Kritik
yang paling utama bagi Feminisme Liberal adalah bahwa Feminsime liberal tidak
pernah mempertanyakan ideoologi Patriarki dan sama sekali tidak menjelaskan
akar ketertindasan perempuan. Para kaum Feminisme Liberal hanya berkata bahwa
sumber permasalhan perempuan selama ini adalah karena perempuannya itu sendiri
dan solusi yang harus dilakukan adalah dengan membekali kaum perempuan dengan
pendidikan dan juga pendpatan. Kaum Feminis Liberal dianggap tidak mampu untuk
melihat bahwa perempuan merupakan golongan yang paling minim mendpat akses
pendidikan, entah karena biaya yang mahal ataupun karena diskriminasi yang
kerap terjadi. Kemudian bagaimana cara kaum perempuan bisa mendapatkan
penghasilan yang layak, sedangakan sebagian besar dari mereka hidup dan tinggal
di negara-negara dunia ketiga, yang merupkan korban imperialisme dan hidup di
bawah garis kemiskinan.
Secara
faktual gerakan feminisme Liberal juga dianggap tidak bisa menangkal serangan
pemerintah terhadap perempuan, dimana dalam banyak kasus kemanusiaan, perempuan
dan anak jadi korban pertama. Para kaum Feminis Liberal dianggap tidak berhasil
dalam memberikan penjelasan mengapa secara sexis masih terjadi ketidaksetaraan
gender yang sangat signifikan, bukan hanya di negara berekmbang, namun di
negara kapitalis maju pun masih kerap ditemukan perbedaan gaji dan kesempatan
bagi kaum buruh wanita dan laki-laki.
Pola
pikir dari arus feminisme yang lahir di Barat tersebut, ditinjau dari
perspektif kelas, setidaknya, akan memunculkan dua cacat politik. Pertama,
konsep ini akan menciptakan terpecahnya konsentrasi ‘perjuangan kelas’ dari
perempuan kelas tertindas untuk membebaskan diri dari kapitalisme. Kedua,
konsep ini akan membentuk perspektif dikotomik-gender yang tidak produktif,
yakni sebuah perspektif yang memandang bahwa manusia yang berjenis kelamin
laki-laki adalah musuh.
Jean
Bethke Elshtain dalam bukunya A Political Theorist. Mengkritik bahwa
semua perempuan ingin menjadi seperti laki-laki, mengadopsi sifat laki-laki
(mengutamakan rasionalitas tidak boleh menunjukan emosionalnya) untuk
mengurangi ketertindasannya. Padahal kaum perempuan tidak boleh
menggunakan cara berpikir laki-laki, karena mereka pun memiliki cara berpikir
mereka sendiri yang dapat dibedakan dengan cara berpikir laki-laki. Sebagi
seorang manusia, mengadopsi cara berpikir keduanya merupakan suatu keharusan,
agar tidak mendikotomikan nurture dan nature itu sendiri.
Selain itu, perlunya membentuk pergerakan yang masif,
pergerakan tersebut jangan hanya dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil, karena
hal itu jelas akan menghancurkan kumunalitas, sehingga disinilah adanya committe
organizer itu diperlukan untuk mengorganisasi masa.
Dalam Feminist Politics and Human Nature,
Alison Jaggar menformulasikan kritik yang kedua, seperti Elshtain jaggar juga
mengkritik feminis liberal bahwa perempuan harus mengadopsi nilai laki-laki
yaitu rasionalitas dan otonomi. Sedangkan menurut Jaggar kita tidak boleh
mendikotomi nilai laki-laki dan perempuan justru laki-laki dan perempuan harus mengadopsi
nilai kedua-duanya secara seimbang.
Jaggar
juga mengkritik feminis liberal yang melihat perempuan itu satu, padahal
menurut Jaggar perempuan itu tidak satu tapi bermacam-macam. Sehingga solusi
dari kaum feminis belum bisa memecahkan segala persoalan, karena mereka terlalu
mengeneralisasi seluruh kaum wanita sebagai sesuatu hal yang sama, tanpa
berpikir adanya perbedaan diantara mereka. Tidak semua kaum wanita itu berkulit
putih, kelas menengah, straight dalam sex, satu agama, satu budaya,
satu ras, namun benyak juga diantara mereka yang berkulit hitam, kelas bawah,
lesbian, biseksual, PSK, berbeda agama, berbeda budaya, berbeda ras, sehingga
faktor ketertindasan kaum wanita beserta solusi pemecahannya pun tentu akan
berbeda satu sama lain.
Kemudian Feminisme Liberal cenderung menerima
nilai-nilai maskulin sebagai manusia, sehingga gerakannya mengarah pada
emansipasi, cenderung membentuk manusia individualis. Padahal kenyataannya,
manusia hidup berkelompok didalam masyarakat dan mempunyai pemikiran dualistik,
kebebasan individu dan bertindak rasonal adalah konsep maskulin. Padahal,
secara alamiah terdapat perbedaan seks
Berdasarkan
pemaparan diatas, bahwa menggunakan perspektif gender (feminisme) dalam
Hubungan Internasional, selain menawarkan cara pandang baru, juga menjadi
penting dalam memahami kondisi ekonomi politik dan keamanan internasional.
Teori feminisme merupakan teori sebagai upaya atas kritikan terhadap studi
laki-laki untuk mentransformasikan tekanan struktural, dimulai dari pengalaman
tekanan sebagai perempuan. Salah satu fokus kajian disini adalah mengenai
feminisme liberal yang merupakan varian dari feminisme yang mendasarkan
pemikirannya berdasarkan konsep liberal dimana pria dan wanita itu memiliki hak
dan kesempatan yang sama, pria dan wanita merupakan makhluk yang sama-sama
memiliki rasionalitas. Berbagai gerakan kaum feminis liberal pun muncul
khususnya di Amerika, sebagai negara kelahiran, juga negara dengan jumlah kaum
feminisme terbesar, yang memberikan pengaruh besar pada saat itu, walaupun
banyak kritik yang menyerang pemikiran kaum feminis liberal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar