Cari Blog Ini

Jumat, 08 Mei 2015

Kritik Terhadap Feminisme Liberal





   Kritik yang paling utama bagi Feminisme Liberal adalah bahwa Feminsime liberal tidak pernah mempertanyakan ideoologi Patriarki dan sama sekali tidak menjelaskan akar ketertindasan perempuan. Para kaum Feminisme Liberal hanya berkata bahwa sumber permasalhan perempuan selama ini adalah karena perempuannya itu sendiri dan solusi yang harus dilakukan adalah dengan membekali kaum perempuan dengan pendidikan dan juga pendpatan. Kaum Feminis Liberal dianggap tidak mampu untuk melihat bahwa perempuan merupakan golongan yang paling minim mendpat akses pendidikan, entah karena biaya yang mahal ataupun karena diskriminasi yang kerap terjadi. Kemudian bagaimana cara kaum perempuan bisa mendapatkan penghasilan yang layak, sedangakan sebagian besar dari mereka hidup dan tinggal di negara-negara dunia ketiga, yang merupkan korban imperialisme dan hidup di bawah garis kemiskinan.

   Secara faktual gerakan feminisme Liberal juga dianggap tidak bisa menangkal serangan pemerintah terhadap perempuan, dimana dalam banyak kasus kemanusiaan, perempuan dan anak jadi korban pertama. Para kaum Feminis Liberal dianggap tidak berhasil dalam memberikan penjelasan mengapa secara sexis masih terjadi ketidaksetaraan gender yang sangat signifikan, bukan hanya di negara berekmbang, namun di negara kapitalis maju pun masih kerap ditemukan perbedaan gaji dan kesempatan bagi kaum buruh wanita dan laki-laki.

   Pola pikir dari arus feminisme yang lahir di Barat tersebut, ditinjau dari perspektif kelas, setidaknya, akan memunculkan dua cacat politik. Pertama, konsep ini akan menciptakan terpecahnya konsentrasi ‘perjuangan kelas’ dari perempuan kelas tertindas untuk membebaskan diri dari kapitalisme. Kedua, konsep ini akan membentuk perspektif dikotomik-gender yang tidak produktif, yakni sebuah perspektif yang memandang bahwa manusia yang berjenis kelamin laki-laki adalah musuh. 

   Jean Bethke Elshtain dalam bukunya A Political Theorist. Mengkritik bahwa semua perempuan ingin menjadi seperti laki-laki, mengadopsi sifat laki-laki (mengutamakan rasionalitas tidak boleh menunjukan emosionalnya) untuk mengurangi ketertindasannya. Padahal kaum perempuan tidak boleh menggunakan cara berpikir laki-laki, karena mereka pun memiliki cara berpikir mereka sendiri yang dapat dibedakan dengan cara berpikir laki-laki. Sebagi seorang manusia, mengadopsi cara berpikir keduanya merupakan suatu keharusan, agar tidak mendikotomikan nurture dan nature itu sendiri.

   Selain itu, perlunya membentuk pergerakan yang masif, pergerakan tersebut jangan hanya dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil, karena hal itu jelas akan menghancurkan kumunalitas, sehingga disinilah adanya committe organizer itu diperlukan untuk mengorganisasi masa.
Dalam Feminist Politics and Human Nature, Alison Jaggar menformulasikan kritik yang kedua, seperti Elshtain jaggar juga mengkritik feminis liberal bahwa perempuan harus mengadopsi nilai laki-laki yaitu rasionalitas dan otonomi. Sedangkan menurut Jaggar kita tidak boleh mendikotomi nilai laki-laki dan perempuan justru laki-laki dan perempuan harus mengadopsi nilai kedua-duanya secara seimbang. 

   Jaggar juga mengkritik feminis liberal yang melihat perempuan itu satu, padahal menurut Jaggar perempuan itu tidak satu tapi bermacam-macam. Sehingga solusi dari kaum feminis belum bisa memecahkan segala persoalan, karena mereka terlalu mengeneralisasi seluruh kaum wanita sebagai sesuatu hal yang sama, tanpa berpikir adanya perbedaan diantara mereka. Tidak semua kaum wanita itu berkulit putih, kelas menengah, straight dalam sex, satu agama, satu budaya, satu ras, namun benyak juga diantara mereka yang berkulit hitam, kelas bawah, lesbian, biseksual, PSK, berbeda agama, berbeda budaya, berbeda ras, sehingga faktor ketertindasan kaum wanita beserta solusi pemecahannya pun tentu akan berbeda satu sama lain.

   Kemudian Feminisme Liberal cenderung menerima nilai-nilai maskulin sebagai manusia, sehingga gerakannya mengarah pada emansipasi, cenderung membentuk manusia individualis. Padahal kenyataannya, manusia hidup berkelompok didalam masyarakat dan mempunyai pemikiran dualistik, kebebasan individu dan bertindak rasonal adalah konsep maskulin. Padahal, secara alamiah terdapat perbedaan seks

   Berdasarkan pemaparan diatas, bahwa menggunakan perspektif gender (feminisme) dalam Hubungan Internasional, selain menawarkan cara pandang baru, juga menjadi penting dalam memahami kondisi ekonomi politik dan keamanan internasional. Teori feminisme merupakan teori sebagai upaya atas kritikan terhadap studi laki-laki untuk mentransformasikan tekanan struktural, dimulai dari pengalaman tekanan sebagai perempuan. Salah satu fokus kajian disini adalah mengenai feminisme liberal yang merupakan varian dari feminisme yang mendasarkan pemikirannya berdasarkan konsep liberal dimana pria dan wanita itu memiliki hak dan kesempatan yang sama, pria dan wanita merupakan makhluk yang sama-sama memiliki rasionalitas. Berbagai gerakan kaum feminis liberal pun muncul khususnya di Amerika, sebagai negara kelahiran, juga negara dengan jumlah kaum feminisme terbesar, yang memberikan pengaruh besar pada saat itu, walaupun banyak kritik yang menyerang pemikiran kaum feminis liberal.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar