielu-elukan
di München setelah penumpasan Raterepublik.
Kelompok Yahudi adalah kambing hitam yang sempurna untuk disalahkan atas semua
penyakit negara tersebut. Freikorps didukung pejabat-pejabat sayap kanan
di militer seperti Kapten Ernst Roehm (yang nantinya akan menjadi komandan
tertinggi SA, “Pasukan Badai”), seorang pria dengan filosofi sederhana:
“Aku masih muda dan liar. Karenanya, perang dan kerusuhan lebih menarik bagiku dibandingkan tatanan borjuis yang rapi. Brutalitas dihargai, rakyat butuh rasa takut; mereka ingin takut pada sesuatu; mereka ingin seseorang yang membuat mereka takut dan memaksa mereka menyerahkan dalam ketakutan.”
Di awal tahun 1918, sebuah partai bernama Freier Ausschuss für Einen
Deutschen Arbeiterfrieden (Komite
Bebas untuk Kedamaian Buruh Jerman) didirikan di Bremen, Jerman. Anton Drexler,
seorang tukang kunci dan penyair, mendirikan sebuah cabang dari perkumpulan ini
pada 7 Maret 1918, di Munich. Drexler pernah menjadi anggota partai Fatherland
semasa Perang Dunia I, dan merupakan salah satu penentang perjanjian damai antara
Sekutu dengan Jerman yang mengakhiri Perang Dunia I tahun 1918. Ia memiliki
pandangan seperti umumnya nasionalis militan saat itu: menentang Perjanjian
Versailes, anti-semit dan anti-marxis, dan mempercayai superioritas ras Arya.
Ia juga percaya bahwa kapitalisme Internasional merupakan bagian dari gerakan
dominasi Yahudi di seluruh dunia dan menuduh kapitalis mengambil keuntungan (profit)
dari Perang Dunia I. Drexer juga berpandangan bahwa kekacauaan dan
ketidakstabilan politik adalah karena Republik Weimar tidak mau mempedulikan
rakyat kecil.
Hitler tak berbeda dengan ribuan mantan prajurit lainnya di
München, dia luntang-lantung tanpa pekerjaan tetap. Tapi kini dia telah
menyadari bakat alaminya untuk berorasi dan menarik orang untuk bergabung
dengan partainya, sehingga ia memiliki peran dominan di sana. Dia salurkan
kebencian, kemarahan atas berakhirnya perang dengan pidato yang berapi-api.
Hitler selalu berbicara tentang apa yang disebutnya sebagai ketidakadilan
perjanjian damai Versailes yang ditandatangani pada akhir Perang Dunia I.
Berdasarkan perjanjian itu, Jerman kehilangan banyak wilayah negaranya. dan
dipaksa membayar ganti rugi pada negara-negara pemenang. Pada awal 1920,
inflasi merajalela tak terkendali, keuangan benar-benar hancur sehingga rakyat
Jerman berpikir bahwa demokrasi tak menghasilkan apapun.
Dinamisme Hitler yang dibarengi dengan nada tanpa kompromi
dalam pidato-pidatonya mulai menarik warga Bayern terkemuka lainnya untuk berpaling
pada partai baru Nazi. Pada tahun 1922, seorang penerbang ulung pemegang penghargaan
“Pour le Merite” sekaligus
komandan skuadron Richthodenber dalam Perang Dunia I, Hermann Göring, bergabung
dengan Nazi. Nazi pun menyebarkan pengaruhnya ke wilayah pedesaan Bayern. Di
sana, seorang mahasiswa pertanian yang awalnya ingin menjadi peternak ayam,
Heinrich Himmler bergabung dengan Nazi. Bulan Januari 1923 di Ruhr, pasukan Perancis datang untuk
meminta pembayaran ganti rugi perang, mengasingkan dan menghina rakyat Jerman.
Perancis memerintah mereka dengan tangan besi. Rakyat Jerman menganggap hal ini
sebagai upaya balas dendam. Sentimen nasionalis pun mulai berkembang di Jerman.
Sebagai hasilnya, jumlah anggota Partai Nazi bertambah drastis menjadi sekitar
20.000 orang.
Di München
pada tahun 1923, dalam suasana krisis yang disebabkan oleh pendudukan Ruhr,
Hitler dan Nazinya mulai bertindak. Hitler berdiri di atas panggung Burgerbrau Keller pada tanggal 8 November dan
menghentikan rapat politik sayap kanan, ia menyerukan dilaksanakannya sebuah
revolusi nasional untuk menggulingkan pemerintah sayap kiri di Berlin. Keesokan
harinya, 9 November 1923, Nazi, bersama dengan partai sayap kanan lainnya
berparade di Munich untuk mengumpulkan dukungan. Mereka dihentikan oleh polisi
di monumen perang Feldherrenhalle.
Awalnya, Nazi berharap militer dan polisi mendukung parade tersebut dan
bergabung bersama mereka, tapi yang terjadi sebaliknya, polisi tidak mendukung
mereka; tembakan dilepaskan dan peserta parade dibubarkan. Untung bagi Hitler,
ia berhasil lolos dari penembakan itu. 4 perwira polisi dan 16 anggota Nazi
kehilangan nyawa mereka. Selain membunuh polisi, beberapa pengikut Nazi juga
melakukan perampokan bank dalam aksinya.
Hitler kemudian diadili bersama pimpinan parade lainnya
pada awal 1924 dengan tuduhan melakukan penyerangan terhadap polisi dan
perampokan bank. Dalam pengadilan tersebut, Hitler dengan sikapnya yang
menantang berkata:
“Kau bisa menyatakan kami bersalah ribuan kali, tapi dewi yang memimpin pengadilan abadi sejarah akan, dengan senyuman, mencabik-cabik dakwaan penuntut umum dan keputusan pengadilan ini. Dan sang dewi akan membebaskan kami”.
Hitler menjadi terkenal karena pernyataan sikapnya yang
berani. Hakim Georg Neithardt, hakim pengadilan yang mendengar pernyataannya
itu pun jadi bersimpati padanya dan bahkan mengirim pesan ke Pengadilan Banding
untuk mengurangi masa kurungan Hitler. Sebagai hasilnya, Hitler hanya perlu
menjalani hukuman 9 bulan penjara di Penjara Landsberg; setelah menyulut
revolusi, pembunuhan 4 perwira polisi, dan perampokan bank. Tahun 1924, nama
Hitler dan Nazi sempat terbenam. Pada
pertengahan 1920-an ekonomi Jerman pulih dan inflasi mulai berkurang.
Pemerintahan Weimar yang berkuasa berhasil menyelesaikan masalah pergantian
kerugian perang dengan meminjam uang dari Amerika Serikat. Namun, ada sejumlah
rakyat Jerman yang tidak setuju dan menyebut peristiwa ini sebagai “kemerosotan
Weimar”. Mereka bergabung dengan kelompok nonpolitik seperti Wandervogel yang menyerukan untuk kembali ke cara
hidup lama yang lebih sederhana. Nazi memanfaatkannya dan ikut
mensosialisasikan gerakan untuk kembali ke nilai lama ini.
Pada
pertengahan tahun 1920-an, partai Nazi menjadi sebuah partai kecil yang
radikal. Program partai mereka menjanjikan bahwa jika Nazi berkuasa, Yahudi
Jerman, yang dianggap berada dibalik ‘Perjanjian Versailes’, akan dicabut
kewarganegaraannya, atau bahkan diusir dari negara tersebut. Menurut Bruno
Hahnel, pemimpin Kelompok Muda Hitler untuk tahun 1927—1945, mereka menganggap
bahwa Golongan Yahudi Dunia ingin meraih kekuasaan dan menguasai dunia sehingga
Kelompok Muda Hitler harus menggagalkannya.
Isu konspirasi Yahudi sedunia itu disuarakan secara terbuka
oleh Nazi dan dipercaya. Bersamaan dengan munculnya paham anti-Semit itu,
tumbuh keyakinan bahwa kekerasan adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses
politik, sehingga kemudian, Nazi mendirikan sayap paramiliter yang disebut Sturmabteilung (SA), “Pasukan Badai“. Tugasnya
adalah menjaga pertemuan-pertemuan Nazi, mengancam pengikut partai-partai lain,
dan menggalang dukungan.
Pada tahun 1928 atau 7 tahun setelah Hitler memimpin
partai, Nazi gagal meraih kekuasaan dalam pemilu. Pada pemilu itu, Nazi hanya
mendapatkan 2,6% suara. Tapi 4 tahun dan 18 bulan kemudian, Hitler menjadi
Kanselir Jerman karena Nazi didukung oleh keadaan.
Pada tahun
1930-an, Jerman jatuh bangkrut. Harga produk pertanian dunia yang jatuh
mengakibatkan kemiskinan, jatuhnya Wall Street mengakibatkan kemerosotan
ekonomi di seluruh dunia, ditambah lagi dengan datangnya tagihan utang dari
Amerika Serikat yang semakin menekan persediaan devisa Jerman. Tahun 1931 angka
pengangguran di Jerman meningkat hingga 5 juta orang. Pengangguran hidup dengan
susah payah di perkotaan ketika Jerman menjadi negara dengan perekonomian
paling buruk di dunia. Keadaan semakin buruk ketika lima bank utama di Jerman
hancur pada tahun 1931 menyebabkan lebih dari 20.000 perusahaan Jerman gulung
tikar.
Tanpa diduga, dalam krisis ekonomi itu, suara untuk Nazi
meningkat. orang-orang mulai tertarik dengan prinsip mereka: “Versailes adalah
kejahatan dan Yahudi berada dibelakangnya. Marxisme harus dihancurkan dan
Bangsa Jerman harus lahir kembali.” Bahkan karena sedemikian bosannya dengan
keadaan ekonomi, orang-orang pedesaan yang belum pernah mendengar tentang
Hitler dan partainya ikut memilih Nazi. Seperti misalnya di kota terpencil di
wilayah Prusia Timur, Neidenburg, terjadi peningkatan suara yang sangat drastis
untuk Nazi. Pada tahun 1928, Nazi mendapat 2.3% suara di sini. Namun pada tahun
1930 dukungan yang mereka dapatkan melonjak ke angka 25.8%; padahal Hitler tak
pernah berkunjung ke sana dan tak ada perwakilan partai Nazi di kota itu. Tapi
bukan hanya Nazi yang mulai naik daun, komunis juga mulai mendapat dukungan
sehingga demokrasi yang baru lahir di Jerman mulai terancam karena para pemilih
terdorong ke titik ekstrim; antara Nazi dan Komunis. Pertikaian mulai terjadi,
Nazi dan Pasukan Badainya (SA) dengan Komunis.
Meskipun pada pemilu itu, Hitler kalah dari pesaingnya
Presiden Hidenburg, ia telah menetapkan dirinya sebagai pemimpin alternatif
Jerman yang menawarkan keteraturan, kedisiplinan, dan kharisma. Pada pemilu
tahun 1932 mayoritas mulai memilih dua partai yang secara terbuka bertujuan
menggulingkan demokrasi Jerman: Nazi dan Komunis. Demokrasi yang datang di
Jerman pada akhir PD I dianggap kurang cocok dan harus disingkirkan dari
Jerman. Dalam pidato pemilihan umumnya (Juli 1932), Hitler tidak menyembunyikan
fakta bahwa Nazi memiliki paham kediktatoran:
Hitler dalam pidato pemilihan umumnya (Juli 1932).
“Musuh kita menuduh kita golongan sosialis-nasional, dan aku pada khususnya, sebagai orang yang tidak toleran dan menyukai permusuhan. Mereka bilang kita tak mau bekerjasama dengan partai lain. Mereka bilang golongan Sosialis-Nasional bukanlah orang Jerman karena menolak bekerjasama dengan partai lain. Lalu, apakah memiliki 30 partai adalah ciri khas bangsa Jerman!? Aku harus mengakui satu hal – orang-orang itu tidak salah. Kita tidak toleran. Aku memiliki satu tujuan – untuk menyingkirkan 30 partai politik itu dari Jerman! Mereka salah mengira kita adalah salah satu dari mereka. kita punya satu tujuan, dan kita akan mewujudkannya dengan setia dan tanpa kompromi sampai ke liang kubur!”
Hasilnya pada pemilihan umum bulan Juli 1932 itu, Nazi
menjadi partai terbesar di Jerman dengan meraih 37.4% suara. Kini hanya ada
satu orang yang menjadi penghalang antara hitler dan posisi Kanselir: Presiden
Hindenburg, orang yang pernah bersaing dengan Hitler untuk jabatan presiden dan
mengalahkannya. Hindenburg bertemu Hitler pada tanggal 13 Agustus 1932 dan
dalam pertemuan itu, Hitler menuntut untuk menjadi kanselir; Hindenburg
menolak. Ia tidak setuju bila kekuasaan pemerintah diberikan ke satu partai
yang tidak mewakili mayoritas pemilih dan lebih jauh lagi tidak toleran dengan
disiplin yang rendah dan seringkali menggunakan kekerasan.
Kemudian, munculah sekelompok orang yang mulai menekan dan
melobi Presiden Hindenburg, termasuk salah satu di antaranya seorang pengusaha
mantan Direktur Reich Bank Hjalmar Schacht. Ia menulis surat
kepada Hindenburg mendesak agar Hitler diberi mandat Kanselir demi kebaikan
Jerman. Para pengusaha ketika itu lebih memilih agar perekonomian Jerman
dikuasai oleh Nazi daripada Komunis yang jelas akan mematikan usaha mereka.
Tekanan baru muncul sebagai akibat dari permainan perang militer: sebuah
laporan menegaskan pada kabinet bahwa dalam kerusuhan sipil, militer tidak
dapat mengendalikan baik Nazi maupun Komunis.
Tapi bukan hanya Hindenburg saja yang mendapat tekanan;
Nazi juga mendapatkan hal yang sama. Partai Nazi terancam bangkrut dan
kehabisan uang setelah salah satu tokoh utama partai, Gregor Strasser,
mengundurkan diri. Sehingga dukungan suara mereka turun menjadi 33%; tampaknya
dukungan untuk mereka sudah mencapai titik maksimal. Untungnya, Nazi mendapat
dukungan dari kelompok tradisional Kanan yang ingin menggulingkan demokrasi dan
komunis karena tanpa dukungan Hitler, mereka tidak akan mampu melakukannya. Salah
satu di antara mereka. mantan Kanselir bangsawan Franz von Papen, menawarkan
kesepakatan: Hitler bisa menjadi Kanselir jika ia, von Papen, menjadi wakil
Kanselir, dan hanya ada 2 anggota Nazi lainnya yang masuk kabinet yang
mayoritas diisi oleh orang-orang konservatif tradisional. Dengan begitu, ia
berharap pengaruh Hitler dapat “dijinakkan.” Akhirnya, Hindenburg menawarkan
posisi Kanselir kepada Adolf Hitler pada 30 Januari 1933.
Pandangan Pemikiran Adolf Hitler Tentang “Supremasi Jerman Raya”
Setelah
kalah dan kacau balaunya Jerman pada Perang Dunia I, Jerman sebagai pihak
yang kalah kehilangan banyak wilayahnya dan harus membayar biaya perang dan
sebagainya. Hitler yang menganggap perjanjian ini sebagai sampah mampu membuat
jutaan rakyat Jerman berdiri di belakangnya untuk menolak isi perjanjian ini
dan merebut kembali apa yang menjadi ‘hak milik’ rakyat Jerman. Mulai tahun 1934 Hitler berhasil membawa Jerman yang
seluruhnya porak poranda karena kalah perang kembali menjadi kekuatan besar
Eropa. Banyak peninggalannya yang masih bisa kita lihat sekarang, misalnya
autobahn atau sistem jalan tol terbaik di dunia (yang tidak memiliki batasan
kecepatan) adalah hasil karya rezim Hitler. Mobil volkswagen juga merupakan
salah satu hasil rezim Hitler. Kekejaman dan terror yang dia terbar dimuka bumi
mungkin tidak bisa dimaafkan, tetapi tidak bisa disangkal bahwa Hitler adalah
salah satu jenius dari manusia dimuka bumi ini.
Awal Mula Pemikiran Adolf Hitler :
Untuk mempelajari pemikiran Adolf Hitler dengan faham
fasismenya terlebih dahulu kita telaah tentang pemikir yang mempengaruhinya
lahirnya famah tersebut :
1. Niccolo Machiavelli
Yang paling menonjol dari dari ajaran Machiavelli terhadap
pemikiran Adolf Hitler adalah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya dan juga menghendaki pengontrolan
terhadap kekuasaan, yaitu dengan cara membungkam setiap lawan politiknya. Cara
yang dilakukannya yaitu dengan dibakarlah gedung parlemen Jerman, lalu ia
menuduh bahwa aksi keji itu dilakukan para musuh politiknya yang selama ini
berdiam di gedung wakil rakyat.
1. Charles Darwin
Pendapatnya yang mengatakan “peperangan (perjuangan untuk mempertahankan
hidup” pada mahluk hidup di
alam. Oleh sebab itu, ide bahwa “yang kuat tetap hidup dan yang lemah akan
musnah” mulai diterapkan
juga pada manusia dan kehidupan dalam bermasyarakat. Justifikasi ilmiah
Darwinisme inilah yang kemudian digunakan oleh Adolf Hitler untuk membangun ras
super. Inspirasi terbesar dari Darwin terhadap Hitler adalah
tentang pertarumhan (perjuangan) untuk mempertahankan kelangsungan hidup.
Bukunya yang terkenal diberi judul Mein
Kampf (Perjuangan Saya)
teinspirasi dari pertarungan (perjuangan) untuk mempertahankan kelangsungan
hidup ini. Sebagaimana Darwin, Hitler memberikan staus kera pada ras-ras
non-Eropa, dan mengatakan, “Hapuskan
(ras) Jerman Nordik dan tidak ada yang tersisa kecuali tarian para kera”.
2. Freidrich
Nietzsche
Pengaruh Nietzsche terhadap ideologi Nazi merupakan sebuah
kenyataan yang ditekankan oleh begitu banyak sejarawan. Sebagaimana dinyatakan
sejarawan H.F. Peters, banyak orang mengutuk Nietzsche sebagai “bapak fasisme”.
Dalam bukunya, The Myth of
the 20th Century, ideolog Nazi Alfred Rosenberg secara terbuka memuji
Nietzsche. Hitlerjugend (Kaum Muda Hitler), sayap kepemudaan
dari gerakan Nazi, menjadikan buku Nietzsche Thus
Spake Zarathustra sebagai
sebuah naskah keramat. Adolf Hitler memerintahkan pembangunan monumen khusus
untuk mengenang Nietzsche, dan merintis pendirian pusat-pusat pendidikan dan
perpustakaan “di mana para pemuda Jerman dapat diajarkan doktrin Nietzsche
mengenai ras unggul”. Akhirnya, Gedung Peringatan Friedrich Nietzsche dibuka oleh
Hitler pada bulan Agustus 1938. Nietzsche
merupakan seseorang yang memuliakan individu yang bebas, besar, dan kuat, yaitu
seseorang yang diadopsi oleh orang-orang Nazi dari ras arya. Beliau sering
mengaburkan makna dari tulisan-tulisannya yang di interpretasikan oleh para
psikolog dan eksestialis di abad ke-20. Setelah tahun 1889 beliau dinyatakan
tidak waras secara permanen.
Kelanjutan Pemikiran Adolf Hitler :
Teori Darwin telah memasuki benak Hitler, bahkan meresap
sampai ke tulang sumsum. Hal ini amat terasa dalam bukunya Mein Kampf (Perjuanganku). Ia menyamakan ras
non-Eropa sebagai kera.
Dari dalam dirinya tumbuh ‘kekuatan’ yang mendapat
inspirasi dari teori Darwin bahwa untuk mempertahankan hidup manusia harus
bertarung. Ia menerjemahkan impiannya dengan menyerang Austria, Cekoslowakia,
Perancis, Rusia, dll. Malah terbersit nafsu menguasai seluruh dunia. Ia
melansir konsep eugenetika yang menjadi dasar pijakan pandangan
evolusionis Nazi. Eugenetika berarti ‘perbaikan’ ras manusia dengan
membuang orang-orang berpenyakit dan cacat serta memperbanyak individu sehat.
Sehingga menurut teori itu, ras manusia bisa diperbaiki dengan meniru cara
bagaimana hewan berkualitas baik dihasilkan melalui perkawinan hewan yang
sehat. Sedangkan hewan cacat dan berpenyakit dimusnahkan.
Tak lama setelah berkuasa, Hitler menerapkan teori itu
dengan tangan besi. Orang-orang lemah mental, cacat, dan berpenyakit keturunan
dikumpulkan dalam ‘pusat sterilisasi’ khusus. Karena dianggap parasit yang
mengancam kemurnian rakyat Jerman dan menghambat kemajuan evolusi, maka atas
perintah rahasianya, dalam waktu singkat mereka semua dibabat habis.
Masih dalam eforia teori evolusi dan eugenetika, Nazi menghimbau
muda-mudi berambut pirang bermata biru yang diyakini mewakili ras murni Jerman
biar berhubungan seks tanpa harus menikah. Pada 1935, Hitler memerintahkan
didirikannya ladang-ladang khusus reproduksi manusia. Di dalamnya tinggal para
wanita muda yang memiliki ras Arya. Para perwira SS (Schutzstaffel)
sering mampir ke sana buat mesum dengan dalih eugenetika.
Para bayi yang lahir kemudian disiapkan menjadi prajurit masa depan ‘Imperium
Jerman’.
Menurut Charles Darwin, karena ukuran tengkorak manusia
membesar saat menaiki tangga evolusi, maka di seluruh Jerman dilakukan
pengukuran buat membuktikan tengkorak bangsa Jerman lebih besar dari ras lain.
Mereka yang tak sebesar ukuran resmi, begitupun yang gigi, mata, dan rambut di
luar kriteria evolusionis langsung dihabisi.
Berasal dari sebuah teori yang bersifat ilmiah kemudian
Hitler merumuskannya ke dalam teori bernegara dan berbangsa terhadap Jerman,
hal ini dimaksudkan agar kemutlakan atas bangsa Arya tidak dapat dipungkiri dan
atas dasar itu pula maka Jerman-lah yang seharusnya memimpin dunia ini.
KESIMPULAN
Bahwa
dapat disimpulkan pemikiran yang diadopsi oleh Adolf Hitler berlandaskan pada
nilai-nilai, yaitu Rasisme, suatu sikap memandang rendah terhadap
suatu individu atau kelompok yang dikarenakan atas suatu perbedaan yang
menonjol berupa fisik, ras, etnis, suku, agama, politik, dan faktor ekonomi.
Yang kedua adalah Chauvinisme,
suatu sikap nasionalisme yang berlebihan, yang dikelanjutannya menciptakan
suatu konflik. Yang ketiga adalah Eugenetika,
suatu ‘perbaikan’ ras manusia dengan membuang orang-orang berpenyakit dan cacat
serta memperbanyak individu sehat. Sehingga menurut teori itu, ras manusia bisa
diperbaiki dengan meniru cara bagaimana hewan berkualitas baik dihasilkan
melalui perkawinan hewan yang sehat. Sedangkan hewan cacat dan berpenyakit
dimusnahkan. Yang keempat adalah Megalomaniac,
suatu tindakan individu atau kelompok yang obsesi atau menggila-gilakan suatu
penggunaan kekuasaan. Yang kelima adalah Utopist,
suatu individu maupun kelompok yang menginginkan suatu negeri impian yang
sempurna sesuai dengan cita-citanya.
Pemikirannya tentang “Supremasi Jerman Raya” adalah suatu
pemikiran tentang terciptanya Jerman yang luas untuk terciptanya suatu negeri
Jerman raya yang diperuntukan untuk orang-orang dari ras Arya saja, karena
selain dari ras Arya merupakan kelas rendahan (inferior).
Tepat hari ini, 20 April dia berulang tahunnn,,,, Happy Birthday Der Fuhrer....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar