Cari Blog Ini

Rabu, 10 Juni 2020

Hollywood Golden Age: Pendekatan Pencinta Hollywood Klasik



 

Pencinta Hollywood Klasik punya tempat tersendiri

   Bila mendengar kata Hollywood, pasti kita merujuk pada lokasi entertainment dunia, panggung film bertaraf internasional, termasuk tokoh-tokoh terkenal di dalamnya. Hollywood merupakan sebuah lingkungan di kawan tengah Los Angeles, California yang terkenal dengan sebagai rumah industri film terkemuka beserta studio sejarahnya. Namanya telah menjadi referensi singkat terhadap industri film dan orang-orang yang terkait dengannya.

Hobart Johnstone Whitley
   Hollywood dijadikan sebuah kota pada 4 November 1903. Setelah diadakan pemungutan suara dimana ada 88 pro dan 77 kontra. Namun sebelumnya, kawasan ini hanya sebuah lahan pertanian dan peternakan. Hobart Johnstone Whitley yang dikenal sebagai ‘Father of Hollywood’ membeli sebuah lahan milik E.C. Hurd ini seluas 232,3 hektar. Whitley berencana untuk membuah distrik real-estate dan menandatangi akta notaris pada tahun 1887 di Los Angeles County Recorder sebagai sebuah rencana awalnya. Pada 1900, Hollywood mulai memiliki kantor pos dan koran sendiri, juga ada hotel dan pasar. Whitley terus berusaha mengembangkan distrik real-estate hingga menjadi pusat kehidupan masyarakat dan rumah bagi para bintang selama bertahun-tahun. Tahun 1910 penduduk kota Hollywood kembali melakukan pemungutan suara untuk menggabungkan menjadi daerah bagian Los Angeles untuk bisa mengamankan pasokan air dan akses kesana; yang akhirnya berubah menjadi Hollywood Boulevard.

Awal masa keemasan Hollywood (Hollywood Golden Age)
  
Griffith, Fairbanks, Chaplin, Mary (United Artist)
Berkembangan yang sangat pesat di distrik real-estate Hollywood ini melahirkan banyak sutrada, produser, model, aktor  dan aktris industri perfilman. Seperti pada tahun 1911 sutradara G.W Griffith membuat film pertama berjudul In Old Hollywood. Griffith sendiri banyak mengorbitkan artis film klasik pada saat ini, salah satunya adalah Douglas Fairbanks yang ia rekrut untuk membintangi film bisu. Dari pengalaman Griffith juga mengalami sambung menyambung perkenalan dengan aktor-aktor terkenal jaman dulu. Fairbanks bertemu dengan aktris Mary Pickford, serta maestro komedi film bisu Chalie Chapin. Pada 1919 akhirnya mereka berempat membuat sebuah industri film yang bernama United Artist dan setahun kemudia memproduksi film yang berjudul The Mask of Zoro (1920). Dari sinilah, salah satu jalan menuju masa kejayaan industri film Hollywood dimulai.

Masa keemasan industri film Hollywood terjadi pada rentang tahun 1930an hingga 1970an. Masa dimana industri ini mampu menyita perhatian pasang mata di seluruh dunia dengan segala persembahan di dalamnya. Aktor dan aktris yang sampai sekarang kita kenal muncul dan menghiasi dari mulai pertunjukan teater, ke layar lebar. Dari film bisu hitam putih, film dialog hitam putih sampai bewarna. Aktor dan Aktris antara lain Jean Harlow, Theda Bara, Louise Brooks, Clara Bow, Carole Lombard, Jean Harlow, William Powell, Clark Gable, Humprey Bogart, Gary Cooper, Marilyn Monroe, Elizabeth Taylor, Joan Crawford, Lauren Bacall, Audrey Hepburn, Natalie Wood dan masih banyak lagi.



Chaplin dalam film City Light (1931)
- Film Bisu; film yang diproduksi tanpa dialog dan rekaman suara. Dialog yang disampaikan melalui gerak isyarat, pantomin. Film juga memiliki perhatian khusus tentang pesan yang disampaikannya. Beberapa pesan disampaikan sebagai satire keras terhadap suatu fenomenal sosial dan lainnya berupaya komedi. Aktor dan aktris dari industri film bisu antara lain, Chalie Chaplin, Ben Turpin, Theda Bara, Buster Keaton, Harold Lloyd dan lain-lain. Film bisu tergerus dengan tuntuan jaman dengan teknologi vitaphone sebagai proses perekaman sebuah film yang menghasilkan film bersuara, sedikit demi sedikit film bisu ditinggalkan untuk mulai beralih ke film bersuara.

Some Like It Hot (1953)
Gone With The Wind (1939)
- Film bersuara; dimulai dari kesuksesan film The Jazz Singer (1927) dari Warner Bros. Dari sini menyebabkan industri-industri besar menyadari bahwa agar mampu bersaing, mereka membutuhkan teknologi suara canggih. Akhirnya film bersuara menjadi standar proses pembuatan film agar lebih menarik penonton. Film-film bersuara era emas Hollywood seperti; Saratoga (1937) yang diperankan oleh Clark Gable dan Jean Harlow, Gone With the Wind (1939) oleh Clark Gable dan Vivien Leigh, Gentlemen Prefer Blondes (1953) oleh Marlin Monroe dan Jane Russell, Some Like it Hot (1957) oleh Marilyn Monroe dan Cleopatra (1963) oleh Elizabeth Taylor.



- Film Kartun; film kartun juga memiliki tempat sendiri di mata para penontonya, padahal produksi film kartun sudah dimulai sejak abad ke-19. Bila kita mengenal film Alice The Wonderland (1927), Steamboat Willie (1928) dua mahakarya WaltDisney studio bahkan tumbuh saat film bersuara muncul ke permukaan, namun beberapa sutradara dan produser film saat itu hanya berfokus pada seni peran manusia dibanding kartun. Di masa film kartun ini kita mengenal industri film khususnya yang mendalami seni kartun muncul, seperti Walt Disney Company dengan Walt Disney Animation Studio-nya sebagai studio film animasi pertama di tanah Amerika.

  
The Flintstone (1960)
Dari situ, studio film lainnya secara teratur membuka cabang untuk memproduksi film kartun, seperti Metro Goldwyn-Mayer membuka cabang animasi dengan dua animator andalannya, yakni William Hanna dan Joseph Barbera, mereka menghasilkan 2 film animasi tersukses, yakni The Flintstone (1960) dan Tom and Jerry (1963). William Hanna dan Joseph Barbera keluar dan membentuk produksi baru, yakni Hanna-Barbera Production dan ditutup pada tahun 2001.


The Wizard of OZ (1939)
- Drama Musikal; adalah pertunjukkan drama disertai dengan nyanyian yang mengiringinya sembari menari-nari. Konten emosionalnya serta ceritanya dikomunikasikan melalui kata-kata, muski, gerakan dan aspek teknik yang kesemuanya digabungkan secara utuh. Drama musikal sebenarnya terbagi dalam beberapa bagian, ada yang hanya menampilan keseluruhan pesan tampilan hanya dalam satu pertunjukkan, dan juga banyak yang menjadi bagian ke dalam scene film. Salah satunya adalah film The Wizard of Oz (1939) yang dibintangi oleh Judy Garland dengan menampilan nyanyian serta tarian dalam tiap scene filmnya. Tidak lupa dengan Shirley Temple yang bernyanyi dalam sebuah scene. Lalu Fred Astraire, Rita Hayworth, Ginger Rogers yang menampilkan gerakan tarian dalam filmnya.


   Perkembangan drama musikal juga mengilhami lahirnya aktor sekaligus musisi untuk mengisi latar lagu dalam sebuah film. Dengan berlatar belakang penyanyi Gospel, mereka-mereka juga ikut berkecimpung dalam film. Seperti Nat King Cole, Doris Day dengan lagu Que Sera-Sera dalam film The Man Who Knew Too Much (1956), Dean Martin hingga Frank Sinatra dengan lagu andalan Flying to The Moon.

Pencinta Hollywood Golden Ages
   Sebuah lompatan besar yang dilakukan Whitley saat membeli lahan pekebunan menghasil bisnis serta distrik luar biasa terkenal di muka bumi. Hollywood tidak hanya tentang pure film, melainkan juga model, tarian serta lagu-lagu yang mengiringi perfilman ketika film itu diluncurkan. Jadi untuk pencinta Hollywood khususnya zaman klasik aka nada banyak bahan untuk mereka kembali menikmati sajian Hollywood, bisa melalui film atau bahkan musiknya.

   Hollywood yang memiliki 1001 cerita semakin menguatkan para penggemarnya untuk terus menikmati sajian pada zaman klasik. Di zaman klasik-lah, Hollywood menarik banyak perhatian dan penggemarnya. Selain kualitas film yang didalami oleh para aktor kawakan, juga 1001 cerita skandal di dalamnya yang menarik mengkokohkan Hollywood sebagai poros entertainmen dunia. Tak cukup apabila saya menulis ke semua cerita, intrik dan skandal yang ada di dalam Hollywood. Untuk dari punggawa produser, sutradaranya saja sudah sangat banyak berbagai cerita. Apalagi terjun ke personal para aktor dan aktrisnya. Itu juga menjadi bumbu penyedapnya.

   Dewasa kini khususnya di daerah Asia, pencinta Hollywood klasik masih sedikit ditemukan, karena di Asia sendiri juga memiliki senjata industri andalan mereka masing-masing. Seperti drama India, Drama Jepang dan China yang sempat mencuri perhatian dengan film F4 dan Oshin. Sementara Drama Korea berhasil menarik penggemar yang dominan di daerah Asia Tenggara, seperti Indonesia.

   Bagi anda khusus pencinta Hollywood Klasik, selalu ada tempat tersendiri di hati kita untuk menikmati sajian nostalgia peninggalan Hollywood Klasik, meski Hollywood Klasik sudah berlalu, dan meski Hollywood Klasik mau tak mau harus ditinggal oleh budaya tradisi modern.

Namun, sekali lagi Hollywood Klasik belum dapat menggeser tempat di hati saya,,,,,,.




1 komentar: