![]() |
| Buddy Holly - Ritchie Valens - JP 'The Big Bopper' Richardson |
Musik
telah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang menjadi produk kebudayaan.
Musik adalah ungkapan rasa, ekpresi dan indikator eksistensi manusia, sebagai
sarana mengungkapkan rasa kekaguman manusia pada Sang Pencipta. Tidak hanya
sebagai tataran ritual sakral, musik menjadi dirinya sendiri dalam tataran
disiplin ilmu dan kesenian. Sebagai karya, manifestasi perasaan manusia
terhadap apa yang dialami dalam kehidupannya.
Musik
adalah kritik bagi kehidupan, ada yang bersifat temporal dan ada yang bersifat
abadi. Dikatakan sebagai temporal karena terikat waktu dan tempat tertentu saja[1].
Namun hal itu dapat dipatahkan, karena suatu karya musik dapat menjadi abadi
terdengar di masyarakat, seperti lagu-lagu popular yang dibawakan musisi atau
banda yang familiar, seperti band ‘Queen’ dengan Bohemian Rhapsody-nya atau
seperti The Beatles dengan ‘Twist and Shout’-nya.
Memang
tidak semua manusia memiliki jiwa musisi yang dapat menciptakan karya musik,
namun semua manusia memiliki daya tangkap terhadap bunyi, yang bersifat getaran
yang melewati indera pendengar yang selanjutnya disebut dengan nada, dari situ
tercipta kedekatan manusia dengan musik.
Musisi
sendiri adalah orang yang memainkan alat musik juga orang yang menulis musik
(pencipta lagu/penulis lagu) baik dirinya sendiri maupun diserahkan untuk orang
lain. Beberapa musisi terkenal sepanjang sejarah seperti, Beethoven, Mozart
hingga ke yang lebih modern seperti Queen, The Beatles Michael Jackson serta
Jimmi Hendrix.
Di
Indonesia juga tak kalah saing, seperti Ismail Marzuki, Chrisye, Ebiet G. Ade,
Melly Goeslaw serta Glenn Fredly. Pengaruh dari musisi tersebut terasa saat
mereka mampu menciptakan sebuah karya seni yang dapat diterima masyarakat luas,
mereka menjadi terkenal serta dipuja oleh para penggemar sepanjang hidup mereka.
Dunia
musik tanah air saat ini sedang berduka, saat salah satu musisi terbaik
Indonesia telah berpulang. Tanah air tentunya sangat kehilangan sosok musisi
yang telah menghiasi panggung musik, hampir sepanjang hidup berkontribusi untuk
musik Indonesia, lagu-lagunya juga sudah menjadi abadi di telinga masyarakat.
Namun manusia tidak pernah tau sampai dimana pengorbanannya serta kontribusi
nya untuk mengisi cerita dunia ini. Selamat jalan Glenn Fredly, terimasih untuk
karya-karya mu.
Kehilangan
sosok musisi tentu memberikan duka yang mendalam, namun umur manusia sangat
terbatas dan tidak ada yang mengetahuinya, kehilangannya menjadi tangisan di
sekelilingnya bahkan dunia sekaligus. Hal itu pernah terjadi, bahkan pelaku
musik dunia menyebut ‘The Day The Music Died’.
The
Day the Music Died adalah tragedi
kecelakaan pesawat yang menewaskan tiga pelaku seni musik legendaris sekaligus
di Iowa, Amerika Serikat. Dunia menyebut The
Day the Music Died yang diartikan sebagai dunia merasa kehilangan atas
meninggal ketiga musisi, seakan musik di dunia mati mendengar tiga musisi
meninggal, seperti yang ditulis Don Mclean dalam lagu American Pie pada 1971.
Kejadian
tersebut pada 3 Februari 1959, dimana musisi Rock and Roll Amerika Serikat
Buddy Holly, Ritchie Valens dan ‘The Big Bopper’ JP Richardson mengalami kecelakaan
pesawat saat melakukan tur ‘Winter Day Party’ yang mencakup 24 kota di
Midwestern. Pada saat itu, Holly dan band-nya melakukan tur dengan kondisi
cuaca buruk, namun mereka memaksakan untuk tetap mengadakan tur tersebut,
mereka pun menyewa sebuah pesawat untuk sampai kesana. Saat lepas landas di
tengah malam dalam kondisi cuaca buruk, pesawat mereka kehilangan kendali dan
jatuh di tengah ladang jagung.
Buddy
Holly dengan band terkenalnya The Crickets saat itu telah bubar pada 1958, ia
mengumpulkan kembali band tersebut untuk melakukan tur, Jeannings dan Allsup
serta beberapa musisi lain juga bergabung seperti Ritche Valens dan ‘The Big Bopper’ JP Richardson yang sekaligus
mempromosikan album mereka. Tur 1959 dimulai di Milwaukee, Wisconsin lalu
segera 24 lokasi secara terburu-buru sehingga mereka memiliki masalah logistik.
Mereka memaksakan tur dengan jarak antar venue yang jauh dan sulit. Mereka
seakan mengabaikan keselamatan untuk terus melakukan tur.[2]
Ini
dapat diliat saat seluruh kompi musisi melakukan perjalanan darat melalui bus
yang tidak memadai, mogok, dan sering berganti-ganti bus. Menambah kekacauan,
bus tersebut tidak memiliki alat pendeteksi cuaca dan penghangat ruangan.
Sehingga banyak dari mereka yang terserang flu.
Richardson, Valens dan drummer Bunch sampai dirawat di rumah sakit
pinggiran kota Michigan.
Pada
2 Februari tur tiba di Clear Lake, Mason City, setelah perjalanan 560 km dari Green
Bay dan terus berjalan 520km ke Kota Sioux, Iowa. Akhirnya Holly menyewa
pesawat untuk terbang sendiri dan beberapa orang bersamanya South Dakota. Holly
frustasi dengan keadaan darat, dan menganggap lewat jalur udara dia lebih
tenang bisa istirahat sejenak. Perjalanan mereka menggunakan pesawat Bonanza
dengan pilot berumur 21 tahun Roger Patterson.
Sebelum
melakukan penerbangan, posisi Jennings ditukar oleh ‘The Big Bopper’ JP Richardson
yang saat itu sedang flu berat, Buddy Holly yang melihat Jenning tidak ikut
dengannya, berkata dengan nada canda ‘Ya,
saya harap bus anda macet’, Jennings juga membalas candaan Holly, ‘Saya harap pesawat anda jatuh’, tanpa
diduga candaan itu benar-benar terjadi[3].
Ditempat lain, Valens yang takut untuk terbang meminta Allsup untuk ikut,
Allsup menolak dan mereka akhirnya melakukan tos koin, Valens akhirnya ikut
dalam pesawat.
![]() |
| Puing-puing pesawat |
Dengan
ketinggian 1.214 kaki dan cuaca pada saat pemberangkatan dilaporkan mengalami
salju ringan, jarak pandang 10 km dan hembusan angin 30 mph. Meskipun cuaca
buruk dilaporkan sepanjang rute, mereka tetap melakukan perjalanan. Pesawat
lepas landas pukul 00.55 pada selasa 3 Februari 1959. Sekitar jam 1 pagi, ktidak
adanya informasi melalui radio dari sang Pilot, akhirnya pihak bandara menelurusi
rute yang mereka jalani. Dalam beberapa menit, pukul 09.35 terlihat puing-puing
pesawat yang porak-poranda di ladang jagung, dan itu adalah Holly, Valen,
Richardson berserta pilot yang kesemuanya tewas.
Duka Mendalam
Tragedi
tersebut tentu menyebabkan duka yang mendalam, berbagai konser peringatan pada
1979 dan 2009 pun digelar, serta berbagai monumen memorial dibangun di sekitar
lokasi kejadian dan tempat kelahiran mereka masing-masing. Buddy Holly juga
dikisahkan dalam film biografi ‘The Buddy
Holly Story’ (1978) dan Ritchie Valen pada film ‘La Bamba’ (1987).
![]() |
| Memorial di tempat kejadian |
Buddy
Holly lahir Texas dan mulai menyanyikan musik country dengan teman-teman di sekolah
menengah sebelum beralih ke musik rock and roll, beliau menjadi pembuka jalan
pikiran Elvis Presley dapat penentuan genre musiknya. Lalu JP ‘The Big Bopper’
Richardson 28, memulai karir sebagai disk jockey di Texas dan kemudian memulai
menulis lagu terkenal, seperti ‘Chantility Lace’. Dan terakhir Ricthie Valens,
pria berusia 17 tahun saat meninggal merupakan musisi terkenal dengan mencetak
hit ‘La Bamba’.
Holly, Valens dan Richardson adalah idola awal perkembangan musik saat itu,
khususnya genre Rock and Roll. Mereka juga menjadi awal serta jalan dari
terbentuknya band-band legendaris lain (bukan inspirasi, tapi lebih ke semangat
musik), seperti Queen, Rolling Stones, The Beatles, dan musisi solo seperti
Elton John dan David Bowie.
Mereka
ada sebelum gemerlap musik modern lahir, mereka hadir sebelum The Beatles
menginvasi dunia musik Amerika, mereka hadir sebelum Queen merasuk ke telinga
penggemar di seluruh dunia. Mereka seakan mewakili King of Music genre saat
itu, seperti Elvis Presley, Chuck Berry dengan Rock and Roll-nya serta Michael
Jackson dengan pop-nya yang sepeninggal mereka juga membuat duka bagi musik
dunia.
Tulisan
ini merupakan simbol duka untuk kehilangan musisi dunia, khususnya saat ini di
Indonesia. Terkhsus melalui tragedi Holly, Valens, dan Richardson ‘The Big
Bopper’ yang saya tulis, mengingatkan betapa kuatnya pengaruh musik serta
pencipta musik bagi kehidupan masyarakat, musik yang mereka menciptakan mampu
menciptakan nada abadi di telinga para pendengarnya.
Karya-karya mereka akan selalu menghiasi musik
dunia. Dan akan muncul terus musisi-musisi pengganti, raga mereka tidak akan
abadi, namun karya mereka yang akan abadi.
‘Jiwa yang lama
segera pergi, bersiaplah para pengganti’....



Tidak ada komentar:
Posting Komentar