Pencinta Hollywood
Klasik punya tempat tersendiri
Bila mendengar kata Hollywood, pasti
kita merujuk pada lokasi entertainment dunia, panggung film bertaraf
internasional, termasuk tokoh-tokoh terkenal di dalamnya. Hollywood merupakan
sebuah lingkungan di kawan tengah Los Angeles, California yang terkenal dengan
sebagai rumah industri film terkemuka beserta studio sejarahnya. Namanya telah
menjadi referensi singkat terhadap industri film dan orang-orang yang terkait
dengannya.
Hollywood dijadikan sebuah kota pada
4 November 1903. Setelah diadakan pemungutan suara dimana ada 88 pro dan 77
kontra. Namun sebelumnya, kawasan ini hanya sebuah lahan pertanian dan
peternakan. Hobart Johnstone Whitley yang dikenal sebagai ‘Father of Hollywood’ membeli sebuah lahan milik E.C. Hurd ini
seluas 232,3 hektar. Whitley berencana untuk membuah distrik real-estate dan
menandatangi akta notaris pada tahun 1887 di Los Angeles County Recorder
sebagai sebuah rencana awalnya. Pada 1900, Hollywood mulai memiliki kantor pos
dan koran sendiri, juga ada hotel dan pasar. Whitley terus berusaha
mengembangkan distrik real-estate hingga menjadi pusat kehidupan masyarakat dan
rumah bagi para bintang selama bertahun-tahun. Tahun 1910 penduduk kota
Hollywood kembali melakukan pemungutan suara untuk menggabungkan menjadi daerah
bagian Los Angeles untuk bisa mengamankan pasokan air dan akses kesana; yang
akhirnya berubah menjadi Hollywood Boulevard.
Awal masa keemasan Hollywood (Hollywood Golden Age)
![]() |
| Griffith, Fairbanks, Chaplin, Mary (United Artist) |
Masa keemasan industri film
Hollywood terjadi pada rentang tahun 1930an hingga 1970an. Masa dimana industri
ini mampu menyita perhatian pasang mata di seluruh dunia dengan segala
persembahan di dalamnya. Aktor dan aktris yang sampai sekarang kita kenal
muncul dan menghiasi dari mulai pertunjukan teater, ke layar lebar. Dari film
bisu hitam putih, film dialog hitam putih sampai bewarna. Aktor dan Aktris
antara lain Jean Harlow, Theda Bara, Louise Brooks, Clara Bow, Carole Lombard,
Jean Harlow, William Powell, Clark Gable, Humprey Bogart, Gary Cooper, Marilyn Monroe,
Elizabeth Taylor, Joan Crawford, Lauren Bacall, Audrey Hepburn, Natalie Wood
dan masih banyak lagi.
![]() |
| Chaplin dalam film City Light (1931) |
- Film Bisu; film yang diproduksi tanpa dialog dan rekaman
suara. Dialog yang disampaikan melalui gerak isyarat, pantomin. Film juga
memiliki perhatian khusus tentang pesan yang disampaikannya. Beberapa pesan
disampaikan sebagai satire keras terhadap suatu fenomenal sosial dan lainnya
berupaya komedi. Aktor dan aktris dari industri film bisu antara lain, Chalie
Chaplin, Ben Turpin, Theda Bara, Buster Keaton, Harold Lloyd dan lain-lain. Film
bisu tergerus dengan tuntuan jaman dengan teknologi vitaphone sebagai proses
perekaman sebuah film yang menghasilkan film bersuara, sedikit demi sedikit
film bisu ditinggalkan untuk mulai beralih ke film bersuara.
- Film bersuara; dimulai dari kesuksesan film The Jazz Singer (1927) dari
Warner Bros. Dari sini menyebabkan industri-industri besar menyadari bahwa agar
mampu bersaing, mereka membutuhkan teknologi suara canggih. Akhirnya film
bersuara menjadi standar proses pembuatan film agar lebih menarik penonton.
Film-film bersuara era emas Hollywood seperti; Saratoga (1937) yang diperankan oleh Clark Gable dan Jean Harlow, Gone With the Wind (1939) oleh Clark
Gable dan Vivien Leigh, Gentlemen Prefer
Blondes (1953) oleh Marlin Monroe dan Jane Russell, Some Like it Hot (1957) oleh Marilyn Monroe dan Cleopatra (1963) oleh Elizabeth Taylor.
- Film Kartun; film kartun juga memiliki tempat sendiri di mata
para penontonya, padahal produksi film kartun sudah dimulai sejak abad ke-19.
Bila kita mengenal film Alice The
Wonderland (1927), Steamboat Willie
(1928) dua mahakarya WaltDisney studio bahkan tumbuh saat film bersuara
muncul ke permukaan, namun beberapa sutradara dan produser film saat itu hanya
berfokus pada seni peran manusia dibanding kartun. Di masa film kartun ini kita
mengenal industri film khususnya yang mendalami seni kartun muncul, seperti
Walt Disney Company dengan Walt Disney Animation Studio-nya sebagai studio film
animasi pertama di tanah Amerika.
![]() |
| The Flintstone (1960) |
![]() |
| The Wizard of OZ (1939) |
- Drama Musikal; adalah pertunjukkan drama disertai dengan nyanyian
yang mengiringinya sembari menari-nari. Konten emosionalnya serta ceritanya
dikomunikasikan melalui kata-kata, muski, gerakan dan aspek teknik yang
kesemuanya digabungkan secara utuh. Drama musikal sebenarnya terbagi dalam
beberapa bagian, ada yang hanya menampilan keseluruhan pesan tampilan hanya
dalam satu pertunjukkan, dan juga banyak yang menjadi bagian ke dalam scene
film. Salah satunya adalah film The
Wizard of Oz (1939) yang dibintangi oleh Judy Garland dengan menampilan
nyanyian serta tarian dalam tiap scene filmnya. Tidak lupa dengan Shirley
Temple yang bernyanyi dalam sebuah scene. Lalu Fred Astraire, Rita Hayworth,
Ginger Rogers yang menampilkan gerakan tarian dalam filmnya.
Perkembangan drama musikal juga
mengilhami lahirnya aktor sekaligus musisi untuk mengisi latar lagu dalam
sebuah film. Dengan berlatar belakang penyanyi Gospel, mereka-mereka juga ikut
berkecimpung dalam film. Seperti Nat King Cole, Doris Day dengan lagu Que Sera-Sera dalam film The Man Who Knew Too Much (1956), Dean
Martin hingga Frank Sinatra dengan lagu andalan Flying to The Moon.
Pencinta Hollywood Golden Ages
Sebuah lompatan besar yang dilakukan
Whitley saat membeli lahan pekebunan menghasil bisnis serta distrik luar biasa
terkenal di muka bumi. Hollywood tidak hanya tentang pure film, melainkan juga
model, tarian serta lagu-lagu yang mengiringi perfilman ketika film itu
diluncurkan. Jadi untuk pencinta Hollywood khususnya zaman klasik aka nada
banyak bahan untuk mereka kembali menikmati sajian Hollywood, bisa melalui film
atau bahkan musiknya.
Hollywood yang memiliki 1001 cerita
semakin menguatkan para penggemarnya untuk terus menikmati sajian pada zaman
klasik. Di zaman klasik-lah, Hollywood menarik banyak perhatian dan
penggemarnya. Selain kualitas film yang didalami oleh para aktor kawakan, juga
1001 cerita skandal di dalamnya yang menarik mengkokohkan Hollywood sebagai
poros entertainmen dunia. Tak cukup apabila saya menulis ke semua cerita,
intrik dan skandal yang ada di dalam Hollywood. Untuk dari punggawa produser,
sutradaranya saja sudah sangat banyak berbagai cerita. Apalagi terjun ke
personal para aktor dan aktrisnya. Itu juga menjadi bumbu penyedapnya.
Dewasa kini khususnya di daerah
Asia, pencinta Hollywood klasik masih sedikit ditemukan, karena di Asia sendiri
juga memiliki senjata industri andalan mereka masing-masing. Seperti drama
India, Drama Jepang dan China yang sempat mencuri perhatian dengan film F4 dan
Oshin. Sementara Drama Korea berhasil menarik penggemar yang dominan di daerah
Asia Tenggara, seperti Indonesia.
Bagi
anda khusus pencinta Hollywood Klasik, selalu ada tempat tersendiri di hati
kita untuk menikmati sajian nostalgia peninggalan Hollywood Klasik, meski
Hollywood Klasik sudah berlalu, dan meski Hollywood Klasik mau tak mau harus
ditinggal oleh budaya tradisi modern.
Namun, sekali lagi Hollywood Klasik belum
dapat menggeser tempat di hati saya,,,,,,.










Leave dot here. Thanks Captain.
BalasHapus