Cari Blog Ini

Kamis, 09 April 2020

The Day The Music Died



Buddy Holly - Ritchie Valens - JP 'The Big Bopper' Richardson
         
   Musik telah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang menjadi produk kebudayaan. Musik adalah ungkapan rasa, ekpresi dan indikator eksistensi manusia, sebagai sarana mengungkapkan rasa kekaguman manusia pada Sang Pencipta. Tidak hanya sebagai tataran ritual sakral, musik menjadi dirinya sendiri dalam tataran disiplin ilmu dan kesenian. Sebagai karya, manifestasi perasaan manusia terhadap apa yang dialami dalam kehidupannya.
    Musik adalah kritik bagi kehidupan, ada yang bersifat temporal dan ada yang bersifat abadi. Dikatakan sebagai temporal karena terikat waktu dan tempat tertentu saja[1]. Namun hal itu dapat dipatahkan, karena suatu karya musik dapat menjadi abadi terdengar di masyarakat, seperti lagu-lagu popular yang dibawakan musisi atau banda yang familiar, seperti band ‘Queen’ dengan Bohemian Rhapsody-nya atau seperti The Beatles dengan ‘Twist and Shout’-nya.

     Memang tidak semua manusia memiliki jiwa musisi yang dapat menciptakan karya musik, namun semua manusia memiliki daya tangkap terhadap bunyi, yang bersifat getaran yang melewati indera pendengar yang selanjutnya disebut dengan nada, dari situ tercipta kedekatan manusia dengan musik.
     Musisi sendiri adalah orang yang memainkan alat musik juga orang yang menulis musik (pencipta lagu/penulis lagu) baik dirinya sendiri maupun diserahkan untuk orang lain. Beberapa musisi terkenal sepanjang sejarah seperti, Beethoven, Mozart hingga ke yang lebih modern seperti Queen, The Beatles Michael Jackson serta Jimmi Hendrix.

    Di Indonesia juga tak kalah saing, seperti Ismail Marzuki, Chrisye, Ebiet G. Ade, Melly Goeslaw serta Glenn Fredly. Pengaruh dari musisi tersebut terasa saat mereka mampu menciptakan sebuah karya seni yang dapat diterima masyarakat luas, mereka menjadi terkenal serta dipuja oleh para penggemar sepanjang hidup mereka.
   Dunia musik tanah air saat ini sedang berduka, saat salah satu musisi terbaik Indonesia telah berpulang. Tanah air tentunya sangat kehilangan sosok musisi yang telah menghiasi panggung musik, hampir sepanjang hidup berkontribusi untuk musik Indonesia, lagu-lagunya juga sudah menjadi abadi di telinga masyarakat. Namun manusia tidak pernah tau sampai dimana pengorbanannya serta kontribusi nya untuk mengisi cerita dunia ini. Selamat jalan Glenn Fredly, terimasih untuk karya-karya mu.

    Kehilangan sosok musisi tentu memberikan duka yang mendalam, namun umur manusia sangat terbatas dan tidak ada yang mengetahuinya, kehilangannya menjadi tangisan di sekelilingnya bahkan dunia sekaligus. Hal itu pernah terjadi, bahkan pelaku musik dunia menyebut ‘The Day The Music Died’.

    The Day the Music Died adalah tragedi kecelakaan pesawat yang menewaskan tiga pelaku seni musik legendaris sekaligus di Iowa, Amerika Serikat. Dunia menyebut The Day the Music Died yang diartikan sebagai dunia merasa kehilangan atas meninggal ketiga musisi, seakan musik di dunia mati mendengar tiga musisi meninggal, seperti yang ditulis Don Mclean dalam lagu American Pie pada 1971.
   Kejadian tersebut pada 3 Februari 1959, dimana musisi Rock and Roll Amerika Serikat Buddy Holly, Ritchie Valens dan ‘The Big Bopper’ JP Richardson mengalami kecelakaan pesawat saat melakukan tur ‘Winter Day Party’ yang mencakup 24 kota di Midwestern. Pada saat itu, Holly dan band-nya melakukan tur dengan kondisi cuaca buruk, namun mereka memaksakan untuk tetap mengadakan tur tersebut, mereka pun menyewa sebuah pesawat untuk sampai kesana. Saat lepas landas di tengah malam dalam kondisi cuaca buruk, pesawat mereka kehilangan kendali dan jatuh di tengah ladang jagung.
  Buddy Holly dengan band terkenalnya The Crickets saat itu telah bubar pada 1958, ia mengumpulkan kembali band tersebut untuk melakukan tur, Jeannings dan Allsup serta beberapa musisi lain juga bergabung seperti Ritche Valens dan ‘The Big Bopper’ JP Richardson yang sekaligus mempromosikan album mereka. Tur 1959 dimulai di Milwaukee, Wisconsin lalu segera 24 lokasi secara terburu-buru sehingga mereka memiliki masalah logistik. Mereka memaksakan tur dengan jarak antar venue yang jauh dan sulit. Mereka seakan mengabaikan keselamatan untuk terus melakukan tur.[2]
  Ini dapat diliat saat seluruh kompi musisi melakukan perjalanan darat melalui bus yang tidak memadai, mogok, dan sering berganti-ganti bus. Menambah kekacauan, bus tersebut tidak memiliki alat pendeteksi cuaca dan penghangat ruangan. Sehingga banyak dari mereka yang terserang flu.  Richardson, Valens dan drummer Bunch sampai dirawat di rumah sakit pinggiran kota Michigan. 

    Pada 2 Februari tur tiba di Clear Lake, Mason City, setelah perjalanan 560 km dari Green Bay dan terus berjalan 520km ke Kota Sioux, Iowa. Akhirnya Holly menyewa pesawat untuk terbang sendiri dan beberapa orang bersamanya South Dakota. Holly frustasi dengan keadaan darat, dan menganggap lewat jalur udara dia lebih tenang bisa istirahat sejenak. Perjalanan mereka menggunakan pesawat Bonanza dengan pilot berumur 21 tahun Roger Patterson.

   Sebelum melakukan penerbangan, posisi Jennings ditukar oleh ‘The Big Bopper’ JP Richardson yang saat itu sedang flu berat, Buddy Holly yang melihat Jenning tidak ikut dengannya, berkata dengan nada canda ‘Ya, saya harap bus anda macet’, Jennings juga membalas candaan Holly, ‘Saya harap pesawat anda jatuh’, tanpa diduga candaan itu benar-benar terjadi[3]. Ditempat lain, Valens yang takut untuk terbang meminta Allsup untuk ikut, Allsup menolak dan mereka akhirnya melakukan tos koin, Valens akhirnya ikut dalam pesawat. 

Puing-puing pesawat
 Dengan ketinggian 1.214 kaki dan cuaca pada saat pemberangkatan dilaporkan mengalami salju ringan, jarak pandang 10 km dan hembusan angin 30 mph. Meskipun cuaca buruk dilaporkan sepanjang rute, mereka tetap melakukan perjalanan. Pesawat lepas landas pukul 00.55 pada selasa 3 Februari 1959. Sekitar jam 1 pagi, ktidak adanya informasi melalui radio dari sang Pilot, akhirnya pihak bandara menelurusi rute yang mereka jalani. Dalam beberapa menit, pukul 09.35 terlihat puing-puing pesawat yang porak-poranda di ladang jagung, dan itu adalah Holly, Valen, Richardson berserta pilot yang kesemuanya tewas. 

Duka Mendalam
   Tragedi tersebut tentu menyebabkan duka yang mendalam, berbagai konser peringatan pada 1979 dan 2009 pun digelar, serta berbagai monumen memorial dibangun di sekitar lokasi kejadian dan tempat kelahiran mereka masing-masing. Buddy Holly juga dikisahkan dalam film biografi ‘The Buddy Holly Story’ (1978) dan Ritchie Valen pada film ‘La Bamba’ (1987).
Memorial di tempat kejadian
    Buddy Holly lahir Texas dan mulai menyanyikan musik country dengan teman-teman di sekolah menengah sebelum beralih ke musik rock and roll, beliau menjadi pembuka jalan pikiran Elvis Presley dapat penentuan genre musiknya. Lalu JP ‘The Big Bopper’ Richardson 28, memulai karir sebagai disk jockey di Texas dan kemudian memulai menulis lagu terkenal, seperti ‘Chantility Lace’. Dan terakhir Ricthie Valens, pria berusia 17 tahun saat meninggal merupakan musisi terkenal dengan mencetak hit ‘La Bamba’.

    Holly, Valens dan Richardson adalah idola awal perkembangan musik saat itu, khususnya genre Rock and Roll. Mereka juga menjadi awal serta jalan dari terbentuknya band-band legendaris lain (bukan inspirasi, tapi lebih ke semangat musik), seperti Queen, Rolling Stones, The Beatles, dan musisi solo seperti Elton John dan David Bowie.
     Mereka ada sebelum gemerlap musik modern lahir, mereka hadir sebelum The Beatles menginvasi dunia musik Amerika, mereka hadir sebelum Queen merasuk ke telinga penggemar di seluruh dunia. Mereka seakan mewakili King of Music genre saat itu, seperti Elvis Presley, Chuck Berry dengan Rock and Roll-nya serta Michael Jackson dengan pop-nya yang sepeninggal mereka juga membuat duka bagi musik dunia.

    Tulisan ini merupakan simbol duka untuk kehilangan musisi dunia, khususnya saat ini di Indonesia. Terkhsus melalui tragedi Holly, Valens, dan Richardson ‘The Big Bopper’ yang saya tulis, mengingatkan betapa kuatnya pengaruh musik serta pencipta musik bagi kehidupan masyarakat, musik yang mereka menciptakan mampu menciptakan nada abadi di telinga para pendengarnya.
Karya-karya mereka akan selalu menghiasi musik dunia. Dan akan muncul terus musisi-musisi pengganti, raga mereka tidak akan abadi, namun karya mereka yang akan abadi.

‘Jiwa yang lama segera pergi, bersiaplah para pengganti’....


[1] Christine Ammer, 2004, The Facts on File Dictionary of Music.

[2] Buddy Holly, The Tour from Hell. Bill Griggs


[3] Jeanning and Kaye 1996

Tidak ada komentar:

Posting Komentar