![]() |
| Jean-jacques Rousseau |
Jean-Jacques Rousseau merupakan filsuf besar, dan salah
satu tokoh favorit ku. Dia juga sebagai bahan penelitian skripsi serta
mengambil judul dari pemikirannya. Pemikiran Rousseau kontraversi, mulai dari
hakikat manusia, pendidikan, Romantisme hingga Anti-Kemapanan sebagai buntut
terhadap Revolusi Industri yang menghasilkan masyarakat modern yang sangat ia
tolak.
Jean Jacques Rousseau lahir di
Jenewa, Swiss, 28 Juni 1712, adalah seorang filsuf yang pandangannya meliputi
soal sosial, kesusastraan, politik dan bapak gerakan Romantik yang mulai
menjelma di Eropa pada umumnya di abad ke-18. Golongan romantik lebih cenderung
melihat manusia secara perseorangan bukan secara kolektif atau golongan. Gerakan Romantik pada dasarnya adalah
pemberontakan menentang standar moral dan estetik yang sudah diterima. Kalangan yang menjunjung tinggi
tata-krama dan sangat mengagumi apa yang mereka sebut La Sensibilite, yang berarti mudah menangkap perasaan, dan lebih
khusus lagi terhadap rasa simpati. Mereka tidak suka kepada industri dan kota karena ini tidak
mengandung keindahan sama sekali, demikian pula pada suatu usaha yang mengeruk
laba, mereka benci.
![]() |
| Romantisme Rousseau |
Anti Kemapanan
Pemikirannya
yang ‘anti-kemapanan’ dimulai saat Rousseau
menelaah hakikat manusia. Ia mengganggap kekacauan dalam diri manusia terjadi
karena berkembangnya ilmu-ilmu teknologi serta budaya yang cepat sehingga
manusia kehilangan fitrahnya, terasingkan oleh dirinya sendiri. Maka Rousseau
ingin mengembalikan fitrah tersebut melalui tulisannya yang berjudul “Emile” (Pendidikan). Teknologi dan
Kebudayaan tidak hanya merugikan masyarakat secara pribadi, maka dari itu
anak-anak harus dijauhkan dari kebudayaan namun harus diberi pendidikan Alam,
anak-anak harus diberi kesempatan untuk berkembang secara bebas di alam terbuka
maka dari itulah anak-anak yang masih dini terhindar dari hilangnya jatidiri
sebagai manusia serta menemukan bakatnya sendiri.
Ia juga menyatakan bahwa peradaban
modern membuat manusia menjadi terasing dari kehidupannya. Kritik Rousseau ini
membalikkan keyakinan dari pencerahan. Bagi pencerahan kemajuan teknologi
berhubungan dengan perkembangan moral. Rousseau justru mengecam ilmu dan
teknologi yang berkembang sebagai ‘pembangkang’ konsep nilai luhur manusia. Manusia
berperadaban modern, tidak seperti manusia Sparta yang bebas dan merdeka,
ternyata telah menjadi budak bagi dirinya sendiri
Dengan gaya retoris Rousseau menulis:
“Untuk anda masyarakat modern, anda tidak melakukan perbudakan tetapi telah melakukannya; anda membayar harga kebebasan dengan diri anda”
Dengan
sifat manusia yang dikhawatirkan seperti dijelaskan Thomas Hobbes, manusia
tidak cocok berada pada tahap perkembangan modern yang kesemuanya tidak wajar
untuk diterima manusia. Dengan perkembangan teknologi-teknologi itu, sifat
Naluri manusia akan keluar, semua manusia akan terus memenuhi keingginan yang
tidak ada habisnya. Maka jika keinginan manusia itu tidak terpenuhi, maka
terjadi konflik sosial. Rousseau
mengganggap manusia terjadi perang karena fenomena alam (nature phenomenon) bukan fenomena sosial (social phenomenom). Artinya terjadinya perang ketika keadaan alami
manusia berubah menjadi masyarakat sosial. Perang adalah sesuatu yang secara
sosial dikontruksikan, hanya dalam kehidupan sosial perang akan terjadi.
Keadaan ilmiah ini juga dapat berubah menjadi keadaan perang apabila terjadi
kesenjangan derajat manusia, baik karena perbedaan atas kepemilikan atau posisi
sosial.
![]() |
| Buku Emile karya Rousseau tentang pendidikan |
Dalam keadaan ilmiah, manusia
menurut Rousseau memiliki kebebasan mutlak. Mereka bebas melakukan apa pun yang
dikehendakinya, terlepas apakah hal itu akan menyebabkan pertikaian dengan
manusia lainnya. Kebabasan merupakan determinan yang membuat manusia menjadi
manusia alamiah. Manusia alamiah adalah makhluk yang belum mengerti nilai-nilai
baik dan buruk dalam pengertian moralitas yang kita pahami, sebab mereka tidak
terdidik dalam struktur sosial yang mendominasi oleh moralitas. Manusia menjadi
buruk perilakunya. tidak lagi menjadi manusia alamiah, adalah karena masyarakat
sekitarnya serta peradaban modernnya telah membuatnya demikian. Peradaban dan
masyarakat modern secara bertahap mengikis sifat-sifat modern yang mungkin
tidak disadari para perintis dunia modern.
Pemikiran Semu
Setelah ia menyatakan perang dengan Revolusi
Industri, kemajuan teknologi. Setalah ia menyatakan bahwa manusia menjadi buas,
tidak bertika dan tidak dalam kondisi alamiahnya, saat manusia menjadi perang
terjadi di masyarakat sosial. Rousseau justru mengarahkan agar manusia yang ‘telah di didik’ menjadi manusia alamiah
tadi menjadi suatu kelompok manusia politik. Ya, tentunya manusia politik versi
dirinya. Bagaimana manusia politik versi
Rousseau??
Rousseau menyatakan bahwa kondisi
alamiah itu bebas namun bersifat elementer dan penuh dengan keinginan nafsu dan
naluri, sehingga manusia yang bersangkutan tidak ubahnya seperti budak, yaitu
budak dari keinginan, nafsu dan naluri. Kebebasan manusia adalah kebebasan
alami, berupa hak-hak yang tidak tentu dan tidak terbatas untuk mengambil saja
yang menarik minatnya. Keadaan serba tidak tentu inilah yang diatasi dengan
perjanjian bersama. Hanya dalam masyarakat manusia itu akan mengalami
kebebasannya secara penuh.
Kebebasan
menurut Rousseau adalah suatu keadaan tidak terdapatnya keinginan manusia untuk
menaklukkan sesamanya. Manusia merasa bebas dari rasa ketakutan akan
kemungkinan terjadinya penaklukkan atas dirinya sendiri, secara persuasif
maupun kekerasan. Kebebasan juga diartikan sebagai hak untuk melakukan sesuatu
yang orang lain tidak diperkenankan melakukannya, di sisi lain istilah yang
sama bisa dipahami sebagai keadaan dimana keadilan sepenuhnya ditegakkan.
Dengan demikian tidak ada manusia yang diperlakukan semena-mena. Kebebasan
tidak boleh menjadikan manusia anarki sosial. Rousseau berkata bahwa orang yang
merdeka (bebas) adalah orang yang patuh terhadap hukum dan peraturan, tetapi
tidak menjadi dirinya budak.
Kebebasan manusia tetap dapat
dimilikinya meskipun dalam gradasi berbeda, apabila ia masuk menjadi bagian
dari political society atau berada
dalam kekuasaan negara. Kebebasan itu bahkan bisa diraih justru apabila manusia
bergelut sepenuhnya dalam kehidupan bernegara.. Mengapa? Hal ini kembali lagi
kedalam keadaan alamiah manusia yang mempunyai kebabasan penuh dan bergerak
menurut nafsu dan nalurinya. Sebaik apa pun keadaan alamiah disadari kemudian
bahwa situasi demikian teramat rentan dan dapat mengancam eksistensi manusia,
perang serta pertikaian akan mudah terjadi. Maka dari itu, berdasarkan dengan
kesadaran penuh, berusaha untuk keluar dari keadaan ilmiah untuk membentuk
sebuah negara.
![]() |
| Du Contract Social |
Negara ideal menurut Rousseau haruslah
tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Negara yang terlalu luas akan
menyukarkan penyertaan rakyat dan luas daerah dari negara itu bergantung kepada
perbandingan yang tepat antara jumlah manusia dengan keadaan tanah yang akan
menghidupi rakyat itu. Negara ideal bagi Rousseau adalah negara seluas Polis (Police State).
Apakah
negara itu terwujud? Jika Ya, negara nyata manakah yang dimaksud Rousseau
itu??? Masih menjadi tanda tanya besar.
Dengan
pengkultusannya terhadap manusia yang terbelenggu oleh teknologi. Ia
menciptakan ‘ramuan’ untuk membentuk koloni manusia-manusia politik. Semu
sangat semu....
___________________________________________________________
- Skripsi YURNAWAN FARDINANTA HAREFA
FISIP-USU Ilmu Politik : Perbandingan Pemikiran Politik Thomas Hobbes dan Jean-Jacques Rousseau tentang Konsep Manusia.2018
- http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/7055
___________________________________________________________
- Skripsi YURNAWAN FARDINANTA HAREFA
FISIP-USU Ilmu Politik : Perbandingan Pemikiran Politik Thomas Hobbes dan Jean-Jacques Rousseau tentang Konsep Manusia.2018
- http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/7055




Tidak ada komentar:
Posting Komentar